Kelas XI Ipa4
Bu Alin tengah menyebutkan nama-nama muridnya dari buku absensi kelas untuk kelompok mengerjakan tugas Prakarya-- membuat kerajinan dari bahan keras.
"Kelompok 11, Elvano Gama Sakti, Farhan Eka Dinata, Yera Feriska!" ucap Bu Alin.
"Dan kelompok terakhir, Revan Ferzanio, Citra Araninda, Vania Syafkilla!"
Revan yang mendengarkan namanya dipanggil langsung berdiri, hendak protes.
"Loh bu. Kok saya cowok sendiri sih, semua kelompok kayaknya banyak cowoknya deh bu," protes Revan tak terima.
Bu Alin melihat kembali buku absensi, lalu menatap Revan.
"Salahin aja Bima yang hari ini tidak masuk!" kelakar Bu Alin-- tak mau disalahkan.
"Ck bu, nggak adil banget sih!"
"Terserah kamu, saya nggak peduli."
Revan menghela napas kasar, ia kembali mendudukkan dirinya malas. Sama cewek bukanlah masalah besar, yang jadi masalah adalah karena sekarang gadisnya sendiri pasti akan marah jika tahu ia akan kelompok bersama dengan wanita lain.
"Oke. Semuanya nggak ada yang ditanyakan?"
"Tidak bu," jawab murid-murid XI--4 serempak
Bu Alin membereskan buku-buku yang ada di meja guru,
"Tugasnya sudah jelas ya?" tanya Bu Alin lagi.
"Kamis depan dikumpulkan!"
"Iya bu,"
"Kalau begitu saya akhiri. Wassalamu alaikum warrohmatullahi wabarrokatuh," ujar Bu Alin seraya melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
"Waalaikum salam warrohmatullahi wabarrokatuh,"
Revan menatap cowok di sampingnya. Cowok dengan wajah datar dan terlihat acuh tak acuh itu tengah menatap lurus ke depan. Dengan jahil Revan mendekatkan kepalanya mendekati telinga El.
"Lo gak papa sekelompok sama Eka?" bisik Revan pelan karena orang yang ia bicarakan ini bertempat duduk tepat di depannya.
"B.aja,"
Revan tersenyum paksa. Ia menjauhkan kepalanya dari samping El.
"Nyesel gue tanya!"
"Ya, nggak usah tanya!"
Di samping meja El, Yera sudah berdiri sambil menatap El, sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu pada cowok itu. Sedangkan El yang merasakan ada seseorang menatapnya pun menjadi terpaksa menoleh.
"Van, kita ngerja'innya kapan?" tanya Yera ragu.
Sepertinya Yera masih takut dengan El gara-gara waktu itu. Yera menggenggam erat tangannya sendiri-- ia sudah mengumpulkan ribuan nyali untuk kembali menatap muka El.
"Serah!" Jawaban El membuat Yera tersenyum samar, ia tak berharap El menjadi kembali baik kepadanya. Tapi ia hanya berharap supaya El tak marah lagi kepadanya.
Dari arah berlawanan, tepatnya seseorang yang berada di depan meja Revan-- juga ingin mengungkapkan sesuatu pada El.
"El. Sorry soal kemarin," lirih Eka
Bukannya menerima atau menolak pernyataan maaf Eka. Malah, El dengan santainya berdiri dari tempatnya dan langsung nyelonong begitu saja meninggalkan kelas.
"WOYY EL! BADAK LO, GUE DITINGGALIN!" teriak Revan kesal.
Revan juga hendak mengikuti kemana perginya El untuk segera meninggalkan Eka. Ia sama sekali tak marah dengan sahabat seperjuangannya itu, tapi El tak akan menjadikannya teman apabila ia dekat dengan Eka-- itu yang dikatakan El sewaktu hubungan mereka dulu merenggang yang diawali dengan putusnya hubungan Eka dengan Sandra.
"Van," panggil Eka, mencegah Revan menjauhinya.
