Keesokan paginya, rutinitas di toko obat herbal Liana kembali berjalan normal.
"Levian, apa kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita," panggil Liana di depan pintu kamar.
"Ya, aku sudah bangun," balas Levian, membuka pintu.
"Ah, kau sudah bangun. Mandilah dulu, lalu ayo kita sarapan," kata Liana sambil tersenyum.
Setelah sarapan, Liana mulai menata obat-obatan sebelum membuka toko. Levian hanya duduk diam mengamatinya.
"Levian, aku akan membuka toko sekarang. Kalau kau bosan, kau bisa duduk di luar, ada tempat duduk di samping rumah di bawah pohon," ujar Liana. Ia kemudian berjalan, mengambil beberapa buku dari raknya, dan memberikannya pada Levian.
"Ini, ada buku sejarah dan beberapa novel. Kau bisa membacanya untuk menghabiskan waktu."
"Buku apa ini?" tanya Levian,
matanya melirik tumpukan buku itu.
Liana tampak sedikit malu.
"Yang tebal itu buku sejarah, yang tipis-tipis adalah novel roman. Aku terkadang membacanya jika sedang bosan."
"Oh, baiklah. Aku akan mencoba membacanya," Levian menerima buku-buku itu.
"Aku siapkan cemilan dan teh hangat dulu, kau pergilah duduk di luar," kata Liana.
Levian berjalan ke samping rumah dan duduk di bawah naungan pohon besar. Ia mulai membolak-balik buku.
Lumayan, aku sudah membaca semua buku yang ada di istana. Tapi... novel roman? Pikirnya. Matanya tertuju pada salah satu judul yang menarik perhatiannya: Cinta Wanita Biasa dan Vampir.
"Judul yang membosankan, tapi akan kucoba baca," Levian mendesah, sama sekali tidak pernah menyentuh genre seperti ini sebelumnya.
Tak lama, Liana datang membawa nampan berisi kue kering dan teh.
"Ini cemilan dan teh hangat, Levian," katanya riang. Matanya melihat buku yang dipegang Levian.
"Eh, kau membaca novel itu?"
"Ya, kenapa?" Levian balik bertanya.
"Ah, tidak apa-apa," Liana tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kau suka novel. Itu novel favoritku, aku sudah membacanya berulang kali."
"Benarkah? Bagaimana ceritanya?" Levian menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa.
"Itu tentang seorang wanita miskin bernama Sylvia yang secara tidak sengaja menemukan dan merawat seorang pria bangsawan yang terluka di tengah hutan-" Liana menghentikan ceritanya tiba-tiba. Astaga, kenapa ceritanya persis seperti saat aku menemukan Levian di hutan? Aku baru menyadarinya sekarang.
"Oh, begitu," jawab Levian singkat.
Liana tersenyum canggung.
"Kau lanjutkan saja bacanya. Aku harus kembali ke toko, sepertinya sudah ada pasien. Selamat menikmati waktu luangmu."
Levian mengangguk dan kembali fokus pada buku itu, merasa sedikit terhibur oleh kemiripan cerita fiksi dengan realitas yang sedang ia jalani.
Di toko, Liana melayani dua pasien hingga menjelang siang, salah satunya adalah kasus keracunan makanan.
"Untung Anda cepat membawa suami ke sini. Jika terlambat, keracunan ini bisa semakin parah," jelas Liana pada istri pasien.
Setelah memberikan obat dan menerima bayaran, ia menghela napas lega. Namun, bel pintu kembali berbunyi, dan kali ini, kehadiran tamunya membuat senyum Liana seketika menghilang.
Ya ampun, pembuat masalah itu datang lagi, batin Liana, mengeluh dalam hati melihat sosok yang berdiri di depannya.
Seorang pria kaya berwajah licik, Erlan, tersenyum lebar. "Liana! Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
Liana memasang senyum profesional, meski dipaksakan.
