MOBIL mini cooper itu melaju pelan meninggalkan perkarangan rumah mewah milik keluarga Khalisa. Kay sesekali melirik ke arah kaca spion, menatap gadis itu yang masih berdiri di depan pintu seraya melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun membalas lambaian itu dengan membunyikan klakson dua kali, sebelum akhirnya membelokkan mobil ke arah jalan besar.
Kay mengembuskan napas panjang begitu pagar berwarna hitam itu lenyap dari pandangannya. Rasanya seperti baru saja menurunkan beban berkilo-kilo dari punggungnya. Seharian penuh ia harus tersenyum, tertawa dan berbicara dengan gaya yang bukan miliknya. Sungguh, melelahkan.
Akan tetapi, bukan lelah itu yang mengganggunya saat ini.
Netra Kay melirik ke arah jok sebelah kiri yang kini telah kosong. Masih tertinggal aroma vanilla di sana. Aroma yang sama dengan yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya saat di balkon tadi. Kay menggeleng keras. Ia pun menaikkan volume radio, berharap suara penyiar yang tengah membacakan laporan lalu lintas malam bisa menenggelamkan sesuatu yang sedari tadi berdebar tak karuan di dalam d**anya.
Nyatanya tidak.
“Kau hanya menjalankan tugasmu, Kay,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Gadis itu milik Key. Dia merindukan Key. Yang dipeluknya tadi juga Key, bukan kau.”
Kay tertawa hambar. Ya, tentu saja ia benar. Semua pujian itu untuk Key. Semua rindu yang ditumpahkan gadis itu juga untuk Key. Bahkan, panggilan 'Khalie' yang keluar dari bibirnya pun sebenarnya milik Key. Lantas, kenapa ia harus merasa senang saat gadis itu memuji ketampanannya? Kenapa pula ia harus mengecup puncak kepala gadis itu tadi, padahal tak ada satu pun kalimat di kertas ibu yang menyuruhnya melakukan hal semacam itu?
Ah, sial. Kay memukul setir mobilnya sekali.
Drrrt … drrrt ….
Ponsel di dalam saku celana jeans-nya bergetar. Kay meminggirkan mobil di bawah lampu jalan yang menyala remang. Kemudian, merogoh benda pipih itu dan menatap layarnya.
Bongbong calling.
Kay bergeming. Ia hanya menatap nama itu berkedip-kedip sampai getarannya berhenti dengan sendirinya. Setelah itu, muncul deretan pemberitahuan yang tak sempat dibacanya sejak beberapa hari terakhir. Dua puluh tiga panggilan tak terjawab. Belasan pesan singkat. Nama Ibib dan Bongbong bergantian memenuhi layar.
'Kay, kau di mana?'
'Woy, angkat teleponku!'
'Kalau kau mati, setidaknya kabari kami dulu, bodoh.'
Kay tersenyum tipis saat membaca pesan terakhir dari Ibib itu. Sungguh, ia merindukan mereka. Merindukan markas, merindukan bau oli dan bensin, merindukan suara Bongbong yang selalu berdesis kesal setiap kali dipanggil cebong.
Namun, Kay tak bisa menjawabnya. Sebab, apa yang harus dikatakannya? Bahwa ketua komunitas Wolf yang mereka banggakan itu kini sedang berpura-pura menjadi orang lain di Jakarta? Berpura-pura menjadi kekasih seorang gadis yang bahkan tak dikenalnya sama sekali? Mereka pasti akan menertawakannya habis-habisan. Atau yang lebih buruk, mereka akan mencarinya sampai ke kota ini.
Kay menekan tombol di samping ponselnya sampai layar itu padam. Lalu, melemparkannya begitu saja ke jok sebelah.
“Maaf, Bib,” ucapnya lirih. Kemudian, kembali melajukan mobil membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang.
•••••
Lampu ruang tengah masih menyala saat Kay membuka pintu. Ia mendapati Innara tengah duduk di sofa dengan secangkir teh yang sudah tak lagi mengepul di atas meja. Wanita itu langsung bangkit begitu melihat putranya masuk.
“Kau sudah pulang,” ucap Innara. “Bagaimana Khalisa? Dia sampai di rumahnya dengan selamat, kan?”
Kay melenggut tanpa menjawab apa pun. Ia melepas jaket hitamnya, lalu hendak melangkahkan kaki ke arah tangga.
“Kay, duduk dulu sebentar.”
Suara berat itu berasal dari sudut ruangan. Kay menghentikan langkahnya. Hakim tengah duduk di kursi tunggal dengan koran yang terlipat di atas pangkuannya. Entah sejak kapan pria itu berada di sana.
Kay mengembuskan napas kasar. Ia pun mendaratkan bokongnya di sofa, berseberangan dengan pria yang tak pernah mau disebutnya ayah itu.
“Besok kau mulai kuliah,” ucap Hakim tanpa basa-basi.
Kening Kay mengernyit. “Apa?”
“Universitas Dharma. Key sudah mengambil cuti selama beberapa bulan. Kalau cutinya berlanjut, dia bisa kehilangan semesternya,” jawab Hakim.
