Dokter Halbert meletakkan gelas berisi teh hijau ke atas meja. Ia lalu memperhatikan Detektif Edelmar yang masih memakan sushi yang kembali ia pesan. Merasa diperhatikan, Detektif Edelmar balas menatap Dokter Halbert.
"Ada apa?" tanya Detektif Edelmar.
"Tidak ada. Kau lanjutkan saja makanmu, Detektif Edelmar," ucap Dokter Halbert.
"Apa kau mau, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar, ia mendorong sedikit piring yang berisi sushi ke arah dokter Halbert.
"Ah, tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang," ucap Dokter Halbert. Ia tersenyum kecil saat menolak sushi yang ditawarkan oleh Detektif Edelmar.
Detektif Edelmar kembali menarik piring yang berisi sushi, ia kembali memakan sushi yang tersisa. Dokter Halbert kembali meminum teh hijau miliknya yang masih tersisa setengah hingga habis.
"Apa setelah ini kau punya pekerjaan lagi, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar.
"Hanya merapikan beberapa laporan lama. Ada apa?" ucap Dokter Halbert.
"Ah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tetapi jika kau sedang sibuk, mungkin kita bisa pergi ke sana lain kali," ucap Detektif Edelmar.
Dokter Halbert terdiam beberapa saat, ia mengingat berapa banyak laporan yang harus ia rapikan kembali. Merasa tidak yakin dengan jumlah yang ia ingat karena terlalu banyak laporan yang sudah ia rapikan, Dokter Halbert lalu mengambil handphonenya dan menelpon Dokter Floren.
"Halo? Ada apa, Halbert?" tanya Dokter Floren dafi seberang panggilan.
"Ah, Floren, apa laporan yang harus aku rapikan masih banyak?" tanya Dokter Halbert.
"Sebentar," ucap Dokter Floren. Usai mengatakan hal tersebut, terdengar suara pintu ruangan yang terbuka.
Beberapa menit yang terdengar hanya suara langkah kaki yang terdengar, serta beberapa pembicaraan seseorang. Suara pintu yang dibuka kembali terdengar, tidak berselang lama suara Dokter Floren kembali terdengar, "tidak terlalu. Apa kau punya sesuatu yang harus dilakukan, Dokter Halbert?"
"Ya. Aku ingin pergi sebentar," ucap Dokter Halbert.
"Bisa kau beri tahu aku ke mana tujuanmu, Halbert?" tanya Dokter Floren.
Dokter Halbert terdiam beberapa saat, ia lalu menatap Detektif Edelmar yang duduk di depannya, "untuk saat ini aku belum bisa memberi tahu tujuanku. Aku akan memberi tahu nanti saat aku sudah di sana," ucap Dokter Halbert.
Terdengar suara helaan nafas, lalu kembali terdengar suara Dokter Floren, "baiklah. Apa kau pergi bersama Detektif Edelmar?"
"Ya, aku pergi bersama dirinya," ucap Dokter Halbert.
"Ah, baiklah. Jika si pak tua itu menanyakan keberadaanmu, aku akan mengatakan kau sedang melakukan sesuatu bersama Detektif Edelmar. Kau tau sendiri seperti apa pak tua menyebalkan itu," ucap Dokter Floren. Suaranya terdengar lebih ceria dibanding sebelumnya.
Dokter Halbert tertawa pelan mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Floren, "ah, kau benar. Aku hampir melupakan hal itu. Terima kasih sudah mengingatkanku kembali tentang sifat Dokter Frans, Floren."
"Tentu saja. Tetapi jangan lupa untuk membawakan beberapa cemilan saat kau pulang nanti," ucap Dokter Floren.
"Tentu saja. Kau bisa mengirimkan pesan pada ku apa saja yang kau inginkan," ucap Dokter Halbert.
"Ah, tentu saja. Dengan senang hati aku akan melakukannya," ucap Dokter Floren. Ia tertawa pelan setelah mengatakan hal tersebut.
