Mobil hitam itu terus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Sydney menuju area pinggir kota yang masih memiliki hutan di sana.
Keheningan melanda Alchra dan Lea yang sama-sama memilih bungkam dengan tubuh yang saling mendekap satu dengan lainnya.
Di sisi lain, Lea tampak menunjukkan ekspresi datar seolah tengah menyembunyikan sesuatu jauh di dalam dirinya. Tangan Lea pun tak jarang saling mengepal guna menyalurkan perasaan yang tengah ia alami.
"Bisakah kau melepaskan pelukanmy sebentar? Aku perlu menghubungi seseorang saat ini," cetus Lea tiba-tiba sembari menatap ke arah rahang tegas milik Alchra.
Mendengar cetusan dari Lea, Alchra dengan segera mengalihkan atensinya yang semual mengarah ke arah depan dengan seketika menatap ke arah Lea yang berada di dalam dekapannya.
"Siapa?" tanyanya penasaran sembari mengeratkan pelukannya pada badan sang mate.
"Kau pasti tahu jelas darimana aku berasal. Aku hanya ingin memberitahu seseorang di pack asalku tentang kau," papar Lea apa adanya sembari terus menatap Alchra yang kini juga tengah menatapnya.
Sesaat Alchra tampak mengernyitkan dahinya bingung sebelum setelahnya menganggukkan kepalanya guna memberi izin pada Lea untuk melakukan panggilan telepon sembari melepaskan pelukannya.
Dengan segera, Lea mengambil ponsel miliknya yang berada di tas jinjing miliknya. Dicarinya nomor telepon sang sahabat, Jean. Sesaat setelah menemukan nomor yang ia cari, di teleponnya sang pemilik nomor.
Tak sampai nada dering kedua berbunyi, orang yang berada di seberang sana mengangkat teleponnya.
"Jean! Aku sudah bertemu dengannya. Dia ada di sampingku sekarang," cetus Lea memulai percakapan.
"Bagaimana dengan dia? Apa sudah ada tanda-tanda jika dia-" sahut Jean dengan nada penuh kekhawatiran di seberang sana.
"Iya. Ku rasa sebentar lagi. Kapan kau akan kemari bersama yang lain?" tanya Lea.
"Setelah ini aku akan melaporkannya pada kakakku. Mungkin perlu waktu 1 bulan bagi kami untuk bisa berangkat ke sana. Kau tahu bukan? Saat ini pembatas pack kita perlahan demi perlahan mulai melemah. Para elder dan yang lainnya berusaha keras untuk mengatasi masalah ini sejak 3 tahun yang lalu," papar Jean tanpa berusaha menutupi satu faktapun yang terjadi.
Alchra yang sejak tadi diam dengan pandangan yang menatap ke arah jalanan hutan yang tengah mereka lewati pun tampak dengan susah payah mencuri dengar percakapan yang dilakukan oleh sang mate dengan seseorang bernama Jean itu.
"Aku tahu."
Sesaat terjadi keheningan yang melanda keduanya sebelum setelahnya Jean kembali mengucapkan sebuah kalimat untuk kembali mengingatkan Lea tentang hal yang selama ini berusaha Lea hindari.
"Ini semua baru dimulai Lea. Jangan lengah dan selalu waspada. Saat kita bertemu nanti, aku akan mengatakan lanjutan dari isu ramalan yang kau ketahui. Mulai sekarang, siapkan mental mu karena ini akan menjadi sesuatu yang berat untukmu," ujar Jean.
"Aku mengerti. Titipkan salamku untuk Alpha, Luna dan semuanya. Katakan pada Emmett untuk tidak terlalu memikirkanku. Aku tahu kau diam-diam melaporkan keadaanku padanya, Jean."
"Kau dengar Emmett? Dia sudah mengetahuinya," cetus Jean yang sesaat membuat hati Lea terasa seperti disengat listrik bertegangan tinggi.
"Emmett? Kau ... di sana?" tanya Lea dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar suara Lea yang tampak hendak ingin menumpahkan tangisnya, Alchra dengan segera menatap ke arah Lea dan dengan berani mulai merangkul pundak Lea untuk menenangkannya.
"I'm here, Lea. Sudah berapa tahun kita tidak mengobrol seperti ini, sister? 3 tahun? 5 tahun?"
Suara berat dari ujung telepon bagaikan sebuah bom yang dijatuhkan tepat di dalam hati Lea yang membuat wanita muda itu menitihkan air mata penuh kerinduan dan penyesalan.
