Di Elvaris, salju tak pernah berhenti jatuh. Tidak sejak hari ketika langit pecah dan matahari memudar menjadi bayangan pucat di balik awan beku. Musim-musim telah lama dilupakan, dan waktu tak lagi diukur dengan panen atau bunga yang mekar, melainkan oleh tebalnya embun beku di jendela dan seberapa banyak cahaya sihir tersisa di lentera kerajaan.
Aeryn berdiri di ambang balkon menara utara, matanya menatap tanpa suara ke padang salju yang membentang sejauh cakrawala. Angin dingin mengusap rambutnya yang seputih embun pagi, menari lembut di sekitar jubah biru keperakan yang ia kenakan. Dari kejauhan, istana Esvarya terlihat seperti istana kristal—indah, tak tersentuh, dan mematikan.
“Sudah waktunya, Putri,” suara lembut dari belakangnya membuatnya berpaling. Lady Virelle, penasihat tertua kerajaan dan satu-satunya orang yang tersisa dari masa kejayaan Elvaris, berdiri dengan tubuh tegak, meski tahun-tahun telah memakan tulangnya.
Aeryn tidak menjawab. Ia tahu apa maksudnya. Hari ini adalah hari ke-17 kelahirannya. Hari ketika darah sihir dalam tubuhnya akan diuji. Hari ketika ia akan dipaksa memasuki Ruang Pembekuan—tempat di mana putri Frostline generasi terdahulu membuktikan bahwa mereka layak memerintah.
Tapi Aeryn merasa berbeda. Ia selalu merasa berbeda.
Sihir dalam dirinya tak pernah tunduk, tak pernah tenang. Ia tidak memanggil sihir seperti yang diajarkan dalam pelajaran istana—ia menahannya. Menyembunyikannya. Karena setiap kali ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang liar muncul dari dalamnya. Dingin yang bukan sekadar dingin, tapi kematian yang menyelimuti.
Ia pernah membekukan seekor elang di udara hanya karena ketakutan. Ia pernah membuat danau membeku dari kejauhan hanya karena ia menangis di tepiannya. Itu bukan kekuatan biasa. Itu kutukan.
Dan kini, ia akan dipaksa untuk menunjukkannya.
“Jika aku gagal,” katanya lirih pada Lady Virelle, “apa yang akan terjadi?”
Sang penasihat menatapnya lama, lalu menjawab pelan, “Kau akan dikurung dalam Kristal Abadi, seperti mereka yang datang sebelum waktunya.”
Aeryn menunduk. Ia tahu kisahnya. Banyak yang mencoba, sedikit yang berhasil. Bahkan di antara keluarga Frostline, hanya segelintir yang dapat mengendalikan kekuatan es sejati. Yang lainnya dibekukan—bukan mati, tapi terjebak selamanya dalam mimpi dingin yang tak berujung.
Dengan langkah mantap, Aeryn berjalan menuruni tangga spiral menara, menuju ruang bawah tanah istana. Dinding-dinding dari batu biru mengerucut dingin, dan udara di sana tak lagi seperti angin musim dingin biasa. Ia bergetar dengan sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang hidup.
Dua penjaga berjubah perak berdiri di depan pintu raksasa dari es kuno. Mereka membuka jalan tanpa kata. Aeryn melangkah masuk ke Ruang Pembekuan.
Ruang itu kosong, kecuali satu lingkaran cahaya di tengah ruangan. Dari langit-langit yang menjulang, ratusan untaian es bergantung seperti taring naga. Udara mendesis, dan lantai batu biru berdenyut pelan di bawah kakinya.
Begitu ia melangkah ke tengah lingkaran, suara gema menggema dari setiap dinding.
“Namakan dirimu.”
Aeryn mengangkat dagunya. Suaranya tenang, tapi hatinya berdebar.
“Aeryn Frostline. Putri ketujuh. Darah Eswar dan Seraphielle. Pewaris Elvaris.”
“Apa yang kau bawa ke sini?”
Ia menutup matanya. “Keraguan.”
“Apa yang kau tinggalkan?”
Ia membuka matanya. “Rasa takut.”
Dan tiba-tiba, dunia meledak dalam cahaya biru.
Es mencuat dari tanah, berputar mengelilinginya seperti pusaran bintang. Suhu menurun drastis. Nafasnya membeku di udara. Angin beku menjerit dari dinding-dinding ruangan, seperti jiwa-jiwa tua yang marah dibangkitkan dari tidur panjang mereka.
Aeryn jatuh berlutut, tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak berteriak. Ia menahan semuanya. Di dalam jiwanya, sesuatu membuka mata. Sesuatu yang selama ini tidur di balik darahnya.
Bayangan seorang wanita muncul di tengah pusaran es. Wajahnya mirip Aeryn, tapi lebih tua, lebih dingin. Matanya bersinar seperti dua pecahan bulan.
“Kau adalah bagian dari kami,” suara itu berkata. “Tapi takdirmu bukan seperti yang pernah ada.”
Aeryn menatap balik, napasnya membeku di bibir.
“Siapa kau?”
“Aku adalah engkau... ketika waktumu tiba.”
Dan tiba-tiba, semua menjadi diam. Cahaya padam. Es lenyap. Aeryn berdiri sendiri, di tengah ruang kosong, tubuhnya masih hidup. Tapi ia tahu—sesuatu telah berubah.
Saat ia keluar dari ruangan, langkahnya mantap. Para penjaga menunduk. Lady Virelle menatapnya dengan mata yang nyaris tak percaya.
“Kau berhasil.”
Aeryn tidak menjawab. Ia hanya menatap langit yang masih bersalju, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan sebagai anak dari kerajaan yang membeku.
Tapi sebagai sesuatu yang lebih.
i