"Ya, ya. Tetapi aku tidak janji akan membelikannya hari ini. Kalau begitu sampai jumpa," ucap Dokter Halbert. Ia segera memutuskan sambungan telepon sebelum Dokter Floren kembali memarahinya karena apa yang ia katakan.
Detektif Edelmar yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dokter Halbert menopang dagunya menggunakan kedua tangannya, "jadi?"
"Aku rasa kau sudah mendengar semuanya, Detektif Edelmar," ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar tertawa pelan, ia lalu kembali menatap Dokter Halbert, "aku hanya ingin memastikan. Apakah itu salah, Dokter Halbert?"
Dokter Halbert terdiam beberapa saat, ia lalu menghela nafas pelan, "tentu saja itu tidak salah."
"Jadi … bagaimana jawabanmu, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar kembali.
"Ya, aku akan ikut," ucap Dokter Halbert.
"Pilihan yang bagus sekali, Dokter Halbert," ucap Detektif Edelmar. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kasir.
Dokter Halbert yang melihat apa yang dilakukan oleh Detektif Edelmar segera menyusul sang detektif. Saat Detektif Edelmar ingin memberikan kartu miliknya, Dokter Halbert lebih dahulu memberikan kartu miliknya pada penjaga kasir.
"Kali ini biarkan aku yang mentraktirmu, Detektif Edelmar. Aku tidak menerima penolakan," ucap Dokter Halbert saat penjaga kasir memberikan kembali kartu miliknya.
"Ah, kalau begitu terima kasih, Dokter Halbert," ucap Detektif Edelmar.
"Tidak masalah. Tetapi, bisa kau beri tahu ke mana kita akan pergi, Detektif Edelmar?" ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar hanya tersenyum kecil menatap Dokter Halbert. Ia lalu berjalan keluar dari restoran Jepang dan berjalan menuju mobilnya. Dokter Halbert yang mengikuti Detektif Edelmar menghela nafas pelan. Bahkan hingga mereka sampai di sebuah toko bunga, Detektif Edelmar keluar dari mobil tanpa mengatakan apa pun. Saat kembali, terlihat ia membawa dua buket bunga berukuran sedang dan memberikannya pada Dokter Halbert.
Dokter Halbert menatap bingung pada dua buket bunga yang diberikan oleh Detektif Edelmar, "apa maksudmu dari memberikan diriku dua buket bunga, Detektif Edelmar?"
"Ah, itu bukan untukmu. Aku hanya meminta tolong padamu untuk memegangnya," ucap Detektif Edelmar.
Dokter Halbert menaikan salah satu alisnya, ia menatap Detektif Edelmar dengan tatapan mata heran, "bukankah kau bisa meletakkannya di kursi belakang?"
"Jika aku meletakkannya di kursi belakang, bisa saja nanti kedua buket bunga tersebut jatuh saat aku mengerem mobil," ucap Detektif Edelmar.
Dokter Halbert menghela nafas cukup keras saat mendengar apa yang dikatakan oleh Detektif Edelmar. Ia lalu meletakkan kedua buket bunga tersebut ke kursi belakang, "hal itu tidak mungkin terjadi, Detektif Edelmar. Tetapi beda cerita jika kau melajukan mobil dengan kecepatan tinggi lalu melakukan pemberhentian mendadak. Oh, selain itu ada kemungkinan kau bisa terlempar dari dalam mobil jika kau melakukan hal itu."
Detektif Edelmar hanya tertawa kecil tanpa menjawab perkataan dari Dokter Halbert. Ia lalu menjalankan kembali mobilnya menuju ke suatu tempat. Dokter Halbert yang masih belum mengetahui ke mana tujuan mereka memperhatikan jalan yang mereka lalui. Merasa sedikit mengenal jalan yang mereka lalui, Dokter Halbert melirik ke arah Detektif Edelmar beberapa saat, lalu kembali memperhatikan sekitar.