"Ah, Tuan Erlan. Ada apa? Apakah Anda sakit?"
"Tidak, Liana. Aku hanya ingin melihatmu," balas Erlan genit.
"Ah, begitu. Maaf, tapi saya sedang sibuk." Liana menjawab dingin.
Erlan mendekat, tangannya mencoba menyentuh pipi Liana sambil menyodorkan setangkai bunga.
"Ayolah, Liana. Jangan seperti itu. Kau tahu, aku sangat menyukaimu."
"Saya tidak tahu, Tuan Erlan. Saya tidak tertarik," balas Liana tegas.
Pria gila ini selalu saja membuat onar. Aku benar-benar ingin memukulnya, amarah Liana membuncah di dalam d**a.
"Liana, menikahlah denganku. Kau akan hidup enak," paksa Erlan.
"Tidak! Saya tidak mau. Silakan Anda pergi dari sini sekarang juga!" Liana meninggikan suaranya, mengusir Erlan.
Penolakan itu membuat wajah Erlan memerah karena tersinggung.
"Liana! Kau sungguh w************n! Seharusnya kau senang bisa menikah dengan orang sepertiku!" teriaknya, menarik pergelangan tangan Liana dengan kasar.
"Argh! Tanganku! Lepaskan aku, Erlan!" teriak Liana kesakitan.
"Jangan jual mahal! Kau harus jadi milikku!" Erlan berkata dengan wajah penuh nafsu.
"Kau sungguh pria menjijikkan, Erlan!"
Mendengar penghinaan itu, amarah Erlan tak terbendung. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Liana. Gadis itu tersentak, rasa sakit dan keterkejutan melumpuhkannya.
Erlan mendorong Liana ke lantai, meraba tubuh Liana yang memberontak. Liana menjerit keras.
"Lepaskan aku, Erlan!"
Suara jeritan Liana sampai ke telinga Levian yang sedang asyik membaca di luar. Ia segera bangkit.
Liana! Apa yang terjadi?
Levian menerobos masuk ke dalam toko, melihat Liana yang tak berdaya di bawah cengkeraman Erlan.
Amarah yang sudah lama ia tahan meluap tak terkendali.
"Liana! Hei, kau pria b******k! Apa yang kau lakukan?!" Levian membentak.
"Ha? Siapa kau? Pergi dari tempat ini, dasar gelandangan!" balas Erlan dengan nada sombong, tanpa menyadari bahaya di depannya.
Levian menyeringai menyeramkan.
"Heeh... Berani sekali kau, sampah menjijikkan, berkata seperti itu padaku!"
Seketika, aura hitam yang dingin dan mencekam menyelimuti ruangan. Tekanan sihir yang kuat memancar dari tubuh Levian, membuat udara terasa berat.
Liana yang tersungkur pun merasakan tekanan itu. Erlan gemetar ketakutan, menyadari bahwa ia berhadapan dengan sesuatu yang jauh melampaui kekuatannya.
Dengan mata menyala merah, Levian menggunakan sihirnya. Tubuh Erlan terangkat di udara, seolah dicekik oleh tangan tak terlihat. Tulang-tulangnya berderak, namun ia masih hidup.
"Pergilah dari hadapanku sekarang juga!" Levian berkata dengan suara menggelegar dan wajah yang penuh teror.
"Jika kau berani datang ke tempat ini lagi, aku akan menyiksamu dengan kejam, bahkan seluruh keluargamu akan merasakan akibatnya!"
Levian melempar tubuh Erlan keluar dari pintu toko. Erlan dan para pelayannya yang ketakutan langsung melarikan diri tanpa berani menoleh.
Levian mengabaikan pria itu dan segera berlutut di hadapan Liana. Ia mengulurkan tangannya.
"Apa kau baik-baik saja, Liana?"
Liana masih gemetar. Wajahnya pucat pasi karena syok, air mata berkaca-kaca di pelupuknya.
