Tiga malam telah berlalu sejak Aeryn keluar dari Ruang Pembekuan.
Dalam sejarah panjang Elvaris, belum pernah ada putri yang berhasil melewati ujian es pada usia tujuh belas tahun. Para tetua menyebutnya sebagai pertanda agung. Para pendeta mengangkat doa. Tapi di balik semua itu, Aeryn merasakan ada sesuatu yang keliru.
Sihir di dalam tubuhnya menjadi lebih liar. Lebih hidup. Ketika ia tidur, embun membeku di dalam kamarnya. Ketika ia marah, angin berbisik dalam bahasa asing yang bahkan Lady Virelle tak dapat jelaskan.
Pada pagi keempat, kabar buruk datang bersama burung hitam dari utara.
“Desa-desa di tepi sungai Craylen hancur total, Yang Mulia,” lapor Jenderal Tharn, berdiri kaku di depan singgasana. “Tanahnya membeku hingga retak. Semua penghuninya menghilang. Tak ada darah, tak ada jejak. Hanya es.”
Aeryn menatapnya tanpa berkedip. “Dan kau yakin ini bukan badai biasa?”
Jenderal itu menelan ludah. “Kami menemukan simbol ini terukir di es.”
Ia mengangkat selembar kulit rusa, dan memperlihatkan goresan kasar yang tampak seperti mata tertutup, dikelilingi duri salju. Aeryn berdiri. Matanya menyipit.
Itu bukan simbol dari Elvaris.
Itu adalah lambang Ordo Gelap Nevrakhaal—penyihir buangan dari zaman sebelum Elvaris berdiri, yang dibekukan dalam perang besar lebih dari dua abad lalu.
“Tak mungkin…” gumam Lady Virelle. “Nevrakhaal sudah punah. Mereka dikurung dalam Penjara Aether di bawah Kutub Gelap.”
Jenderal Tharn menunduk. “Atau kita yang dibohongi oleh sejarah.”
---
Hari itu, langit Elvaris kelabu sepanjang waktu. Dan Aeryn merasa mata seluruh istana mengawasinya lebih tajam dari biasanya.
Di ruang makan para bangsawan, bisik-bisik menyebar seperti kabut dingin. Beberapa mulai menyuarakan keraguan akan kekuatan Aeryn.
“Dia terlalu muda.”
“Sihirnya belum stabil.”
“Bagaimana jika dialah yang memanggil kutukan itu tanpa sadar?”
Aeryn tahu mereka membicarakannya. Tapi ia tak menanggapi. Ia belajar sejak kecil bahwa kehormatan bukan dijaga dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Namun malam itu, keraguan datang dari seseorang yang tidak ia duga.
“Kenapa kau tak bilang padaku bahwa matamu bersinar saat kau marah?” tanya Lady Virelle, lirih di dalam kamar pribadi Aeryn.
Aeryn menoleh perlahan. “Karena aku tak ingin terlihat seperti monster.”
Sang penasihat menatapnya lama. “Kau bukan monster. Tapi sesuatu di dalam dirimu… bukan milik Elvaris.”
---
Saat malam datang dan semua lentera dipadamkan, Aeryn kembali ke balkon menara utara. Angin menggigit kulitnya, tapi ia berdiri tegak.
Lalu suara itu datang.
Suara yang sama seperti di Ruang Pembekuan.
“Aeryn…”
Ia membeku. Napasnya menggumpal di udara.
“Nevrakhaal tidak punah. Mereka tertidur… dan sekarang, mereka mencium es dalam darahmu.”
Aeryn menoleh ke kanan. Sosok wanita bermata bulan itu kembali berdiri di sana, tidak sebagai bayangan kali ini… tapi nyata. Jubahnya berkibar dalam angin, dan rambutnya bergerak seperti asap beku.
“Siapa kau?” desis Aeryn, langkahnya mundur.
Sang wanita tersenyum. “Namaku Althera. Aku adalah warisan yang mereka sembunyikan darimu. Aku adalah darah nenekmu yang mereka kutuk dan buang. Dan kini… waktumu telah tiba.”
Keesokan harinya, tubuh seorang prajurit ditemukan membeku di depan gerbang istana. Di dadanya tertancap panah es dengan ukiran mata duri yang sama. Tak ada tanda sihir Elvaris pada panah itu.
Dan di bawahnya, terukir pesan dengan huruf kuno:
“Ratu Es Sejati Telah Terbangun.”
Istana menjadi gelisah. Para tetua mengadakan sidang darurat. Beberapa faksi rahasia mulai bergerak. Desas-desus kudeta kecil mulai terdengar.
Dan di tengah semuanya, Aeryn berdiri sendirian, terperangkap dalam pusaran warisan yang tak pernah ia minta.
Sihir dalam tubuhnya tumbuh. Tapi bersama itu, rasa takutnya pun tumbuh. Bukan karena ancaman dari luar.
Tapi karena untuk pertama kalinya… ia tak yakin apakah musuh sebenarnya berada di luar tembok istana—atau di balik kulitnya sendiri.
Para tetua mulai saling menuding dalam ruang pertemuan rahasia di Aula Langit Beku. Tuduhan halus berubah menjadi kemarahan terbuka. Beberapa bangsawan mengusulkan agar Aeryn diawasi ketat. Yang lain mulai bertanya-tanya apakah takhta harus dipindahkan ke tangan yang lebih “mapan”.
Di tengah kekacauan itu, Aeryn berdiri di ruang kosong dengan kaca-kaca beku mengelilinginya. Ia menatap cermin dan melihat pantulan dirinya… tapi bukan dirinya yang biasa.
Matanya berubah warna. Satu biru secerah langit kutub, yang lain perlahan menjadi perak menyala. Suara di dalam kepalanya kembali berbisik, lembut namun tegas, seperti angin malam yang menembus tulang.
"Waktu akan habis, Aeryn. Mereka tidak akan melindungimu. Mereka akan mengurungmu, sebelum kamu menjadi sesuatu yang tak bisa mereka kendalikan."
Tangannya terangkat tanpa sadar. Cermin di depannya mulai membeku dari tengah, menyebar seperti bunga es. Aeryn terkejut. Ia mundur, tapi cermin itu pecah tanpa suara… dan dari balik retakan itu, ia melihat sebuah ruang yang tak pernah ada sebelumnya—sebuah gerbang dari kristal gelap.
Sesuatu—atau seseorang—sedang menunggu di baliknya.
Aeryn tahu, masa damainya telah berakhir. Ia bukan lagi hanya seorang pewaris takhta. Ia adalah kunci. Atau mungkin… ancaman yang ditakdirkan mengubah segalanya.