El berdecak melihat Carla yang terlihat tengah berbicara dengan pria yang sangat ia kenal di area parkiran yang sepi.
"El masih lama kok Car. Bareng gue aja, nggak papa kok," ucap pria itu, walaupun dari kejauhan, tapi masih terdengar sampai telinga El, mungkin karena keadaannya sepi.
"Gak papa Do," Carla menolak halus ajakan si kapten basket
"Emang kenapa sih lo nungguin dia?" tanya Aldo sembari memegang bahu Carla.
El hendak menghampiri Aldo yang terlihat sangat berani memegang bahu pacarnya. Pacarnya? Ia akui sekarang, kecemburuan melanda hati dan pikirannya. Tapi langkahnya terhenti saat Carla menghempaskan tangan Aldo dari bahunya, ia memilih kembali ke tempat persembunyiannya,
"Karna GUE-PACAR-EL," Pengakuan Carla membuat senyuman tipis mengukir bibirnya.
Dan Aldo? Entah apa yang Carla katakan pada pria itu, ia tak begitu mendengarnya. Hingga pria itu berjalan ke arah motornya sambil menunduk dan pergi dari sana.
El berjalan menghampiri Carla,
"Lo apain tuh bocah?" tanya El
Carla mengendikkan bahunya tak tahu, ia mengamati pakaian El dari atas sampai bawah. Pria itu tak memakai baju olahraga lagi, tapi menggunakan pakaian santai. Darimana ia mendapatkannya?
"Biasa aja matanya," sindir El membuat Carla menatapnya kesal.
"Yuk!"
"Gue nggak sabar ketemu calon kakak ipar," ujar El genit
●○○●
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu juga sudah berlalu, dan akhirnya di hari yang cerah ini, pertandingan bola basket antar SMA akan dilaksanakan. Berbeda dengan siswi-siswi lain, Carla malah mendengus kesal karena ia harus terpaksa menonton pertandingan basket di SMA yang bertempat di sekolahan lain. Ini semua terjadi gara-gara Eva yang tetap keukeuh agar kelas 11-Ipa 1 menjadi sporter dari SMA mereka.
Sebenarnya kelas 11 Ipa 1 yang merupakan kelas unggulan itu tak diperbolehkan mengikuti kegiatan seperti ini, itu dikarenakan mereka memiliki banyak materi yang harus dipelajari sebagai kelas berprestasi.
Tapi Eva dengan gamblangnya mengucapkan 'Pak, kita juga manusia. Sepintar-pintarnya kita juga butuh istirahat. Sekali aja lo pak nyenengin kita,'. Dan akhirnya Pak Waka Kesiswaan pun menuruti keinginan Eva itu.
'UNTUK SELURUH SISWA DAN SISWI YANG DITUNJUK MENJADI SPORTER PERTANDINGAN BOLA BASKET DI SMA KAREN AGAR SEGERA MENGAMBIL KENDARAANNYA MASING-MASING!'
"Car, lo bareng gue kan?" tanya Eva hati-hati, ia tahu kalau mood sahabatnya ini rusak karena dirinya.
"Hmm," Carla membalasnya dengan gumaman.
"Yaudah yuk, ke parkiran," ajak Eva.
Mereka berjalan beriringan ke parkiran,
"Va, nanti aja. Masih rame,"
Mau tak mau Eva hanya mengangguk. Karena kalau sampai ia menjawab, pasti akan jadi ribet nanti urusannya nanti.
●○●○
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, mereka akhirnya sampai di SMA yang menjadi tuan rumah pertandingan basket kali ini. SMA KAREN. SMA swasta terfavorit nomer satu di Kota, SMA penghasil murid-murid berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik. Sekolahan ini layaknya gedung pencakar langit karena memiliki 8 lantai dari satu gedungnya, dan bahkan ada juga yang menggunakan lift untuk naik ke gedung tertinggi. Karena menurut logikanya, tak mungkin juga mereka mau naik tangga ke lantai tertinggi di sana, kalaupun mereka mau, mereka harus berjalan mendaki selama 1 hari agar bisa sampai di tempat tujuan. Semua siswa dan siswi dari beberapa SMA itu melongo karena dapat melihat secara langsung sekolahan ini, tak terkecuali Carla yang sendirinya mempunyai julukan Ice Princess itu.
"Gila', ini sekolahan apa universitas sih?" Mulut Eva tak henti-hentinya memuji sekolahan ini,
"Kak, ke sini," ujar seorang siswa layaknya pemandu yang akan menunjukkan jalan mereka menuju lapangan basket berada.
"Car, lo dulu kalau daftar ke sini pasti keterima kan?" bisik Eva.
