Pagi yang tampak berbeda bagi seorang Cleallen Jhansen, wanita karir berusia 24 tahun itu. Dengan tampilan kantorannya, Lea tampak sudah siap untuk menghadapi kenyataan yang akan ia hadapi nantinya.
Sekali lagi, dirinya kembali melihat tampilannya yang begitu formal namun masih terdapat sedikit kesan casual. Dirinya lagi-lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri di depan cermin sembari melihat sebuah surat yang berisikan perizinan cuti yang akan ia ajukan nantinya.
Setelah di rasa semuanya telah siap, dengan mantap, diambilnya tas kerja yang berada di sofa ruang tamunya sebelum pada akhirnya dirinya keluar dari apartment sederhana miliknya dan segera berjalan menuju halte dimana bus yang akan ia naiki telah menunggunya.
"Kau terlihat cukup berbeda hari ini Lea. Apa ada hal khusus hari ini?" Sapa Marry yang juga ikut menaiki bus yang ia naiki kini dengan style casual miliknya. "Marry! Kau mengejutkanku saja. Mau ke supermarket?"
"Iya. Sudah saatnya mengisi kulkasku lagi. Aish! Kau mengalihkan pembicaraan saja! Jadi, apakah ada hal khusus hari ini? Kau tampak begitu berbeda," Ucap Marry lirih sembari mengamati Lea dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk menilai perbedaan cara berpakaian Lea yang memang tidak seperti biasanya.
"Kau tahu saja Marry. Hari ini aku mau mengajukan cuti kerja untuk satu minggu ke depan. Aku berencana untuk melakukan pengobatan," Jawab Lea tak berbohong karena kondisi Lea yang sedikit tidak baik-baik saja akibat segel yang ia miliki mulai menunjukkan keretakan meskipun sedikit.
"Kau sedang sakit? Kenapa tidak mengatakannya dari kemarin? Tahu begitu kemarin aku akan mengunjungimu dan merawatmu!" Marry tampak begitu cemas dan panik sesaat setelah mendengar jawab Lea yang jauh dari perkiraannya sembari kembali mengamati kondisi wajah milik sang sahabat yang memang tampak sedikit pucat meskipun telah di tutupi oleh riasan natural yang selalu Lea pakai.
"Tenanglah, ini bukan penyakit ganas atau apalah itu. Aku hanya perlu istirahat selama beberapa hari baru setelahnya aku bisa kembali beraktifitas seperti sebelumnya. Oh iya! Bukannya hari ini kau dan baby J akan pergi ke pantai?"
Mengetahui jika lea sedikit tidak nyaman dengan topik pembahasan mereka, Marry tampak menanggapi hal itu meskipun sebenarnya dirinya cukup khawatir dengan wanita berusia 24 tahun itu. "Iya, nanti jika kau bisa menyusul, pergilah bersama kami sekaligus kamu bisa melepaskan sedikit beban yang ada di pundakmu itu!"
"Baiklah,"
---
Setelah menyelesaikan beberapa dokumen penting dan sekaligus memberikan surat perizinannya, Lea tampak begitu tergesa-gesa dalam memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas jinjing miliknya. Sedangkan Bella yang sedari tadi hanya dapat mengamati kegiatan sang sahabat itu tampak mulai begitu risih dengan tingkah Lea yang terkesan begitu ingin segera meninggalkan kantor mereka. "Tenanglah Lea! Tak ada yang akan menghalangimu untuk cuti!"
"Ah! Maaf, aku hanya memiliki janji setelah ini. Dan Bella, bukankah sebentar lagi akan masuk jam makan siang? Dimana Ryan? Aku sama sekali tak melihatnya sedari tadi," Tanya Lea tanpa sedikitpun menghentikan aksinya itu.
