……
Sesibuk apapun, namanya cowok harus tetap menepati janjinya pada orang lain kalau nggak mau disebut banci. Sama dengan El, adzan maghrib baru saja berkumandang. Secepat kilat ia membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya dengan khusyu'.
Tadi El tak jadi mengerjakan tugasnya karena satu orang dari kelompoknya tak datang. Ia sempat uring-uringan karena sudah menunggu selama lebih dari tiga jam, dan saat ia menghubungi orang itu, dengan mudahnya ia menjawab tak tahu.
Orang menyebalkan itu Eka. Eka tak datang ke rumah Yera tadi sore, dengan alasan karena Yera tak memberi tahu. Dan katanya juga ia tak akan tahu sebelum El menelfonnya saat ia sudah malas menunggu. El tak memarahi Yera ataupun kesal kepadanya. Mungkin Yera lupa memberi tahu Eka. El mengambil beberapa buku untuk dibawanya ke rumah Carla. Untung besok hari Jum'at, jadi ia tak perlu terlalu khawatir jika akan ada tugas, karena biasanya kelasnya akan sering free class karena guru yang mungkin malas datang ke kelasnya.
El mengambil jaket hitam itu lalu mengenakannya. Ia menenteng tas sekolahnya ke punggung dan keluar dari kamar.Tak ada siapapun di rumah, ia tak harus izin-izin segala-- mempermudahnya keluar juga.
El menuju garasi untuk mengambil mobilnya, ia berencana membawa Carla keluar malam ini. Itupun kalau Carla mau, intinya hanya untuk berjaga-jaga.
●○●○
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya El tiba di depan gerbang rumah Carla yang tertutup. Bersamaan dengannya, ada sebuah mobil yang sepertinya juga ingin berkunjung ke rumah itu.
El turun dari mobilnya, mendorong gerbang itu. Ia ternganga tak percaya kala melihat mobil itu masuk setelah ia membukakan gerbang, dikiranya ia satpam apa. El kembali masuk ke dalam mobilnya dengan kasar, ia melajukan pelan mobilnya memasuki pekarangan rumah Carla.
El langsung keluar dari mobilnya, samar-samar sepertinya ia pernah bertemu dengan cowok yang juga baru keluar dari mobil silvernya.
"Eh tunggu!"
Lelaki berparas tampan itu menoleh karena teguran dari sosok di belakangnya. Benar, itu cowok yang ia temui saat di restoran waktu itu-- cowok yang waktu itu makan bersama dengan Carla.
"Lo nyari Carla?" tanya El asal, terkesan dingin.
"Lo El?" tanya Dion, ia tak paham dengan maksud ABG di depannya.
"Kok lo tahu nama gue?"
Dion mengendikkan bahunya acuh, ia melangkah menaiki beberapa anak tangga beserta tas kerja di tangannya.
"Papa!"
Papa, El memperhatikan Dion secara keseluruhan. Memperhatikan betapa dekatnya orang itu dengan Rendra. Apa selama ini ia telah salah sangka pada Carla.
Bodoh. Bukannya kemarin ia sudah bertemu dengan kakak ipar Carla, kenapa ia bisa melupakan hal itu. Ini bukan salahnya, ini salah Dion karena kemarin memakai kacamata sedangkan waktu itu dan hari ini tidak.
"Kak El, ayo masuk ke rumah!" ajak Rendra menghampiri El.
El bingung sekarang. Tatapan tajam Dion sangat membuatnya malu.
"I--iya,"
Rendra kembali pada papa-nya. Bocah cilik itu menggandeng lengan Dion masuk ke dalam rumah. El menggelengkan kepalanya lalu mengangguk cepat-- untuk menghilangkan kecanggungannya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah.
"Eh, Sayang. Loh, barengan sama El ya?" Zia mencium punggung tangan Dion lalu mengambil alih tas kerja Dion.
