Dokter Floren kembali meletakkan tumpukan laporan yang belum tersusun di atas meja kerja Dokter Halbert setelah ia mengambil laporan yang sudah dipilah, "pekerjaanmu masih belum selesai, Halbert. Masih ada laporan yang harus kau susun kembali."
"Biarkan aku istirahat sebentar. Sejak pagi aku sudah melakukan hal ini terus menerus," ucap Dokter Halbert, ia masih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Dokter Floren menghela nafas, ia kembali duduk di sofa dan merapikan kembali laporan yang sudah dirapikan oleh Dokter Halbert, melubangi laporan tersebut dan menyusunya di dalam bantex. Dokter Arthur yang sudah selesai dengan laporan di pojok ruangan, membawa laporan yang sudah ia rapikan ke atas meja yang berada di antara dua sofa. Dokter Arthur lalu melakukan hal yang sama dengan apa yang Dokter Floren lakukan.
Dokter Halbert menghela nafas pelan, ia mengubah posisi tubuhnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Waktu terus berlalu, pekerjaan Dokter Halbert semakin sedikit. Dokter Floren kembali mendekati meja kerja Dokter Halbert.
"Sudah saatnya makan siang. Makan siang terlebih dahulu," ucap Dokter Floren.
Dokter Halbert menatap Dokter Floren beberapa saat, ia lalu menganggukkan kepala pelan dan merapikan laporan yang sudah ia susun. Laporan itu lalu ia bawa dan letakkan di atas meja sofa.
"Ingin makan apa?" tanya Dokter Halbert.
"Ayo makan masakan Jepang, aku sedang ingin makan curry katsu," ucap Dokter Arthur.
"Aku tidak masalah. Bagaimana denganmu, Floren?" ucap Dokter Halbert.
"Aku tidak masalah jika pergi ke restoran Jepang. Sudah lama aku tidak memakan ramen," ucap Dokter Floren.
"Sudah ditentukan. Kita akan makan siang di restoran Jepang," ucap Dokter Arthur.
Dokter Arthur berdiri dari duduknya ia lalu berjalan ke arah pintu ruangan. Membuka pintu ruangan tersebut, ia lalu menoleh pada Dokter Halbert dan Dokter Floren yang masih di posisi seperti semula, "apa yang kalian tunggu?"
Dokter Halbert segera memasukkan handphone dan dompetnya ke dalam saku jas yang ia gunakan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Dokter Floren. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mereka lalu berjalan mendekati Dokter Arthur dan keluar dari ruangan. Meninggalkan Dokter Arthur yang masih dengan posisi membuka pintu ruangan.
"Kalian sungguh menyebalkan," ucap Dokter Arthur. Ia segera menyusul Dokter Halbert dan Dokter Floren yang berjalan berdampingan sambil membicarakan sesuatu.
"Bagaimana?" tanya Dokter Floren.
"Tidak ada," jawab Dokter Halbert.
Dokter Floren menghela nafas, ia mengambil handphonenya lalu mengirimkan email pada seseorang, "aku sudah mengirimkan email padanya."
"Aku menelpon tidak ia angkat, bagaimana jika hanya email?" ucap Dokter Halbert.
"Kita tidak tahu jika kita tidak mencobanya terlebih dahulu, Halbert," ucap Dokter Floren.
"Kalian membicarakan siapa?" tanya Dokter Arthur yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka berdua.
Dokter Halbert dan Dokter Floren menatap Dokter Arthur beberapa saat. Mereka lalu kembali berbicara tanpa menjawab pertanyaan Dokter Arthur. Dokter Arthur yang mendapat perlakuan seperti itu diari kedua rekan kerjanya, ia lalu mencubit pipi Dokter Halbert dan Dokter Floren cukup keras.
"Aku tidak tahu jika kalian sejahat ini padaku, Halbert, Floren. Padahal aku sudah menganggap kalian seperti saudaraku sendiri," ucap Dokter Arthur. Ia masih mencubit pipi Dokter Halbert dan Dokter Floren.
Dokter Halbert menjauhkan tangan Dokter Arthur dari pipinya. Terlihat pipinya memerah karena bekas cubitan dari Dokter Arthur, "aku memang saudara jauhmu jika kau lupa."