"Sorry Ka, gue mau ke kantin," tolak lembut Revan agar Eka menggeser tubuhnya untuk ia lewat
"Van, aku ikut ya?" tanya Yera
"Iya,"
Yera dengan semangat berlari mengekori Revan dari belakang.
●○●○
Di kantin.…
Revan berjalan menghampiri meja yang masih ditempati tiga orang itu-- El, Carla dan pacarnya.
"Hai sayang," sapa Revan ceria seperti biasanya.
Sudah terlihat raut muka Eva yang mulai tak suka dengan kehadiran Revan di sini. Pantatnya sudah gatal sendiri, ia ingin segera pergi dari sana. Dengan merelakan baksonya yang masih banyak, Eva berdiri,
"Car, gue ke toilet," pamit Eva cepat. Ia berlari melewati Revan begitu saja.
"Hmm," dehem Carla menyahuti ucapan Eva.
Revan mengernyit, ia melangkahkan kakinya mendekat dan langsung mendudukkan diri di samping El.
"Kebelet banget ya tuh cewek," komentar Revan.
Revan tak sadar. Sejak kehadirannya, suasana di meja itu langsung berubah suram. Ia menoleh ke belakang, mungkin ini alasan dua manusia es itu menatapnya sinis. Walaupun kenyataannya mereka berdua memang memiliki tatapan seperti itu, tapi menurut Revan, ini adalah tatapan terdingin yang mereka berikan untuknya.
"Eh sorry. Tadi Yera pengen bareng aja," ujar Revan sembari mengacak pelan rambutnya.
Yera sudah duduk di samping Carla. Gadis itu terlihat ketakutan di sana,
"Car, gue denger-denger kemarin lo sama San--" ujar Revan hendak memecahkan dinginnya suasana di meja ini, tapi terpotong oleh Carla yang menggeram tertahan.
"Gue pergi!"
Carla berdiri-- dengan santainya ia berjalan keluar dari area kantin. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku rok,
"Dasar anjing cantik lo!!" pekik Revan kesal setelah kepergian Carla.
"Lo bodoh," ujar El tiba-tiba,
Revan mengernyit, ini bukan lagi pertama kalinya El mengatainya bodoh, gila, t***l atau teman serumpunnya. Tapi kenapa ia malah menjadi tertekan ya?
"Ha? Gue?" tanya Revan sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lo selingkuhin Eva," desis El tiba-tiba
"Maksud lo!"
"Gue tau lo masih pacaran sama Sesil,"
Sekarang giliran El yang pergi meninggalkan Revan. Ia ingin membuat Revan keluar dari kebiasaannya mempermainkan wanita yang sudah tertanam di diri pria itu sejak masih SD.
"Yer, lo mau ikut gue?" tawar El.
Yera mengangguk cepat, ia mengekori El sambil membawa kotak makan yang ia bawa dari rumah
"Eva tahu?"
●○●○
El mengajak Yera ke ruangan basket, karena hanya di sini ia tak akan menemukan Carla. Katakanlah kalau El ingin diam-diam tetap bersama Yera dan mengingkari janjinya pada Carla, tapi itu memang benar adanya. El masih belum bisa meninggalkan sahabatnya yang rapuh ini.
"Yer, aku minta maaf udah bentak kamu,"
Ya, itu beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang sering membuatnya gundah. El sudah menahan dirinya untuk tak datang ke rumah Yera hanya sekedar mengucapkan kata maaf', tapi ia terlalu takut kalau Carla mengetahuinya.
"Nggak papa kok El," jawab Yera lembut.
Yera mengulum senyumnya, hatinya sedikit tenang setelah mendengar permintaan maaf dari El. Ia tak akan mengakui kalau itu semua kesalahannya, karena menurutnya ia sama sekali tak salah di sini, tapi Carla yang salah. Kesalahnnya adalah karena hadir dan menjadi orang yang sahabatnya cintai, itu merupakan kesalahan yang sangat fatal.
Tujuannya hanya satu...
Membuat El hanya menjadi miliknya seorang! Ia egois? Memang,
"Kamu nggak masuk gara-gara gue kan?" tanya El penuh sesal.