"Apa kau sudah tahu ke mana kita akan pergi, Dokter Halbert?" tanya Detektif Edelmar.
"Tentu saja. Siapa yang ingin kau kunjungi, Detektif Edelmar?" ucao Dokter Halbert.
"Putri kecilku," ucap Detektif Edelmar. Ia tersenyum kecil saat mengatakan hal itu.
Dokter Halbert terdiam beberapa saat, ia tidak tahu harus mengatakan hal apa pada Detektif Edelmar.
"Bagaimana denganmu, Dokter Halbert? Apa kau ingin mengunjungi seseorang atau kau ikut bersamaku untuk mengunjungi putri kecilku?" tanya Detektif Edelmar.
"Ah, apa karena itu kau membeli dua buket bunga?" tanya Dokter Halbert.
"Tentu saja. Aku tidak tahu apa kau mempunyai seseorang yang ingin kau kunjungi juga atau tidak. Jika tidak ada kau bisa memberikan buket itu pada putriku, tetapi jika ada, kau bisa memberikan buket itu pada seseorang yang ingin kau kunjungi," ucap Detektif Edelmar.
"Aku akan mengunjunginya setelah bertemu dengan putrimu. Lagi pula, aku sudah mengatakan padamu akan mengajakmu untuk menemuinya," ucap Dokter Halbert.
Detektif Edelmar sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Halbert, ia menatap Dokter Halbert. Dokter Halbert yang melihat reaksi Detektif Edelmar hanya tertawa kecil, ia lalu mengangguk pelan.
"Aku sudah janji akan mengajakmu menemui istriku, bukan?"
.
.
.
"Hei, apa jangan lupakan pancingan milikmu," ucap seorang wanita yang cukup berumur pada seorang pria yang terlihat sepertinya.
Sang pria yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang wanita menghentikan langkahnya dan kembali menuju sang wanita, "aku hampir lupa. Terima kasih sudah mengingatkan ku, sayang."
"Kau ingin pergi memancing tetapi menulapan pancingan milikmu itu sungguh keterlaluan," ucap sang wanita.
Sang pria hanya bisa tertawa, ia lalu mengambil pancingan miliknya lalu kembali menuju perahu yang berada di atas danau. Saat sang pria sudah menaiki perahu dan mendayung menuju tengah danau, sang wanita masuk ke dalam rumah kecil milik mereka.
Sang pria segera melemparkan ujung pancingan miliknya saat ia sudah berada di tengah danau. Menunggu beberapa saat, terlihat senar pancingan miliknya mulai bergerak pelan. Sang pria segera menarik senarnya dengan semangat.
"Sepertinya aku mendapatkan ikan yang besar," ucap sang pria.
Benar saja seperti yang ia katakan, sang pria mendapatkan ikan dengan ukuran lumayan besar. Memasukkan ikan tersebut ke dalam kotak yang ia bawa, sang pria kembali melempar ujung pancingan miliknya. Ia kembali menunggu beberapa saat. Kali ini senar pancing miliknya bergerak lebih pelan. Sang pria tanpa menunggu banyak waktu kembali menarik senar pancing dengan semangat. Saat apa yang ia tangkap mulai muncul ke permukaan, sang pria terlihat bingung. Memperhatikan objek yang menyangkut dengan ujung pancingan miliknya, sang pria lalu berteriak keras saat mengetahui jika objek yang baru saja ia tarik merupakan seorang manusia.
Suara teriakan sang pria membuat sang wanita dengan terburu-buru keluar dari dalam rumah. Ia lalu berlari mendekati tepi danau dan menanyakan apa yang sedang terjadi pada sang pria. Melihat sang wanita, sang pria segera berteriak meminta sang wanita untuk segera menghubungi polisi dan meminta polisi untuk datang ke danau. Sang pria juga mengatakan jika ia menemukan jasad seseorang di danau kepada sang wanita. Sang wanita yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang pria, segera kembali masuk ke dalam rumah dan menghubungi polisi.