Carla mendengarkan. Jujur saja, dulu ia pernah sedikit menyesal karena tak mendaftar di SMA ini. Sebenarnya alasannya sangat masuk akal, ia tak ingin ke SMA yang terkenal dengan pembuliannya ini. Dan asal kalian tahu, di SMA ini sudah merajalela akan diskriminasi cara teman-bertemannya yang sudah kelewat batas, tapi gara-gara prestasi yang didapatkannya, kabar buruk itu bagaikan debu yang langsung hilang begitu saja.
"Kalau gue di sini, gue bakal jadi ketua gengster," ucap Carla.
Mereka kembali dibuat kagum dengan keluasan area lapangan basket satu ini. Layaknya stadion di tv-tv, lapangan satu ini juga sama luas dan bagusnya. Bahkan tersedia kursi penonton di pinggiran lapangan, yang mungkin memang sengaja disiapkan karena pertandingan hari ini.
"Di depan aja ya Car," pinta Eva.
Carla tak ingin membuang waktunya, kakinya pegal karena terlalu lama berjalan. Mereka berjalan ke kursi penonton paling bawah dan paling depan, dengan harapan agar mereka lebih dekat melihat pemain basket dari sekolah mereka.
"Yah, tinggal satu," Eva mengerucutkan bibirnya-- tiba-tiba saja beberapa siswi menduduki tempat duduk incarannya. Memang bukan salah mereka juga sih, ini kan bebas digunakan siapa saja.
"Lo aja. Gue ke atas," ucap Carla mencari solusi.
"Eh, jangan dong. Gue sendirian nanti," keluh Eva.
"Terus di samping lo itu? Lo anggep setan?"
"Udah, tinggal duduk aja ribet banget sih,"
Tanpa menunggu jawaban Eva, Carla berjalan ke atas, mencari tempat duduk yang masih kosong. Dan ya. Ia berada di tempat duduk paling atas-- sekeliling para siswa laki-laki. Tapi ia tak peduli juga, toh ia kesini bukan mau cari masalah juga kok.
"Permisi," Carla berlaku sopan sambil membungkuk agar para cowok itu memberinya jalan.
"Silahkan cantik," ujar salah satu dari mereka memberi jalan untuk Carla.
Carla pun dengan santai berjalan tanpa menyadari salah satu kaki panjang laki-laki di sana hendak menyandungnya,
"Akh!!" Carla merintih, tapi bukan karena jatuh. Karena seseorang menariknya ke dalam dekapan orang itu. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa dia, tapi ia yakin kalau orang yang tengah memeluknya ini adalah laki-laki-- karena dadanya yang bidang.
"Lo gapapa Carla?"
Carla menegang mendengar suara yang sangat-sangat tak asing di indra pendengarannya, ia yakin ini adalah suara orang yang ia kenal. Untuk memastikannya, ia mendorong d**a pria itu,
"Fero!" Carla memekik tak percaya,
Ia malah kembali memeluk pria itu, pelukan yang berbeda dari sebelumnya, lebih erat dan terkesan possesif.
"Woy! Nutupin yang di belakang g****k,"
Carla dan pria itu tersadar, langsung saja mendudukkan diri mereka bersandingan di kursi yang alhamdulillah sangat pas tinggal tersisa 2. Karena kalau tidak? Mereka tak akan bisa melihat dari sini, melainkan di luar gedung.
●○○●
El selalu saja tak fokus kalau belum menemukan sesuatu ataupun pikirannya terpenuhi oleh sesuatu. Seperti sekarang, kembali terulang lagi saat ia mendapati Carla memeluk seorang pria dari kursi penonton paling atas yang membuatnya melihat dengan jelas pemandangan itu. Seolah pikirannya hanya terpenuhi pertanyaan 'Siapa itu?', 'Apa hubungan mereka?', 'Kenapa mereka pelukan?', dan sejenisnya.
Tapi ia akan tetap profesional demi nama baik sekolahnya.
Terdengar teriakan dari atas saat pertandingan dimulai, Aldo dan tim basket dari sekolah mereka sudah mulai lincah merebut bola oranye itu dari lawan. Dan begitupun seterusnya sampai berkali-kali mereka mencetak poin dan berhasil menang di babak penyisihan.
●○●○
Dan akhirnya, setelah beberapa pertandingan berlalu, SMA Gantari mendapat juara dua karena kalah dengan SMA KAREN saat di babak final. Walaupun dapat nomor dua mereka tak berkecil hati, malah menjadi motivasi agar bisa mendapat yang terbaik di pertandingan yang akan datang. Memang para pemain tak mempermasalahkan hal ini, tapi malah para sporterlah yang sepertinya tak terima akan kekalahan sekolahan mereka. Mereka berteriak-teriak seakan sekolah merekalah yang paling baik. Benar kata orang, pendukung akan menjadi mengerikan kalau sudah menjadi fanatik pada sang idola.
"HUUU ALAY!!" ucap salah seorang siswa SMA Gantari.
