Yogya cukup cerah dan matahari cukup ramah hari ini sehingga aku yakin hari ini akan cukup sempurna untuk bekerja di luar kantor. Aku punya jadwal wawancara dengan Gary. Rencananya aku, Elang serta salah satu Dion atau Abel yang akan pergi mewawancarai bule itu. Dan aku tidak perlu terlalu resah karena kali ini ada Dion atau Abel akan ada di antara aku dan Elang.
"Sendirian? Ah..nggak adil nih." Jeritku protes saat tahu salah satu antara Abel dan Dion tidak menemaniku mewawancarai Gary Pougau.
"Nggak sendirian, Darling. Kan sama Elang." Tukas Dion enteng dari depan laptopnya. Mataku beralih pada Abel.
"Sorry Bi, yang kemarin belum selesai." Sahutnya sebelum aku protes. Aku membuang napas kesal.
"Kalau boleh, aku mau nemenin Mbak Bian?" Mona bersuara dari mejanya. Dion mengangkat wajahnya dari layar laptop.
"No! Kamu harus di sini. Aku kan ada janji ntar. Abel lagi design, terus siapa yang jawab telpon." Mona merengut kecewa. Dia kembali duduk.
Mobil VW hitam nongol di halaman. Aku segera menyambar tasku. Melintasi meja Dion dan Abel dengan wajah kesal.
"Bi! Jangan mutung donk. Nggak maksud nih..." seru Dion mencoba menahan langkahku. "Darling..." rayunya lagi. Aku tetap cuek. Aku bertemu Elang di teras.
"Langsung berangkat yuk, Lang."
"Kamu sendiri aja?" aku mengangguk masih dengan wajah disetel judes. Elang terpaku di bibir pintu, bingung hendak masuk dulu atau langsung pergi. Melihat aku sudah melangkah tegas ke arah mobilnya. Elang akhirnya langsung membuntutiku. Di mobil aku sama sekali tidak berniat bersuara. Elang tidak berani mengusikku. Kami cukup lama diam. Bukan cukup tapi sangat lama. Bayangkan dari jalan Gejayan hingga ringroad Selatan. Mungkin karena tidak tahan diam-diaman terus, Elang bersuara.
"Marah sama siapa, Bi?" nadanya terdengar hati-hati. Mobil bergulir menyusuri ringroad selatan. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela, menatap lurus ke depan.
"Sama dua monyet tadi."
Elang tersenyum mengerti.
"Emang kenapa? Kalau boleh tahu."
"Nggak papa. Masalah biasa sama mereka." Elang mengangguk. Dia pasti tahu aku sedang tidak ingin menjelaskan apa pun.
"Oh ya, kalau boleh tahu yang mau diwawancara ini siapa?" Elang memindahkan persneling. Mobil berhenti di lampu merah jalan Imogiri.
"Abel belum bilang?" Elang menggeleng.
Sial! Abel emang ngeselin. Kemarin acara photo sessionnya lumayan bikin sakit kepala dan sekarang dia sama sekali belum ngejelasin tentang Gary pada Elang. Padahal ini adalah salah satu yanggung jawabnya juga.
"Gary Pougault. Pengusaha handycraft. Dia orang Australia keturunan Perancis tapi udah jatuh cinta sama Yogya dan udah 30 tahun tinggal di sini dan akhirnya sukses jadi warga negara sini. Kreasinya udah mendunia sih, sampai masuk ke Harrods, Target, gitu-gitu lah." Jelasku singkat.
"Wow." Elang bersiul. "Hebat dong."
"Yeah...kekayaan Indonesia selalu membuat orang lain yang jadi hebat."
"Hmm...tapi dia mampu mengenalkan Indonesia ke dunia Internasional kan? Kita ambil positifnya aja lah."
"Tapi bagaimanapun dia orang asing yang kadar cintanya sama Indonesia masih patut dipertanyakan, apa benar tulus atau karena kekayaan negara kita?" ucapanku bisa membuat siapapun yang mendengarnya mengira aku begitu membenci bule bernama Gary itu. Cukup sinis memang. Aku tidak biasa seperti ini, Aku bukan orang yang negatif. Aku melirik Elang. Dia yang membuatku selalu sinis dan negatif. Tuduhku dalam hati.
"Mungkin saja seorang Gary jauh lebih Indonesia ketimbang orang Indonesia."
