Tidak seperti biasanya sore ini Dani menjemputku ke kantor. Aku baru saja keluar saat mataku menangkap sosoknya turun dari VW kuning kucelnya. Aku bisa membaca raut wajahnya tidak ceria dan b*******h seperti biasa.
"Tumben Dan, lagi kangen sama kakakmu yang cantik ini ya?" sapaku centil saat dia baru menginjakkan kakinya di teras. Dani tersenyum mengejek mendengar kata kataku, hanya sekilas setelah itu wajahnya kembali tegang.
"Kakak tebak siapa yang ada di rumah sekarang?" Alisku bertaut mencoba berpikir. Ngapain Dani datang-datang dan langsung ngajak main tebak-tebakan.
"Lho ada Dani?" tukas Dion, di belakangnya berurutan ada Abel dan Mona. Mereka sedang bersiap pulang juga.
"Apa kabar Dan?" kali ini Abel yang bersuara. Mona seperti biasa memberikan senyum cerahnya. Aku bisa melihat Dani sedikit menarik ujung bibirnya kala melihat Mona. Dasar!
"Baik." Dani menjawab Abel singkat. Kembali aku menangkap Dani sempat mencuri pandang pada Mona. Seperti kebanyakan cewek, Mona terlihat pura-pura tidak tahu, namun dari cara ia mengibaskan rambut indahnya dan bersuara manja pada Dion beberapa detik kemudian, aku mengerti kalau dia sangat tahu mata lapar Dani sedang memperhatikannya.
Sejak Mona singgah ke rumah pagi-pagi bersama Abel dan Dion waktu itu, Dani memang berkali-kali bertanya tentang gadis itu padaku. Mona memang pintar memanfaatkan kelebihannya untuk menarik perhatian cowok ABG yang sedang belajar menjadi dewasa seperti Dani. Sungguh aku sama sekali tidak iri dan membenci Mona, bukankah memang ada jenis perempuan yang ingin dunia melihat kecantikannya? Itukan sah-sah saja, artinya mereka mensyukuri apa yang telah di berikan Tuhan dan bersedia membagikan karunia itu kepada mereka yang membutuhkan.
Jadi teringat kata-kata Papa dulu saat SMP, saat aku tidak terpilih masuk dalam tim cheerleader. Saat itu aku merasa bahwa kegagalanku disebabkan karena aku kurang cantik dibandingkan yang lainnya, Papa pun melarang aku berpikir seperti itu, beliau berkata begini Bian, kamu anak papa yang paling cantik (ya iyalah wong cuman punya satu anak ceweki), ada wanita cantik yang ingin memperlihatkan kecantikannya agar seluruh dunia tahu itu sah-sah aja, tapi ada tipe cewek yang tidak terlalu peduli dengan kecantikannya karena dia ingin dunia bisa melihat sisi lainnya. Tapi apa pun kata Papa, sekali-kali aku juga ingin dunia melihat kecantikanku. Satu-satunya motivasi aku saat masuk cheerleader dulu ya karena aku ingin terlihat semakin cantik dalam seragam centilnya hehehe....ah aku rindu Papa
Abel, Dion dan Mona pamit duluan. Mona sempat melirik Dani sebelum berlalu. Aku sadar sosok Dani saat ini juga mampu membuat cewek manapun menoleh, termasuk Mona. Aku lupa itu. Setelah yakin gadis itu sudah berada dalam mobil Dion, aku pun menendang kaki Dani yang masih bengong mendapat lirikan maut Mona.
"Jangan coba-coba!" ancamku. Dani nyengir.
"Kalau dia juga suka kenapa enggak?" Dani nyengir semakin lebar sehingga membuat tinjuku melayang ke bahunya. Abel melesat dengan vespa antiknya diikuti mobil Dion. Mereka sempat melambai ke arah kami.
"Emang siapa yang ada di rumah." Aku membuka pintu mobil.
