IBIB dan sepuluh anggota lainnya memarkirkan lima sepeda motor mereka tepat di depan pintu masuk panti asuhan pelita. Mereka semua mengenakan jaket berwarna hitam. Pada punggung jaketnya terdapat gambar seekor serigala yang sedang meraung di samping sinar rembulan, sementara di bawah gambar terdapat sablon yang bertuliskan ‘WOLF’. Jaket itu merupakan jaket kebanggaan komunitas mereka jika sedang berkunjung seperti ini.
Ibib meletakkan helm di kaca spion motornya. Kini netranya bisa melihat lima anak-anak yang ditaksir usianya lima sampai tujuh tahun sedang berlari, tertawa dan bermain bersama. Ibib mengulas senyum. Ia bisa melihat dengan jelas kebahagiaan yang tersirat di wajah mereka.
“Itu Bang Ibib!” teriak mereka saat melihat Ibib berjalan menghampiri. Mereka semua berlari ke luar menyambut kedatangannya.
Ibib tersenyum riang melihat anak-anak itu berlari menyambutnya. Ia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak yang telah mengelilinginya. Ibib juga mengelus lembut satu persatu puncak kepala mereka dengan lembut. “Bang Ibib kangen sama kalian semua,” ucapnya.
“Aku juga kangen Bang Ibib,” balas mereka semua.
Ibib, Bongbong dan anggota WOLF lainnya memang rutin mengunjungi Panti Asuhan di setiap bulannya. Namun, tidak hanya Panti Asuhan Pelita yang dikunjungi, melainkan ada banyak Panti Asuhan yang tak luput didatangi mereka di wilayah Jogja ini. Sehingga, setiap kali mereka datang, semua anak Panti selalu saja melepas rindu, juga selalu menanti kedatangan mereka kembali.
“Oh ya, aku punya sesuatu untuk kalian.” Ibib merogoh sebuah bingkisan yang dibawanya.
Semua tampak begitu antusias, menunggu Ibib mengeluarkan sesuatu yang akan diberikan kepada mereka. Ibib tak begitu saja mengeluarkannya, membiarkan tangan kanannya tetap bersembunyi di dalam bingkisan itu. Ia pun tersenyum penuh makna menatap mereka. “Coba tebak, aku punya apa?”
Tanpa waktu lama mereka menjawabnya, “Permen,” sahut mereka secara bersamaan.
“Pintar. Tapi, aku akan kasih permen ini kalau kalian bisa jawab pertanyaan dari aku, ya?” Kini Ibib menyodorkan lima buah permen lollypopnya di depan mereka.
Semua tampak senang, menyetujui saja ucapan Ibib. Dan kini mereka telah siap untuk mendengarkan pertanyaan dari laki-laki yang masih berjongkok di hadapan mereka.
“Coba kamu jawab pertanyaan aku, ya? Lima ditambah lima berapa?” Ibib menunjuk anak perempuan yang tubuhnya paling kecil. Anak itu masih berusia lima tahun. Ibib juga mengangkat satu per satu tangannya ke udara, melebarkan ke sepuluh jari-jemarinya, membiarkan anak itu menghitungnya sendiri.
Ratna. Nama anak kecil itu. Satu per satu ia menghitung jari-jemari Ibib. “… Delapan, sembilan, sepuluh. Sepuluh, Bang,” jawabnya tepat.
“Waaah … Ratna pintar.” Ibib memberikan tepuk tangannya untuk anak kecil itu. Lalu, ia pun memberikan satu lollypopnya untuknya. “Ini untuk kamu,” ucapnya.
“Terima kasih, Bang,” balas Ratna dengan menerima permen pemberian Ibib dan langsung berhambur memeluk laki-laki bertubuh kekar itu. Kemudian, ia pun berlari senang meninggalkan Ibib dan teman-temannya.
“Sekarang, siapa yang bisa jawab angkat tangan, ya?” beritahu Ibib kepada keempat anak-anak di hadapannya.
Mereka mengangguk. “Siapa nama Presiden kita?” tanya Ibib dengan nada cepat.
“Saya, Bang.”
“Saya, Bang.”