Aku memandang Elang. Tersenyum dalam hati. Here he comes Elang yang sudah dewasa dengan pikiran yang jauh lebih bijaksana. So Welcome!
"Dia tinggal dan jadi orang Indonesia karena pilihan kan?" Elang menatapku dan tersenyum. "Gary memilih menjadi orang Indonesia, sedangkan kita sejak lahir secara otomatis sudah menjadi warga Negara ini dan sama sekali tidak perlu memilih. Mencintai Negara ini menjadi sebuah kewajiban dan keharusan bagi kita kan? Dan biasanya untuk segelintir manusia, melakukan sesuatu karena kewajiban atau keharusan, kadar ketulusannya pasti kurang. Dulu, Sonia Gandhi diragukan nasionalismenya oleh masyarakat India hanya karena dia orang Italia. Namun waktu membuktikan bahwa Sonia benar-benar mencintai tanah kelahiran suaminya itu." Jelas Elang panjang lebar.
Aku terdiam.
"Maaf kalau aku terlalu banyak bicara dan terkesan sok tau," dia nyengir saat aku hanya diam tak merespon.
Aku akhirnya tersenyum tipis karena tidak bisa menahan geli hatiku melihat dia begitu salah tingkah. Dan dia sedang berusaha. Aku harus menghargai usahanya. Usahanya untuk berteman denganku.
"Nggak kok. Apa yang kamu bilang tadi ada benarnya." Ujarku membuat dia tersenyum dan tangan kirinya sekilas mengucek hidungnya tanda kalau dia begitu salah tingkah. Mungkin dia sedang menyesal mengapa harus ada sejarah singkat mengenai kewarganegaraan tante Sonia Gandhi. Weird! Itu mungkin pikirnya.
Mobil Elang mulai menyusuri jalan Parangtristis. Mataku kupertajam mencari-cari belokan menuju perusahaan Gary. Belok ke barat setelah melewati warung sate kambing, aku ingat ancar-ancar yang diberikan Dion
"Belok kanan Lang." Perintahku. Mobil Elang menyusuri jalan aspal yang hanya bisa muat dua mobil yang harus sama mungilnya dengan VW Elang ini. Di kiri-kanan jalan terhampar sawah-sawah yang baru saja ditanami. Atmosfir tempat ini cukup nyaman. Gambaran susana pedesaan yang dulu tertanam kuat saat masih SD, sepertinya terwakili dengan sempurna di sini. Sawah, sungai, pegunungan yang mengelilingi, bapak dan ibu bercaping yang sibuk di tengah sawah. Semuanya. Aku tidak pernah merasakan asyiknya liburan di rumah nenek di desa seperti kisah kisah pelajaran bahasa Indonesia jaman dulu.
"Terus aja kayaknya." Tukasku saat kepala Elang menoleh ke arahku. Elang mengangguk. Setelah sepuluh menit, aku akhirnya melihat sebuah bangunan bergaya joglo. Di depannya ada plang bertuliskan nama perusahaan Gary. Mobil Elang berhenti.
"Aku tanya dulu ya." Aku bersiap membuka pintu mobil.
"OK." Elang setuju.
Di depan rumah joglo yang juga adalah kantor eksportir handycraft itu ada pos satpamnya. Aku melapor pada satpam berseragam batik itu. Setelah tahu tujuanku, pak satpam itu memintaku masuk bersamanya. Di dalam aku bertemu dengan seorang wanita ramah, sedikit gemuk, namun sangat manis dengan lubang kecil yang muncul di kedua pipinya saat dia tersenyum. Dia bernama Hana. Dan selama ini dengan Hana lah aku berhubungan, mengatur jadwal wawancara Gary.
"Mbak Biantari?' Sapanya. Aku mengangguk.
"Pak Gary nunggu di rumahnya." Keningku berkernyit. "Rumahnya di seberang. Saya antar mbak ke sana." Aku mengikuti langkah Hana. Di depan, Elang sudah siap dengan kamera dan perlengkapannya. Aku kemudian mengenalkan Hana pada Elang.
