"CAR DICARIIN TEMEN!" Carla membalas teriakan kakaknya dengan gumaman ringan yang pasti tak akan sampai terdengar sampai telinga sang kakak.
Setelah benar-benar siap, Carla keluar dengan atasan kasual putih yang benar-benar pas di tubuh rampingnya, juga sneakers putih yang menjadi alas kakinya. Ia juga membawa tas slempang yang ia gunakan untuk meletakkan uang.
"Kak, aku mau keluar," izin Carla pada Zia yang tengah menyuapi Rendra di ruang keluarga.
"Iya, pulangnya jangan sore-sore," Carla segera melenggang pergi setelah mendapat persetujuan kakaknya.
Kedua mata itu memandang tajam pria yang berdiri membelakanginya. Teringat hp-nya berada di tangan pria itu sejak kemarin, Carla berhenti di depannya sambil menengadahkan tangan kanannya di depan El.
Alis El berkerut karena masih belum paham dengan maksud gadis cantik di depannya. "Apa?" tanya El tajam.
"Hp," singkat Carla dengan tangan yang masih menengadah.
Terdengar helaan napas dari El, ia merogoh saku celananya dan dengan cepat memberikan apa yang diinginkan gadis cantik yang tanpa sadar sudah ia klaim menjadi gadisnya kemarin. Ia berjalan mendahului Carla menuju sepeda motornya yang terpakir di halaman minimalis milik kakak Carla.
Sedangkan Carla hanya mengekori El dari belakang, ia bingung karena El tiba-tiba memberikan jaket kepadanya. Mungkin kalau kemarin karena alasan ia memakai rok sekolah yang tergolong pendek, tapi untuk sekarang? Kan ia memakai celana?
"What?" tanya Carla
"Dingin," Karena tak ingin memulai perdebadatan, El meletakkan jaketnya di atas jok belakang, dan perlahan ia menaiki motornya.
Tak ingin berbasa-basi juga, Carla memakaikan jaket hitam itu ke tubuhnya. Memang suhu hari tak seperti biasanya, terkesan dingin namun cuaca tetap panas.
Motor hitam itu melaju cepat membelah jalanan ibu kota, dan tiba-tiba berhenti mendadak akibat lampu merah.
"Lo mau bunuh gue?" kesal Carla, ia terus saja memaki pria itu karena kecepatan gilanya.
El tak menggubris kata-kata Carla, ia kembali melajukan sepeda motornya saat lampu jalanan itu sudah berwarna hujau.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan rumah minimalis milik keluarga Eva.
"Lo mau bunuh gue?" Carla menuruni motor El dengan makian yang terus saja keluar dari mulutnya.
"Gue udah pro, woles aja!" ujar El santai.
Ingin sekali ia memaki pria itu lagi, tapi tiba-tiba wanita paruh baya keluar dari pintu belakang sambil membawa beberapa pot bunga yang ditaruh di atas arko.
"Eh, Carla," sapa wanita itu, Carla bergerak untuk mencium tangan kanannya yang juga diikuti El setelah dirinya.
"Tante, Eva ada?" tanya Carla sopan.
"Pergi sama kalian berdua?" tanya Eny, ibu Eva.
"Iya tante,"
"VA!"
"Tunggu bentar ya? Tante mau ke depan dulu," pamit Eny.
Tak lama setelah itu, Eva pun keluar. Senyum yang seperti biasa ditunjukkannya kepada El dan Carla yang menatapnya malas.
"Uch, temen aku akhirnya dateng juga," Eva memeluk lebay bahu Carla yang lebih tinggi darinya.
"Lepas atau gue pulang!" ancam Carla.
Terdengar kekehan ringan dari pria di belakang Carla. Eva menatapnya tajam,"Pasangan ngeselin," cibir Eva.
Carla hanya geleng-geleng kepala dengan sikap kekanak-kanakan Eva yang menurutnya imut untuk dilihat. Sedangkan El kembali memasang raut wajah tanpa ekspresi.
"Revan mana sih?" tanya Eva pada dirinya sendiri.
"Masih molor paling," ujar El seadanya.