Semua mengangkat tangan, membuat Ibib bingung sendiri. Namun, tak lama kemudian, ia pun mengulas senyum dan menunjuk anak laki-laki yang bertubuh tinggi di antara yang lainnya. Anak itu berusia tujuh tahun.
“Bapak Joko Widodo,” jawabnya tepat.
“Yeey … Pintar.” Lagi Ibib memberikan tepuk tangan kecilnya untuk anak itu. Kemudian, ia memberikan satu lollipopnya untuknya.
“Terima kasih, Bang,” balasnya dengan menerima permen pemberian dari Ibib.
Bongbong yang masih duduk di atas motornya, begitu takjub melihat anak-anak kecil itu. Mereka begitu riang, lincah juga pintar. Kini ia bisa melihat Ibib yang tersenyum sambil mengusap puncak kepala mereka. Jujur saja, ia begitu mengagumi Ibib. Kagum akan kebaikan hati laki-laki itu. Ibib terlihat begitu tulus membantu mereka. Ia beruntung bisa bergabung ke dalam komunitas ini. Sebuah komunitas yang lain daripada komunitas lainnya. Di mana kebanyakan komunitas lain yang lebih mementingkan ego masing-masing dengan cara membuat keonaran hingga sampai berkelahi. Ah, entah bagaimana nasibnya jika dirinya tidak mengenal Kay dan juga Ibib. Mungkin saat ini ia memiliki perilaku yang buruk.
“Hei, nama kamu siapa?” Ibib menatap salah satu anak yang sedari tadi hanya diam tanpa ikut bersuara. Ia pun mengangkat tangan hendak mengusap puncak kepala anak itu. Namun, tanpa disangka anak itu malah menghindar, dengan tubuh yang mundur beberapa langkah ke belakang.
Ibib mengernyit heran. Sorot mata anak itu tampak ketakutan melihatnya. Oh, astaga, apa yang salah dengannya? Apa ia terlihat begitu menyeramkan, sehingga anak itu takut melihatnya?
“Kamu takut lihat Bang Ibib?”
Anak itu menggeleng. “Aku takut lihat itu.”
Pandangan Ibib mengikuti jari telunjuk anak itu yang mengarah ke arah jaketnya. Ibib terkekeh. Ya ampun, ternyata anak itu takut dengan gambar serigala yang ada di punggung jaketnya. Bukan dirinya. “Loh, kenapa takut?”
“Serigala itu jahat, Bang.”
Ibib terkekeh. Bocah laki-laki yang Ibib taksir usianya enam tahun itu terlihat begitu polos dan jujur. “Nama kamu siapa?” tanyanya.
“Rayan.”
Ibib memilih untuk mendekati bocah itu perlahan. Lalu tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. “Kamu tidak perlu takut, Yan. Karena, kenyataannya serigala itu tidak jahat. Mau Bang Ibib ceritakan tentang serigala itu?” tanyanya yang dianggukan pelan oleh Rayan.
“Serigala itu binatang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kerabatnya. Mereka hidup berkelompok dan saling bekerja sama membantu para serigala lain yang membutuhkan bantuan. Dan seharusnya manusia seperti kita itu bisa belajar dari kehidupan para serigala.” Ibib mulai menceritakannya, yang tentu saja dengan diiringi oleh senyumnya.
“Nah, di sinilah tujuan komunitas Wolf terbentuk. Supaya mereka para anggotanya memiliki sifat loyalitas yang tinggi sama seperti kawanan serigala itu. Dan supaya para anggota Wolf juga mau saling bekerja sama membantu anggota lainnya yang sedang mengalami kesulitan. Bukan hanya ke anggota saja, tujuan utama Wolf ada, supaya mereka juga mau belajar untuk saling berbagi dengan kaum kecil lainnya yang membutuhkan,” tambah Ibib. Sementara Rayan yang sedari tadi fokus mendengarkan tampak tertegun.
“Jadi apa kamu masih takut dengan serigala yang ada di punggung Bang Ibib?”
Rayan menggeleng. Ia pun tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan gigi atasnya yang hitam. “Aku juga mau punya baju kayak Bang Ibib,” akunya.