"Duduk dulu ya El? Carla lagi sholat,"
"Iya kak,"
Zia tersenyum sekilas kemudian mengikuti suaminya meninggalkan El di ruang tamu yang sepi karena Rendra juga memilih ikut mengekori orang tuanya.
●○●○
Akhirnya Carla selesai mengoreksi soal-soal fisika yang El kerjakan. Ya walaupun nggak benar semua sih,
"Car, udah selesai kan?" tanya El.
Carla mengangguk singkat.
"Mau makan di luar nggak?" tawar El. Jujur, perutnya sudah berbunyi berkali-kali sedari tadi-- ia menahan lapar demi mengerjakan soal-soal yang diberikan Carla.
"Lo laper?" tanya Carla curiga.
El langsung mengalihkan pandangannya, menatap ke mana saja asalkan tidak menatap Carla. Carla acuh, gadis itu membolak-balikkan buku tebalnya, sepertinya akan mencarikan lagi soal-soal baru untuk El kerjakan. Bodoh, Carla tipe cewek nggak pekaan. Jangan sampai ia mati gara-gara kelaparan, kan jadi lucu nantinya.
"Iya, gue laper," tegas El yang otomatis menghentikan kegiatan Carla.
Carla mengerutkan keningnya, entah apa yang ia pikirkan. Lalu gadis cantik itu menutup bukunya, dan menatanya rapi.
El menghela napas, sia-sia ia membawa mobil hari ini. Pasti sebentar lagi Carla akan mengusirnya keluar.
Carla berdiri,
"Gue ambil tas sama izin Kak Zia,"
●○●○
El mengemudi dengan kecepatan stabil di jalanan yang agak ramai. Juga Carla yang duduk di samping kursi pengemudi yang ia tempati.
"Makan dimana enaknya?" tanya El sambil sedikit menolehkan kepalanya ke samping.
"Terserah,"
El melihat-lihat beberapa restoran yang sekarang ia lewati, sampai ia menemukan restorang yang kelihatannya ada banyak makanan enak di dalamnya.
"Gimana kalau ke restoran Ay--"
"Jangan di restoran," potong Carla cepat.
Sekarang El benar-benar menoleh.
"Kenapa?"tanya El.
"Boros,"
"Terus di mana?"
"Terserah,"
El tersenyum samar, ia masih mengikuti jalan lurus itu. Tak lama matanya melihat ada beberapa warung di pinggir jalan yang seperti menggodanya untuk berhenti.
"Gimana kalau di sini aja,"
El meminggirkan mobilnya tanpa mendengarkan dulu ucapan Carla, ia menghentikan mobilnya di samping warung soto ayam. Tempatnya yang tidak terlalu luas membuatnya kesulitan mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Dan akhirnya mau tak mau ia memarkirkan mobilnya tepat di samping warung. Ia bisa memarkirkannya sembarang asalkan tidak menabrak jalan saja.
"Ha?"
Carla mengernyit, El meminggirkan mobilnya-- sekarang tanpa meminta dulu persetujuan darinya.
"Soto?" tanya Carla sambil menyipitkan matanya agak tak suka.
"Yuk turun,"
Carla ikut turun dari mobil El. Ia berjalan membuntuti El dari belakang. Mereka masuk ke warung yang lumayan kecil itu lalu mendudukkan diri berhadapan.
"Bu, sotonya 2!" teriak El memesan makanan.
"Iya den,"
Carla nampak berpikir, lalu ia berdiri menghampiri gerobak ibu itu.
"Satunya nggak sayur ya bu," lirih Carla.
Walaupun sepelan apapun suara Carla, tapi masih bisa terdengar sampai telinga El. Karena jalanan yang sedikit sepi, juga karena mereka satu-satunya pembeli sekarang ini.
"Iya non,"
El menatap Carla sinis. Tatapan matanya mengikuti Carla yang berjalan ke arahnya sampai gadis itu kembali duduk di hadapannya.
"Lo nggak suka sayur?"
"Kepo,"
El terkekeh pelan.
"Pantesan badan lo trepes kayak gini," ejek El tak tanggung-tanggung.