●○●○
Di sinilah mereka berempat, taman bunga di pelosok kota. Tempat yang akhirnya mereka datangi setelah Carla dan Eva berdebat panjang. Carla yang ingin ke danau untuk menenangkan pikiran, dan Eva yang memaksa pergi ke mall untuk berbelanja. Namun perdebatan kedua sahabat ini juga tak berguna, karena mereka akhirnya mengikuti saran El untuk ke tempat ini.
"Bagus banget ya," Revan merangkul bahu Eva untuk menyalurkan rasa sayangnya pada gadis berambut pendek itu.
Namun, berbeda lagi dengan pasangan yang juga berjalan ringan di sekitar bunga orchid itu. Tak satupun dari mereka mengucapkan sepatah kata setelah hampir satu jam berada di sana.
Carla yang sibuk mengagumi bunga-bunga cantik itu, dan El yang tanpa disadarinya sibuk memandang dirinya dari belakang.
El terus saja menatap Carla yang terlihat sangat cantik di matanya, gadis berhidung mancung itu terus saja mengambil foto di setiap bunga yang menurutnya bagus nan indah di pandang. Hanya memotret bunganya saja,
"Cantik," gumam El tanpa sadar yang sampai terdengar di indra pendengaran Carla.
"Gue?" tanya Carla mengagetkan, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada orchid ungu di sampingnya.
"Hmm,"
●○●○
Sudah hampir dua jam mereka di sini.
Sekarang Carla bersama Eva, sedangkan para cowok pergi mencari es krim karena paksaan dari Eva.
"Ih, Carla. Masa' hp terus sih yang dilihatin," gerutu Eva kesal karena ia serasa sedang duduk bersama angin yang datang tanpa mengucapkan apapun.
Merasa terabaikan, Eva mengambil ponsel itu dari sang pemilik. Lalu berlari sekencang mungkin agar Carla mengikutinya sekadar untuk bersenang-senang.
"VA BALIKIN HP GUE!" Carla juga berlari mengikuti arah Eva yang semakin menjauh.
"VA! AWAS LO!"
Eva tak menganggap ucapan Carla, ia berlari sambil tertawa sekencang-kencangnya, sangat-sangat mirip dengan orang gila yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa.
"Akh!" Eva menghentikan langkahnya ketika mendengar pekikan dari belakangnya, dan benar saja, ia melihat Carla tersandung batu, dan sekarang terkapar di atas tanah.
Sedangkan seorang pria yang mendengarkan pekikan itu langsung berlari menghampiri sang gadis.
Ia membungkuk menolong Carla menjadi posisi duduk, "Darah," lirihnya.
Carla merasa sedikit pusing, kepalanya yang terbentur keras dan sekarang malah darah deras tak henti-henti keluar hidungnya.
"Van," El meraih kasar tisu di tangan Revan yang tadinya digunakan untuk menadahi es krim.
"El, Carla nggak papa kan?" tanya Revan yang mulai khawatir dengan Carla yang terlihat menahan sakit di kakinya yang juga tergores tanah.
Tak ada jawaban, El terlihat was-was. Tangannya menekan beberapa lembar tisu itu ke hidung Carla, berharap darahnya segera berhenti mengalir.
"Masih sakit nggak?" tanya El lembut. Ia membenahi rambut Carla yang kotor dengan tangannya.
"Car...ma--af," isakan kecil terdengar dari mulut Eva yang bergetar, ia merasa bersalah pada sahabatnya.
"Kekanak-kanakan!" desis El sambil menoleh tajam Eva yang juga berjongkok di depannya.
Eva sudah tak dapat berkata-kata lagi. Ia menerima dengan lapang d**a ejekan dari mulut pedas El yang selalu saja menusuk tepat ke ulu hatinya.
Revan yang sedari tadi diam, memilih ikut berjongkok di samping Eva. Menenangkan gadisnya yang sudah nangis tersedu-sedu.
"Jaga mulut lo Elvano!" tegur Revan.
"Emang kan. Pacar lo ini nggak punya malu, nggak tahu diri, plus kekanak-kanakan. Paket lengkap dah buat lo!" ejek El seadanya.
