Hari ini adalah hari terakhir Liana bersama Levian. Hatinya diliputi kegugupan, mengingat kembali insiden penuh gairah malam sebelumnya. Ia tahu perpisahan sudah di depan mata.
"Levian, ayo kita sarapan bersama," ajak Liana di depan pintu kamar.
"Ya, aku sudah bangun," balas Levian, suaranya tenang.
Mereka duduk di meja makan, di mana Liana telah menyiapkan hidangan yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Sarapan hari ini sepertinya enak," komentar Levian, menatap hidangan di depannya.
"Haha, iya. Sesekali kita harus mencoba hal baru, kan?" Liana tertawa, menyembunyikan fakta bahwa biasanya ia hanya makan sup atau roti.
"Ini, aku juga membuat s**u panas."
"s**u? Minuman anak kecil?" Levian sedikit mencibir, namun senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Tidak apa-apa, kan? Ini bagus untuk kesehatan. Cobalah, ini sangat enak," bujuk Liana ceria.
"Tapi kenapa s**u ini berwarna merah?" tanya Levian penasaran.
"Ah, itu karena aku mencampurnya dengan sari stroberi," jelas Liana.
Levian tampak ragu saat melihat minuman berwarna merah muda itu.
"Kau yakin ini enak? Aku tidak pernah mencobanya."
"Tentu saja enak! Aku sering meminumnya. Coba dulu, baru kau berkomentar," balas Liana sedikit cemberut.
Levian pun menyeruput s**u stroberi itu. Matanya sedikit membelalak.
"Wow! Ini... enak sekali! Aku tidak menyangka minuman seperti ini rasanya seenak ini."
Tawa Liana pecah.
"Benar, kan? Coba celupkan rotimu ke dalamnya, itu akan semakin enak."
Levian menuruti. Liana memperhatikan Levian menikmati sarapan, hatinya dipenuhi kehangatan.
Seandainya kami bisa terus seperti ini, aku pasti akan sangat bahagia. Harapan yang menyedihkan itu menusuk hati Liana.
Levian yang peka terhadap perubahan suasana hati Liana, menghentikan makannya dan menatap gadis itu.
"Ada apa, Liana? Kenapa kau terlihat sedih?"
"Ha? Tidak ada, bukan apa-apa," Liana mencoba mengalihkan pandangannya.
"Jangan berbohong. Aku tahu kau memikirkan sesuatu," desak Levian, sedikit kesal.
"Sungguh tidak ada apa-apa, Levian. Aku hanya teringat ibuku,Liana berbohong lagi. "
"Kami dulu sering minum s**u stroberi ini bersama saat aku kecil."
Levian hanya diam, mendengarkan. Keheningan yang menyelimuti mereka akhirnya pecah oleh kata-kata yang sudah Liana duga.
"Liana, aku akan pergi hari ini. Lukaku sudah sembuh total, jadi aku harus kembali," Levian mengatakannya dengan wajah datar.
Liana menarik napas, berusaha terlihat ceria dan kuat. Ia tidak ingin Levian tahu betapa hancurnya perasaannya.
"Eh, benarkah? Syukurlah! Itu bagus, Levian. Keluarga dan kerabatmu pasti mengkhawatirkanmu," balas Liana, berpura-pura senang.
Levian menatapnya dengan kecewa.
"Kau tidak sedih aku pergi?"
"Tidak. Kenapa aku harus sedih? Aku malah senang kau bisa kembali berkumpul dengan keluargamu," kata Liana, senyumnya terasa dingin dan palsu.
Kau seakan menganggap hal ini tidak berarti bagimu. Keluarga... Hanya ibuku yang peduli. Ayahku... Levian merasa terhina.
"Liana, ikutlah bersamaku," Levian tiba-tiba menawarkan.
"Setidaknya di sana kau bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
Liana menundukkan kepala. Ia sangat ingin mengatakan ya, namun bayangan masa lalu dan aura Levian sebagai bangsawan serta vampir terlalu kuat.
"Tidak... Maaf, aku tidak bisa. Aku akan tetap tinggal di sini," jawab Liana dengan nada sedih dan ragu.
"Kenapa?" Levian mendesak, kekecewaannya kentara.
"Tidak ada alasan, Levian," jawab Liana, mengalihkan pandangan.
"Tidak ada alasan? Kau bohong lagi, Liana," Levian mulai kesal.
"Kau menyembunyikan sesuatu."
Liana hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata Levian.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun."
"Katakan! Kenapa kau menunduk? Kenapa kau tidak berani menatapku?" Levian bertanya dengan suara berat yang menuntut.
