Papa akhirnya dibawa ke Jakarta diantar Mama dan Tante Kristin, adik Papa satu-satunya yang tinggal di Batam. Tante Kristin menyempatkan dirinya untuk datang di sela pekerjaannya yang super sibuk. Kehadiran Tante Kristin sedikit membuat situasi rumah sedikit berwarna. Kecerewetan tanteku bisa meredam semua ketegangan, kekakuan, kehati hatian, yang menjadi bentuk hubungan antara aku dan Mama.
Dani akan menyusul ke Jakarta setelah selesai ujian. Dan aku sendiri akan menyusul kemudian setelah persiapan majalah selesai. Aku menangis sesunggukan saat melepas Papa di rumah sakit, namun tangisanku tidak membuat Papa sedih. Dia terlihat tegar dan bahkan sempat memberikan senyum yang sebisa mungkin ia berikan. Sinar matanya saat menatapku seakan menjanjikan bahwa dia akan segera sembuh. Sempat aku melihat Mama berkaca-kaca waktu aku memeluk Papa. Dalam hati aku ingin sekali bisa memeluk Mama seperti ini tentu dalam suasana yang berbeda. Mudah-mudahan Tuhan mendengar harapanku. Dengan hati yang masih tidak nyaman setelah keberangkatan papa, aku segera menuju kantor.
Dion muncul di pintu dengan wajah kuyu.
"Teman-teman, ngumpul bentar yuk." Sapanya dengan tidak bersemangat. Aku, Abel dan Mona beranjak dari tempat masing-masing menuju meja Dion.
"Sejauh ini iklan baru masuk 3. Itupun yang duanya separuh barter. Aku rasa aku nggak bisa sendiri." Dion menghela napas. "Uhm...begini, aku mau masing-masing kita jadi marketing."
Kening kami bertiga sama-sama berkerut tidak mengerti.
"Begini, waktu kita semakin dekat dan iklan belum nyampe target. Aku yakin kalian bertiga pasti punya kenalan, teman, saudara, atau apalah. Aku pengen kita semua bisa nyari iklan. Setiap satu iklan yang didapat masing-masing kalian berhak dapat fee 10 persen dari harga iklan. Oh ya kalau ada teman, adik, kakak, Om, Tante atau siapalah yang mau jadi marketing lepas kita, bolehlah. Untuk feenya kalian yang ngatur yang pasti aslinya 10 persen kalau kalian mau ngambil untung dari situ ya itu terserah kalian. Gimana?"
Kami bertiga terdiam saling memandang.
"Kalau itu memang harus dilakukan, kenapa nggak?" tukasku, diamini Abel dengan anggukannya yang mantap. Dion memandang Mona yang masih diam.
"Gimana Mon? Dulu waktu kuliah kan kamu biasa jadi SPG, aku yakin banget kamu pasti punya banyak kenalan dan kamu pasti bisa." Dion mencoba meyakinkan gadis cantik itu.
"Ok Mas, aku rasa aku bisa kok." Sahut Mona setelah berpikir sebentar seakan baru saja memperoleh kepercayaan diri.
"Sip! Terimakasih ya teman-teman. Mudah-mudahan kerja kita membuahkan hasil."
"Amin!" tutup kami serempak.
Saat hendak meninggakan meja Dion, pria itu menarik tanganku untuk kembali duduk. Dion pindah posisi dari kursinya dan nangkring di ujung meja dekat kursiku.
"Papa kamu udah ke Jakarta?"
"Udah kemarin. Doain ya Yon."
"Tentu Darling." Dion meraih tanganku. Aku memandangnya heran.
"Yon, aku mau tanya kamu satu hal." Tangan Dion masih memainkan jari-jariku. Seandainya di ruangan ini nggak ada yang tahu bagaimana hubungan aku sama Dion sebenarnya, pasti adegan ini langsung menimbulkan gosip.
"Serius amat. Tanya aja."
"Yakin kamu mau puasa cewek?"
"Emang kamu terganggu kalau nggak lihat aku jalan sama cewek?" Mata Dion menyipit.
"Ehm...nggak sih cuma aneh aja...bukan Dion banget gitu loh... kalau nggak ada cewek sepertinya kharisma itu nggak ada."
Dion menepis tanganku dengan kasar.
"Sialan lu!"
Entah apa yang menyebabkan Dion menjadi seorang playboy tulen. Karena kekayaan keluarganya? Atau ada faktor lain yang membuat Dion tidak tahan berlama lama dengan satu perempuan. Sebagai seorang playboy, Dion punya modal. Secara fisik Dion tidak jelek dan dia punya duit untuk menyenangkan semua perempuan yang dipacarinya.