"Lo ngejek gue,"
El mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak kok. Tapi kalau berasa ya mau gimana lagi?" ujar El seenaknya.
"Serah lah,"
Tak lama setelah sepasang kekasih itu terdiam, ibu penjual soto itu datang sambil membawa nampan dengan pesanan mereka yang ada di atasnya.
"Ini non, den,"
Carla dengan sigap berdiri-- membantu si ibu itu menaruh dua mangkok di atas meja.
"Makasih bu," lirih Carla.
Carla menoleh ke samping. Inikah El yang selama ini ia kenal, cowok ini makan seperti belum pernah makan sebulan saja, sangat rakus.
"El! Lo nggak pesen minum?" tanya Carla, ia takut nanti El tersedak dengan cara makan seperti itu.
El menepuk pelan dahinya.
"Oh iya. Lupa gue,"
El berdiri-- berjalan menghampiri ibu itu lagi.
"Bu, teh hangatnya satu,"
El menoleh ke belakang, Carla sama sekali belum menyentuh makanannya.
"Lo apa?"
"Jeruk hangat bu,"
"Iya den,"
"Sebentar ya,"
●○○●
Carla menoleh saat tiba-tiba El memarkirkan mobilnya di samping trotoar, dan langsung turun begitu saja.
"Ngapain turun?"
"Gue mau roti bakar,"
"Mana?"
"Ya beli dulu lah,"
"Oh,"
Carla ikut turun-- menghampiri El yang tengah memesan.
"Mbak, rotinya rasa coklat campur keju dua,"
"Lo apa?"
Carla menunjuk dirinya sendiri. El sedang menawarinya kah?
"Gue juga?"
"Iya,"
Carla berjalan lebih dekat, melihat-lihat daftar menu yang tertempel di gerobak tempat memanggang roti pesanan.
"Hmm, saya rasa kacangnya satu, kejunya satu, sama coklatnya satu,"
"Banyak banget?"
"Gue bayar sendiri!"
"Maksud gue kok lo beli banyak banget, emang habis?"
Carla mengangkat tangannya.
"Buat Kak Zia, Kak Dion sama Rendra," ujar Carla sambil menghitung menggunakan jarinya.
"Lah lo?"
"Males,"
El berdecak. Ia melihat daftar menu di depannya. Lalu sedikit membungkukkan kepalanya untuk melihat menu yang berada di daftar paling bawah.
"Mbak rasa keju-coklatnya satu lagi,"
Mulut Carla menggembung, ia mulai menghitung banyaknya roti pesanan El. Sangat menggemaskan ekspresi gadis itu.
"Lo juga banyak banget,"
"Buat Yera?"
"Kalau iya kenapa?" jawab El santai tanpa beban.
Carla mengalihkan pandangannya.
"Gpp,"
El menggenggam tangan Carla. Ia menarik tangan itu ke kursi panjang yang di sediakan untuk menunggu pesanan. Mereka duduk berhadapan. El melihat Carla mendatarkan ekspresinya, gadis itu tengah memainkan ponselnya sendiri.
"Lo nggak suka banget sama Yera?"
Carla mendongakkan kepalanya.
"B.aja,"
"Kenapa?"
"Kenapa lo nggak suka Yera?" ulang El.
Carla menaruh ponselnya di atas meja. Ia menatap cowok di hadapannya datar.
"Siapa yang bilang nggak suka?" ucap Carla nyolot.
"Tatapan lo,"
Carla berdecak, ia kembali membuka layar di ponselnya-- mengalihkan perhatian El.
"Apa jangan-jangan… lo cemburu?" tekan El curiga.
"Nggak,"
"Nggak mau jujur?"
"Udah jujur!"
"Okelah!"
El mengambil sesuatu yang bergetar di saku celananya. Ia mengernyit mendapat panggilan dari kontak yang ia beri nama 'Yera', tak biasanya cewek itu akan menghubunginya malam-malam begini.
"..."
