"Car, gue boleh minta tolong nggak?" tanya Eva dengan wajah berbinar minta ditampar.
Carla bergumam pelan sebagai jawaban,
"Lo bujuk El buat maaf-in Revan ya?"
Eva meringkuk memegang lengan Carla sambil menggoyang-goyangkan pelan, memohon agar Carla mau membujuk El untuk memaafkan kesalahan pacarnya tempo hari.
"Nanti," singkat Carla
"Beneran kan?"
"Hmm,"
"Nggak bohong kan?"
"Iya, iya. Bawel banget,"
"Thanks Car.. kaulah sahabat terbaik aku,"
●○●○
"Eh elo!"
Carla menghampiri siswa berkacamata yang baru saja keluar dari kelas dengan beberapa teman laki-lakinya.
"Iya, kenapa?" tanya siswa itu heran sekaligus bingung dengan kehadiran si Ice Princess yang terkenal seantero sekolah dan sekarang gadis itu bertanya kepadanya yang hanyalah kutu kelas yang bahkan bila tidak ada pun tak akan disadari teman-temannya.
"El?" tanya Carla.
"Di lapangan basket paling. Hari ini ada latihan soalnya," jawab siswa yang lain menjelaskan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Carla langsung melangkah meninggalkan tempat itu.
"CAR!"
Carla menghentikan langkahnya, karna seseorang meneriakinya.
"Lo mau kemana?" tanya Eva,
"Lapangan,"
"Ngapain?"
"Lo yang nyuruh,"
Eva mengernyitkan dahi,
"Kok gue?" tanya Eva
"Ketemu El," singkat Carla, membuat Eva semakin tak paham dengan ucapannya.
"Eh, eh. Ketemu El?" Eva menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak ingat kenapa ia menyuruhnya melakukan itu, "Ngapain gue nyuruh lo ketemu El?" lanjut Eva.
Carla memutar bola matanya, jengah dengan sikap Eva yang selalu saja membuatnya kesal. Tapi kalau tak ada Eva, ia yang malah jadi susah sendiri.
"Udah lah,"
Carla mendengus, lalu berlalu melewati Eva.
"Eh, eh. Tunggu gue Car. Gue juga mau ketemu ayang beb," Eva berlari mengikuti langkah lebar Carla.
Ramai, sangat ramai. Itulah definisi lapangan basket SMA Gantari saat anak-anak basket sedang latihan untuk turnament musuh SMA lain dua bulan lagi.
Carla manatap datar siswi-siswi alay yang meneriaki nama El, yang padahal posisi El bukanlah sebagai kapten yang biasanya di idolakan.
"AYO SAYANG SEMANGAT!"
"EL! AKU PADAMU,"
"EL, OH MY GOD. GANTENG BANGET SIH,"
"CALON MASA DEPANKU. AYO SAYANG,"
"I LOVE YOU EL,"
"SEKSI BINGIT SUAMI GUE,"
"EL. HIP HIP HURA,"
"GANS BANGET,"
"GILA, KERINGETNYA SEKSI BANGET!"
Carla merasa jijik mendengar teriakan-teriakan alay yang entah kenapa malah membuat kepalanya pusing sendiri.
"Woy!"
Untung jantung Carla masih berdetak. Ia benar-benar akan membunuh gadis itu sekarang jikalau otaknya sudah tak berfungsi.
"Ih, gue ditinggalin. Jahat lo,"
Eva merangkul Carla, mengajaknya berdiri di tepi lapangan. Agar bisa melihat lebih dekat tim basket yang tengah latihan.
"Anjir, pacar lo ganteng juga yak!" ujar Eva dilebih-lebihkan.
Carla mengernyit, ganteng? Darimananya coba?
"Gue ke belakang aja lah Va," pamit Carla, ia tak menyukai keramaian seperti keadaan di sini. Karena jujur saja, ia tak akan mau ke sini kalau tak ada keperluan mendesak dengan pemain yang di kaos orange-nya tercetak angka 5 itu.
Carla duduk di atas kursi yang memang sengaja disediakan untuk mereka--para pemain yang sudah capek, istirahat atau sejenisnya, tapi mumpung permainan masih berjalan entah berapa lama, jadi boleh-boleh saja kan dirinya menggunakannya.
Entah perasaannya saja atau memang benar, ia melihat El mendrible bola sambil memandang ke arahnya. Tak ingin terlalu percaya diri, ia menutup kedua matanya karena memang rasa kantuk sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dan akhirnya Carla sudah langsung menuju ke alam mimpi dengan posisi duduk bersandar pada kursi.
●○○●
El tersenyum sekilas menyadari kehadiran Carla yang baru saja masuk ke dalam gedung tanpa bilang dulu kepadanya. Terlihat jelas kalau gadis cantik itu merasa jijik melihat para penonton fanatik yang jujur saja menurutnya sangat alay. Mereka tak punya malu dengan berteriak-teriak memanggil nama idola mereka di tim basket yang biasa ini.
"El, oper!" El tak benar-benar fokus pada permainan, tapi untung saja karena kafasihannya di bidang olahraga basket, ia bisa menguasainya dalam beberapa keadaan.
El mengedarkan pandangannya, kemana Carla? Ia melihat Carla memejamkan mata di atas kursi yang sebenarnya khusus untuk pemain setelah berlatih.
Setelah beberapa menit, El mendribel bola oranye di tangannya. Namun saat hendak mengarahkan bola itu ke ring, ia disedek dan bola melesat jauh dari perkiraannya.
"Akh!"