"Ehm...tapi benar kamu nggak naksir aku kan?' tembakku langsung. Mendengar itu Dion langsung tertawa terbahak-bahak. Membuat Abel dan Mona serentak menatap kami.
"Aku memang lagi jomblo. Tapi yang pasti nggak pernah ada nama Biantari Ika Putri bersemayam dalam hatiku. Ngerti?" telunjuk Dion mendorong jidatku pelan. Sebagai seorang perempuan, harga diriku cukup tersinggung dengan kata kata Dion ini. Dari beberapa perempaun yang ia pacari, aku bisa menilai aku jauh lebih cantik dari mereka.
"Darling, sampai saat ini aku masih belum naksir kamu. Dan aku yakin kamu juga nggak bakal mau kan sama aku. Kamu mau tahu siapa yang suka sama kamu sejak dulu sampai sekarang? Tuh orangnya baru datang..." Dion menunjuk sosok yang baru turun dari VW kodok hitam di depan kantor.
"Udah deh Yon. Jang terus jodohin aku sama dia." Aku bangkit meninggalkan meja Dion dengan sedikit menghentakkan kaki.
"Jangan bilang gitu." Dion setengah berteriak padaku. Aku mempercepat langkahku untuk mencapai meja dan sebisa mungkin menyibukkan diriku dengan apa saja sehingga aku tidak punya kesempatan untuk sekadar berbasa basi atau obral senyum dan memulai sebuah obrolan yang tidak kuinginkan.
"Siang!" Suara bariton itu sedikit menyentil hatiku.
"Hi Lang! Bawain foto-foto kemarin ya...?" Seru Abel dari mejanya. Elang melintas di sebelahku. Aroma khas Elang yang sudah mulai kuhafal sejak pemotretan di 21 dulu menggelitik menggoda hidungku. Ia beraroma seperti mint dan rempah. Sangat menggugah selera entah ia memakai parfum merek apa. Dion menarik kursinya dan mempersilahkan Elang duduk. Abel menghampiri meja Dion.
"Iya ada 4 foto yang menurut aku bagus dan udah aku edit. Tapi kalau kalian punya pilihan lain, ya silahkan dilihat dulu." Elang merogoh tasnya dan mengeluarkan flashdisc. Abel langsung mengambil alih komputer. Elang menggeser kursinya.
"Mas Elang, janjinya kalau kesini mau bawain makanan. Mana?" Mona mendekati kami dengan suara manjanya. Sempat kulihat Mona mengerling menggoda pada Elang. Aku menelan ludah.
"Ah iya...ada Mon di mobil lupa aku bawa. Bentar ya..."
"Bawain buat Mona aja nih?" Sindir Abel. Kepalanya melongok sebentar dari balik monitor memberikan pandangan aneh ke arahku. Dion mengulum senyum. Aku tidak berekspresi apa-apa.
"Buat semua kok." Jawab Elang dari bibir pintu sebelum keluar. Mona dengan genitnya ikut berlari kecil menyusul Elang.
"Nona Bian nggak cemburu kan?" bisik Dion tepat di kupingku.
"Apaan sih? Ngapain cemburu. Jangan aneh deh. Aku bukan pacarnya."
"Ih dia marah." Dion ngakak diikuti Abel yang membuatku semakin muak.
"Diam nggak kalian berdua!" ancamku.
"Piiiiiiisss darling! Nggak godain lagi kok." Dion mengelus-elus kepalaku. Dengan kesal aku menepis tangannya.
"Kita dibawain serabi Solo lho..." pekik Mona kegirangan sambil membawa satu kotak serabi Solo. Elang mengekor di belakang Mona.
Dengan cepat Abel dan Dion langsung menyerbu.
"Kapan ke Solo?" tanya Dion.
"Kemarin." Saat itu Elang menoleh ke arahku. Dan mata kami kembali bertemu. Menyebalkan!
Dering telpon menyelamatkan suasana yang kurasa aneh setelah kehadiran Elang.
"Mbak Bian, telpon dari Mbak Anggie." Seru Mona mengaggetkanku. Aku menuju meja Mona dan menerima telpon dari asisten marketing manager JavaLand itu. Saat aku ke mejanya, Mona melesat kembali ke meja Dion, tempat semuanya berkumpul. Lebih tepatnya tempat Elang bertengger. Elang kelihatan bergeser mendekati sisi Mona. Aku bisa melihat Mona tampak bercanda akrab dengan Elang. Dasar genit! Aku mencibir.
"Yon, aku mau ke Java mau ketemu Mbak Anggie." Aku sudah bersiap-siap dengan tasku.
"Ya udah kuantar, sekalian mau ke ATM." Dion bangkit.
"Udah Bian sama aku aja." Aku menoleh cepat ke sumber suara itu. Elang.