"Eyang Risna." Sebut Elang tepat di saat dia membanting pintu mobilnya. Mulutku setengah menganga. Duh, kenapa eyang Risna ada di rumah. Ok, aku akan singkat berceritan tentang eyang Risna. Eyang Risna itu ibunya Mama, nenek Dani dan bukan aku. Dan alasan kenapa Dani sampai membanting pintu mobilnya saat menyebut nama Eyang Risna karena eyang Risna adalah manusia paling sibuk sedunia, sibuk mengatur hidup orang. Eyang Risna itu cerewet dan sangat annoying. Selama ini Eyang Risna tinggal di Bogor bersama Tante Sita, kakak Mama satu-satunya.
Dulu waktu SMA, eyang Risna pernah 3 bulan tinggal di rumah kami. Kehadirannya benar-benar neraka buat Dani yang saat itu masih kelas 1 SMP dan sedang senang-senangnya gaul dan main PS. Eyang Risna melarang Dani main PS dan terus mengoceh dengan nasihat-nasihat basi ala tempo doeloe setiap kali Dani ingin beraktivitas di luar rumah.
Aku pun tidak luput dari kemahacerewatan eyang Risna. Apalagi dengan embel-embel aku bukan cucu kandungnya. Aktivitas cheers dan pergaulanku dengan Abel dan Dion menjadi andalan Eyang Risna mencap aku masuk ke pergaulan yang nggak benar. Dani mengeluh pada Mama dan Mama berusaha memberi pengertian pada eyang, eh mama malah dianggap terlalu memanjakan kami. Dani bahkan sempat minggat dari rumah, dan meninggalkan surat ancaman. Kalau dalam tiga hari eyang Risna tidak cabut dari rumah, dia tidak akan kembali ke rumah selamanya. Di saat Papa dan Mama panik, eyang malah tertawa terbahak-bahak dan mengatai Papa dan Mama terlalu bodoh jika takut dengan ancaman anak nakal kayak Dani. Nah lho!
"Aku mau cepat cabut ke Jakarta. Gila! Bisa stres kalau di rumah terus." Ternyata Dani tidak berubah, dia selalu punya hasrat untuk minggat setiap kala ada eyang Risna.
"Yah...mau gimana lagi Dan. Kedatangan eyang juga pasti karena Papa." Aku coba memberi pengertian pada Dani, meskipun dalam hati juga mulai was-was. Eyang Risna bukan perkara mudah. Dion dan Abel pasti tidak akan leluasa lagi kalau berkunjung ke rumah.
"Ya kalau karena Papa, seharusnya Eyang nggak usah ke Yogya dong. Bukannya Bogor lebih dekat ke Jakarta. Ngapain ke sini?" Protes Dani masih sengit.
"Ya kali karena kasihan ngelihat kita sendirian di rumah." Dani langsung tertawa mendengar kata kataku.
"Beh..! Alasan! Pasti karena eyang udah kehabisan mangsa"
"Hus! Mangsa, emangnya eyang macan?" aku tertawa geli.
"Ya sejak Kak Viona sama Kak Alan tinggal di Jakarta, otomatis rumah Bogor kan sepi. Eyang pasti bingung nggak ada yang diatur di sana."
Aku kembali tersenyum. Viona dan Alan adalah sepupu-sepupu kami. Jangan kan kami berdua, kakak beradik itu juga tidak suka dengan sifat suka mengatur eyang Risna. Dan sekarang keduanya sudah bebas. Alan sudah menikah, Viona sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dua-duanya tidak tinggal di Bogor, selain karena mereka mencari nafkah di Jakarta, faktor eyang Risna juga membuat mereka tidak betah di rumah mereka di Bogor. Alan bahkan pernah bertengkar hebat sama orangtuanya gara-gara calon istrinya tidak disukai eyang. Dan itu hanya gara-gara Mbak Rara yang wanita karir itu nggak bisa masak. Biasalah pemikiran generasi-generasi stok 50-an. Hari gini banyak laki-laki nggak peduli pacarnya bisa masak apa nggak, kalau pun mau cari yang bisa masak maka badan penyalur PRT punya fungsi ganda, menyalurkan pembantu sekaligus istri yang bisa masak. Iya kan?
