Pagi yang cukup cerah di kota Sydney untuk bisa menyambut hari pertama bagi Lea untuk bekerja di sebuah perusahaan ternama milik seorang konglomerat asal Amerika, negara super power dengan nama yang terkenal di seluruh penjuru dunia.
Tak terasa, sudah hampir 4 tahun dirinya berada di negeri yang terkenal akan hewan berkantung itu. Dan tak terasa juga baginya telah meninggalkan keluarga serta sahabat dekatnya di negara asalnya, Alaska seorang diri.
Dengan setelan kemeja putih, rok hingga blazer yang juga memiliki warna yang senada senada, ia mulai memoleskan alat-alat make up yang berjajar rapi di atas meja riasnya.
Di polesnya benda-benda itu ke atas kulit pucat wajahnya dengan teliti dan sederhana untuk menutupi kulit pucatnya itu. Setelah di rasa semua riasan telah menempel sempurna di wajahnya, barulah dia mengambil tas kerjanya dan untuk segera keluar dari area apartemen sederhananya guna berjalan menuju halte bus yang berada tepat di samping apartemen tempatnya berada.
"Oh! Pagi Marry! Kemarin Ken datang kemari untuk menjemputmu tetapi saat itu kau sudah berangkat lebih dulu."sapa Lea kepada tetangga sebelah unit-nya yang bertepatan ketika tetangganya sedang menutup pintu unit apartemen nya itu.
"Pagi juga Lea! Jujur saja, aku sudah cukup muak dengan tingkah Ken yang terus mengejar ku selama ini! Come on! Dia seperti tidak memiliki suatu hal yang penting di hidupnya selain mengejar ku! Semenjak aku bercerai dengan mantan suamiku, dia selalu mengejar ku selayaknya anak ayam yang mengejar induknya!"keluh Marry, wanita dewasa yang menginjak usia pertengahan 30 itu sambil menatap ke arah Lea dengan raut yang menunjukkan rasa tertekan dan kesal bersamaan.
"Tapi jika aku boleh jujur Marry, sepertinya Ken sangat mencintaimu selama ini. Dan, apa kau tak mau mencarikan seorang daddy untuk Jacqueline? Seingat ku terakhir kali Jacqueline merengek meminta bertemu dengan mantan suami yang dulu karena merindukan kehangatan sosok daddy untuknya."tanya Lea sambil berjalan beriringan dengan Marry yang tampak mulai menunjukkan raut wajah bimbang ketika diingatkan dengan kejadian 2 hari yang lalu dimana anak perempuannya merengek hingga ia harus menerima keluhan dari beberapa tetangganya itu.
"Kau tau! Semenjak perceraian ku 2 tahun yang lalu, aku selalu merasa takut untuk memulai hubungan yang serius dengan lelaki. Max, mantan suamiku dulu sangatlah kasar kau tau bukan? Setiap dia mabuk, dia akan selalu memukuli ku. Untung saja kejadian itu terjadi di setiap tengah malam dimana saat itu Jacqueline sudah tertidur lelap. Bagaimana jika kejadian itu terjadi ketika Jacqueline bangun? Aku sama sekali tidak ingin kejadian itu terulang kembali padaku."desah Marry dengan pandangan kosong yang menghadap ke arah depan dan kedua tangannya yang saling bercengkraman takut.
Lea yang melihat tetangga yang juga temannya itu tampak begitu terpuruk mulai merangkul pundaknya guna menyalurkan sedikit rasa hangat untuknya.
Dalam diam, Lea merutuki mulut pintarnya yang tidak bisa membaca situasi dengan baik. Dia terus merutuki kebodohannya hingga dengan tiba-tiba Marry bertanya padanya. "Hei! Ini hari pertamamu bekerja bukan? Nanti kita harus merayakannya di bar setelah kau pulang bekerja bagaimana?"
"Ugh! Come on Marry! Aku tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terjadi kembali! Kau tau bukan seberapa khawatirnya aku yang sama sekali tidak mendapatimu di lantai dansa? Dan tanpa tau malunya keesokan paginya kau datang dengan leher yang penuh dengan kissmark dan penampilan yang sangat kacau? Really? Aku tidak ingin seperti orang bodoh mencarimu terus menerus di dalam bar dan kau dengan asiknya sedang b******a di sebuah hotel? Big no!"keluh Lea sesaat setelah lift yang mereka naiki berhenti di lantai utama apartemen mereka.
