Dingin di dalam istana mulai terasa berbeda. Bukan hanya dari musim, tapi seperti ada sesuatu yang mengendap di dinding-dinding batu, mengintai dari bayangan, menunggu waktu untuk muncul. Aeryn tahu, sejak malam itu, dirinya telah berubah. Tapi apa? Dia tidak tahu. Dan itu yang membuatnya takut.
“Putri Aeryn,” suara lembut pengasuhnya menyadarkan lamunan. “Tuan Caldras, penasihat agung, ingin bicara. Di ruang selatan.”
Aeryn mengangguk pelan. Ia bangkit dari tempat duduk di balkon, menyapu salju tipis yang mulai menyelimuti sandaran kursi. Matanya tak lepas dari langit kelabu yang menggantung berat, seolah menyimpan petir di balik kabutnya.
Langkahnya menyusuri lorong panjang yang temaram. Satu per satu, obor menyala dengan nyala biru begitu ia melintas. Bukan obor biasa. Itu sihir kerajaan lama—sihir pelindung. Tapi mengapa mereka mengaktifkannya sekarang?
Di ruang selatan, Caldras sudah menunggu. Jubah hitamnya berembos lambang kerajaan: dua naga melingkar membentuk lingkaran. Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh kerutan khawatir.
“Kau merasakan sesuatu aneh akhir-akhir ini, Putri?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aeryn menatapnya lekat. “Apa kau tahu tentang gerbang itu?”
Caldras tak terkejut. “Jadi… kau memang melihatnya.”
“Tidak hanya melihat. Aku…” Aeryn ragu. “Aku seperti… mendengarnya. Seolah… ada suara yang terus memanggil.”
Caldras berdiri, berjalan pelan ke arah jendela. “Dalam legenda tertua, dikatakan bahwa dunia ini hanya satu dari banyak lapisan. Ada dunia di atas, dan dunia di bawah. Kadang, garis di antara keduanya mengabur.”
Ia menoleh. “Dan saat garis itu pudar, hanya orang-orang berdarah campuran yang bisa mendengarnya.”
“Campuran?” Aeryn menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
Caldras diam cukup lama hingga keheningan jadi beban. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Darahmu bukan hanya darah manusia, Putri.”
Dunia Aeryn seakan berhenti. “Apa… maksudmu?”
“Waktu ibumu datang ke kerajaan ini, ia tidak datang sendirian. Ia melarikan diri dari perang dunia atas. Tapi sebelum itu, ia telah bersatu dengan makhluk dari sisi lain. Darahmu—setengahnya—berasal dari mereka.”
Aeryn terdiam. Suara-suara itu. Gerbang. Ukiran di lantai. Semua mulai masuk akal, tapi sekaligus membuatnya ngeri.
“Kenapa baru sekarang kau bilang?!”
“Kami mencoba melindungimu,” jawab Caldras. “Jika segel tetap utuh, semua akan tetap tenang. Tapi sesuatu—entah kau, entah dunia bawah sendiri—telah meretakkannya.”
Aeryn memundurkan diri. Hatinya terasa kosong. Ia bukan hanya seorang putri. Ia makhluk setengah asing. Setengah... apa?
Sebelum Caldras bisa bicara lagi, suara siulan sihir terdengar dari udara. Seekor burung besi—pembawa pesan—meluncur menabrak jendela dan membuka sayapnya. Sebuah gulungan kecil terjatuh dan menggelinding ke kaki Aeryn.
Ia mengambilnya. Segel merah tua tak dikenal menempel pada gulungan itu. Ia membukanya perlahan. Mata Aeryn membesar.
“Kerajaan Utara telah runtuh. Gerbang langit muncul di atas reruntuhan. Tidak ada yang selamat.”
Tangannya gemetar. Caldras mencengkeram pundaknya.
“Ini lebih cepat dari yang kami perkirakan.”
Aeryn mengangkat wajahnya. “Jadi ini… bukan hanya tentang aku?”
Caldras mengangguk. “Ini tentang dunia. Dan kau, Putri Aeryn, adalah kunci yang akan membuka atau menguncinya untuk selamanya.”
Aeryn terdiam, matanya masih terpaku pada cermin yang retak di hadapannya. Meski retakannya telah menyebar seperti jaring laba-laba di es tipis, gerbang kristal di baliknya masih terlihat… seperti menunggu untuk dibuka.
Langkah pelan bergema di belakangnya. Aeryn menoleh. Naira, pelayan pribadinya yang setia, berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.
“Aku dengar suara—cermin itu… pecah?”
Aeryn ingin menjawab dengan jujur, tapi suara itu kembali. Kali ini tidak dalam kepalanya, melainkan bergema samar dari dalam ruang retak itu.
“Buka jalannya, Putri Es. Atau biarkan semua membeku dalam darah.”
Jantung Aeryn berdegup kencang. Dia mendekap dirinya sendiri, seolah dingin yang merayap bukan berasal dari suhu, melainkan dari rasa takut yang tak dikenal. Naira meraih bahunya.
“Yang Mulia, ada sesuatu yang harus Anda lihat,” bisik Naira, suaranya seperti rahasia yang takut keluar dari bibirnya.
Di luar, salju mulai turun lebih deras. Namun salju ini… aneh. Kristal-kristalnya berwarna abu-abu, nyaris kehitaman. Beberapa penjaga kerajaan terlihat bingung, mencoba menangkap butiran itu dengan tangan mereka. Saat disentuh, salju itu meleleh—tidak menjadi air, tapi asap gelap.
Aeryn menyaksikan pemandangan itu dari balkon menara. Udara dingin menusuk wajahnya, tapi ia tak menggigil. Dia justru merasa… dikuatkan.
Di kejauhan, seekor burung hitam melayang turun dan mendarat di pagar batu. Matanya menyala merah. Paruhnya terbuka.
“Waktumu tinggal tujuh malam. Pilih: kerajaan atau kebenaran.”
Burung itu berubah menjadi abu sebelum sempat ditangkap penjaga.
Naira berbisik di sampingnya, “Burung Hitam dari Selatan. Itu simbol kutukan dalam legenda tua…”
Aeryn menggenggam reling balkon. Tangan kanannya—yang sebelumnya menyentuh cermin—masih terasa dingin. Saat ia membuka sarung tangannya, pola-pola es melingkar di kulitnya seperti ukiran kuno.
Ia tahu, kekuatan di dalam dirinya tidak hanya kebangkitan sihir. Ini adalah warisan… atau kutukan… dari darah lama yang telah dikubur oleh sejarah.
Dan ia tahu, satu-satunya jalan untuk menemukan kebenaran—adalah membuka kembali gerbang itu.
Tapi siapa yang akan ia percaya?
Para penasihat mulai menyebarkan desas-desus. Ada yang mengatakan Aeryn telah dirasuki. Ada yang mengusulkan agar dia dikurung demi menjaga stabilitas kerajaan.
Dan saat malam tiba, suara dari cermin yang retak itu memanggilnya lagi.
Kali ini bukan dengan bisikan. Tapi dengan nyanyian.
Nyanyian dari Zaman yang Telah Hilang.