"Sekalian aku mau pulang." Katanya seakan menjawab wajah bengong aku dan Dion.
"Nggak usah. Dion juga sekalian mau ke ATM. Iya kan?" Aku sedikit melotot pada Dion sekaligus sedang berusaha mengancamnya untuk tidak berpikir untuk melakukan tindakan yang sangat tidak kuharapkan.
"Ya udah berarti aku ngambil duitnya ntar aja pas...pulang." Dion memberikan pandangan –pus in boot- nya padaku, tatapan penuh kemunafikan. Mataku melotot semakin besar.
"Okay kalau gitu. Aku balik ya...yang empat tadi udah fix ya Bel?"
Abel mengangguk dan mengangkat jempolnya. Mulutnya sedang penuh dengan serabi.
Elang berjalan keluar. Sebelum melangkah mengikuti Elang aku mendaratkan cubitan ke perut Dion yang membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Bye darling!" bisikku dengan senyum kemenangan.
"Sialan lu Bi! Sakit tahu!"
"Bodo!" balasku cuek sambil melenggang keluar.
***
Jujur saja aku tidak suka situasi ini. Aku berdua lagi dengan Elang setelah sekian lama. Setelah dia meninggalkan kenangan buruk untukku. Tidak mudah untukku tapi entah untuknya. Kecanggungan terasa jelas saat aku duduk di sebelahnya.
"Oh ya gimana keadaan Papa kamu?" Elang menoleh sekilas.
"Sekarang di Jakarta."
"Oh...terus kapan nyusul ke sana?"
"Ya setelah kerjaan di sini bisa ditinggal."
Elang manggut-manggut.
"Kamu berjodoh ya sama Dion. Kamu resign dari Jakarta malah kamu kerja bareng dia di sini."
Aku tertawa dalam hati. Bukan sama Dion, tapi sama elu! Kenapa juga kita harus ketemu lagi di sini? Ucapku kesal dalam hati.
"Iya...sejak dulu aku memang berjodoh sama mereka berdua." Elang menoleh dan aku balas memandangnya. Saat tatapan kami bersiborok kami lupa harus ngapain. Dengan cepat aku menarik pandanganku. Tapi dari ekor mataku aku bisa melihat Elang sedang tersenyum. Sialan!
"Persahabatan kalian itu unik ya. Kamu cewek sendiri. Dion doyan cewek, dan..."
"Dan kamu mengira aku cewek brengsek." Sambungku.
"Tuh kan...kamu masih marah. Kamu memang belum lupain. Aku tahu aku udah bikin kamu sakit hati dan pasti sakitnya belum hilang kan?" Aku mengutuk diriku sendiri yang terus terus mengungkit masalah ini. Kemarin aku sudah bilang padanya bahwa kejadian itu sudah masa lalu dan aku sudah menutup buku.
"Bi!" Aku menoleh cepat ke arahnya. Elang mengarahkan telunjuknya ke bagian kanan atas bibirnya.
"Bekasnya udah ilang tapi sakitnya masih kerasa. Satu maaf dari kamu maka sakitnya akan hilang. Dan aku berharap sakit di hati kamu juga akan hilang." Aku mencibiri kata katanya yang sok dirangkai indah. Sama sekali tidak membuatku terkesan.
Aku terdiam dan berpikir sebentar. Sudahlah Bian, sudah 8 tahun lewat dan hatimu sebenarnya tahu kalau dia tulus.
"Okey, aku maafin." Sahutku pendek tanpa melepas pandanganku dari depan. Dia tersenyum lega.
"Bi.. Kita berteman?" Elang menoleh. Ada desir aneh di hatiku saat dia mengatakan itu. Ada perasaan tidak terima dengan tawarannya untuk 'berteman'. Saat ini kata 'berteman' sepertinya tidak bisa membayar semua sakit hati yang dia berikan padaku. Aku tidak suka kata 'berteman'. Aku tidak suka istilah itu.
Jangan gila kamu Bi! Bukannya kamu masih membencinya? Lagian dia sudah punya seseorang. Ingat itu! Suara hatiku mulai marah.
"Berteman?"
"Paling nggak demi masa lalu."
Aku menarik napas berat.
"Udah nyampe."
Elang menghentikan mobilnya. Pikiranku kacau. Aku sekilas melihat ke arahnya.
"Ok ..kita teman." Aku membuka pintu. Elang tersenyum lega.
"Thanks udah ngantar." Jawabku berusaha tidak melihat ke arah matanya. Sekilas aku melihat Elang mengangguk dan melambai.