Kay tertawa. Sungguh, ia tak sanggup menahan tawanya. “Jadi sekarang aku juga harus menggantikannya duduk di bangku kuliah?” tanyanya. “Kalian pikir aku ini apa? Boneka?”
“Kay ….” Innara mendekat dan duduk di samping sang putra.
“Aku bahkan tidak pernah menginjak bangku kuliah, Bu!” seru Kay. “Bagaimana bisa aku menjadi Key yang katanya pintar itu?”
Hakim melipat korannya, lalu meletakkannya di atas meja. “Kau tidak perlu menjadi pintar. Kau hanya perlu duduk di sana dan tidak membuat siapa pun bertanya-tanya,” ucapnya.
“Sampai kapan?”
Hening. Tak ada satu pun dari mereka berdua yang menjawab pertanyaan itu.
Kay mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku sudah memakai wajahnya, memakai mobilnya, bahkan memakai kekasihnya. Sekarang aku juga harus memakai bangku kuliahnya.” Ia menatap Hakim lekat. “Setidaknya katakan padaku, di mana Key sekarang?”
Innara menoleh cepat ke arah suaminya. Sementara Hakim justru membuang muka ke arah jendela.
“Itu bukan urusanmu,” jawab pria itu dingin.
Kay mendengkus. Ya, tentu saja. Selalu seperti itu. Sejak dulu, tak pernah ada satu pun hal tentang keluarga ini yang menjadi urusannya.
Innara meraih tangan Kay, tetapi lelaki itu buru-buru menariknya. Wanita itu pun menunduk. Kemudian, ia mengambil sebuah amplop cokelat dari atas meja dan menyodorkannya.
“Semester enam. Jurusan Ilmu Komunikasi,” ucap Innara pelan. “Ibu sudah menuliskan semuanya di dalam sana. Nama teman-teman dekat Key, kebiasaannya, juga hal-hal yang sering dibicarakannya.”
Kay menerima amplop itu tanpa membukanya sedikit pun.
“Yang paling perlu kau ingat namanya Choky,” lanjut Innara. “Dia sahabat Key sejak semester satu. Kulitnya putih, rambutnya pendek dan ikal, postur tubuhnya juga tidak jauh berbeda denganmu. Dia yang paling sering bersama Key, jadi dia pula yang paling mudah curiga.”
“Hanya itu?”
Innara mengangguk ragu. “Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu tentang—”
“Cukup.” Kay bangkit dari duduknya. Sungguh, ia sudah tak sanggup mendengar nama laki-laki itu disebut-sebut lebih lama lagi. “Aku mengantuk.”
“Kay, tunggu. Ibu belum selesai bicara.”
Namun, Kay tak menoleh sedikit pun. Kakinya terus melangkah menaiki anak tangga sambil meremas amplop cokelat di genggamannya.
“Kay!” panggil Hakim dengan suara yang meninggi. “Jangan pernah kau buat malu nama Key di kampus itu!”
Kay menghentikan langkah di anak tangga kelima. Ia menoleh ke bawah, menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dan jangan pernah kalian buat aku lupa siapa aku sebenarnya,” balasnya.
Setelah itu, ia kembali melangkah dan menghilang di balik lorong lantai dua.
Innara terisak. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sementara Hakim hanya bisa mengembuskan napas berat sambil menatap anak tangga yang telah kosong itu.
“Sampai kapan kita akan menyiksa anak itu?” tanya Innara di sela isaknya.
Hakim bergeming. Sebab, ia sendiri pun tak tahu harus menjawab apa.
•••••
Kay menutup pintu kamar dengan punggungnya. Ia merosot perlahan sampai bokongnya menyentuh lantai yang dingin. Amplop cokelat yang sedari tadi diremasnya kini tergeletak begitu saja di samping kakinya.
Cukup lama ia duduk seperti itu. Sampai akhirnya, ia meraih amplop tersebut dan merobek bagian atasnya.
Beberapa lembar kertas keluar dari dalam sana. Tulisan tangan ibu memenuhi setiap barisnya. Rapi, kecil dan panjang. Kay membacanya satu per satu di bawah cahaya lampu belajar.
'Key selalu duduk di barisan paling depan.'
'Key tidak suka kopi. Dia hanya minum teh tawar.'
'Key tidak pernah menyela dosen yang sedang berbicara.'
'Choky, sahabat Key. Kulit putih, rambut pendek ikal.'
Kay mengembuskan napasnya. Ia melempar kertas-kertas itu ke atas ranjang. Sungguh, ini gila. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa dipelajari hanya dari beberapa lembar kertas? Bagaimana pula ia bisa menghafal seluruh isi kepala orang lain hanya dalam satu malam saja?
Ia bahkan tak tahu bagaimana suara tawa Key. Tak tahu bagaimana laki-laki itu berjalan, bagaimana cara laki-laki itu menyapa orang-orang di lorong kampus, atau seperti apa raut wajahnya saat sedang kesal. Yang diketahuinya hanya satu hal. Wajah mereka sama.