"Ryan hari ini sedang ada tugas untuk menemani beberapa investor dan pemegang saham yang sedang melakukan tinjauan lapangan hari ini. Mungkin sebentar lagi dia akan segera tiba. Tadi dia mengabari jika dia sudah dalam perjalanan," Jawab Bella tampak acuh yang sama sekali tidak menyadari jika jawaban darinya mampu membuat perasaan Lea semakin tidak karuan. "Baiklah Bella! Aku pergi dulu! Sampaikan salamku pada Ryan ya,"
Sesaat setelah mengucapkan hal itu, Lea segera berjalan menuju lift yang tengah terbuka. Bertepatan dengan pintu lift yang tertutup, lift khusus para petinggi terbuka dan sekilas, Lea dapat melihat netra biru itu yang tampak juga menatapnya begitu tajam.
Tidak lagi mengindahkan beberapa pegawai yang juga ikut turun dengannya, Lea tampak begitu khawatir akan suatu hal yang sudah sejak lama ia takutkan. Perlahan namun pasti, tubuh Lea kembali merasakan rasa sakit itu. Sakit akibat kembali retaknya segel yang dirinya pasang untuk menyegel sesuatu yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Beberapa saat setelah pintu lift terbuka, Lea segera berjalan penuh ketergesaan menuju pintu keluar utama dan tanpa menyadari jika Alta juga tengah berjalan berlawanan arah dengannya, dengan tanpa di duga tabrakan di antara keduanya pun tak lagi bisa terelakan.
"Kalau jalan hati-hati bi-sa," Pekik tertahan Alta setelah dirinya melihat dengan sempurna siapa orang yang telah menabraknya barusan.
"Ngapain kamu jalan cepet-cepet?" Dengan heran Alta menanyakan alasan di balik ketergesaan Lea tanpa menghiraukan raut panik yang terlukis jelas di wajah milik orang yang telah menabraknya.
Saat hendak menjawab pertanyaan milik Alta, HP milik Lea tampak berdering pelan dan dengan cepat, Lea segera mengangkat panggilan dari sang sahabat itu dengan sigap.
"Hallo," Sapa Lea pada sang pemanggil di seberang sana sesaat setelah melihat nama sang penelepon.
"Lea! Hiks! Tolong!" Isak tangis terdengar jelas di telinganya di ikuti oleh suara berisik di seberang sana.
"Hei, hei! Kamu tenang dulu oke? Coba bicara pelan-pelan," Tenang Lea pada Marry, orang yang memanggilnya.
"Lea! Jacqueline tenggelam hiks! Aku gak tahu harus gimana hiks!"
"Sekarang kamu dimana?" Tanya Lea yang mulai menampakkan sedikit raut panik yang otomatis dapat di lihat dengan jelas oleh Alta yang berada tepat di sampingnya.
"Kami hiks sekarang ada di Bondi Junction 7 Day Medical Center. Cepatlah kemari! Hiks," Ujar Marry dengan nada yang terdengar sangatlah terpukul dan sedih.
"Alta! Bisa bawa aku ke Bondi Junction 7 Day Medical Center sekarang! Kumohon!" Pinta Lea dengan nada gusar yang tanpa bantahan segera di lakukan oleh Alta tanpa berusaha bertanya lebih lanjut lagi dan terus berusaha mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lea yang Alta duga untuk sahabatnya di seberang sana.
30 menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit tempat Marry berada. Dan dengan langkah yang lebar, Lea dengan segera pergi menuju unit gawat darurat tempat Marry menunggu.
Disana, terlihat Marry yang tengah di tenangkan oleh salah seorang lifeguard yang turut datang guna menenangkan Marry yang tampak sangat kacau. Hanya dengan handuk yang menutupi bikininya, dia terlihat tampak sangat menyedihkan dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang memerah karena menangis sejak tadi.
"Marry!" Panggil Lea yang sesaat setelah mendengar Lea memanggil diriya, dengan segera Marry menubruk tubuh Lea dan mulai menangis lagi dengan sangat kencang.