"Hallo Yer,"
"..."
"APA!?" teriakan El berhasil menarik perhatian gadis di depannya.
"Oke. Lo tenang dulu, gue ke sana,"
Setelah memutuskan sambungannya, El langsung berlari menuju mobilnya. Lalu menjalankannya cepat,
Dan tanpa El sadari, ia meninggalkan Carla sendirian di sana. Carla menatap kepergian El. Dadanya sesak kala melihat seberapa perhatiannya El pada Yera. El dengan tega melupakan dirinya demi Yera. Sebenarnya, seberapa berartinya sahabatnya itu bagi El, sampai-sampai El lebih mementingkan Yera daripada dirinya.
Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya, namun sesegera mungkin ia mengusapnya. Carla menghela napas panjang-- agar sesuatu di matanya tak kembali menetes.
"Mbak ini rotinya,"
Carla berdiri, menerima beberapa kantong kresek pemberian mbak penjual roti bakar.
"Berapa?"
"Semuanya 120.000 mbak,"
Untung Carla membawa dompet. Kalau sampai tidak, mau minta uang ke siapa dirinya nanti. Carla mengeluarkan dompetnya dari dalam tas slempangnya. Lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna biru untuk ia serahkan kepada mbaknya.
"Ini,"
Wanita itu dengan sigap menerima uang Carla, dan langsung mencarikan uang kembalian Carla dari dalam dompetnya.
"Ini kembaliannya mbak,"
"Iya, makasih,"
Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia pulang ke rumah. Bahkan Carla sendiri tidak tahu jalanan mana ini. Ingin menelfon Dion, tapi takut malah menambah masalah nantinya.
Terpaksa ia harus mencari taksi. Tapi ini sudah hampir larut malam, ia jadi ragu apakah akan ada taksi lewat jam segini.
"Car,"
Carla menoleh, mendapati cowok yang menjulang tinggi berlari ke arahnya. Ia ingin menghindar, tapi karena banyaknya kotak roti yang ia bawa membuatnya menjadi sulit bergerak bebas.
"Car, pliss jangan menghindar. Maafin gue," pinta Eka tulus
Eka tahu ia salah, ini hak Carla antara ingin memaafkannya atau tidak. Tapi ia tak kuat jika Carla mengacuhkannya apalagi menghindarinya,
"Oke gue maafin. Tapi lo anter gue pulang," ujar Carla tanpa beban.
"Ha?"
"Anter gue pulang!"
"Beneran?"
"Ya iyalah,"
Eka mengangkat tangannya-- berpose seperti sedang menghormati Carla.
"Siap tuan putri,"
"Mobil gue di sana," ajak Eka semangat.
Carla mengikuti Eka. Ia mendengus, tak ada niatan kah pria itu membantunya membawa barang bawaanya yang banyak ini.
Eka menoleh, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat tatapan tajam Carla.
"Sorry Car. Sini gue bantu,"
Eka mengambil beberapa kresek di tangan Carla, lalu ia masukkan ke dalam jok mobil bagian belakang.
"Dari tadi kek!"
"Ya maaf,"
●○○●
"Lo. Lo tahu rumah El?" tanya Carla sedikit gugup
"Kenapa? Lo mau ke sana?"
"Nggak. Cuman tanya!"
"Oh.. ini masih terus kan?"
"Iya, nanti di depan belok kanan,"
"Oke!"
Eka melajukan mobilnya sesuai dengan arahan Carla. Ia sangat berharap Carla akan menunjukkan arah yang salah agar ia bisa berlama-lama dengannya. Betapa bodohnya ia bisa berkhayal setinggi itu. Baru beberapa menit mengemudi, akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah.
Carla langsung turun sambil membawa beberapa kresek hitam di kursi penumpang bagian belakang.
Carla membuka salah satu kresek. Ia memberikan satu roti yang tadi di pesannya pada Eka.
"Nih!"
"Makasih!" ujar Carla tulus.
"Eh, eh. Gue ikhlas kok!" tolak Eka.