"Come on! Tidak seru jika kau melewati hari pertamamu selesai bekerja tanpa segelas alkohol kau tau?"desak Marry kepada Lea yang kini tengah memasang raut muka penuh kejenuhan dengan segala bujuk rayu Marry kepadanya.
"Kita juga bisa mengajak teman-teman dekatmu seperti Johanna, Lilly, Andrew dan Tracy!"lanjut Marry pada Lea tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di jalanan pada mereka berdua.
"Baiklah! Kita lihat saja nanti bagaimana jadinya!"putus Lea pada akhirnya ketika ia sudah tidak tahan dengan tingkah laku Marry yang tampak seperti seorang pasangan yang tengah membujuk pasangannya yang sedang marah.
"Thank you Cleallen Jhansen!"senang Marry sambil memeluk tubuh Lea dengan sangatlah erat.
"Sudah! Sudah! Lihat, bus mu sudah datang! Cepatlah pergi!"usir Lea pada singel mother itu tanpa rasa sedikitpun.
"Sialan! Baiklah, sampai jumpa nanti malam honey!"umpat Marry sebelum pergi meninggalkan Lea sendirian di halte bus untuk menunggu giliran bus-nya datang.
Dalam keramaian itu, Lea kembali merenungi setiap kejadian yang sudah ia alami selama kurang dari 4 tahun belakangan ini.
Semenjak saat dia memutuskan untuk hidup sendiri di negara yang sangat jauh dari tempat asalnya berasal, dia harus hidup dengan baik dan tanpa penyesalan meskipun jauh di lubuk hatinya terdapat kerinduan yang amat dalam tentang masa lalunya selama ini.
Ia terus merenungi semua kejadian itu hingga tanpa sadar ia sudah berada tepat di depan sebuah bangunan pencakar langit yang berada tepat di tengah jantung kota Sydney itu.
"Cukup merenunginya Lea! Sekarang kita harus fokus bekerja untuk bisa bertahan disini!"semangat Lea sebelum dengan langkah pasti berjalan masuk menuju meja resepsionis itu berada.
Satu kata yang bisa mencerminkan area utama tempat para pegawai perusahaan itu lewati. Amazing. Dengan ciri khas gedung-gedung berbintang 5, lobby perusahaan itu tampaklah sangat luar biasa dan megah. Meskipun ini bukan kali pertamanya ke perusahaan itu, tapi ia tidak bisa menampik keterpukauannya dengan arsitektur dan interior gedung perusahaan tempatnya bekerja nantinya.
"Excuse me Miss. May I help you?"tanya seorang wanita cantik yang berada tepat di balik meja resepsionis dengan senyum yang mampu menawan setiap orang yang akan memasuki gedung perusahaan itu.
"Ah iya! Maaf sebelumnya, saya mencari ruangan milik Sir Biztov berada. Saya pegawai baru disini."jelas Lea dengan nada sopan sambil membalas senyum lembut milik sang resepsionis.
"Ah! Anda pegawai baru disini ya! Senang berjumpa dengan anda. Ruangan Sir Biztov berada di lantai 31 ruangan ke 2 dengan papan ruangan bertuliskan Kepala Departemen Desaign."jawab wanita bername tag Rose itu.
"Terima kasih Rose. Untuk kedepannya kita akan lebih sering bertemu nantinya. Saya pergi terlebih dahulu."pamit Lea sambil tersenyum lembut kearah Rose sebelum pergi menuju tempat lift berada.
Di jam kerja, lorong tempat lift berada sangatlah penuh dan ramai. Seluruh pegawai dari setiap bagian berbondong-bondong saling mengantre di depan lift guna memulai pekerjaan mereka di setiap bidang.
Dan seperti kesialan bagi Lea ketika ia harus terjebak lama menunggu lift datang di saat jam sudah menunjukkan pukul 07.53 yang mana menandakan kurang 7 menit lagi maka ia akan dianggap terlambat di hari pertamanya bekerja.