Ternyata rumah Gary ada di depan kantornya. Memang tidak terlalu terlihat karena tertutupi oleh rumpun pohon bambu dan beberapa pohon kelapa. Hana tampak berbicara dengan dua orang pria tegap, mungkin satpam rumah atau bodyguard kali. Kami pun dipersilahkan duduk di pendopo yang terpisah dari rumah utamanya. Pendopo ini memang dikhususkan untuk tamu, atapnya bebebentuk joglo. Lumayan luas. Ada seperangkat sofa dari rotan. Di atas meja terhampar beberapa majalah fashion luar dan juga majalah-majalah art dan handycraft.
Baru semenit aku dan Elang duduk, kami didatangi seorang pria ceking dengan wajah ramah. Dia menawari kami minum. Hanya ada dua pilihan minum di siang ini. Es gula asam dan es tape ketan. Aku dan Elang sama-sama memilih es gula asam. Yogya yang biasanya panas tidak akan ditemukan saat sedang berada di sini, area rumah Gary ini memberikan atmosfer sejuk dan nyaman. Tidak lama, pria ceking nan ramah tadi sudah muncul dengan nampan. Dia mempersilahkan kami minum. Ternyata es gula asamnya benar-benar segar.
"Perlu nih buat menu tambahan di warung." Gumamku setelah meneguk minuman segar itu.
"Saat libur ke Yogya aku sering makan di sana sama Dion." Sambung Elang. Dia berbicara sambil mengutak atik kameranya.
"Oh ya? Apa favorit kamu di sana?"
"Ehm..ayam goreng sambel ijo." Aku tertawa kecil. Pilihan yang tidak biasa.
"Bukan nasi ayam?" kedua alis Elang yang tebal itu bertaut dan kemudian menggeleng. Kami sama-sama tertawa lagi. Obrolan ringan kami terhenti saat Hana muncul bersama seorang bule berumur. Dia Gary. Gary mengenakan polo shirt putih dengan celana bermuda warna abu. Aku dan Elang berdiri. Gary menyapa kami dengan hangat. Di tangannya aku lihat dia membawa dummy majalah kami. Itu pasti dummy yang aku kirim.
Bisa mewawancarai Gary adalah kesempatan emas bagi kami, media yang sama sekali belum eksis. Selama ini profil Gary selalu hadir di majalah sekelas Time, kalau pun di dalam negri pastilah majalah bisnis terkenal atau harian sekelas Kompas. Anugerah juga sih bisa dapat kesempatan ini.
Sebelum memulai wawancara, Gary kembali membahas dummy majalah kami. Dia sempat memuji design di dalamnya. Hidung Abel pasti kembang kempis tahu kalau designnya di puji seorang seperti Gary. Aku pun juga memberitahu Gary kalau foto-foto dalam dummy itu adalah hasil karya Elang. Gary mengangguk penuh kekaguman. Elang hanya tersenyum simpul. Setelah berbasa-basi aku pun memulai wawancara. Elang mengambil beberapa gambar saat aku sedang mewawancarai Gary.
Dari hasil obrolan itu, aku bisa menilai Gary memang sangat mencintai Indonesia. Dia ingin dunia barat khususnya Eropa tahu bahwa Asia khususnya Indonesia punya karya yang berkelas nomor satu dan bukannya second quality seperti yang dianggap mereka selama ini. Karena itu dia berjuang agar handycraft yang dihasilkan dari tangan-tangan terampil warga Yogya duduk manis bersisian dengan karya warga Eropa di pusat perbelanjaan ternama seperti Harrods.
Setelah selesai wawancara. Aku meminta Elang mengambil pose Gary sendirian. Elang mencoba mencari sudut dan latar yang pas, namun dari wajahnya aku tahu Elang tidak menemukan itu. Sepertinya pendopo ini sudah tidak bisa dieksplore lagi. Aku yakin Elang ingin sekali mengambil pose Gary di kediamannya.
"Kalian mau ke rumah saya?" tawar Gary. Semburat lega tergambar di wajah Elang. Aku mengangguk setuju. Kami keluar dari pendopo. Di belakang pendopo itu ada semacam hutan kecil, ada jembatan melintasi sebuah sungai, tidak bisa dibilang sungai sih, semacam parit dengan air yang bening. Ada beberapa ekor bebek sedang berenang di sana. Benar-benar alami dan cantik. Setelah melewati jembatan kecil itu kami tiba di pekarangan rumah. Ada kolam renang yang tidak terlalu besar di sana. Unik, karena kolam renang berada di depan rumah.