Liana tetap membisu. "Tidak ada alasan, Levian..."
Levian merasa marah, namun entah mengapa, ia tidak bisa melampiaskannya pada gadis itu. Selama ini, ia mudah membunuh siapa pun yang membuatnya marah. Namun pada Liana, ia tak berdaya.
"Maaf," cicit Liana.
"Untuk apa?"
"Liana, jika kau berbicara dengan seseorang, bukankah kau harus menatap matanya?" Levian berkata, suaranya mengandung sedikit amarah.
Perlahan, Liana mendongak. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah membasahi pipinya. Saat Levian melihat air mata itu, semua amarahnya sirna seketika.
"Kenapa kau menangis?" Levian bertanya lirih, tangannya terangkat mengusap lembut pipi Liana.
"Aku... aku tidak tahu," jawab Liana terbata.
"Berhentilah menangis. Kau membuatku merasa gila," Levian berbisik lembut.
Mereka saling bertatapan dalam keheningan yang penuh tanya. Liana masih bergumul dengan perasaannya-apakah ini cinta, atau hanya kehangatan yang ia rasakan setelah sekian lama kesepian?
Tiba-tiba, bel pintu toko berbunyi.
"Permisi, apakah ada orang di sini?"
Suara itu membuat Liana tersentak dan segera berdiri. Ia bergegas menghampiri tamu itu.
"Iya, ada apa, Tuan?"
Seorang pria gagah dengan pakaian bangsawan berdiri di depannya. Ia adalah Josh.
"Saya mencari seseorang bernama Levian," tanya Josh.
"Anda siapa?" Liana bertanya dengan wajah khawatir. Apakah dia orang jahat yang dikirim Erlan?
"Tenang, Nona. Saya bukan orang jahat. Saya adalah pelayan yang ditugaskan menjemput Tuan saya," kata Josh sopan.
"Ah... b-begitu, ya. Tunggu sebentar, saya akan panggil Levian."
Liana kembali ke ruang makan.
"Levian, ada orang yang mencarimu."
"Seseorang mencariku? (Oh, Josh sudah tiba)," Levian bergumam pelan.
Mereka berdua berjalan ke ruang depan.
"Kau sudah datang, Josh," sapa Levian datar.
"Ya, Yang Mulia. Maaf saya datang terlambat menjemput Anda," balas Josh, memberi hormat dengan membungkuk dalam.
Mata Liana terbelalak. "Yang Mulia? Sudah kuduga, dia benar-benar bangsawan tingkat tinggi."
"Liana, dia Josh. Pengawalku," Levian memperkenalkan.
"Ah, senang bertemu dengan Anda," Liana membungkuk sopan.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Nona," balas Josh.
"Yang Mulia, kereta Anda sudah menunggu di depan."
Mereka keluar. Liana terkesima melihat sebuah kereta kuda mewah berukir emas, dikawal oleh beberapa pasukan berzirah lengkap. Semua pasukan itu berdiri tegak dan memberi hormat serentak kepada Levian.
"Selamat kembali, Yang Mulia!" seru seluruh pasukan itu.
Liana hanya bisa terdiam, merasa sangat kecil dan canggung dalam situasi itu.
Levian menatap Liana dalam-dalam, mengabaikan pasukannya.
"Liana, ikutlah bersamaku."
"Tidak... Maaf, Levian. Aku tidak bisa," Liana menggeleng sedih.
"Kau benar-benar tidak ingin ikut? Tidak bisakah kau mempertimbangkannya?" Levian bertanya lagi, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Ya, maaf," balas Liana dengan suara pilu.
"Baiklah. Aku akan pergi," Levian berkata, lalu perlahan berjalan menuju kereta.
Liana menatap punggung pria itu, hatinya sakit luar biasa. Dengan wajah sedih dan air mata yang kembali mengalir, ia memaksakan kata-kata perpisahan.
"Sampai jumpa, Levian. Semoga hidupmu bahagia..."
Levian sudah berada di ambang pintu kereta. Saat kereta mulai bergerak, dari kejauhan Liana berbisik, suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar, namun entah mengapa sampai ke telinga Levian.
"... Dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Levian yang duduk di dalam kereta terdiam. Ia menatap keluar jendela. Entah mengapa, hati Levian seakan hancur berkeping-keping.
Liana ambruk di tempatnya, menangis sejadi-jadinya melihat kepergian Levian. Kenangan buruk masa lalu itu masih menghantuinya, dan ia tahu, demi keselamatannya, perpisahan ini adalah satu-satunya jalan, betapa pun menyakitkannya.
_ to be continued _