Netranya beralih ke arah pigura foto yang berada di atas nakas. Foto Key yang tersenyum lebar dengan mata yang seperti hilang. Wajah yang sama persis dengan wajahnya, tetapi entah kenapa terasa begitu asing baginya.
Kay meraih pigura itu dan menatapnya lekat.
“Kau tahu, Key?” gumamnya. “Hari ini aku sudah membohongi gadis yang paling mencintaimu di dunia ini.”
Hening. Tentu saja tak ada jawaban dari sana.
“Dia menanyakan ke mana saja kau selama dua bulan ini.” Kay tertawa kecil, kemudian tawanya luruh begitu saja. “Aku menjawabnya dengan kebohongan. Kau puas?”
Kay meletakkan kembali pigura itu ke atas nakas dengan agak keras. Lalu, merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa berganti pakaian.
Ia memejamkan kedua netranya. Namun, yang muncul di kepalanya bukan wajah Key, bukan pula wajah eyang Fura di kampung sana, melainkan wajah seorang gadis yang tertidur pulas di jok sebelahnya tadi.
Buru-buru Kay membuka matanya. Ia bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Tidak,” ucapnya kepada dirinya sendiri. “Kau tidak boleh, Kay.”
Sebab, ia tahu betul, apa pun yang tumbuh di dalam d**anya malam ini, selamanya tak akan pernah menjadi miliknya.
•••••
Khalisa melompat ke atas ranjang begitu selesai membersihkan diri. Koper berwarna pink miliknya masih menganga di sudut kamar, belum sempat dibongkar sama sekali. Masa bodoh. Besok saja.
Ia meraih ponsel dan menekan nama Irene di layarnya. Tak lama kemudian, wajah gadis Thailand itu muncul dengan rambut yang masih dibungkus handuk.
“Khalie—ah, maksudku Khalisa,” sapa Irene sambil menyeringai lebar.
“Ne, kau tahu? Aku bertemu dengannya!” pekik Khalisa tanpa memedulikan ejekan temannya itu.
Irene tertawa. “Sudah kuduga. Wajahmu itu seperti orang yang baru saja menang lotre. Jadi, bagaimana? Dia masih setampan yang ada di fotomu?”
“Lebih tampan,” jawab Khalisa cepat, membuat Irene berpura-pura muntah di seberang sana.
Khalisa terkekeh. Ia pun memeluk guling dan menceritakan semuanya. Tentang bandara, tentang ibu yang memeluknya dengan erat, tentang balkon, juga tentang perjalanan pulang yang justru membuatnya tertidur.
Namun, di tengah ceritanya, Khalisa mendadak terdiam.
“Kenapa?” tanya Irene.
“Entahlah. Ada yang aneh, Ne,” ungkap Khalisa pelan.
Irene mengernyit. “Aneh bagaimana?”
Khalisa menggigit bibir bawahnya. Ia pun mulai menghitung dengan jari-jemarinya. “Pertama, dia lupa kalau aku sudah memotong rambutku setahun yang lalu. Kedua, dia jadi suka mengacak rambutku, padahal dulu dia tidak pernah melakukannya sekali pun. Ketiga ….”
“Ketiga?”
“Pelukannya berbeda,” aku Khalisa lirih.
Irene bergeming sesaat. “Berbeda bagaimana? Lebih dingin?”
Khalisa menggeleng. “Justru sebaliknya. Lebih hangat.”
Sesaat, hanya terdengar suara kipas angin dari seberang sana. Sampai akhirnya, Irene tertawa terbahak-bahak hingga handuk di kepalanya nyaris terjatuh.
“Ya ampun, Khalisa. Kau baru bertemu dengannya setelah satu tahun berpisah, tentu saja semuanya terasa berbeda!” ejeknya. “Kau saja yang terlalu banyak menonton drama.”
Khalisa memberenggut. Kendati begitu, pada akhirnya ia ikut tertawa juga. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Irene. Mungkin memang dirinya saja yang berlebihan.
“Ne, aku tutup, ya. Besok aku harus ke kampus pagi-pagi.”
“Hei, kau baru sampai hari ini dan sudah mau ke kampus?”
“Aku harus mengurus banyak berkas,” jawab Khalisa. Kemudian, senyumnya kian melebar. “Lagi pula, dia berjanji akan menjemputku ke sana.”
Irene memutar kedua bola matanya. “Terserah kau saja. Selamat malam, gadis gila.”
Panggilan pun berakhir.
Khalisa mendekap ponselnya erat di d**a. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil terus tersenyum. Rasanya, satu tahun penantiannya terbayar lunas hanya dalam satu hari ini.
“Terima kasih sudah kembali, Key,” gumamnya sebelum kedua netranya terpejam.
Sayangnya, gadis itu tak pernah tahu. Bahwa laki-laki yang seharian ini menggenggam tangannya, mengacak rambutnya dan mengecup puncak kepalanya, kini tengah berbaring di kamar yang lain dengan menyandang nama yang bukan miliknya.