Tepat sesuai dugaannya sebelumnya jika ia akan terlambat ketika berada di dalam ruangan orang yang nantinya akan menjadi atasannya dalam departemen Desaign.
Salahkanlah para pegawai kantor yang datang sangatlah 'tepat' waktu hingga mengakibatkan ia harus berdiri lama menunggu lift yang sialnya terasa sangat lama untuk turun guna mengangkut beberapa orang yang sialnya lagi ia harus menunggu giliran 3 kali untuk bisa menuju ke lantai tujuannya berada.
Dan semakin di perparah lagi, kini sudah 30 menit semenjak ia datang ke dalam kantor sang atasan guna mendapatkan ceramah akan etika dan segala macam seluk beluknya. Entah mengapa hari ini dirinya merasakan kesialan tengah berkumpul menjadi satu di hari ini.
"Kamu baru satu hari menjadi pegawai magang di perusahaan ini dan kamu sudah bisa datang terlambat?! Bagaimana dengan hari-hari berikutnya jika seperti ini? Apa kamu juga akan datang terlambat lagi hah?!"ceramah James Biztov, sang atasan dengan nada yang terdengar sangatlah kesal sambil terus memandang Lea yang kini tengah menundukkan kepalanya penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan.
"Maaf pak, ini adalah kali terakhir saya datang terlambat seperti ini."sesal Lea yang masih dengan kepala yang menunduk dalam.
"Sudahlah! Lebih baik kau mulai saja pekerjaanmu! Disana tempat kerjamu! Segeralah bekerja!"perintah James dengan nada kesal yang tak bisa ia kentara sambil menunjuk sebuah meja kosong dengan kedua sekat yang memisahkan satu meja dengan meja lainnya seperti kantor-kantor lainnya.
"Baik pak. Saya permisi terlebih dahulu."pamit Lea yang dengan segera pergi menuju tempat kerjanya dan mulai menata setiap barang-barangnya dengan baik tanpa menyadari jika beberapa orang yang sebentar lagi akan menjadi rekannya dalam bekerja memandangnya dengan tatapan yang beragam.
"Di marahin sama pak James?"tanya seorang wanita yang berada tepat disebelah meja kerjanya yang kini tengah mendekatkan kursinya kearah Lea dengan wajah yang kentara tengah menyembunyikan raut ingin menertawakan.
"Iya, saya tadi terlambat datang."jawab Lea dengan ramah sambil menatap mata lawan bicaranya dengan mata berwarna abu-abunya itu.
"Hahaha...sabar aja kalo ketemu orang kayak pak James disini. Orangnya emang rada gimana gitu kalo sama karyawannya yang kurang disiplin apalagi kamu baru hari pertama udah telat. Jadi siap-siap aja sewaktu-waktu pak James nyindir-nyindir kamu waktu rapat mingguan atau waktu ketemu dia. Dia orangnya pendendam soalnya."sahut laki-laki yang mejanya berada tepat disisi kiri meja Lea sambil mendekatkan kursinya ke mereka berdua.
"Oh iya aku sampe lupa mau ngenalin diri. Kenalin aku Bella Forez, aku udah 1 tahun kerja disini."celetuk wanita yang berada di sisi kanan Lea yang mengenalkan diri sebagai Bella.
"Aku Ryan Brown. Aku lebih lama dari dia, kira-kira udah jalan 3 tahunan aku kerja disini."kenal laki-laki yang menempati sisi kiri Lea dengan senyum genit yang tak pernah lepas dari wajah yang bisa Lea akui bahwa ia cukup tampan.
"Ah iya! Aku Cleallen Jhansen. Panggil aja Lea atau Allen terserah kalian saja."balas Lea dengan senyum sopannya saat ia membalas ucapan dari dua orang di sisinya.
"Nanti waktu istirahat kita makan bareng yuk di cafe deket perusahaan! Sekalian kenalan lebih jauh lagi nantinya!"ucap Ryan dengan nada genit di akhir kalimatnya itu.
"Sialan Ryan! Dia itu anak baru juga mau kau 'makan' hah?!"kesal Bella sambil melemparkan kalender yang berada di atas mejanya ke arah Ryan tanpa menyadari Lea yang menatap sendu interaksi keduanya.
"Heh! Emang dia makanan yang bisa di makan hah?!"kesal Ryan ketika mendapatkan lemparan kalender dari wanita yang kurang lebih sudah satu tahun menemani dirinya bekerja disini.
---
"Jadi kamu dari Alaska?! Wah! Disana emang tempatnya beneran dingin ya? Apa disana juga bisa buat liat aurora juga?!"tanya Bella dengan antusias ketika mereka bertiga tengah saling melontarkan pertanyaan atau lebih tepatnya Bella dan Ryan yang terus melontarkan pertanyaan kepadanya dengan raut yang terlihat sangatlah antusias.
