Malam turun lebih gelap dari biasanya. Langit seperti dilukis arang pekat, dan bulan yang seharusnya bersinar redup kini tampak lenyap di balik awan kelabu. Tapi di menara timur, cahaya lembut menari dari dalam kamar Putri Aeryn.
Ia duduk sendiri di hadapan cermin yang retak itu. Meski retaknya telah melebar, pantulan di dalamnya kini bukan hanya ruang di belakangnya—melainkan bayangan hutan, kabut, dan reruntuhan menara asing.
Dan lagu itu kembali terdengar.
Suara perempuan. Bukan miliknya. Bukan juga suara ibunya. Tapi entah kenapa terasa begitu… dekat.
“Tidurlah, anak utara...
Dalam es darahmu, takdir menyala...”
“Siapa kau sebenarnya?” bisik Aeryn ke cermin. “Apa yang kau inginkan dariku?”
Retakan cermin bergetar. Sejenak, permukaan itu berubah menjadi bening. Dan Aeryn melihat—bayangan seorang perempuan dengan gaun perak, mata putih tanpa bola mata, dan rambut berkilau salju. Dia berdiri di hutan yang tak dikenalnya, namun... terasa seperti rumah.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk keras. Aeryn buru-buru menutup kain pada cermin.
“Masuk.”
Yang datang adalah Pangeran Kaelen, sepupunya, yang juga tangan kanan Raja. Tatapan matanya tajam, dingin seperti malam itu.
“Aku baru keluar dari rapat Dewan Tertinggi,” katanya tegas. “Mereka... mempertanyakan kewarasanmu.”
“Dan kau?” Aeryn menantangnya.
Kaelen mendekat. “Aku mempertanyakan niatmu.”
“Karena aku menyentuh cermin itu?” bisik Aeryn.
“Bukan cuma karena itu. Karena kau memanggil sesuatu dari masa lalu yang seharusnya tetap terkubur.”
Suasana membeku.
Aeryn berdiri. “Kau tahu sesuatu. Kau tahu siapa yang ada di dalam cermin.”
Kaelen menghindari tatapannya. “Yang ada di dalam sana... bukan makhluk yang bisa kau kendalikan. Itu bagian dari legenda terlarang. Dan jika kau membuka gerbangnya sepenuhnya—”
“Aku hanya ingin tahu siapa aku sebenarnya,” potong Aeryn.
“Dan dalam proses itu, kau bisa menghancurkan seluruh kerajaan.”
Diam.
Kemudian suara keras terdengar dari luar jendela—seperti ledakan sihir. Aeryn dan Kaelen langsung berlari ke balkon. Di tengah kota istana, api biru membubung dari menara arsip kuno. Asap menghitamkan langit. Pasukan penjaga siaga.
“Arsip... tempat catatan garis darah dan ramalan kuno...” Kaelen berbisik. “Seseorang mencoba menghapus bukti.”
Aeryn tahu: mereka ingin mengubur sejarah yang sedang ia bangkitkan. Dan itu berarti satu hal—
Ia semakin dekat ke kebenaran.
Aeryn tak menunggu lama. Begitu Kaelen berlari ke arah pasukan penjaga, ia berbalik dan membuka kembali kain penutup cermin. Kini tak ada keraguan di matanya—rasa takut telah berubah menjadi tekad.
“Aku akan menemukanmu,” gumamnya. “Apa pun yang kau sembunyikan dariku, aku akan menggali semuanya, meski harus menembus neraka sihir.”
Ia bergegas mengambil mantel, menyembunyikan pakaiannya di balik jubah malam hitam. Di balik kamar, ada lorong rahasia peninggalan ibunya. Ia nyaris tak pernah memasukinya… sampai malam ini.
Tangga sempit itu menurun tajam ke bawah tanah istana. Cahaya dari lentera sihir di tangannya menari di dinding batu lembap, menciptakan bayangan yang seperti mengawasinya dari balik setiap tikungan.
Lorong itu membawanya ke sebuah ruangan kecil—sebuah tempat suci yang bahkan para pelayan kerajaan tak tahu keberadaannya. Di sana, tersimpan satu peti kayu berukir lambang kerajaan kuno, dan di dalamnya…
Sebuah kitab tua dengan sampul kulit perak.
Aeryn membuka halaman pertama. Debu berhamburan. Tulisan tangan yang aneh muncul—huruf-huruf kuno yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang memiliki darah "Aether".
“Nyanyian Aisvara. Catatan dari Leluhur Tertutup.”
Mata Aeryn membelalak. Ini bukan sekadar dongeng. Ini adalah bukti bahwa keluarganya—mungkin bahkan dirinya sendiri—bukan hanya bagian dari kerajaan ini, tapi pewaris sesuatu yang jauh lebih besar… atau jauh lebih berbahaya.
Suaranya mulai bergetar saat membaca salah satu bagian:
> “Anak ketujuh dari garis darah biru
Akan mendengar nyanyian di antara cermin retak
Bila ia menjawab, dunia akan retak pula
Tapi bila ia menolak, darahnya sendiri yang akan membeku.”
Aeryn menutup buku itu cepat-cepat. Napasnya tersengal.
Ia adalah anak ketujuh. Dan ia telah menjawab panggilan dari dalam cermin.
“Kenapa semua orang menyembunyikannya dariku?” desisnya. “Apa yang mereka takutkan?”
Tapi dalam keheningan itu, sesuatu berubah. Suhu ruangan turun drastis. Lentera sihir di tangannya berkedip, lalu mati total.
Dalam kegelapan, ia mendengar langkah. Pelan. Berat. Seperti makhluk yang berjalan bukan dengan kaki manusia.
Dan suara itu kembali.
“Tidurlah, anak utara...
Bangkitkan darahmu, bunuh penjara...”
Cahaya biru samar muncul di hadapan Aeryn. Bukan cahaya api. Tapi mata—sepasang mata putih yang menatapnya dari bayangan.
“Siapa kau?” bisik Aeryn, matanya berkaca-kaca. “Apa kau… aku?”
Makhluk itu tersenyum. Bukan senyum hangat. Tapi senyum… penuh duka. Penuh dendam.
“Aku adalah yang kau kubur
Aku adalah nyanyian yang mereka hilangkan
Tapi kini kau telah membangunkanku, Putri Aeryn.
Dan darah akan menjawab panggilannya.”