Ibib terkekeh geli saat melihat senyum bocah itu. Sebab, senyuman itu mengingatkannya dengan masa kecilnya dulu yang juga memiliki deretan gigi yang hitam akibat terlalu banyak mengonsumsi yang manis-manis. Seperti permen misalnya. “Nanti jika kamu sudah besar, Bang Ibib kasih satu baju ini untuk kamu, ya,” ungkapnya yang dianggukan dengan disertai senyum menawan milik Rayan.
•••••••••
“Astaga, Key kau beruntung sekali,” gumam Kay yang sedari tak henti menatap takjub megahnya kampus Universitas Dharma di hadapannya. Sebuah universitas yang merupakan tempat impiannya untuk menuntut ilmu. Namun, keadaan ekonominya di kampung yang menyurutkannya untuk bisa berkuliah di tempat ini.
Kay mulai melangkahkan kedua kakinya memasuki pintu gerbang kampus yang begitu tinggi, hingga langkahnya terhenti di tengah lapangan yang di kelilingi oleh gedung-gedung yang megah dan menjulang tinggi. Kay bingung sendiri. Dimana ia bisa menemukan kelasnya di luasnya Universitas Dharma ini? Sebab, ibunya tak memberitahu letak keberadaan kelasnya. Ibunya hanya memberitahu jika ia semester enam dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Lantas, ke mana ia harus melangkah saat ini?
Kay melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Mendadak netrnya melebar saat mengetahui jika kelas pertama akan segera dimulai. “Ah, sial,” umpatnya kesal.
Kay celingukan untuk menentukan gedung mana yang harus ia masuki. Ia pun menggeleng. Tak ada waktu. Masa bodoh. Kay pun bergegas berlari ke arah depan untuk memasuki gedung C. Walau banyak mahasiswa yang berlalu lalang, tetapi ia enggan untuk menanyakan perihal kelasnya. Ia tak ingin mereka curiga dan mengetahui identitasnya. Tidak lucu, kan, seorang Key yang terkenal pintar di kampus ini, tetapi lupa di mana letak kelasnya sendiri?
Kay terus berlari dengan netra yang berkali-kali menatap jam tangannya. Sayangnya, terlalu fokus hingga ia tak melihat ada seorang gadis di hadapannya, hingga sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Bruuukkk
Kay menabrak gadis itu hingga membuatnya tersungkur ke atas lantai. Ditambah lagi, semua buku yang dibawa gadis berkaca mata itu jatuh berserakan di atas lantai. Netra Kay melebar saat melihat akibat dari perbuatannya itu. Masa bodoh. Ia pun memilih hanya mengucapkan kata maaf tanpa mau membantu gadis itu.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku buru-buru,” ungkap Kay, lalu pergi meninggalkan gadis itu yang tampak termangu menatap punggungnya yang kian menjauh.
Langkah kaki Kay terhenti di depan papan mading kampus yang menampakkan denah lokasi. Netranya pun fokus mencari gedung beserta jurusannya. Namun, mendadak ia terperanjat kaget saat seseorang merangkul pundaknya.
“Key, akhirnya kau menampakkan batang hidungmu juga. Ke mana saja kau selama cuti? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” tanya seorang laki-laki berkulit putih dengan rambut pendek ikal di samping Kay.
Kay mengerut bingung ketika melihat wajah laki-laki itu. Siapa dia? Benaknya pun berusaha untuk mengingat perihal siapa orang asing itu yang tampak begitu akrab dengannya. Mungkinkah orang itu ialah Choky, sahabat Key? Ah, ya. Tidak salah lagi, dari postur tubuh dan ciri-ciri orang itu sama seperti yang diberitahu oleh ibu.
“Hmmm … sorry, Choky. Aku ada urusan,” dalih Kay. Kay meneguk saliva dengan susah payah, berharap ia tak salah orang.
“Astaga, ada apa denganmu, Key? Kenapa tiba-tiba kau memanggil nama asliku?”
Deg! Kay terbungkam. Ia gelagapan. Ya ampun, apa ia salah dalam memanggil nama laki-laki itu? Astaga, bagaimana ini? Pasalnya, ibu tak memberitahu soal nama panggilan yang ditujukan Key untuk Choky.