"ALAY!"
"MAINNYA CURANG AJA BANGGA!"
"b*****t!"
"SMA BULLYING, SMA BULLYING."
"SMA SAMPAH, MAINNYA CURANG!"
"SMA BULLYING, SMA BULLYING"
"SMA SAMPAH, MAINNYA CURANG,"
Terdengar suara anak SMA Gantari yang tak terima dengan kekalahan pemain mereka, bahkan mereka tak segan menjelek-jelekkan sekolah yang menjadi tuan rumah pertandingan sekarang. Dan entah sejak kapan mereka membuat yel-yel itu, tak ada seorang pun yang tahu,
Inilah yang terjadi, kericuhan dari dua SMA Swasta terfavorit di kota. Mereka saling keroyok karena dari salah satu yang tak terima akan kekalahan mereka, sedangkan satunya tak terima sekolah mereka dijelek-jelekkan sekolahan lain.
Tak luput dari para siswa yang saling pukul di atas, para siswi berlarian turun untuk menyelamatkan diri masing-masing.
●○●○
El bergegas ke UKS SMA KAREN karena baru saja Eva menelfonnya untuk memberitahu kalau Carla terluka akibat keroyokan beberapa waktu lalu.
Tapi ia tak tahu dimana letak ruang kesehatan itu, setelah berpikir singkat-- ia memutuskan bertanya pada beberapa siswi yang mungkin dari SMA ini yang tengah berbincang di atas kursi panjang.
"UKS dimana?" tanya El.
Kedatangan El membuat 3 orang siswi itu langsung berdiri, seolah menyambut kedatangan pangeran yang akan melamar para selir.
"Anjir cogan,"
"Eh mas, namanya siapa dong?"
"Kenalin aku Salma," ujar salah satu siswi dengan mengatungkan tangannya, mungkin berharap El akan membalasnya.
El memejamkan sekejap matanya, lalu menatap tajam kaum hawa menyebalkan di depannya.
"Gue tanya UKS dimana?" El mengulang pertanyaannya dengan nada yang sedikit membentak, karena ia tak punya waktu lama dengan wanita-wanita alay ini.
"Idih judes,"
"U-K-S!" ujar El penuh penekanan.
"Ih, ngeselin. Lo lurus aja, terus ke kanan. Nanti ada tulisan 'Ruang Kesehatan', terus lo berhenti aja di situ," jawab siswi itu ketus.
Tanpa berlama-lama-- El langsung berjalan mengikuti arahan siswi itu. Berlalu-lalang melewati seribu siswi yang menatapnya aneh, berteriak memanggil-manggilnya, sengaja menyenggol bahunya, dan masih banyak lagi hal alay yang mereka lakukan demi mendapatkan perhatiannya. Setelah berusaha sedemikian rupa, akhirnya El sampai di depan ruangan yang dicarinya. Dapat dilihatnya banyak sekali siswa maupun siswi yang berada luar sana, mungkin akibat tawuran tadi.
Lagi-lagi ia harus berdesakan agar bisa masuk ke dalam, ruangan kesehatan di sini sedikit lebih besar dari milik sekolahannya. Namun ia juga tak kaget akan hal itu, namanya juga SMA terfavorit ngapain ia harus berpikir lagi akan hal itu.
"Nggak sakit kan?" tanya pria yang berjongkok di depan seorang gadis itu membuat El mengalihkan pandangannya.
"Nggak. Aww,"
"Nggak usah bohong,"
"Eh, EL!" teriak Eva, membuat Carla maupun cowok disamping gadis itu menatap dirinya.
Dan kenapa hari ini begitu menyebalkan untuk dirinya? Untuk sekali lagi ia melihat PACARNYA dengan kedua matanya tengah bersama cowok yang sama dengan yang ia lihat saat awal pertandingan tadi. Tapi sekarang bedanya, mereka tak seakrab seperti tadi, mungkin karena adanya petugas kesehatan yang mengobati luka Carla, dan Eva yang juga berada di sana menemani Carla.
Setelah dipastikannya petugas itu selesai mengobati Carla, kaki panjang El mendekati mereka yang terduduk di atas lantai.
El melupakan keCEMBURUANnya, ia ikut berjongkok untuk membantu Carla yang kesusahan berdiri karena memang ada beberapa luka di lututnya.
"Pelan-pelan," rintih Carla menahan sakit pada kaki, tangan, bahkan sampai beberapa titik di wajahnya pun juga ikut terluka.
El merasa iba, dengan perlahan-lahan ia menitah Carla untuk mendudukkan dirinya di kursi yang ada di ruangan itu. Sedangkan pria yang bersama Carla? Eva? Mereka berdua tak banya bicara, hanya saling pandang untuk memastikan apa yang terjadi dengan situasi awkard di sini,
●○●○