***
Setelah bertemu Mbak Anggie selama setengah jam, yang ternyata lebih banyak dihabiskan buat bergosip (dasar perempuan!), aku bergegas keluar dari kantor manajemen di lantai 6. Saat turun ke lantai 5 mataku terpaku pada sebuah cefe yang baru di buka. PaperPlate. Nama yang unik. Ah...aku ingat kata Dion tentang aksi marketing itu. Aku memeriksa isi tasku, syukurlah surat-surat penawaran iklan kubawa lengkap. Ok, aku bisa. Aku memantapkan diriku masuk ke PaperPlate.
Aku disambut senyum ramah khas pelayan cafe.
"Mbak, saya dari inPlaza, majalah in-housenya JavaLand, saya mau ketemu manajernya. Bisa?"
"Oh...kebetulan manajernya belum ada. Tapi sebentar lagi Pak Nathan mau datang. Gimana?"
"Pak Nathan?"
"Yang punya cafe ini."
"Oh malah bagus kalau saya bisa langsung ketemu sama ownernya." Jawabku sumringah. Yes! Ketemu sama owner jauh lebih baik.
"Kalau gitu Mbak nunggu di sana aja." Mbak pelayan tadi mengantarku ke semacam island, tepat di tengah-tengah cafe. Di sana ada seperangkat sofa putih. Uniknya hanya seperangkat sofa ini yang diletakkan di area depan café di bagian tengah di antara dining table. Entah apa maksudnya. Tapi sempat juga tadi kulihat di bagian dalamnya masih ada sofa-sofa lainnya. Nice, cafenya berkonsep lounge dan resto sepertinya. Aku kemudian duduk di sana menunggu target pertamaku. Mudah-mudahan sukses! Doaku dalam hati.
"Mbak mau minum apa?" tanya pelayan itu ramah.
"Oh nggak. Makasih." Pelayan itu mengangguk dan kemudian pergi meninggalkanku. Aku merogoh tasku dan mengeluarkan database semua tenant di JavaLand. Kuteliti nama PaperPlate. Di sana ada nama Nathaniel I. Rahadi sebagai contact personnya.
Sepuluh menit.
Dari pintu café muncul seorang pria. Apa dia? Mataku mengikuti langkah pria itu sekaligus menelitinya. Jauh lebih muda dari yang kubayangkan. Dari penampakannya aku perkirakan usianya di akhir 20-an atau mungkin awal 30-an. Dia berbicara sebentar dengan perempuan yang mengantarku tadi. Aku bisa lihat perempuan itu menunjuk ke arahku. Pria itu memandangku sekilas. Tak lama kemudian dia menghampiriku.
"Siang." Sapanya ramah. Aroma parfum segar terpancar menggelitik hidungku. Penampilannya yang bersih membuat dia terlihat charming.
"Siang. Saya Biantari dari inPlaza." Aku berdiri dan mengulurkan tangan.
"Nathan." Dia menyambut tanganku. "Ah..inPlaza, ya saya sudah dengar dari Pak Armand." Tangannya memberi tanda padaku untuk kembali duduk.
Awalnya Nathan bertanya banyak tentang inPlaza. Sebisanya aku menjawab. Basa-basi aku pun bertanya tentang PaperPlate. Sok-sok menyinggung interiornya lah, membahas bisnis cafe di Yogya lah, yah sedikit-sedikit mencontek kisah Dion yang selalu gagal membuat cafe. Kami bertukar kartu nama.
"So...ada yang bisa aku bantu?" finally!
Aku pun mulai melakukan jurus 'merayu'ku. Sebagai pebisnis dia pasti tahu maksud kedatanganku. Aku pun memberikan surat penawaran iklan. Kucoba jelaskan keuntungan-keuntungan dia memasang iklan di inPlaza.
"Every room di 4 hotel bintang lima? Sure?" matanya menyipit memandangku.
"Benar!" jawabku mantap. Dia masih menatapku dan kemudian tersenyum tipis, kembali matanya mengarah ke kertas yang ada di tangannya.
Karena ini majalah gratis, 4 hotel bintang lima di Yogya sudah bersedia meletakkan majalah kami dalam setiap kamarnya. Dengan design Abel yang keren siapa yang akan nolak. Lagian nama besar JavaLand cukup menjamin. Dan yang pasti jurus rayu Dion emang dahsyat. Setidaknya dengan faktor ini, para pengiklan sedikit tergerak untuk memasang iklan di inPlaza.
"Ok, saya bawa dulu ini nanti saya kabari." dia kembali tersenyum ramah dan menatapku dengan sinar matanya yang cukup tajam. Wow....he got the stare! Tiba tiba aku gugup mendapat tatapan seperti itu. Aku yakin dengan tatapan seperti itu saingan bisnisnya bisa bertekuk lutut padanya.
"Makasih buat waktunya Pak Nathan."
"No problem."
Aku melangkah ringan keluar dari PaperPlate.