"Maaf. Maaf. Aku hanya tidak ingin membuatmu, Ayah dan Ibu semakin sedih dengan keputusanku ini. Saat itu semuanya sedang kacau dan aku tidak ingin menambah beban kalian," kilah Lea penuh penyesalan sembari meremas lengan Alchra yang tengah memeluknya.
"Dasar bodoh! Kau itu bukan beban bagi kami, Lea. Tunggulah beberapa saat lagi. Secepatnya kami akan segera menemuimu di sana," cecar Emmett, kakak dari Lea dengan nada penuh ketenangan di setiap katanya.
"Hm ... "
"Sudah! Kami harus segera kembali ke ruang rapat lagi dan segera memberitahukan hal ini pada yang lain. Mereka pasti senang mendengar kabar tentangmu," putus Emmett sesaat sebelum panggilan telepon diakhiri.
Setelah panggilan selesai, kini mobil kembali diliputi keheningan yang cukup lama.
Keduanya larut dalam dekapan hangat satu dengan yang lain tanpa menghiraukan bawahannya yang tengah menyetir di depan mereka.
Tak ada yang mau membuka suara barang sepatah pun seolah-olah kehangatan yang mereka alami akan hilang bagaikan sebuah mimpi.
Hingga saat mobil yang ditumpangi hendak tiba di sebuah pack house yang berada di tengah-tengah sebuah pack besar manusia serigala, Alchra mulai membuka suaranya.
"Sebentar lagi kita akan tiba di pack ku. Meskipun ini hanya pecahaan, tapi tempat itu tidak kalah besar dengan yang berada di asalnya. Kita hanya tinggal di sana selama 1 minggu sebelum setelahnya kita akan kembali ke Amerika," ungkap Alchra sembari mengelus surai coklat tua milik Lea.
"Aku tahu."
"Soal yang kau telepon tadi. Jika aku boleh tahu, siapa mereka?" tanya Alchra mengungkapkan rasa penasaran dan cemburu yang ia tahan sejak pertama kali matenya berbicara melalui telepon.
"Jika kau penasaran sejak tadi, mengapa kau tidak menanyakannya dari tadi? Emmett adalah kakakku satu-satunya dan Jean adalah sahabat kecilku sekaligus adik dari Alpha pack kami. Karena ayahku adalah seorang Beta, kami jadi dekat satu sama lain," jelas Lea sembari menahan tawanya akibat tingkah Alchra yang menahan cemburu.
"Ayahmu adalah seorang Beta?!" seloroh Alchra penuh rasa terkejut.
"Hm hm. Sejak berdirinya Artem's Pack, keluarga kami selalu menjadi Beta dari pack kami. Dan sudah dari 8 tahun yang lalu Emmett sudah menggantikan posisi Ayah sebagai Beta," sambung Lea kembali menjelaskan kedudukan keluarganya.
"Hm ... kalau begitu kau pasti penasaran juga bukan bagaimana aku bisa di posisi ku sekarang?" cetus Alchra tiba-tiba yang mampu membuat atensi Lea sepenuhnya mengarah padanya.
"Semenjak kecil, aku sudah mulai menunjukkan sikap dominan ku sebagai seorang Alpha. Awalnya semua berjalan seperti itu hingga pada saat Alta berusia 15 tahun ketika dia sudah mulai handal bertransformasi ke wujud serigalanya, berulang kali Alta melakukan konvrontasi melawanku," papar Alchra sembari mengenang masa lalunya.
"Hingga pada suatu titik aku dan Alta melakukan perkelahian hebat dan saat itu aku berhasil mengalahkannya. Aku yang kemudian diangkat sebagai King sedangkan Alta diangkat sebagai seorang Alpha di pack kami," sambung Alchra.
"Sebetulnya semua orang selalu memandang tinggi kami sebagai keluarga dengan darah terkuat. Tapi mereka tidak tahu ikatan apa yang kami miliki dan tanggung selama ini. Meskipun aku dan Alta adalah seorang saudara, tapi dulunya kami pernah bertarung hingga tubuh bercucuran darah satu sama lain," ungkap Alchra sendu.
"Ada satu hal yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi ku rasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya. Saat semua sudah berkumpul, aku akan mengatakan apa yang ingin ku katakan," sela Lea sembari menatap sendu Alchra dengan tangan yang mengelus ringan rahang kokoh Alchra.