Tanpa terasa, satu bulan sudah berlalu semenjak Alta dan Bryan berusaha mengorek informasi tentang keberadaan pack tempat Lea berasal. Semenjak satu bulan belakangan ini pun Lea akhirnya dapat sedikit bernapas lega karena Alta dan Bryan sudah jarang menemui atau bahkan berjumpa dengannya.
Seperti hari-hari kerja biasanya, kini Lea tengah berkutat dengan komputer yang berada di atas meja kerjanya sembari sesekali mengecek beberapa dokumen yang ia dapatkan dari rekan maupun atasan kerjanya.
Sesekali terdengar suara-suara keluhan dari rekan kerjanya namun hal itu sama sekali tidak mengganggu kefokusan milik Lea dalam mengerjakan pekerjaan miliknya.
"Astaga! Kapan sih sehari aja pekerjaan kita gak sebanyak ini?!" rengek Bella sembari mendorong kursi yang tengah ia duduki ke belakang dengan sekali dorongan.
"Sabar Bella. Setelah proyek ini selesai, pekerjaan kita tidak akan sebanyak ini nantinya," rayu Lea yang hanya menoleh singkat pada Bella yang tampak tengah merajuk kesal dengan pekerjaan yang ia miliki.
"Sudahlah Lea! Kau tak perlu menanggapi rengekannya lagi! Ini sudah kali keberapa dirinya merengek seperti itu dan kau selalu menanggapinya seperti ini," tukas Ryan dengan nada jengah melihat tingkah laku sang kekasih yang tengah merengek seperti anak kecil itu.
"Dasar! Setidaknya kau harus seperti Lea! Dia ta-"
Ucapan milik Bella tidak sempat selesai manakala manager departemen mereka datang dan memberikan sebuah pengumuman penting kepada mereka semua. "Perhatian! Setelah makan siang nanti, segera pergi keruang rapat untuk mengikuti rapat peninjauan proyek kali ini! Tim utama dalam mega proyek dan ketua-ketua tim lainnya yang membantu di wajibkan untuk hadir dalam rapat hari ini!"
"Rapat?! Agh! Kenapa harus sekarang sih?!" bisik Bella yang lagi-lagi mengeluh dengan padatnya jadwal kali ini.
"Sudahlah! Sebentar lagi jam makan siang. Mau makan di cafe deket kantor? Kemarin waktu aku mampir ada menu baru yang baru di tambahin di menu "Beneran?! Boleh! Boleh! Tapi tungguin ok?!" pekik bahagia terdengar dari mulut Bella yang seolah baru saja mendapatkan motivasi baru untuk melanjutkan pekerjaannya. "Dasar!" hardik Ryan sinis yang hanya di tanggapi senyuman maklum oleh Lea.
---
Saat ini, Lea dan ke dua sahabatnya tengah berjalan kembali menuju perusahaan tempat mereka bekerja setelah beberapa saat lalu mereka menghabiskan jam makan siang mereka di sebuah cafe yang berada tak jauh dari kantor mereka berada.
Sembari di selingi canda dan tawa, ke tiganya berjalan dengan senyum bahagia yang terukir sempurna pada wajah mereka seolah-olah pekerjaan yang membuat mereka beberapa waktu sebelumnya pusing, hilang entah kemana.
"Dasar! Awas aja kalau semisal kamu ngelakuin hal gitu lagi! Untung tadi cuman di depan kita aja. Kalo di depan orang lain gimana? Di ketawain yang ada entar," kritik Ryan untuk sang kekasih yang kini tengah mencebikkan bibirnya kesal sementara Lea tampak tertawa manakal dirinya mengingat kejadian dimana tanpa sengaja sahabatnya itu menuangkan saus tomat ke dalam minuman yang ia pesan.
"Sudah! Sudah! Ryan! Apa kau tak lihat muka kusutnya itu? Jangan terus-terusan meledeknya dengan kritikanmu itu!" potong Lea ketika melihat wajah kusut dari Bella.
Sesaat, langkah ketiganya terhenti manakala tepat di depan pintu utama perusahaan mereka terdapat beberapa mobil yang tampak berhenti berjajar ke belakang seolah-olah terdapat orang yang memiliki jabatan tinggi yang datang ke sana.
"Ada apa itu?" ungkap Lea penasaran sekaligus merasakan perasaan tak nyaman di hatinya seolah-olah ada sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui di depan sana.
"Ah! Aku dengar-dengar ada beberapa petinggi dari perusahaan mitra kita yang akan datang hari ini. Tapi aku tidak tahu dari perusahaan mana jelasnya. Ku rasa mereka semua sudah masuk deh," terang Ryan cuek sembari melanjutkan langkahnya yang terhenti sesaat.