Yera menggeleng cepat,
"Aku sakit El,"
El meregangkan tangannya. Ia sudah hafal betul siapa Yera. Sahabatnya itu akan pergi kalau ia merasa bersalah, ia juga tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.
"Bohong," tampik El.
"Maaf," lirih Yera.
Mendadak El mengantuk, ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menguap-- menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya.
"Nanti kamu di rumah sendiri?
Yera mengangguk,
"Iya. Bunda ke luar kota," jelas Yera.
El mengusap matanya yang sedikit mengeluarkan air akibat menguap. Suasana menjadi canggung. El sendiri juga bingung kenapa ia menjadi gugup di depan Yera, mungkin ini efek rasa bersalahnya kepada Yera.
"Kita kelompok di taman belakang rumah kamu aja, kamu kasih tahu Eka sekalian," ujar El tanpa berpikir,
Lagi-lagi Yera mengangguk senang. Semua kata-kata El terlihat menyenangkan untuk ia dengar. Yera merindukan El yang dulu, El yang selalu perhatian kepadanya, El yang selalu hadir mengisi kekosongan hatinya, El yang selalu hadir saat ia sedih. Tapi sayang, itu hanya menjadi kenangan yang mungkin tak akan terulang lagi.
"Kamu berantem sama Eka?" tanya Yera-- matanya menatap El yang duduk di sampingnya.
"Hmm,"
Yera ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia takut El akan marah kala mendengarnya. Sesuai dengan yang otaknya pikirkan, mau tak mau ia harus bertanya agar ia tak terus memikirkannya.
"Gara-gara Carla?" tanya Yera hati-hati.
"Begitulah,"
Tak seperti apa yang ia pikirkan, bahkan El terlihat santai saat menjawab pertanyaannya.
"Makasih ya, kamu udah ngertiin aku," ujar Yera tiba-tiba-- entah atas dasar apa.
"Hmm,"
Yera mengingat kalau tadi dirinya membawa bekal dari rumah. Ia mengambil kotak makan yang ia taruh di sampingnya,
"Kamu nggak laper?" tanya Yera semangat.
"Tadi aku bawa roti isi kesukaan kamu,"
"Makan bareng mau?"
El tampak berpikir. Ini tak akan menyakiti hati siapa-siapa kan?
"Boleh,"
●○●○
Setelah acara makan-makannya selesai. El langsung berjalan menuju kelas Carla. El masuk ke dalam kelas Carla. Kelas itu sudah ramai karena bel yang memang sudah berbunyi satu menit yang lalu.
"Ngapain?" tanya Carla langsung saat menyadari kedatangan El di depannya.
El menarik napas dalam,
"Nanti gue ke rumah Yera,"
Carla menaikkan sebelah alisnya, mencoba mempertanyakan maksud cowok itu tiba-tiba datang ke kelasnya.
"Terus?"
"Kelompok,"
Carla memutar bola matanya jengah, ucapan El terlalu terbelit-belit.
"Intinya!"
El merasakan kakinya pegal karena terlalu lama berdiri. Dengan inisiatifnya El melangkah ke samping Carla dan mendudukkan dirinya di kursi kosong. El kembali menatap Carla yang terlihat tak suka dengan kehadirannya di sini.
"Gue izin mau kelompok di rumah Yera," jelas El.
Carla berdecih,
"Ngapain izin?" tanya Carla sambil tersenyum mengejek.
Aneh, dulu aja waktu jalan berduaan, nggak pernah tuh pake izin-izin segala. Terus kesambet apaan tuh cowok mohon-mohon izin darinya sekarang, kayak minta restu aja.
"Nggak berdua, gue Yera sama Eka." El tak menjawab pertanyaan Carla, malah dengan bodohnya ia mengatakan orang yang akan berkelompok dengannya.
Carla menatap El, kepalanya berada di atas telapak tangannya yang bertopang yiku.
"Gue nggak tanya siapa kelompok lo,"
"Gue tanya, kenapa lo izin sama gue?!" tegas Carla.
El melakukan hal yang juga dilakukan Carla, membuat jarak pandang mereka semakin dekat. Carla yang menyadari itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan.