Revan berdiri, tangannya mendorong tubuh El keras,
"Maksud lo?!" geram Revan,
"Ck," El berdecak, senyum miring terukir di bibirnya. Ia berdiri untuk meladeni Revan yang tadi mendorongnya.
"Fakta!" sinis El sebelum ia benar-benar memukul Revan, ia benar-benar melupakan bahwa orang yang dipukulnya ini adalah sahabatnya sendiri, mungkin karena obsesi untuk melindungi Carla yang terlalu besar.
Carla hanya menatap malas dua manusia itu, tak ada niatan untuknya memisahkan mereka. Biar saja mereka seperti itu, karena pria tak akan tenang sebelum apa yang ada di pikirannya belum terpenuhi.
Namun, berbeda lagi dengan Eva yang terus saja menahan tangan Revan agar ia tak melawan.
"Please udah dong,"
"Minggir Va!"
Karena hal itu juga Revan sampai tak sengaja mendorong Eva yang membatasi pergerakannya untuk melawan El yang semakin gencar memukulinya.
"Va!"
Eva tak merasakan sakit apapun saat Revan mendorongnya, walaupun tak sengaja juga sih.
Jujur saja, ia merasa bersalah atas pertengkaran mereka. Semua ini tak akan terjadi apabila ia tak terlalu ceroboh sampai membuat Carla jatuh dan membuat jiwa kesetanan El keluar dan malah melampiaskan pada pacarnya itu. Ia benar-benar merasa bersalah sekarang ini,
"Udah?" pekik Carla setelah El memukul wajah tampan Revan.
Kesadaran El kembali setelah mendengar suara Carla. Ia menurunkan kedua tangannya yang baru saja memukul sahabat rasa musuh itu. Ia mengacak rambutnya gemas setelah menyadari kebodohannya yang sangat hakiki.
"Puas?"
"Kalau belum, silahkan dilanjutkan. Gue mau pulang," sela Carla sambil berusaha berdiri, walaupun tubuhnya belum mampu sepenuhnya menahan berat badannya.
"Va! Bantuin gue kek!" gertak Carla.
"Van!" Eva tak mendengarkan Carla, ia membantu Revan yang terlihat benar-benar lemah karena mendapat serangan bertubi-tubi dari pacar sahabatnya itu.
"Maaf," lirih El, ia menghampiri Carla dan membantu gadis itu berdiri.
Hari yang seharusnya menjadi hari yang bahagia untuk kedua pasangan itu malah berakhir seperti ini. Dan akhirnya juga dua pasangan itu pergi sendiri-sendiri, berpisah tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Eva memutuskan pulang untuk mengobati luka Revan, sedangkan El terus saja memaksa Carla untuk makan dulu di restoran terdekat, ia takut Carla kenapa-napa.
●○●○
"Lo tuh kenapa sih?"
El bingung dengan sikap Carla sejak ia mengajaknya makan ke restoran ini. Ya walaupun dengan paksaan darinya, toh apa masalahnya juga sih. Kenapa malah Carla yang ngambek kepadanya.
"Lo yang kekanakan!" tandas Carla
"Kok lo yang marah sih?"
"Pikir pake' otak!"
"Masih gara-gara tadi?"
"Punya otak kan?"
"Gue berantem sama sahabat gue demi lo. Demi LO!"
"Gue nggak nyuruh,"
Tapi berbeda dengan pasangan es yang satu ini, mereka berdua akan tetap dingin kalau tak ada yang ingin dibicarakan. Tapi sikap es akan hilang kalau udah ada perdebatan dari salah satu pihak.
"Maaf mbak, mas. Ini pesanannya," Perdebatan itu akhirnya terhenti sejenak. Pelayan menaruh pesanan dua manusia itu di atas meja yang mereka pesan, tentu saja dengan sopan walaupun pelanggannya lebih muda darinya.
"Iya mbak makasih," ujar El sopan pada pelayan restoran.
"Makan! Gue nggak mau lo mati di sini,"
●○●○
El melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia tak ingin gadis di belakangnya terus mengoceh selama perjalanan. Beberapa menit kemudian akhirnya motor hitam itu sampai di depan gerbang rumah Carla--El mengerem perlahan motornya.