Belum lagi Viona, si Anton pacarnya di interogasi sama eyang Risna. Waktu tahu Anton hanya karyawan biasa, mati-matian eyang Risna memaksa Viona untuk kembali pacaran dengan Irsyad, mantannya yang playboy tapi anak direktur bank itu. Ternyata selain bawel eyang Risna juga matre. Fiuh...! Nggak enak sih menilai jelek orangtua tapi kenyataan memang seperti itu.
***
Aku melihat Dani keluar dari kamar sambil membawa ransel. Aku hendak membuka mulut namun Dani segera meletakkan telunjuk di bibirnya menyuruhku diam.
"Mau kemana lu?" kataku berbisik-bisik.
"Minggat. Aku nggak bisa ada di sini." Dani berdesis. Saat ini eyang sedang di warung dan membuat semua awak di sana lumayan stres. Aku sebenarnya tadi ingin ke luar mau diajak makan sama Dion dan Abel, tapi langsung diceramahi eyang. Demi menghormati Mama aku coba tidak membantah dan menurutinya. Mungkin saat ini eyang benar, lebih baik aku istirahat mumpung hari Minggu. Bagaimanapun aku harus menjaga kesehatan demi Papa.
"Ya udah nanti kakak yang cari alasan." Dani tersenyum penuh terimakasih. Sebelum pergi Dani mencium pipiku sekilas. Baru saja kakiku hendak melangkah ke kamar, aku mendengar suara ribut di bawah. Jangan-jangan Dani ketahuan eyang. Aku segera melesat ke bawah.
"Kalau pergi jangan kayak maling." Suara khas Eyang terdengar. Aku mengurut d**a.
"Kalau nggak kayak maling pasti ketangkap sama hansip." Balas Dani. Membuat aku bingung ingin tertawa atau terenyuh saat ini.
"Oh jadi kamu mau bilang eyang ini hansip?"
"Lho bukannya iya?"
"Kamu kok kurang ajar ya sama eyang, Dan?'
"Maling emang kurang ajar kan?" jawab Dani sinis.
"Kamu ini..." eyang Risna berusaha menahan emosi. "Dengar Dan, eyang nggak ngelarang kamu pergi kalau emang benar mau belajar, tapi kalau perginya diam-diam kayak gini eyang jadi ragu."
"Tuh kan, Eyang emang nggak percaya kan? Percuma juga kalau Dani pakai bilang-bilang segala." Dani ikut emosi. "Pokoknya Dani tetap pergi."
"Dan, udah donk. Eyang juga." Aku mencoba jadi penengah menenangkan Dani dan Eyang.
"Tari, kamu jangan coba-coba bela adik kamu. Mentang-mentang udah gede dia, semakin berani aja sama Eyang. Terserah kalau dia mau pergi." Eyang berlalu. Dani menghembuskan napas kesal. Dia pasti sudah kehabisan akal membantah setiap omongan Eyang. Aku berusaha menenangkan hatiku karena sejujurnya aku juga sama kesalnya seperti Dani.
"Dan.." Dani tampak terpekur.
"Kak, berapa tahun sih hukuman buat cucu yang nyekap eyangnya sendiri dalam gudang?" aku mengernyit, kemudian perlahan tawaku pecah. Dani tersenyum di antara rasa kesalnya.
"Ehm...nggak tahu sih, tapi bolehlah kamu orang pertama yang nyoba." Tawaku semakin tak tertahan.
"Udah ah...aku cabut daripada nambah dosa." Dani masuk ke VW-nya dan melambai padaku.