Dokter Floren juga melakukan hal yang sama, ia menatap kesal pada Dokter Arthur, "oh? Kau hanya menganggapku seperti itu, Arthur?"
Dokter Halbert perlahan menjauh dari Dokter Floren dan Dokter Arthur. Ia tidak ingin terlibat dalam pertengkaran suami isteri itu. Saat posisi dirinya dengan Dokter Floren dan Dokter Arthur agak jauh, handphonenya tiba-tiba berbunyi. Dokter Halbert segera mengambil handphonenya, terlihat nama Detektif Edelmar pada layar handphonenya. Dokter Halbert segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo? Dokter Halbert?" ucap suara dari seberang panggilan.
"Ah? Detektif Edelmar … Ada apa?" tanya Dokter Halbert.
Terdengar suara tawa kecil dari seberang panggilan lalu kembali terganti oleh suara Detektif Edelmar, "seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Dokter Halbert. Apa ada sesuatu hingga kau menelponku dan Dokter Floren mengirimkan email?"
"Oh, kami ingin mengajakmu untuk makan siang bersama. Tetapi jika kau tidak bisa, tidak masalah," ucap Dokter Halbert.
Terjadi hening beberapa saat, lalu suara Detektif Edelmar kembali terdengar tidak lama setelah itu, "dengan senang hati aku menerimanya, tetapi sepertinya aku akan terlambat untuk pergi ke sana. Apa kau tidak masalah dengan itu?"
"Tentu saja. Detektif Edelmar, seperti yang aku katakan, jika kau sibuk dan tidak bisa, kau boleh untuk menolak ajakanku untuk makan siang bersama," ucap Dokter Halbert.
"Aku sedang tidak sibuk. Hanya saja jarak dari rumahku dan kantor BFI memakan waktu dua puluh menit. Jika kalian menungguku, bukankah itu hanya membuang waktu? Jadi aku akan menyusul ke tempat kalian berada," ucap Detektif Edelmar. Usai mengatakan hal itu, terdengar suara pintu yang ditutup lalu di kunci.
"Kami akan makan di restoran Jepang yang berada di dekat kantor polisi. Apa kau tahu tempat itu?" ucap Dokter Halbert.
"Tentu saja aku tahu. Sushi di sana sangat enak," ucap Detektif Edelmar. Tidak berselang lama terdengar suara mobil yang dinyalakan dari seberang panggilan.
"Kalau begitu kita akan berjumpa di sana. Jika kau terlebih dahulu tiba, jangan lupa untuk mengirimkan email padaku. Sampai jumpa, Detektif Edelmar," ucap Dokter Halbert. Ia segera mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Detektif Edelmar.
Dokter Halbert sudah berada di luar gedung BFI. Ia menatap ke arah pintu masuk untuk melihat keberadaan Dokter Arthur dan Dokter Floren. Beberapa menit berlalu, tetapi sosok kedua rekan kerjanya itu belum terlihat. menghela nafas, Dokter Halbert mengambil handphonenya dan menelpon Dokter Floren.
"Kalian di mana? Aku sudah berada di luar," ucap Dokter Halbert saat panggilan telpon tersambung.
"Maaf, Halbert, kami tiba-tiba harus mengerjakan sesuatu. Jadi kami memutuskan untuk memesan makanan dan memakannya di ruangan Arthur," ucap Dokter Floren, suaranya terdengar menyesal.
"Ah, begitu. Kalau begitu aku akan pergi sendiri ke sana," ucap Dokter Halbert.
"Apa kau tidak ingin memesan dan makan bersama di ruangan Arthur?" tanya Dokter Floren.
"Tidak, aku sudah meminta Detektif Edelmar untuk datang ke restoran Jepang yang akan kita kunjungi. Sangat tidak sopan jika tiba-tiba membatalkannya," ucap Dokter Halbert.
"Ah … maaf," ucap Dokter Floren.
Dokter Halbert tertawa pelan, "tidak apa. Aku yakin Dokter Frans tiba-tiba memberikan kalian pekerjaan saat melihat kalian di lorong, bukan?"