"Terima aja. Nggak usah alay!" sindir Carla malas
"Galak banget sih neng,"
Carla juga memberikan sekantong kresek yang tadi dipesan El kepada Eka.
"Nih,"
"Banyak banget. Gue nggak makan segini banyaknya juga kali'"
"Kasih El. Bilang makasih dari gue!" ujar Carla dingin.
Eka menatap Carla tak percaya.
"Lo tadi sama El?"
"Hmm.."
"Terus dia ninggalin lo?"
"Hmm,"
"Dia pergi ke mana?"
"Gue denger dia telfonan sama Yera," jawab Carla acuh.
Carla tak ingin terlalu membahas masalah ini. Hatinya masih belum bisa menerima semua sikap El padanya selama ini. Jangan sampai ia meneteskan air matanya di hadapan Eka.
"Yaudah. Gue masuk dulu, kakak gue nanti nyari-in," pamit Carla cepat dan langsung berlari masuk ke dalam gerbang yang sedikit terbuka. Tanpa melihat kepergian Eka, ia menutup gerbang lalu pergi masuk begitu saja.
Eka menggenggam erat kresek pemberian Carla ditangannya. Jadi, tadi Carla menangis karena El, lagi?
Dengan kasar ia memasukkan kresek itu ke dalam mobil, lalu berjalan memutar masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia menjalankan mobilnya cepat menjauhi rumah Carla.
Eka mengendarai mobilnya ugal-ugalan, entah sudah berapa banyak rambu yang ia langgar. Ia tak peduli, sekarang tangannya sudah sangat sabar untuk tak memukul seseorang.
Tak lama, ia berhenti di depan rumah orang yang membuatnya marah. Dan apa sekarang yang ia lihat.
El memeluk Yera di dalam rumah yang terbuka itu.
Napasnya naik turun, ia sudah berusaha keras menahan emosinya. Dirasanya sedikit tenang, Eka turun dari mobil sambil membawa roti yang ia yakin bentuknya sudah tak seperti bentuk awalnya karena tadi ia melemparkannya asal.
Eka melangkah cepat masuk ke pekarangan rumah Yera. Saking khusyu'-nya, kedua manusia itu tak menyadari keberadaan Eka di ambang pintu, di depan mereka.
"Ekhm,"
El melepaskan pelukannya, ia menatap Eka yang berada di depannya. Ia bingung dengan kehadiran Eka yang tiba-tiba masuk ke rumah Yera.
"Gue ganggu ya?"
"Sorry,"
"Gue cuma mau ngasih ini,"
Eka menyerahkan barang titipan Carla.
"Carla bilang makasih. Makasih karena lo udah ninggalin dia sendirian tadi!" tajam Eka.
'Deg'
El menatap Eka. Ia benar-benar melupakan Carla. El langsung mengambil kunci mobilnya di atas meja tamu Yera dan melangkah keluar.
"Carla udah gue anterin pulang,"
El tak memperdulikan ucapan Eka. Ia harus meminta maaf lagi dan menjelaskan semua yang terjadi.
"Lo nggak perlu ganggu orang malam-malam begini bro!" sinis Eka sambil memegang bahu El dari belakang.
"Gue pernah bilang. Kalau lo nggak bisa jaga Carla. Gue nggak akan segan ambil dia dari lo!"
Eka masuk ke dalam mobilnya, dalam hitungan detik mobil itu sudah menjauh.
"El, maafin aku ya?" lirih Yera pura-pura merasa bersalah.
"Kamu nggak salah Yer,"
"Ini semua aku yang salah,"
El mengambil ponselnya, berusaha menghubungi Carla. Namun nihil, tak sekalipun Carla mengangkatnya, dan sekarang pasti Carla mematikan ponselnya.
Jari lentik El mengetikkan pesan yang ia kirimkan ke Carla. Semoga Carla membacanya dan bisa mengerti dirinya.
To: Carla Fazilla
Maaf sayang,
●○●○