Kaget. Itulah yang dirasakan baik oleh Lea dan Andrew sesaat setelah Lea selesai memasukkan passcode miliknya ke dalam mesin keamanan pintu apartment nya ketika melihat keadaan ruang tamu yang sudah berantakan dengan beberapa barang yang tidak seharusnya berada di tempatnya dan juga beberapa bungkus camilan ringan dan minuman yang juga berceceran di sekitar ruang tamu sekaligus merangkap sebagai ruang bersantai miliknya itu.
"What the- kalian menghancurkan apartment ku!"pekik Lea mematung tepat di depan pintu apartmentnya bersama Andrew yang kini tampak diam tercengang melihat seberapa berantakan apartment milik sahabatnya itu.
'Oh my poor Lea!',batin Andrew antara ingin tertawa dan simpati di waktu bersamaan.
"Oh! Kalian datang! Masuklah! Kami sedang marathon drama!"ucap Jhoanna tanpa rasa bersalah sembari menolehkan wajahnya sejenak kepada kedua orang yang tengah terdiam penuh keterkejutan itu.
"Jhoanna! Aku mengizinkanmu ke apartment ku bukan untuk menghancurkannya seperti ini!"kesal Lea penuh emosi sambil berjalan masuk menuju apartment miliknya sembari disusul oleh Andrew yang tengah keasikan tertawa melihat seberapa marahnya Lea saat ini.
"Oh ayolah Lea. Ini bukan masalah besar seperti aku yang akan di seret pulang ke Kanada hanya untuk menghadiri acara keluarga yang seperti neraka itu bagiku!"jawab Jhoanna acuh tak acuh sembari terus melanjutkan kegiatannya menonton drama yang berasal dari negeri tirai bambu itu.
"Di mana Draksie?"tanya Andrew kepada para wanita yang tampak asik tengah menonton itu.
"Dia ada di toilet tadi. Speak of the devil, here she is!"jawab Tracy bersamaan dengan Draksie yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada dekat dari ruang tamu.
"Kalian berdua sudah datang? Sorry Lea! Mereka sedari tadi ku suruh buat ngerapin kekacauan yang mereka buat tapi lihat? Mereka asik menonton drama terus!"kesal Draksie yang begitu terlihat dari ekspresi wajahnya yang menunjukkan ketidak sukaan dari ekspresinya sambil berjalan menuju Andrew yang telah duduk manis di atas sofa miliknya itu.
"Astaga! Aku sama sekali tidak tahu harus marah pada siapa! Ke Jhoanna? Malahan aku yang mengizinkannya untuk masuk ke dalam apartment ku!"gerutu Lea sembari mengambil kantung sampah untuk memasukkan sampah-sampah milik para sahabatnya itu kedalamnya.
Draksie yang melihat sahabatnya tampak kewalahan dengan kekacauan yang dibuat oleh ketiga wanita yang kini tengah di gusur oleh Lea pun tampak iba dan mulai membantu menata ulang ruang milik Lea yang sudah seperti kapal pecah itu.
"Kalian bertiga jika tidak membantu kami membersihkan setidaknya pergi belilah beberapa makanan! Jangan harap aku mau memasakkan kalian makanan melihat seberapa parah kekacauan yang telah kalian buat ini!"usir Lea pada ke tiga wanita yang tampak memberengut kesal lantaran TV yang tengah mereka gunakan dengan tiba-tiba di matikan oleh Lea yang tampak masih sangat kesal di depan mereka.
"Baik-baik kami pergi!"ujar Tracy malas sembari menarik kedua sahabatnya yang lain untuk ikut menemaninya membeli beberapa makanan.
---
Sudah tiga minggu semenjak Alchra berhasil melewati masa kritisnya dan sudah tiga minggu pula Alchra tak kunjung bangun dari tidur panjangnya.
Semua orang tampak sangatlah khawatir akan kondisi sang pemimpin yang belum menunjukkan sedikitpun perkembangan yang berarti.
"Kapan Alchra bangun Jim?"tanya Alta yang menatap penuh kekhawatiran kondisi sang kakak yang tampak tidak menunjukkan progres apapun semenjak 2 minggu ini.
"Untuk saat kondisi tubuh Yang Mulia tampak stabil dan tidak ada tanda-tanda penurunan maupun terjadi penolakan dalam tubuh Yang Mulia. Jika menurut data yang ada, dalam waktu dekat Yang Mulia akan segera bangun."jawab Jim, dokter pack yang menangani keadaan Alchra selama tiga minggu ini.
"Lapor Pangeran, sesuai perintah anda kami sudah berusaha mencari tahu lebih dalam. Namun semua jejak tentang wanita itu seolah-olah tidak ada. Hanya sebuah data tentang dirinya yang terbang dari Alaska ke Sydney beberapa tahun lalu dan mulai memasuki salah satu perguruan tinggi disini. Untuk yang lain kami tidak menemukan jejak apapun."lapor Bryan pada Alta yang masih duduk di kursi sebelah ranjang Alchra sembari memandangi wajah sang kakak sembari membayangkan apa yang akan sang kakak teriakkan padanya jika dirinya mengetahui apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Hah! Sudahlah! Lupakan saja! Tunggu Alchra bangun baru kita selidiki lagi."jawab Alta lelah tanpa mengalihkan atensinya dari sang kakak.
