Hari ini adalah hari libur bagi Lea yang saat ini tengah sibuk meracik segala bahan-bahan dapur untuk nantinya digunakan sebagai bahan-bahan pembuatan bolu yang baru saja ia pelajari.
Bereksperimen dalam membuat makanan merupakan sebuah hobi sekaligus hiburan yang selama ini mampu membuat dirinya merasa bahagia hanya dengan berkutat dalam dapur dan membagikan hasil buatannya kepada para sahabat serta tetangga di sekitar tempatnya tinggal selama ini.
Dengan didampingi sebuah tablet di atas meja bar dapurnya yang tengah memutarkan lagu-lagu kesukaannya, dirinya terus memainkan alat-alat dapur dengan begitu luesnya sembari sesekali berhenti untuk menyanyikan liriki-lirik kesukaannya.
"Habis itu tinggal di tabur keju di atasnya deh!" cetus Lea pada dirinya sendiri ketika melihat bolu yang telah ia buat hanya tinggal di taburkan parutan keju di atasnya sebelum akhirnya siap ia makan dan bagikan pada sahabat serta tetangganya.
Di saat dirinya tengah fokus memarut keju di atas piring saji yang berisikan 2 buah bolu utuh, tiba-tiba saja layar tablet yang sebelumnya menunjukkan aplikasi penyetelan video online berubah menjadi sebuah panggilan video yang menampilan nama 'Jean' sebagai ID pemanggil.
"Jean?" heran Lea sesaat setelah membaca ID caller yang di tampilkan di layar tablet miliknya.
Dengan cekatan, di terimanya panggilan itu yang kini menunjukkan wajah penuh senyum dari sang sahabat yang sudah cukup lama tidak berhubungan dengannya karena berbagai alasan yang ada.
"Lea! Gimana kabarmu selama ini?" sapa Jean yang berada di seberang sana dengan menunjukkan background sebuah kantor tempat dirinya bekerja.
"Aku baik di sini. Bagaimana di sana? Tumben sekali kau meneleponku Jean. Ada apa?" cecar Lea sebagai balasan sapaan yang di lontarkan oleh sang sahabat karibnya itu.
"Di sini baik. Setelah kepergianmu, mereka memang mencarimu tetapi itu tidak berlangsung lama setelah para tetua menyuruh kami untuk tidak lagi mencarimu," balas Jean sembari menjelaskan situasi dari tempat asal Lea.
"Aku memiliki sebuah kabar penting untuk kau dengar dengan baik-baik walaupun sebenarnya berita ini cukup rahasia karena hanya beberapa tetua dan orang-orang penting pack yang mengetahui tentang kabar ini," imbuh Jean yang kali ini menunjukkan wajah dan nada serius yang seketika membuat Lea menerka-nerka penuh kecemasan tentang kabar yang akan di sampaikan oleh Jean kepadanya.
"Apa ini tentang diriku?" terka Lea dengan wajah penuh kecemasan sembari menghentikan aktivitasnya menghias bolu-bolu yang tengah ia buat.
Sesaat, hanya keheningan yang memenuhi ke dua orang yang tengah melakukan panggilan video itu sebelum setelahnya terdengar nada serius penuh keresahan milik Jean yang menerangkan secara rinci tentang sebuah kabar atau lebih tepatnya ramalan yang beberapa hari ini tengah di bahas di dalam pack mereka.
"Beberapa hari yang lalu, salah satu tetua kita baru saja mendapatkan sebuah ramalan melalui mimpinya dan ini tentang dirimu, Lea," ungkap Jean dengan penuh keseriusan serta keresahan di setiap nadanya.
Ketika mendengar hal itu, seketika tubuh Lea menegang dan dengan nada bergetar penuh rasa risau, dirinya bertanya pada Jean, "Tentang apa itu Jean?"
"Dia mengatakan beberapa kata dengan jelas dan penuh ketegasan dalam setiap nadanya. 'Takdir yang selama ini di hindari akan segera tiba. Darah akan mengalir mengikuti setiap langkah mereka yang terluka akan masa lalu. Hingga darah suci tumpah di atas altar pengorbanan dan terungkapnya kebenaran, darah mereka yang saling berhubungan di masa lalu akan terus tumpah memenuhi tanah gersang di sebelah barat.' Sesaat setelah mendengar ramalan itu, kami mengetahui jika itu adalah ramalan yang berhubungan erat denganmu dan takdir yang mengikutimu Lea," terang Jean.