Tangannya gemetar meraih tangan Levian.
"I-iya, aku baik-baik saja..." Liana memegangi pakaiannya yang sedikit terbuka.
Tidak kusangka hal seperti ini terjadi padanya. Tapi dia... dia masih berusaha menahan air matanya, batin Levian, menatap Liana dengan tatapan terpaku. Wanita ini benar-benar membuatku gila.
Karena tubuhnya masih syok, Liana tak sanggup berdiri. Levian menyadarinya, dan tanpa ragu, ia menggendong tubuh mungil Liana dalam pelukannya.
"Ah! Levian, aku tidak apa-apa, aku bisa berjalan sendiri," ujar Liana, suaranya masih bergetar.
"Sstt..." Levian mendudukkan Liana di kursi terdekat, namun ia terus menatap wajah gadis itu.
Liana mencoba tersenyum, seolah ingin meyakinkan Levian bahwa ia sudah terbiasa dengan kekerasan semacam itu. Hal itu justru membuat hati Levian sakit. Tanpa dapat menahan diri, Levian menarik Liana ke dalam pelukan yang erat.
"Tenanglah, Liana. Pria itu tidak akan berani mengganggumu lagi," bisik Levian lembut.
Aku harus memusnahkan sampah itu agar tidak ada yang bisa menyentuh milikku.
"Aku tidak apa-apa, Levian. Aku hanya sedikit syok," kata Liana, suara dan tubuhnya perlahan tenang dalam dekapan Levian.
"Benarkah?" Levian melepaskan pelukan, lalu mengambil tangan Liana dan mengecup punggung tangannya.
"Liana, kau adalah penyelamatku. Aku juga akan melindungimu. Jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan selalu ada."
"Terima kasih, Levian... Terima kasih," balas Liana tulus. Senyumnya disertai air mata yang tiba-tiba menetes dari matanya.
Ekspresi itu membuat jantung Levian berdebar kencang. Ia mengusap air mata Liana dengan lembut.
"Liana..."
Tanpa peringatan, Levian mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Liana. Gadis itu terkejut, namun ia tak menolak. Setelah ciuman itu terlepas, Levian beralih ke leher Liana, tempat taringnya pernah menancap.
"Aku tidak tahu mengapa, Liana, tapi aku seperti terpikat olehmu," bisik Levian.
Argh... Levian... desah Liana saat ia merasakan taring Levian menembus kulit lehernya, menghisap darahnya lagi.
Levian menghisap darah Liana beberapa saat, kemudian menggendong tubuh Liana yang melemah dan membawanya ke kamar.
"Liana, istirahatlah. Kau pasti lelah. Tidurlah," Levian membaringkan Liana di ranjangnya dengan hati-hati.
"Iya," jawab Liana singkat, wajahnya memerah karena malu.
"Selamat malam," kata Levian, lalu meninggalkan kamar itu.
Di kamarnya, Levian merenung.
Besok adalah hari terakhirku di sini. Apakah aku harus membawanya ke istana? Apakah dia mau atau tidak?
Aku harap aku bisa membawanya. Gadis ini membuatku gila, pikir Levian.
Sementara itu, di kamar Liana, jantungnya masih berdebar kencang.
"Kenapa aku membiarkannya? Kenapa jantungku berdetak seperti ini?" Liana meraba dadanya.
"Tidak! Dia adalah vampir, dan juga bangsawan. Aku tidak ingin terlibat dengan bangsawan! Orang tuaku tewas karena vampir!"
Perasaan bimbang dan kacau melanda Liana. Ia memejamkan mata, berusaha mengabaikan perasaan yang tumbuh di hatinya.
"Lupakan. Aku tidak boleh berakhir seperti Diana dalam cerita itu."
Malam itu, Liana tidur dengan hati yang dipenuhi rasa takut, malu, dan getaran cinta yang membingungkan.
Keesokan harinya, Josh datang dan menjemput Levian.
_ to be continued _