"Alchra! Kau sungguh kakak laki-laki yang merepotkan!"keluh Alta tanpa menyadari jika sebenarnya Alchra dapat mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Kau lebih merepotkan Alta,"celetuk Alchra sambil membuka matanya dengan nada serak sembari berusaha untuk duduk.
"Alchra?! Kau sungguh sudah bangun?"tanya Alta retoris penuh akan rasa terkejut sembari melihat ke sang kakak yang kesusahan untuk duduk dengan di bantu Bryan yang telah tersadar dari keterkejutannya dan membantu sang atasan untuk duduk di atas tempat tidurnya.
"Jika aku tidak bangun, maka siapa yang berbicara dengan mu kini dasar!"sindir Alchra sesaat setelah dirinya bisa terduduk dengan posisi nyaman di atas tempat tidurnya smebari menerima sodoran air putih dari Bryan untuk dirinya minum.
"Bryan! Panggil Jim sekarang!"perintah Alta berusaha menghindari sindirian dari sang kakak sembari menatap mata Bryan penuh perintah yang lantas saja dengan sigap segera di lakukan oleh orang yang di suruh.
"Berapa lama aku tidur?"tanya Alchra pada Alta sembari menatap sang adik jengah.
"Kau tahu? Kau sudah tidur lebih dari 3 minggu! Berapa banyak pekerjaan milikmu yang di serahkan padaku untuk di tangani coba?!"omel Alta sembari menatap sang kakak penuh kekesalan yang menumpuk.
"Berhentilah mengomel! Suaramu membuat kepalaku ingin meledak rasanya,"komentar Alcha penuh sarkasme sembari mengorek telinganya tak peduli pada setiap kata-kata keluhan dari orang yang bersangkutan.
"Alchra! Kau sungguh!" Alta merasa geram dengan tingkah laku sang kakak yang terasa tak peduli dengan setiap penderitaan yang ia alami selama 3 minggu ini.
Di saat Alta tengah mengomel kepada Alchra, tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan ke dua orang tua mereka serta Jim yang dengan terburu-buru segera memasuki ruangan tempat Alchra di rawat selama ini.
Dengan segera, Jim melangkah menuju ranjang tempat Alchra tertidur selama ini untuk segera memeriksa keadaan Alchra dengan hati-hati dan teliti.
"Bagaimana keadaan Alchra, Jim?"cecar Cathrine dengan pertanyaan yang sudah ia pendam semenjak dirinya memasuki ruangan ini.
"Kondisi Yang Mulia baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda racun itu masih berada dalam tubuh Yang Mulia. Dalam 2 hari lagi Yang Mulia sudah bisa melakukan rutinitasnya tanpa ada hambatan lagi," terang jim menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Cathrine yang saat ini telah menunjukkan raut wajah penuh dengan kelegaan yang tidak bisa ia tutup-tutupi lagi.
"Syukurlah!" beo Cathrine penuh kelegaan sembari mendekati ranjang Alchra penuh raut bahagia.
"Moon!" panggil Alchra dengan senyuman lembut yang sangat jarang sekali ia tunjukkan kepada siapapun kecuali pada keluarganya.
"My Boy!" Sembari menjawab panggilan Alchra, Cathrine memeluk erat sang anak laki-laki penuh dengan rasa haru, lega hingga bahagia yang membuncah di dalam hatinya.
"Tak perlu menangis Moon. Ini bukan apa-apa kok. Moon tahu bukan jika anak laki-laki Moon ini tidak pernah bisa mati hanya dengan luka seperti itu," hibur Alchra dengan senyum yang selalu terukir pada wajahnya sembari mengelus pelan punggung sang ibu yang bergetar akibat menangis penuh bahagia.
"Dasar! Bagaimanapun kamu itu bukan makhluk abadi Alchra!" sungut Cathrine sembari memukul pelan kepala anak sulungnya itu dengan raut wajah yang menunjukkan rasa kesal sekaligus khawatir yang tidak bisa ia tutup-tutupi dari semua orang yang berada di dalam rauangan itu.
"Memangnya kau iblis!" cemoh Alta sembari menatap sinis Alchra yang langsung dengan seketika mendapatkan sentilan pelan dari sang ibu yang lantas saja membuat Alta pura-pura meringis sembari mengajukan protesan singkat pada sang ibu. "Moon! Sakit! Aku benarkan Moon? Para demon memiliki umur yang sangat panjang hingga bisa tergolong dalam makhluk abadi yang tentunya tidak seperti kita!"
"Dasar! Moon heran, kalian dapet sifat itu dari siapa sih?!" sungut Cathrine sembari menatap kedua anaknya bergantian. "Dari Moon!"
Sesaat setelah ke duanya menjawab dengan kompak sungutan Cathrine, gelak tawa penuh bahagia bergema di dalam ruangan besar itu tanpa menyadari jika beberapa waktu ke depan, gelak tawa itu akan hilang dan di gantikan dengan darah yang tiada hentinya.