"Jean! Beberapa minggu yang lalu aku bisa merasakan kehadiran 'dia' di sekitar ku. Dan aku merasa jika segel yang selama ini menekan Ava," beber Lea menjelaskan tentang apa yang belakangan ini dirinya alami dan berusaha ia tampik kebenarannya.
"Kau tahu dengan jelas Lea, jika apa yang sudah di takdirkan akan terjadi tidak akan bisa kita hindari terus menerus tentang kedatangannya. Ini termasuk dalam hutang kita di masa lalu yang harus kita bayar saat ini. Jeratan takdir yang sudah menjerat kita selama ratusan hingga ribuan tahun tidak akan pernah bisa kita hindari kehadirannya. Kau tahu jelas tentang hal itu Lea," peringat Jean dengan nada sendu sembari menatap Lea dengan tatapan yang berusaha memberikan penjelasan pada Lea.
"Aku tahu Jean! Aku tahu itu! Hanya saja ini terasa begitu sulit untukku lalui!" seru Lea dengan setetes air mata yang turut luruh manakala dirinya menjawab peringatan yang di berikan oleh sang sahabat yang telah menemaninya selama ini.
"Para tetua belum bisa memutuskan tentang tindakan apa yang akan mereka berikan tentang ramalan ini. Tapi yang jelas tentang hal ini, pack tidak akan ikut turun tangan tentang hutang darah di masa lalu. Bagaimanapun hasilnya nanti, ingatlah jika kau masih memiliki seluruh pack sebagai tempatmu pulang Lea," tandas Jean dengan nada penuh pengertian sembari menatap lembut Lea yang kini sudah tampak begitu tak berdaya.
"Aku tahu Jean,"
"Ku rasa hanya itu yang perlu aku sampaikan padamu Lea. Jika kau memiliki masalah atau apapun itu, kau bisa kapan saja menghubungi ku. Ah! Ada yang datang! Aku tutup dulu ya. Ingat! Apapun dan kapanpun itu, hubungi aku," pesan Jean sebelum setelahnya menutup panggilan video yang bertepatan dengan terdengarnya sebuah ketukan pintu dari seberang sana.
Setelah panggilan itu tertutup, tubuh Lea seakan tidak dapat menahan gaya gravitasi dan dengan cepat jatuh terduduk di atas lantai dapur miliknya. Sesaat setelahnya, terdengar suara isak tangis lirih milik Lea yang menuangkan segara perasaan yang tengah bercampur di dalam hatinya.
"Kenapa?" lirih Lea dengan isak tangis yang terus keluar dari mulutnya sembari mencengkram rambutnya penuh rasa frustasi.
Dirinya lelah dengan segala takdir dan ramalan yang terus menerus menghantuinya bagaikan bayangan gelap dirinya. Kilas balik memori bahagia miliknya seketika memenuhi ruang di setiap tempat kepalanya.
Dirinya yang penuh dengan rasa bahagia dulunya bersama sang kakak dan ke dua orang tuanya dalam sekejap berubah menjadi perpisahan panjang yang ia ambil untuk menghindari segala hal yang merenggut kebenasannya.
Rasa lelah dan putus asa memenuhi segala penjuru di dalam relung hatinya. Ingin sekali dirinya bertanya pada sang dewi takdir tentang garis takdir apa yang telah mereka tulis untuk dirinya hingga mengakibatkan rasa menyiksa yang terus menerus mengejarnya.
Ingin sekali dirinya berkeluh kesah pada sang dewi bulan untuk menolong salah satu makhluk kesayangannya ini lepas dari jeratan takdir buruk yang menghantui setiap langkahnya.
Namun dirinya tak bisa lari. Dirinya tak bisa lepas dari jeratan takdir yang tertulis jelas dalam buku takdir miliknya seolah-olah terdapat benang hitam yang melingkarinya.
Dalam benaknya selama ini, dirinya terus-menerus bertanya tentang apa yang ia perbuat di masa lalu. Dirinya terus bertanya tentang karma buruk apa yang ia tanggung hingga dirinya harus merasakan siksaan terus-menerus yang menghantuinya setiap saat.
Tanpa menyadari jika takdir yang ia hindari sudah berada selangkah tepat di depannya dan akan membawa dirinya dalam jurang kesedihan dan duka manakala takdir itu datang dan memeluknya begitu erat hingga membuatnya tak bisa lepas dari jeratan takdir yang telah tertulis dalam garis kehidupan milik seorang Lea.