Semua mata menatap ke arah bola yang dengan keras menghantam gadis di atas kursi itu. Ia tampak meringis pelan karena tubuhnya yang jatuh dari atas kursi. Tentu saja El langsung berlari menghampiri gadisnya, Carla.
"Sakit ya?" tanya El khawatir, wajah Carla terlihat belum sadar sepenuhnya dari alam mimpi.
"Gila lo! Gue pusing," lirih Carla, ia memegangi kepalanya sambil mengerjapkan terus kelopak matanya agar tak melanjutkan tidur nyenyaknya.
El menitah Carla keluar dari lapangan, kilatan api kemarahan ia tunjukkan pada Aldo, si kapten basket yang sebenarnya menyukai Carla jauh sebelum El dan Carla jadian.
"Lo juga sih, ngapain tiduran segala,"
"Tebar pesona," singkat Carla.
El menggeram pelan, ia mendudukkan Carla di lantai UKS yang sepi. Lalu menuju kotak obat di dalam etalase, mencari obat yang sesuai untuk Carla. Carla tak merespon, ia merebahkan diri di atas lantai yang dingin. Bukannya merasakan sakit, tapi Carla malah terlihat sangat ingin melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda gara-gara bola tadi.
"Kalau pusing dikasih alkohol langsung sembuh kan?" tanya El pada Carla, dan langsung terkekeh pelan.
Tak ada respon, ia menoleh dan berdecak kesal melihat Carla yang dengan polosnya mendengkur pelan di sana, yang artinya gadis itu sudah tertidur,
Tak tahu situasi,
●○●○
"Lo baikan gih sama Revan," ujar Carla membujuk El.
El hanya menoleh sekilas,
Mereka berdua masih berada di dalam UKS, setelah akhirnya El bisa membuat kesadaran Carla kembali dengan cara meneriaki gadis itu tepat di depan telingannya tadi. El menyenderkan tubuhnya di tembok, juga dengan Carla yang duduk di sampingnya.
"Revan yang nyuruh?" tanya El menyelidik.
"Gue bukan babu,"
El menatap Carla lekat, benar-benar indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Walaupun sifat dinginnya yang lebih dingin dari pada es melekat di diri gadis itu, tapi ia yakin kalau Carla sangat-sangat baik daripada gadis-gadis diluaran sana yang tak memikirkan harga diri mereka untuk mendapakan apa yang diinginkan.
"Oke," jawab El tenang.
"Lo anterin gue pulang!" pinta Carla, itu bukan permintaan melainkan seperti perintah yang ditujukan pada El.
El paham tata pengucapan Carla, karena ia sendiri juga memiliki bahasa aneh yang sayangnya juga menurun ke dirinya.
"Nanti. Gue masih capek," ujar El,
Carla mengangguk paham, ingin sekali ia memejamkan matanya sekali lagi. Tapi tak mungkin juga ia tidur lagi karena sekarang seorang laki-laki itu berada satu ruangan dengannya.
"Orang tua lo khawatir?" tanya El
"Mereka nggak ada,"
"Maksud lo?"
"Nyokap gue udah nggak ada. Ayah gue? Entahlah, gue nggak tau," ujar Carla menjelaskan.
"Maaf gue nggak maksud," El merasa bersalah menanyakan pertanyaan yang seharusnya tak ia tanyakan pada gadis itu
"Alay lo!"
"Hampir sama kita," lirih El,
"Hmm?"
"Kalau gue, mereka masih ada. Tapi.." ujar El menggantung kalimatnya.
"...mereka nggak nganggep gue ada di dunia ini,"
Carla menoleh, ia melihat senyuman sinis di bibir El. Juga siratan mata yang menjelaskan kalau pria itu tak sedang baik-baik saja.
"Mereka cuman kerja, kerja dan kerja. Tanpa mikirin gue kayak gimana," ujar El menggumam
"Lo aneh. Mereka kerja juga buat lo, terus ngapain lo kayak gini?" ujar Carla menjelaskan
"Bukan buat gue. Tapi buat anak pungut,"
"Kakak tiri," lanjut El.
Carla mendesah pelan. Ia tahu kalau El pasti sedang cemburu akan kasih sayang yang ia dapatkan, karena ia juga sama. Ayahnya yang entah pergi kemana? Hilang tanpa kabar, bahkan saat upacara pemakaman ibunya saja orang itu juga tidak datang.
"Kalau uang segalanya. Ngapain harus diciptakan kebahagiaan?" ujar Carla dramatis
"Dan kenapa disaat kebahagiaan itu datang, kesedihan juga mengikutinya dari belakang?"
"Itulah kehidupan. Disaat lo mencari sesuatu yang lo inginkan, tapi ada juga sesuatu yang nggak lo harapkan malah datang sebagai penggantinya."
El memasang telinganya baik-baik, memastikan kalau telinganya masih normal untuk mendengar kata-kata puitis yang keluar dari mulut seorang Carla.
"Lo njiplak dari buku apa?" tanya El meremehkan.
Carla menggeleng sebagai jawaban.
Hening, El berbaring di atas lantai, melepas penatnya. Hatinya sedikit berdesir dengan kehadiran Carla di sampingnya. Ia akan berusaha menjadi seseorang yang juga dibutuhkan dikehidupan gadis cantik itu.
"Bau apaan sih, nggak enak banget," sindir Carla memulai pembicaraan.
"Keringet," singkat El.
El berdiri, lalu melangkah keluar
"Gue ganti baju. Lo ke parkiran,"ujar El
El melenggang pergi, meninggalkan Carla sendirian di Ruang UKS yang terlihat menyeramkan itu.
●○●○