Gary mengajak kami masuk. Satu meter dari pintu masuk ada semacam lorong yang memisahkan setiap kamar dengan pendopo dalam. Pendopo itu di penuhi dengan segala bentuk karya seni. Mulai dari kursi, meja, lemari dan hiasan-hiasan yang berasal dari kayu jati, rotan, batok kelapa, dan bahan-bahan lain yang aku sendiri tidak tahu namanya. Di ujung pendopo ada semacam panggung kecil tempat diletakkannya seperangkat gamelan jawa. Kata Gary setiap malam minggu, pasti ada music performance di pendoponya ini, tentunya musik tradisional Jawa. Tuh kan orang bule yang cinta Jawa. Bahkan dia bilang saat ini dia sedang membaca buku yang menceritakan Jawa di abad ke 19 dari sudut pandang seorang tentara kerajaan Inggris. Hmm...
Elang pun mulai berkeliaran mencari sudut yang bagus. Hasilnya Gary di foto di salah satu sudut pendoponya dan juga di tepi kolam renang serta hutan kecilnya.
Senyum puas tergambar di wajah aku dan Elang saat keluar dari halaman rumah Gary.
"Nice man." Gumam Elang.
"Iya, jujur aja selama perjalanan tadi aku lumayan nervous. Kamu sendiri bilang dia orang hebat." Kataku sambil tersenyum malu karena sudah menilai Gary tanpa mengenalnya terlebih dahulu.
"Terus sekarang penilaian kamu?"
"Menurutku dia tulus." Jawabku seraya manggut manggut. Sebagai ekspresi bahwa ketulusan itu jelas terlihat saat proses wawancara tadi. Bahkan dalam beberapa jam bersama Gary aku bisa menanangkap sikapnya yang sudah begitu banyak terkontaminasi dengan tata krama Jawa.
Elang mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban singkatku. Jawaban yang singkat dengan tujuan agar aku tidak perlu lama lama membiarkan pandanganku singgah ke matanya.
"Sekarang kita makan dulu kan?" Elang menoleh dan memberikan lagi senyum manisnya. Elang memang memiliki sebentuk senyum yang menarik yang membuat wajah 'biasanya' itu terlihat cakep. "Kamu pasti laper kan?" lanjutnya lagi.
"Boleh. Dimana?"
"Tadi kita lewat restoran pemancingan deh. Nggak alergi ikan kan?" Elang menoleh lagi dan kembali senyum itu terbentuk.
"Jadi?"
"Boleh aja."
"Sip!"
Tidak memakan waktu lama, mobil Elang sudah masuk ke sebuah rumah makan ikan air tawar yang sekaligus ada tempat pemancingannya. Gurame goreng, Ikan Mas bakar, pecel dan sambal jadi menu makan siang kami. Elang tampak lahap menyantap hidangan di hadapan kami. Tanpa sadar kebersamaan kami 8 tahun lalu kembali terngiang. Elang yang tetap ceking meski makannya banyak, apalagi saat dia melahap nasi pecel di warung Texas dekat kampus Sanata Dharma. Aku ingat masa-masa itu, aku yang nggak terlalu doyan makan jadi ikut berselera melihat cara makan Elang. Dia tidak berubah. Cara dia makan masih sama.
"Kamu nggak makan?" tegurnya membuat aku sadar. "Masih nggak doyan makan?" sambungnya lagi.
"Nggak...ehm...udah nggak." Aku memaki diriku yang malah kelihatan grogi di depannya. Elang tersenyum. Dia kembali sibuk makan. Aku mencuil gurame gorengnya.
"Kata Dion, kamu baru kali ini mau foto untuk fashion." Elang menenggak es kelapa mudanya. "Hmmm...bisa dibilang begitu." Jawabnya. "Kebetulan Dion yang nawarin." Lanjutnya lagi.
"Berarti kalau bukan Dion yang nawarin, kamu nggak bakalan mau?"
Dia tersenyum.
"Bukan nggak mau, tapi sejauh ini tawaran yang datang tidak pernah berkaitan dengan fashion atau semacam itu. Aku terbiasa memotret model yang tidak bicara." Dia tersenyum sendiri. "Kalau memotret model beneran, aku pernah, tapi lebih ke foto pribadi dan biasanya si model yang bebas berpose dan aku hanya take shots dari perspektifku. Dan tidak mudah bekerja dengan objek manusia apalagi itu menyangkut brand. Komunikasiku kurang baik dengan model yang bisa bicara." Dia tertawa dan membuatku ikut tertawa bertsamanya.