Carla melepaskan helmnya lalu turun dari motor El. Ia membenahi rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Tangan El mengacak rambut Carla, membuat rambut panjang itu kembali berantakan. Carla memukul El dengan helm yang masih berada di tangannya.
"Sakit anjing," pekik El merasakan sakit pada lengannya.
"Biasa aja. Nggak usah ngatain anak orang segala,"
"Ya maaf,"
"Udah lah, pulang sana!"
"Lo ngusir gue?"
"Tuh tau,"
El memasang wajah kesal lalu kembali memakai helm fullface-nya,
"Eh, mau kemana?" Carla tersentak mendengar suara melengking dari belakangnya.
Juga dengan El, pria itu membuka helm-nya sekali lagi-- dirasa seseorang dibelakang Carla yang pasti adalah kakak gadis itu, karena tak mungkin juga kalau ibunya dengan wajah yang terlihat semuda itu.
"Masuk dulu dong," ajak Zia sambil menyenggol bahu Carla, memberi kode agar Carla juga mengiyakan permintaannya.
"Enggak kak, dia mau pulang kok," Zia mendengus dengan kekolotan adik perempuannya satu ini, ia tersenyum sadis--mencoba memberi pencerahan pada sang adik.
"Iya kak, saya pulang aja," tolak El, ia turun dari motornya--tak sopan kalau ia terus bertengger di motornya saat sedang berbicara dengan orang yang lebih tua.
"Tuh kan, dia mau pulang kak," tolak Carla seperti memaksa kakaknya untuk tak membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya.
Tunggu dulu. Ini siapa yang diajak? Siapa pula yang bingung? Dasar Carla aneh.
"Kamu tuh kenapa sih. Biasanya juga diem aja kan,"
"Ayuk masuk, minum teh dulu aja. Pasti capek kan?" ajak Zia keukeuh.
El menatap Carla, seolah meminta persetujuan gadis itu. Tapi Carla yang pasti akan kalah jika berdebat dengan kakaknya itu hanya mengangguk pasti.
"Nah kan. Yuk masuk dulu?"
Zia terlihat semangat dengan kehadiran El, entah kenapa malah Carla yang jengkel sendiri dengan sikap kakaknya yang menurutnya terlalu berlebihan.
Zia berjalan duluan,
"Masuk sana!"
"Kalau nggak boleh gue pulang aja," ketus El dengan wajah datar.
Carla menghela pelan napasnya. Seutas senyum ia paksakan, lalu menarik lengan pria itu masuk ke dalam pekarangan rumahnya, meninggalkan motor hitam itu di luar gerbang.
Biarkan saja motor itu di sana, ia tak peduli. Lagipula bukan motornya juga, jadi kalau hilang kan ia nggak perlu terlalu repot,
Carla mengerjapkan matanya, apa kakaknya sudah menyiapkan ini semuanya. Sejak kapan karpet ruang tamu di ganti, dan sejak kapan ruangan yang biasanya seperti kapal pecah berubah menjadi sebersih ini.
"Duduk dulu dek. Car, kamu temenin dulu ya?" ujar Zia.
Carla tak berucap, ia menyenderkan tubuhnya di sofa empuk berwarna coklat itu. Benar-benar melelahkan weekend kali ini, karena biasanya ia hanya akan belajar di kamar saat hari libur seperti sekarang. Bahkan ia tak akan keluar kamar jika bukan karena makan dan memerlukan sesuatu.
Anak rumahan pasti tak asing dengan kegiatan Carla, hanya dengan membaca buku sudah membuat perasaan mereka senang sendiri. Atau kalau ketika bosan, anak sejenis ini hanya akan bermain sosmed sampai lupa waktu.
Sedangkan El yang juga merasa lelah mendudukkan dirinya di samping Carla. Keringat membasahi pelipisnya, ia tersenyum sekilas melihat jaket yang tadi pagi ia pinjamkan ke Carla dengan alasan cuaca dingin masih melekat di tubuh gadis itu.