"Iya, aku dari Alaska lebih tepatnya di daerah Fairbanks. Kalau dari tempat tinggalku sendiri, disana kita bisa lihat aurora dengan baik hanya jika cuaca disana mendukung."jawab Lea dengan santai sambil sesekali tertawa kecil melihat tingkah Bella yang tampak seperti anak kecil.
Saat ini mereka tengah mengobrol santai sesaat setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka barusan. Dan dari obrolan inilah Lea juga mengetahui jika Bella sebenarnya adalah kekasih Ryan meskipun gaya mereka berpacaran seperti seorang musuh yang saling bertemu.
"Lalu sejak kapan kau tinggal disini? Dengan siapa? Masa sendirian?"kali ini Ryan yang kembali bertanya dengan kening yang mengkerut bingung ketika menyadari jika tempat mereka sangat jauh dengan tempat asal Lea berada.
"Aku sendirian disini. Tahun ini jalan tahun ke empat ku. Aku kabur dari rumah karena ku rasa akan lebih baik jika aku mulai mandiri dengan segala jerih payahku dan yeah itu semua berhasil. Aku berhasil lulus dari University of Technology Sydney dengan gelar double degree ku dan sekarang aku bisa ke terima kerja di tempat ini."jawab Lea apa adanya sambil kembali menyeruput Green Tea Latte pesanannya sambil terus melihat Ryan dan Bella bergantian yang kini tepat duduk di hadapannya..
"Wow! Kamu nekat banget!"decak kagum Bella terdengar jelas di telinganya yang hanya ia tanggapi dengan senyum tanpa beban yang terpatri manis di wajah cantiknya meskipun jika di lihat dengan baik-baik jika terdapat sebuah perasaan aneh di senyumnya itu.
"Jujur! Selain wajahmu yang cantik kamu punya sisi lain yang ku yakini akan banyak laki-laki yang mengejarmu dari dulu."lanjut Bella tanpa menghiraukan tatapan aneh yang diberikan oleh kekasihnya.
Bagaiman tidak di bilang cantik jika Lea memiliki tubuh ideal, berkulit pucat namun tampak pas dengan tubuhnya, mata abu-abu, bibir tipis berwarna merah muda yang hanya di poles tipis dengan liptin yang tak tampak begitu kentara serta rambut ash brown nya yang ia biarkan tergerai indah hingga sebatas pinggangnya.
"Hahaha...tidak. Aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih selama ini."decak tawa Lea pecah tak kala mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Bella barusan.
"HAH?! SUMPAH?! Masa wanita secantik kamu belum perah pacaran sekalipun?!"kali ini Ryan yang tampak terkejut dengan fakta yang baru saja di ucapkan oleh Lea barusan sedangkan Bella tampak terbengong bingung sambil mengangguk setuju dengan ucapan Ryan barusan.
"Itu benar. Semenjak aku lahir, mm...gimana ya bilangnya. Kasarannya sih seperti aku sudah di jodohkan bahkan kakakku pun kini sudah menikah dengan orang yang di jodohkan kepadanya."jawab Lea dengan nada bingung yang sangat kentara untuk mengungkapkan tentang fakta yang sebenarnya meskipun sedikit terdengar nada sedih yang turut keluar bersamaan.
"Oh my bloody hell!!! Kok kayak novel-novel sih ceritamu! Yang kamu dijodoh-jodohin! Ini udah gak jaman victoria dimana para bangsawannya saling di jodohkan dengan keturunan bangsawan lainnya!"syok Bella ketika mendengar pernyataan dari Lea yang mempu membuat dirinya tertawa kecil ketika mendengar nada protes yang di lontarkan oleh teman barunya itu.
"Apa kamu bakalan mencintai pria yang di jodohkan denganmu? Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya sedetikpun?"tanya Ryan dengan nada bingung dan sedikit rasa terkejut ketika mendengarnya.
"Belum. Kami belum pernah bertemu atau bahkan hanya untuk mengenal namanya saja. I don't know about him, I just know kalo dia itu seseorang yang luar biasa di dunianya. Dan karena hal itu aku ingin menjadi seseorang yang berguna baginya sekarang atau nanti."jawab Lea dengan pandangan menerawang ke depan dengan tatapan kosong dan gurat penyesalan yang terpancar jelas di wajah cantiknya itu.
"Aku jadi makin penasarankan siapa laki-laki yang kamu maksudkan itu."celetuk Ryan yang diangguki setuju oleh Bella.
"Jangan terlalu penasaran soal dirinya. Suatu saat kalian pasti bakalan tau kok siapa dia,"balas Lea dengan nada yang terdengar membingungkan hingga mampu membuat sepasang kekasih di hadapannya itu terlilit rasa penasaran akan ucapannya tadi.