"Biar lo nggak curiga,"
"Oh,"
El acuh tak acuh dengan respon Carla.
"Mau ikut?" tawar El agar lebih meyakinkan.
Ia ingin Carla ikut juga karena mungkin akan menyenangkan bila ia juga ikut. Tapi juga tak ingin, karena ia takut Yera malah tak nyaman dengan kehadiran Ika nantinya.
"Kapan?" tanya Carla.
"Nanti pulang sekolah,"
"Sampai?"
"Mau maghrib kayaknya,"
"Oh,"
El beranjak dari tempatnya, sudah terlalu lama ia di sini. Takutnya nanti guru mapelnya sudah sampai di kelas.
"Yaudah. Gue ke kelas dulu," pamit El.
"Hmm,"
Tak lama setelah kepergian El. Eva datang dan mendudukkan dirinya di kursi tadi diduduki El-- di samping Carla.
"El ngapain?" tanya Eva. Tadi ia sempat melihat El keluar dari kelasnya.
"Izin,"
Eva mengernyit, ia memunculkan kepalanya di depan Carla, membuat Carla menatapnya sinis.
"Kenapa!" kecam Carla sarkastik.
Eva terkekeh pelan. Eva memainkan jari-jarinya dan terlihat sok polos di depan Carla.
"Kelompok sama Yera," ujar Carla, ia tahu isi otak sempit Eva.
"Lo bolehin?"
Carla bergumam untuk menjawab pertanyaannya.
"Car,"
"Hmm,"
Eva mengerucutkan bibirnya. Kenapa ia bisa mempunyai sahabat yang sangat tidak pekaan seperti Ya Allah? Kenapa? Cih, oke mulai alay!
"Gue jadi kesel sama El,"
"Why?" tanya Carla.
"Soalnya El sahabat Revan,"
Carla menoleh sekilas. Lalu kembali memusatkan perhatiannya ke novel yang baru saja ia pinjam dari perpustkaan.
"Hubungannya?" tanya Carla santai.
"Nggak tahu,"
Eva menelungkupkan kepalanya di atas meja-- menghadap ke samping mencoba mencari perhatian Carla.
"Belom mau ngomong?" Carla sangat mengetahui apa yang ia inginkan.
"Ngomong apaan. Orang dia aja nggak tahu kenapa gue marah kok?" tukas Eva kesal.
Carla memutar bola matanya jengah.
"Nggak ngomong?"
"Siapa? Gue?" tanya Eva sambil menunjuk dirinya sendiri. Carla mengangguk.
"Ya nggak lah,"
"Oh,"
Apa seharusnya ia memaafkan Revan saja? Karena kalau boleh jujur, Revan sangatlah berarti di kehidupan Eva sekarang, dan ia tak ingin kehilangan cowok itu.
"Car,"
"Hmm?"
Sepertinya ia harus meminta pendapat Carla untuk hal ini.
"Gue masih sayang sama Revan,"
"Terus?"
"Gue nggak mau putus,"
"Ya nggak usah putus,"
Itu saran, atau kalimat menjengkelkan yang keluar dari mulut Carla? Sepertinya Carla kalau berbicaranya nggak mikir dulu, asal ngomong aja kayak kucing gila.
"Udahlah. Ganti topik, lo nggak pernah ngertiin perasaan gue," Eva mendengus geram.
Eva memikirkan lagi, apa yang harus ia bicarakan dengan Carla. Ia tak ingin diam saja, karena kalau diam ia terus saja berpikir bagaimana ia harus meninggalkan Revan nantinya.
"Oh ya, urusan lo sama Sandra udah kelar?" tanya Eva ragu-ragu. Ia takut pertanyaannya malah membuat Carla marah.
"Gtw,"
"Gimana sih,"
"Nggak usah dibahas,"
Tuh kan,
"Car," panggil Eva lagi.
Carla berdecak, ia langsung menutup bukunya. Lalu meletakkan kepalanya di atas meja,
"Diem. Gue mau tidur,"
"Ck,"
●○●○