"Ssttt ... dia akan baik-baik saja. Tenanglah," Tenang Lea sambil mengelus pundak sang sahabat dengan irama yang seiras.
"Anda sahabatnya?" Tanya seorang lifeguard yang tampak seumuran dengan dirinya.
"Iya, bagaimana kronologis sesungguhnya jika saya boleh tau?"
"Ah, perkenalkan saya Jhonny orang yang menyelamatkan anak sahabat anda. Jadi ketika saya dan rekan saya sedang berpatroli seperti biasa, tiba-tiba saya di hampiri oleh seorang pengunjung yang mengatak jika ada anak kecil yang tenggelam di area yang berbahaya. Ketika kami datang, disana sahabat anda sangat berkeinginan keras untuk berenang di area berbahaya untuk menyelamatkan putrinya namun masih bisa di tahan oleh beberapa pengunjung. Dan saat kami berhasil menyelamatkannya, dia sudah dalam kondisi tidak bernapas. Dengan segera kami mulai melakukan pertolongan pertama hingga pihak ambulan datang dan membawa putri sahabat anda kemari." Jelas Jhonny dengan nada yang juga terdengar sedikit penyesalan.
"Terima kasih karena sudah menolong anak sahabat saya," Ujar Lea berterima kasih sambil terus berusaha menenangkan Marry yang berada di pelukannya.
"Lea! Aku harus ke perusahaan terlebih dahulu. Hari ini kau ambillah libur terlebih dahulu untuk menenangkan sahabatmu itu. Aku pergi." Pamit Alta ketika di rasa suasana disana sudah cukup berat untuk ia rasakan tanpa melakukan hal yang bisa membantu sedikitpun.
Sesaat setelah Alta pergi, pintu ruang penangan Jacqueline terbuka dan menampilkan dokter wanita yang sudah mulai berumur dari dalam sana.
"Dengan ibu Crackson? Putri anda sudah mulai stabil, 10 menit lagi putri anda akan sadar. Untung saja sesaat setelah putri anda di temukan segera mendapatkan penolongan pertama, jika tidak dalam waktu 3 menit setelah putri anda di temukan maka kami tidak bisa melakukan apapun pada putri anda." Pecah sudah tangis bahagia Marry ketika mendengar kondisi sang putri tersayang.
Di ucapkan beribu pujian untuk Tuhan karena sudah memberikan kesempatan untuk bisa menjaga putrinya lagi. Tak lupa Marry juga mengucapkan ucapan terima kasih kepada lifeguard yang telah menyelamatkan putrinya dari bahaya.
"Lebih baik kita masuk untuk melihat keadaan baby J oke?" Ajak Lea sesaat setelah mengucapkan kata terima kasih kepada Jhonny dan dokter yang telah menyelamatkan putri kesayangan sahabatnya itu.
Mendengar ajakan Lea, Marry tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera berlari masuk tanpa menghiraukan beberapa pasien, perawat hingga sang sahabat yang hanya bisa tersenyum bahagia ketika melihat ibu satu anak itu sudah bisa bersemangat kembali.
"Sekali lagi terima kasih ya sudah menyelamatkan J. Nanti ketika J sudah bisa keluar kami akan mengunjungi kalian secara langsung untuk mengucapkan terima kasih kepada lifeguard lainnya,"ujar Lea dengan senyum manis miliknya yang terpatri apik di wajah menawannya itu.
"Tidak perlu! Kami sudah merasa bersyukur hanya dengan mendengar kabar jika anak kecil itu selamat. Ah iya! Saya pamit terlebih dahulu untuk kembali berjaga sambil memberikan kabar ke rekan-rekan saya yang lain."jawab Jhonny sambil berpamitan untuk pergi kembali ke pantai untuk bekerja kembali.
"Oh iya! Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah menyelamatkan baby J."ucap Lea sekali lagi sebelum Jhonny pergi menuju luar dan kembali bekerja menjaga pantai.