“Aku lebih suka kau memanggilku Cho, Key.”
“Hahaha. Aku hanya bercanda, Cho,” ungkap Kay dengan senyum yang tampak dipaksakan.
“Ngomong-ngomong kau ada urusan apa sampai-sampai kau tidak memberitahuku jika kau ingin cuti?” Cho kembali merangkul seraya membawa Kay berjalan. Sementara Kay hanya mengikuti arah yang akan dituju oleh sahabat Key ini. Ia yakin jika laki-laki itu akan membawanya ke kelas.
“Urusan keluarga,” dalih Kay.
“Aku senang kau sudah kembali kuliah.”
Cho melepas rangkulan pada pundak milik Kay. Ia pun mpberbelok ke arah kiri untuk menaiki anak-anak tangga. Namun, ia terpegun ketika melihat Kay yang masih saja terus melangkah. “Astaga, Key, kau mau ke mana? Kelas kita ada di atas,” beritahunya sembari berdecak dan menggelengkan kepala.
Kay mengerem langkahnya. Ia pun berbalik dan kembali berjalan menghampiri Cho yang sudah menaiki anak tangga. Kay tersenyum kecut sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Sorry, aku lupa,” akunya dengan berpura-pura lupa. Di mana pada kenyataannya memang dirinya tak tahu letak kelasnya.
Cho kembali berdecak melihat sikap aneh Kay. “Ya ampun, aku tidak menyangka, baru beberapa bulan cuti kau sudah lupa,” ejeknya, “untung saja kau masih ingat di mana kampusmu,” sarkasnya kemudian yang hanya disahuti oleh senyum kecut milik Kay.
Ah, Cho, andai kau tahu jika aku bukanlah Key yang kau kenal.
••••••••••
Sebuah lukisan serigala yang cukup besar terpajang pada ruangan tiga kali empat meter ini. Ibib beserta Bongbong tengah duduk di ruangan itu yang merupakan ruangan milik Kay hanya sekadar untuk melepas rasa penat. Walau ruangan itu kini telah menjadi ruang pribadi mereka selama Kay tak berada di Jogja.
Ibib mendesah ringan. Lalu, menatap Bongbong yang tengah menenggak air mineral dingin di sampingnya. “Bong, apa kau sudah mendapat kabar dari Kay?” tanyanya.
Bongbong meletakkan botol air mineralnya di atas meja. Lalu, menggeleng dan mulai menjawab pertanyaan sang ketua pengganti itu. “Aku belum mendapat kabar dari Kay.”
“Aisshh … ke mana perginya anak itu?”
Ibib menggedikkan bahu. Jika ditanya seperti itu, tentu saja ia tak tahu harus menjawab apa. Sebab, ia bukan seorang cenayang yang tahu segalanya tentang keberadaan Kay.
“Apa kau sudah menyuruh Berni untuk datang ke rumah Kay dan bertanya kepada eyang Fura tentang keberadaan Kay?”
Netra Bongbong membulat. Ia menepuk kening seraya menyeringai lebar. “Astaga, kenapa aku tidak melakukan hal itu dari kemarin-kemarin,” cetusnya.
Ibib memutar kedua bola matanya. Ia pun berdecak kecil. “Aish, dasar cebong,” ejeknya kemudian.
“Hei, jangan panggil aku seperti itu.”
Ibib tak memedulikan ocehan Bongbong. Ia terus meledek dan mengejek laki-laki tampan itu. “Cebong. Cebong. Cebong.”
“Ya ampun, kau ingin mati, ya?” sangkal Bongbong dengan memukul bahu Ibib. Membuat laki-laki bertubuh kekar itu tergelak.
Ponsel Bongbong berdering, hingga membuat gelak tawa Ibib terhenti. Buru-buru ia merogoh saku celana jeans-nya, berharap Kay yang menelepon. Namun, ia menggeleng ke arah Ibib saat tahu jika bukan Kay yang meneleponnya.
“Halo.” Bongbong mengangkat panggilan itu.
“Ada kabar buruk untuk kita semua.”
Kening Bongbong mengernyit. “Kabar apa?”
“Arya sudah keluar dari penjara.”