Tak ada yang memulai percakan setelah hampir sepuluh menit duduk di sana. Dan juga tak ada tanda-tanda Zia kembali dari dapur
"Lo udah sholat?" tanya Carla memecah keheningan.
"Ya belum lah. Pakai nanya,"
Carla berdiri, "Sholat dulu. Waktunya tinggal beberapa menit lagi. Di dalem aja sholatnya, musholla jauh"
El mau tak mau mengikuti Carla. Sebenarnya ia masih tak menyangka kalau Carla akan memperingatkannya melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Karena jika dilihat dari wajah-wajahnya, pasti mereka akan berpikiran kalau Carla tak akan mau membagi waktu untuk sekedar melakukan sholat.
"Kak, El belum sholat. Kakak anterin ya? Aku mau sholat diatas," ujar Carla meninggalkan El dengan Zia yang tengah menyiapkan minuman.
"Eh, bentar ya,"
El mengangguk sebagai jawaban. Ia tak mungkin berkoar-koar di rumah yang bukan rumahnya ini, bahkan kalau di rumahnya pun ia tak sampai berani berteriak-teriak.
"Mamah, kak Carla udah pulang ya?" bocah kecil itu muncul dari balik pintu membuat El mengalihkan pandangannya.
"Eh, kakak yang cium kak Carla di mall kan?" tebak Rendra menerka-nerka ucapannya.
Zia pun langsung merespon ucapan anaknya dengan menatap El yang terlihat terkejut
Sangat terlihat jelas kalau itu benar--gelagat El yang kaku langsung membuat Zia tersenyum penuh arti menatapnya.
●○●○
"Car, kapan-kapan ajak El main ke rumah gih,"
Carla menoleh dan menatap tajam ke arah kakaknya yang duduk di kursi samping Dion--suami Zia--yang tengah menyantap sarapannya.
"Ya sekali-kali aja Car. Matanya nggak usah sampai keluar gitu," ucap Zia memperingatkan.
Sebenarnya Carla bingung dengan kakaknya yang selalu saja membicarakan apapun tentang El sejak kemarin. Sebenarnya apa yang kemarin mereka bicarakan? Ia tak mengerti.
Carla manggut-manggut dan langsung kembali menyuapkan sesuap makanan ke mulutnya.
"Mas, Carla tuh udah gede lo ternyata?" ujar Zia seolah tengah bercurhat dengan Dion.
"Hmm,"gumam Dion.
Zia mendengus dengan respon Dion, memang suami tercintanya ini memiliki sifat tak beda jauh dengan Carla, sifat dingin mereka selalu keluar saat ia tengah berbicara semangat seperti yang terjadi sekarang ini.
Ia memilih melanjutkan menyantap makanannya, ia berasa jadi orang gila karena ngomong sendiri. Ini karena Rendra yang menginap di rumah orang tua Dion kemarin malam--kalau Rendra ada di sini, pasti Zia dan Rendra lah yang akan membuat rumah sangat ramai.
"Car, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Dion mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak tau kak, nanti nebeng temen aja," elak Carla tenang.
"Mentang-mentang punya pacar aja, nggak mau diantar jemput lagi," sindir Zia--ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Carla lagi-lagi menatapnya tajam.
"Serah lah kak,"
Carla sudah selesai dengan sarapannya, ia membawa piringnya ke belakang untuk dicuci. Setelah itu ia kembali ke ruang makan untuk mengambil tasnya yang bergelantung di kursi.
"Kak, Carla ke depan dulu!"
●○●○●
El menghela napas panjang setelah akhirnya selama dua jam lamanya ia berjuang. Berjuang menyelesaikan ulangan harian matematika yang pasti hasilnya sangat jauh dari apa yang ia usahakan.
Hidup ya begini, kalau lo perjuangin dia tapi nggak niat ya dianya nggak bakalan mau. Tapi kalau lo merjuangin dia sambil diiringi do'a, itu lain lagi alasannya. Tapi jangan sampai lo merjuangin orang yang udah punya pacar, nyesek temen-temen tercinta. Oke mulai ngawur,
Sebelum mengumpulkan kertas soal beserta jawabannya, ia melirik sekilas pada siswa yang duduk sebangku dengannya.