Ketika melewati pintu utama perusahaan, samar-samar Lea mencium aroma yang sama sekali tidak ia kenali namun mampu membuat dirinya merasakan perasaan berdebar dalam hatinya. Di saat bersamaan, tiba-tiba otaknya memberikan sebuah peringatan yang sama dengan ketika dirinya berada di dalam club waktu itu.
"Tidak mungkin!" gumam lirih Lea berusaha menyangkal apa yang terlintas di dalam otak kecilnya itu.
"Kenapa Lea?" heran Bella manakala melihat tubuh Lea yang menegang di dalam lift kantor mereka.
"Tidak! Bukan apa-apa!" kilah Lea meyakinkan rekan kerjanya itu.
Beberapa saat setelah mereka menunggu di dalam lift, pintu lift pun terbuka dan dengan langkah santai ketiganya berjalan menuju bilik kerja mereka berada.
Semakin Lea berjalan masuk ke dalam lantai itu, semakin tercium aroma memabukkan yang mampu membuat dirinya merasakan perasaan tak tenang. Bersamaan dengan itu, dapat ia rasakan sebuah dorongan paksa dalam alam bawah sadarnya yang seketika mampu menyadarkan Lea tentang darimana sumber aroma ini berada.
"Bella!" panggil Lea dengan nada tercekat sembari menatap sekitarnya penuh dengan rasa waspada.
"Kenapa Lea? Wajahmu pucat banget!" tanya Bella dengan pandangan khawatir sembari memegang pundak Lea penuh dengan rasa cemas.
"A-aku pulang duluan ya! Tolong sampaiin ke manager kalau badanku gak enak. Dokumen untuk rapat nanti ada di atas mejaku. Aku minta tolong," pinta Lea dengan pandangan memohonnya sebelum dengan langkah cepat dirinya lari menuju lift yang masih terbuka untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Lea!" panggil ke dua rekan kerjanya penuh rasa cemas manakala Lea berlari masuk ke dalam lift dengan wajah yang seputih kertas itu.
"Apa Lea gak papa?" tanya Bella khawatir sembari terus menatap pintu lift yang telah tertutup beberapa saat yang lalu. "Tenanglah! Aku yakin dia akan baik-baik saja," harap Ryan sembari berusaha menenangkan sang kekasih bertepatan dengan suara panggilan yang terdengar keras memanggil seseorang.
"Alchra! Alchra!" panggil Alta pada sang kakak yang tampak berlari menuju ke arah lift yang masih tertutup rapat itu dengan pandangan bahagia sekaligus bingung.
"Argh! Aku kehilangan jejaknya!" marah Alchra dengan nada penuh rasa frustasi sembari menendang pintu lift itu cukup keras hingga mampu di dengar mereka yang berada di sana.
Alta dengan segera berlari ke arah sang kakak yang tampak sebegitu frustasi dan marah dengan perasaan bingung sekaligus kesal lantaran ketika mereka tengah membicarakan masalah pekerjaan mereka, Alchra berlari keluar ruangan menuju lift untuk setelahnya berprilaku seperti itu.
"Ada apa denganmu Alchra?! Sikapmu ini tak seperti biasanya, kau tahu itu?!" tutur Alta sembari memegang salah satu bahu milik sang kakak.
"Aku mencium kehadirannya Alta! Aku menciumnya! Tapi sekarang, dimana dia?! Aku merasakan kehadirannya disini!" pekik Alchra yang terdengar sangat amat frustasi ketika dirinya tak dapat menemukan sumber dari aroma yang sempat ia cium beberapa waktu yang lalu.
"Siapa yang kau maksud hah?! Aku sama sekali tak mengerti maksud dari setiap perkataanmu kak! Bicaralah dengan tenang! Ini tak seperti dirimu yang biasanya!" tegur Alta sembari menatap mata Alchra yang tampak sesekali berubah warna menjadi warna keemasan yang mampu membuat Alta merasa panik ketika melihat perubahaan yang terjadi pada mata Alchra.
"Mate! Aku mecium aromanya Alta!" ungkap Alchra dengan nada frustasi yang untung saja hanya di dengar oleh Alta, Bryan dan Cleon setelah beberapa saat yang lalu sempat ramai sebelum pada akhirnya di bubarkan oleh Bryan dan Cleon.
Mendengar jawaban yang di ungkapkan Alchra pada mereka, lantas saja ketiganya merasakan ketegangan karena mereka mengetahui seberapa penting makna 'mate' dalam kehidupan mereka terlebih bagi seorang Alpha yang akan menjadi sangat amat bergantung pada pasangannya nanti.