Sesaat setelah dirinya berhasil kabur dari pertemuan yang sudah sejak lama Lea hindari kedatangannya, kini dirinya tengah terduduk di atas sebuah bangku yang berada di taman yang tak jauh dari kantornya berada.
Derai tangis mengalir begitu deras manakala hatinya di landa rasa bimbang, bingung, hingga rasa menyiksa dalam relung hatinya. Hatinya bagaikan terjerat rantai besi yang menghalanginya untuk dapat bertemu dengan seseorang yang sudah di takdirkan sebagai pasangan hidupnya untuk sisa hidupnya ini.
Beberapa orang yang berjalan melewatinya tampak memandang heran dan penasaran tentang keadaan Lea yang tampak begitu menyedihkan kini. Isak tangis terus-menerus keluar dari mulutnya seolah menggantikan suaranya untuk mengatakan jika dirinya kini tengah tidak baik-baik saja.
Di saat dirinya telah merasa tenang. Lea dengan perlahan kembali berjalan menuju halte bus untuk sesegera mungkin kembali ke apartmentnya dan mengunci diri di dalamannya selama beberapa waktu kedepan.
Rasanya begitu menyesakkan hingga mampu menyiksa dirinya dalam keheningan yang menguasai isi apartment minimalis miliknya itu.
Lagi dan lagi, dirinya hanya bisa kembali menangis sembari meringkuk di atas kasur queen size miliknya sembari memeluk dirinya sendiri guna menenangkan perasaan kacau miliknya.
"Kenapa?" lirih Lea manakala dirinya kembali mengingat aroma yang seharusnya mampu membuat dirinya bahagia menjadi penuh ketakutan tentang apa yang akan terjadi apabila sang pemilik aroma datang mendekatinya.
Semuanya tampak begitu kebetulan seolah-olah sejak awal dirinya bekerja di perusahaan itu, takdir dengan lucunya mempermainkan dirinya dalam ketidakpastian dan ketakutan yang semakin merajalela dalam tubuh ringkihnya ini.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang tak berhentinya meleleh di atas pipinya, tangan Lea meraih hp miliknya guna menelpon seseorang yang mungkin dapat memberikan dirinya saran ataupun kata-kata menenangkan untuknya yang tengah di liputi kekacauan.
Dering pertama berbunyi begitu nyaring hingga memenuhi kamar yang di d******i warna putih itu. Hingga dering ke empat, barulah panggilan itu di angkat oleh seorang pria yang tampak begitu bingung dan panik manakala dirinya mendengar suara isakan tangis milik Lea dari seberang sana.
"Lea? Lea! Kamu kenapa?! Kok nangis?!" pekik Jean, seseorang yang Lea telepon dengan nada panik yang begitu kentara.
"Aku bertemu dengannya Jean! Aku bertemu dengannya!" lirih Lea yang masih dengan air mata yang terus meleleh dari matanya sembari memukul ringan dadanya berharap rasa menyesakkan yang menghimpit paksa dadanya menghilang.
"Kamu tenang dulu ok? Kamu tenang!" seru Jean berusaha menenangkan Lea yang tampak terdengar begitu putus asa dan penuh kekhawatiran.
"Waktunya sudah cukup untuk kamu bersembunyi Lea. Aku tahu kamu berusaha menghindar dari takdir yang sudah menjerat kita semua. Tapi sejauh apapun kamu mencoba untuk lari dari takdir, apa yang seharusnya datang akan datang juga pada akhirnya, Lea." tutur Jean sembari menghembuskan napas berat. "Kau mengerti?"
Sesaat, Lea hanya mampu terdiam manakala ucapan yang di katakan oleh sang sahabat kepadannya sepenuhnya tak ada yang salah. Namun tetap saja, dirinya masih belum merasa cukup siap untuk menerima takdir yang akan mendatanginya sesuai dengan ramalan yang di katakan kepadanya beberapa tahun silam.
"Aku belum siap Jean! Aku belum siap," lontar Lea yang terdengar sangatlah putus asa ketika dirinya membayangkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan ia hadapi ke depannya.
"Untuk sekarang, lebih baik kamu melepaskan segel yang menyegel Ava. Tidak baik jika dia akan bangun dengan sendirinya Lea. Kamu tahu dengan pasti soal itu bukan?"
Meskipun Jean tidak bisa melihat apa tanggapan Lea, namun dirinya bisa menebak jika kini Lea tengah menganggukkan kepalanya manakala dirinya menerima saran darinya.
***
Ruangan kerja milik Alchra tampak begitu mencekam manakala dirinya bersama dengan Alta dan ke dua orang kepercayaannya tengah berkumpul bersama membahas sesuatu yang mampu membuat semuanya menjadi gempar manakala mendengarnya.
Alchra tampak memasang wajah serius kini tengah duduk di kursi kerjanya seraya menyatukan kedua tangan sembari menatap satu demi persatu setiap orang yang berada di dalam ruangannya dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
"Sejak dua minggu yang lalu, CCTV di area itu sedang mengalami kerusakan dan baru hari ini mereka akan memperbaikinya," papar Cleon sembari menatap Alchra dengan pandangan menyesal sekaligus pasrah.