"Kau benar. Laki-laki tua itu, apa ia tidak tahu jika ini sudah memasuki waktu makan siang? Aku rasa ia bukan manusia karena tidak mengetahui waktu makan siang," ucap Dokter Floren.
"Tidak baik mengatakan hal seperti itu pada atasanmu. Sebaiknya kalian segera mengerjakan apa yang ia pinta. Aku akan segera pergi, sampai jumpa," ucap Dokter Halbert. Ia lalu memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.
Kembali menyimpan handphonenya, Dokter Halbert lalu berjalan menuju pinggir jalan. Ia menghentikan salah satu taksi yang lewat dan meminta sang supir untuk mengantarkan ia menuju restoran Jepang yang berada di dekat kantor polisi. Sekitar dua belas menit ia habiskan untuk menuju restoran Jepang, membayar sang supir taksi, Dokter Halbert segera keluar dari dalam taksi dan masuk ke dalam restoran. Ia menanyakan melihat sekitar, mencari sosok Detektif Edelmar. Saat menemukan sosok yang ia cari, Dokter Halbert segera mendekati sosok tersebut dan duduk di depan Detektif Edelmar.
"Maaf membuatmu menunggu," ucap Dokter Halbert.
"Tidak apa. Aku juga tidak menunggu terlalu lama," ucap Detektif Edelmar.
"Oh? Apa kau hanya sendirian, Dokter Halbert? Bagaimana dengan Dokter Arthur dan juga Dokter Floren?" tanya Detektif Edelmar.
"Mereka tiba-tiba mendapat tugas dari Dokter Frans. Jadi mereka memutuskan untuk makan siang di ruangan Arthur," ucap Dokter Halbert.
"Begitu … kau ingin memesan apa, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar, ia memberikan buku menu pada Dokter Halbert.
"Aku ingin ramen pedas. Tumpukan laporan yang membuat kepalaku sakit," ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar tertawa mendengar apa yang Dokter Halbert katakan. Ia lalu memanggil seorang pelayan dan mengatakan pesanan mereka pada sang pelayan. Sang pelayan segera mencatat apa yang mereka pesan dan pergi setelah selesai dengan pesanan mereka.
"Apa karena itu kau tidak terlihat pergi ke kantor polisi selama empat hari, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar.
Dokter Halbert menatap bingung pada Detektif Edelmar, "untuk apa aku pergi ke kantor polisi, Detektif Edelmar?"
"Apa Sir James tidak menghubungimu?" tanya Detektif Edelmar.
Dokter Halbert menggeleng pelan, ia lalu menatap penasaran pada Detektif Edelmar, "apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada, hanya ada beberapa pembahasan mengenai kasus Nancy Kirkland. Aku dengar sidang untuknya akan segera dilakukan," ucap Detektif Edelmar.
"Ah, sudah lima hari sejak ia dinyatakan sebagai terdakwa atas pembunuhan John Albert," ucap Dokter Halbert.
"Keadaan Nancy Kirkland sangat tidak menguntungkan," ucap Detektif Edelmar.
"Kau benar. Beberapa tahun yang lalu aku pernah melakukan otopsi pada jasad seorang wanita yang merupakan korban dari seorang yang selalu mengikutinya," ucap Dokter Halbert.
"Ah, aku juga pernah menerima beberapa kasus mengenai hal yang sama. Bahkan beberapa klien yang ku tangani harus mengikuti terapi dari rasa takut dan tidak nyaman karena selalu diikuti oleh seorang penguntit," ucap Detektif Edelmar.
"Penguntitan merupakan hal yang mengerikan, terlebih mereka yang melakukan mempunyai obsesi yang sangat besar pada orang yang mereka ikuti," kata Dokter Halbert. Ia kembali mengingat bagaimana wajah Nancy Kirkland saat itu.
"Kau benar, terlebih jika mereka mempunyai pemikiran yang buruk," kata Detektif Edelmar.
Sang pelayan meletakkan pesanan mereka saat Dokter Halbert akan menanggapi ucapan Detektif Edelmar. Memutuskan untuk menghentikan pembicaraannya, mereka mulai memakan makanan yang mereka pesan.