"El," terdengar panggilan lirih dari Revan, tapi El terus melanjutkan langkahnya agar ia bisa segera keluar dari kelas. Karena tadi guru sudah memberitahu, kalau sudah selesai mengerjakan soal bisa langsung keluar dari kelas, karena memang setelah jam matematika adalah waktunya istirahat.
Entah iseng atau apa, tapi sekarang ia ingin sekali menghampiri Carla di kelasnya.
El menghentikan langkahnya,
"Va, lo nggak usah kayak gini lah. Kayak anak kecil aja," ucap Carla
"Iya, emang gue kayak anak kecil. Kenapa lo!"
"Lo kenapa sih? Masalah kemarin luapakan aja kali"
"Gara-gara kemarin, Revan jadi luka," elak Eva, ia berlalu melewati Carla.
El menghampiri Carla, ia tak mau dianggap penguping atau semacamnya karena mengendap-endap di balik tembok seperti ini.
"Lo kenapa?" tanya El
"Napas," jawab Carla seenaknya.
Mata El menyorot tajam membuat Carla menghela napas,
Carla membalikkan badan, hendak pergi dari hadapan El.
"Gara-gara lo, gue sama sahabat gue jadi kayak gini,"
"Dan gara-gara lo juga, gue jadi diejekin kakak gue terus," ujar Carla tanpa membalikkan badannya.
El terus saja menghela napasnya, keinginannya untuk melepas penat di otaknya karena ujian matematika dengan menemui gadis itu sirna, malah omelan Carla semakin membuatnya pusing sendiri.
"Hah, lo bikin gue gila!" desis El memutar kelopak matanya malas.
●○●○
"Kamu jangan marah sama Carla. Dia nggak salah, kemarin itu yang mulai aku. Gara-gara aku kebawa emosi," ujar Revan menenangkan Eva.
Eva menatap nanar ke depan. Ini juga salahnya, ia sadar akan hal itu. Tapi dipikirannya selalu saja Carla yang menurutnya jadi penyebab semua ini terjadi.
"Kamu tuh cantik kalau ceria sayang. Aku nggak suka lihat kamu kayak gini."
"Iya, aku emang keterlaluan sama Carla," sesal Eva.
Eva memantapkan pikirannya, ia kembali memasang wajah berseri-serinya seperti biasa. Senyumnya merekah sempurna di kedua ujung bibirnya, matanya menyipit karena terlalu lebar tersenyum.
"Oke! Aku minta maaf dulu ya," ucap Eva seraya pamit pada Revan.
"Good luck honey,"
Eva keluar dari lapangan basket. Tadi mereka ke sini karena Revan yang katanya mau latihan basket, tapi ternyata teman-temannya malah tidak datang. Dan alhasil, ia menelfon Eva untuk menemaninya di sini.
Mata bulat Eva menemukan Carla seperti biasa tengah membaca buku dengan telinga yang tersumpal earphone.
Jemari lentik Eva mencubit pelan bahu Carla dari samping. Dan segera saja ia mendudukkan dirinya di samping Carla.
"Fokus banget mbak,"
Carla mengernyit melihat Eva terlihat seperti biasanya, bukan seperti beberapa waktu lalu, gadis itu yang mendiaminya.
"Kesambet?" tanya Carla memastikan
"Ih, jahat banget sih. Masa' orang sehat wal'afiat kayak gini dibilang kesambet,"
Eva mengerucutkan bibirnya, menyambar earphone Carla dan menyumpalkannya ke telinga kiri.
"Nggak ada suaranya Car,"
Eva mengernyit bingung,
"Emang,"
"Trus ngapain pake ginian kalau nggak ada musiknya,"
"Biar keren," ujar Carla santai.
"Tuh kan cueknya keluar lagi,"
"Oh!"
"Serah lah Car,"
Eva memutuskan menopang kepalanya di atas tangan, memperhatikan Carla dari samping.
"Jan liatin gue. Ntar naksir,"
"Idih ge-er,"
"Whatever,"
●○●○