Mendengar ucapan yang di paparkan oleh Cleon, lantas saja hal itu mampu menyulut emosi Alchra yang sebelumnya sudah mulai reda menjadi meningkat lagi. "Mati?! Sangatlah kebetulan jika CCTV itu juga mati," sinis Alchra tajam.
"Alchra! Kau tenang dulu, besok kita coba ke kantor lagi dan kalau besok kau belum menemukan mate mu itu, kita bisa cek ulang semua CCTV dan daftar absensi karyawan disana. Bagaimana?" Alta memberikan saran itu kepada sang kakak yang tampak mulai kembali emosi itu sembari berjalan menuju sebelah Alchra.
"Tapi Bryan, sadar gak kalo di ruangan itu kita gak lihat kehadian Lea sama sekali? Bukannya seharusnya dia juga akan hadir dalam rapat itu?" celetuk Alta tiba-tiba ketika dirinya menyadari sesuatu yang janggal tengah terjadi.
"Lea?" Mendengar nama yang terdengar asing itu, lantas saja Cleon menuntut penjelasan dari saudara sepupunya itu tentang wanita bernama Lea.
"Lea itu wanita yang kita berdua maksud sebagai anggota Artem's Pack. Dia kerja di lantai yang kita datangi tadi, tapi aku baru menyadari jika sejak pertama kali kita sampai hingga kita pergi dari lantai itu, aku tidak melihat tanda-tanda keberadaannya sedikitpun." jelas Alta yang langsung saja mendapatkan anggukan setuju dari Bryan yang juga tengah menatap Cleon.
"Kita lihat saja besok," gumam Cleon yang seolah tengah memikirkan sesuatu di dalam kepalanya itu.
---
Saat ini Lea masih betah bergelung di bawah selimut hangatnya itu. Beberapa saat setelah dirinya menangis untuk meluapkan emosi yang ia rasakan saat itu, tanpa dia sadari dirinya sudah jatuh terlelap tepat di atas kasurnya.
Pikirannya pun tak bisa ia paksa untuk berpikir tentang kejadian tadi yang masih terus terngiang dengan begitu jelasnya di dalam ingatannya itu.
Di saat yang bersamaan, dirinya juga kembali teringat akan pesan dari sang sahabat beberapa saat lalu.
Hatinya bimbang, pikirannya kacau dan tubuhnya terasa begitu remuk ketika dengan usahanya dirinya bangkit dari tempat tidurnya sembari merasakan perasaan yang menyiksanya sedemikian rupa.
Lelah dan tersiksa.
Hanya kata itulah yang mampu menjabarkan tentang bagaimana kondisi dirinya kali ini.
Dirinya merasa begitu lelah hingga mampu membuat dirinya merasa bagaikan di kuliti hidup-hidup manakala dirinya dengan terpaksa harus menjahui orang-orang yang dekat dengannya sekaligus orang-orang yang menjadi masa depannya kelak.
"Kapan ini semua berakhir? Aku tidak ingin terus-menerus bagaikan buronan seperti ini," Lea berucap penuh dengan rasa frustasi yang ia pendam selama ini.
"Apa aku harus mendengarkan ucapan Jean tadi? Oh dewi! Kenapa kau mengikatku dengan takdir mengerikan semacam ini?! Apa yang telah ku lakukan di masa lalu hingga mampu membuatmu memberikan takdir konyol ini padaku?"
Dirinya lelah. Dirinya tersiksa.
Tawa penuh dengan rasa putus asa terdengar begitu menyayat manakala Lea tertawa dengan air mata yang lagi-lagi meleleh di wajahnya. "Hahaha ... ku rasa perasaan menyiksa ini akan terus ku bawa hingga dalam petiku kelak,"
Sesaat kemudian, hening menyelimuti kamar tidur yang di d******i warna putih itu.
Lea tampak duduk di atas ranjangnya dengan mata yang menatap kosong sebuah pigura berisikan foto keluarganya di atas bufet TV di depan kasur miliknya.
Hati dan pikirannya terus-menerus saling beradu di dalam dirinya. Hingga dengan tiba-tiba, mata yang semulanya kosong menjadi tampak begitu tegas dan berkilat penuh keputusan.
Ya. Dirinya telah memutuskan sesuatu yang mungkin saja nantinya akan ia sesali keputusannya. Namun lagi dan lagi, Lea tak sebegitu menghiraukan hal yang nantinya masih dapat berubah seiring berjalannya waktu.
"Sebisa mungkin aku akan berusaha menghindari'nya' bagaimanapun caranya! Ya! Itulah yang terbaik untuk saat ini!" Lea mengucapkan sederet kalimat itu untuk meyakinkan. Meyakinkan hati dan jiwanya untuk mengikuti keputusan yang ia buat bagaimanapun hasilnya nanti.
Tanpa menyadari jika keputusan yang ia buat inilah yang akan menjadi alasan datangnya takdir yang kian menipis jaraknya dan akan datang lebih cepat dari yang ia duga sebelumnya.