"Terus gimana rasanya kemarin? Ya... terlepas dari semua keterlambatan yang pasti bikin kamu bete." Aku menahan senyum.
"Ternyata seru. Bekerja dalam waktu yang dibatasi ternyata bikin adrenalin terpacu. Jadi semakin seru aja, bahkan jadi lebih kreatif kali." Elang bangkit menuju kran air di pojok, dia mencuci tangan.
"Apa yang buat kamu suka dunia fotografi?" Aku tahu dari dulu Elang suka fotografi tapi aku mengira hobinya itu hanya sekadar hobi dan bukan dijadikan sebagai sumber mata pencariannya. Tapi aku sangat salut pada orang yang menjadikan hobinya sebagai pekerjaan. Bayangkan saja, kamu melakukan apa yang kamu cintai dan kamu mendapat bayaran untuk itu. Amazing bukan?
Elang kembali. Dia menyenderkan tubuhnya ke pagar bambu yang membatasi setiap bilik resto di tempat ini.
"Apa ya? Suka aja." Aku mendorong kotak tisu ke hadapannya. Elang menarik selembar tisu dan mengeringkan tangannya.
"Cuma suka?"
Elang menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya.
"Is it Okay?" Elang menunjuk rokoknya. Aku mengangguk. "Kamu tahu, Pak Bondan di wisata kuliner itu paling pintar mengungkapkan rasa. Ada aja istilahnya untuk melukiskan makanan yang ia cicipi, jadi nggak sekadar enak, lumayan atau nggak enak. Mengungkapkan rasa bukan masalah gampang lho, tapi saat seseorang mampu melakukannya, orang yang mendengar pasti akan tertarik dan jatuh hati. Nah, di fotografi aku belajar memainkan rasa. Melatih rasa terhadap komposisi warna, bentuk, tekstur dan cahaya. Jadi nggak ada lagi teori atau hukum-hukum yang harus kupatuhi. Itu juga nggak gampang. Penilaian pada foto bukan sekadar bagus atau nggak bagus. Tapi akan ada ungkapan dengan istilah lain. Ya...aku berharap seperti itu."
Aku hanya mengernyit mendengara penjelasannya.
"Gaya banget ya kata-kataku?" Matanya menyipit kemudian tertawa pelan. "Nggak usah ditanggepin, yang tadi itu akibat menu hari ini nikmat banget makanya keingat Pak Bondan," Dia kembali nyengir. "Yang pasti aku suka fotografi karena aku bisa men-save apa yang aku lihat mungkin aja itu cuma sekali terjadi seumur hidup. Simpel kan?" Kali ini dia tersenyum lebar dan membuat aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Dia berdehem sambil mengeluarkan kamera dari tas kecilnya yang tidak pernah ia tinggal di mobil. Aku menuju kran air. Mengambil tisu dan kembali duduk.
"Masih suka buat sketsa?" Aku menyipitkan mataku memandangnya. Dia tersenyum.
"Aku pernah liat beberapa sketsa yang kamu buat dulu. Walaupun kamu nggak pernah menunjukkan sama aku. Dan itu bagus banget." Dia menjawab ekspresi curiga dari wajahku.
Aku tertawa kecil mengingat beberapa sketsa wajah Abel dan Dion yang aku buat saat SMA. Elang pasti pernah melihatnya karena aku sering membawa sketsa itu dalam tas sekolahku.
"Masih untuk sekadar membuang rasa bosan aja."
"Cuma itu?"
"Uhm...menurut kamu bagus? Punya nilai seni?" Aku menatapnya meminta jawaban jujur.
"E..he.." Dia mengangguk sambil menatapku lurus. Dia serius.
Mataku menerawang. Aku tersenyum dalam hati.
"Uhm...aku ingin melukis di kanvas."
Elang tersenyum. Kami saling memandang. Beberapa detik kemudian aku tersadar. Senyum Elang semakin lebar membuatku semakin salah tingkah.
"Bian."
"Ya?" aku menoleh dan klik.
"Ekspresi yang alami." Aku cemberut. Dia tertawa kecil, menatapku lagi beberapa detik kali ini aku seperti tidak mampu berpaling. Tak bisa kupungkiri jantungku seperti sedang jungkir balik saat ini. Bagaimana bisa?