Ruangan rahasia itu kini sunyi…
Terlalu sunyi.
Bahkan suara napas Aeryn sendiri nyaris tak terdengar, seolah udara enggan bergema di tempat itu.
Makhluk bermata putih itu tak lagi di depannya. Seolah ia hanya bayangan sementara. Tapi Aeryn tahu: ia belum pergi. Ia menunggu. Di cermin. Di dalam dirinya. Di darahnya.
Aeryn berlari meninggalkan lorong, memeluk kitab tua itu erat-erat. Ia kembali ke kamarnya lewat pintu tersembunyi, lalu mengunci diri. Keringat dingin menetes di pelipisnya meski tubuhnya gemetar kedinginan.
Cermin itu…
Masih berdiri di sana. Retaknya bertambah. Seolah permukaannya menganga perlahan, seperti luka yang mulai bernanah.
Kaelen datang tak lama setelah itu, wajahnya tegang.
“Apa yang kau lakukan, Aeryn?” suaranya nyaris seperti teriakan tertahan. “Perpustakaan terbakar sebagian. Mereka menemukan jejak sihir darah—siapa yang kau bangkitkan?!”
Aeryn mengangkat wajahnya. Tatapannya tak lagi seperti gadis istana. Ia seperti seseorang yang baru saja melihat arwah masa lalu berdiri dalam bayangannya.
“Aku... aku menemukan sesuatu.”
“Sesuat—?”
“Ada makhluk di dalam cermin itu,” ujarnya pelan. “Ia mengenalku. Ia... mungkin aku. Atau... aku yang seharusnya.”
Kaelen menegang.
“Tidak… Kau membangkitkan Nyanyian Aisvara?”
“Jadi kau tahu?”
Ia tak menjawab. Tapi Kaelen menatap ke cermin. Wajahnya mendadak memucat.
“Ini buruk, Aeryn. Sangat buruk. Cermin retak itu bukan sekadar pantulan. Itu... segel.”
“Segel?”
Kaelen berbisik, “Kau bukan satu-satunya anak ketujuh dari garis darah. Tapi kau yang pertama bertahan hidup hingga usia ini. Yang lain… mati. Terbakar. Hilang. Dicabut jiwanya. Semua karena ‘Nyanyian’ itu.”
Aeryn memejamkan mata. Ia teringat mimpinya. Cahaya biru. Teriakan. Api.
“Apa aku akan mati juga?”
Kaelen menatapnya. Hening. Lalu pelan-pelan menggeleng.
“Tidak… karena kau sudah melewati batas. Kau bukan lagi calon tumbal. Kau pewaris kutukan.”
Aeryn mundur. “Jadi... mereka semua menyembunyikannya dariku? Ayahku? Dewan Istana? Ibuku bahkan...?”
“Karena mereka takut. Takut pada kebenaran tentang darahmu. Takut kalau kau tahu bahwa Putri Kerajaan Utara adalah pembawa kehancuran lama yang tak sempat ditamatkan.”
Aeryn terduduk lemas.
“Lalu… apa yang harus kulakukan?”
Kaelen menatapnya. “Membuat pilihan. Kau bisa menutup segel itu lagi—dengan mengorbankan dirimu. Atau kau bisa membiarkan segel hancur… dan menghadapi dunia yang akan terbakar.”
Aeryn terdiam.
Dalam diamnya, dari cermin yang retak itu, terdengar nyanyian sayup…
> “Satu darah, satu bayangan
Di antara sihir dan perjanjian
Bila sang cermin hancur oleh tangan
Maka dunia akan mengenal ulang tahun kematian.”
Cermin itu kini tidak hanya retak—ia mulai menyerap cahaya di sekitarnya. Dinding kamar Aeryn menggelap, satu per satu lentera padam, dan hawa dingin seperti salju musim kutukan menyelimuti sekujur istana.
Dan di balik cermin, sosok itu muncul lagi.
Kini ia bukan hanya bayangan. Ia adalah Aeryn, dalam versi yang lebih tua. Lebih dingin. Lebih berani. Dan... lebih berbahaya.
Kaelen mundur.
“Dia... dirimu dari masa yang tidak pernah terjadi.”
Aeryn menatap dirinya sendiri di dalam cermin.
"Aku tahu siapa aku sekarang," gumamnya.
"Dan aku tak akan lari."
Suara denting sihir es yang mengeras menggema dari balik ruang pelatihan. Aeryn terduduk, napasnya terengah, tangannya bergetar setelah mengendalikan semburan energi yang meledak dari tubuhnya tanpa peringatan. Retakan besar membelah lantai marmer, dan dinding es di sekelilingnya nyaris hancur.
"Sudah cukup!" teriak Lorian, pelatih sihir kerajaan, dengan nada cemas. Ia bergegas menghampiri, jubah birunya mengibas, dan menahan tangan Aeryn agar tidak mengangkat sihir lagi. "Kau terlalu jauh hari ini. Energi itu… bukan lagi sihir kerajaan. Itu sesuatu yang lain."
Aeryn menoleh, wajahnya pucat dan lelah. "Aku tidak bisa mengendalikannya. Semakin aku melawan, semakin kuat itu mendorong keluar."
Lorian menatap mata gadis itu. Ada ketakutan di sana, bukan hanya tentang kekuatan yang tumbuh… tapi tentang dirinya sendiri.
"Aku pernah melihat kekuatan seperti ini," kata Lorian perlahan. "Tapi itu bukan berasal dari keluarga Frostline."
Aeryn terdiam. Ia sudah mendengar bisikan tentang ibunya—ratu yang wafat dalam misteri, sebelum Aeryn sempat mengenalnya. Beberapa mengatakan bahwa ia bukan murni darah Elvaris. Beberapa bahkan berani menyebut bahwa sihir dalam dirinya berasal dari garis kuno… dan terkutuk.
Hari itu, Lorian memutuskan menghentikan pelatihan. Tapi benih kecurigaan telah tumbuh.
---
Di lorong tersembunyi istana, suara-suara lirih berkumpul. Para penasihat mulai menyusun rencana. Beberapa menginginkan Aeryn disingkirkan dari garis takhta, digantikan oleh pangeran muda dari keluarga sekutu. "Sihirnya tidak dapat dikendalikan," kata salah satu. "Dan jika dia adalah anak dari dua dunia, maka kita sedang memelihara bencana."
Namun, di tempat lain—di kedalaman gua es kuno, yang hanya bisa diakses oleh garis keturunan khusus—sebuah cahaya mulai menyala. Kristal hitam yang terkubur selama ratusan tahun mulai berdenyut, seolah merespons sesuatu yang telah terbangun kembali.
Cahaya itu menyatu dengan sihir Aeryn.
---
Malam itu, Aeryn berdiri di balkon menara tertinggi, menatap langit berbintang. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi pikirannya jauh lebih beku dari itu.
"Aku bukan pewaris yang mereka inginkan," bisiknya.
"Tapi mungkin… aku adalah pewaris yang dibutuhkan dunia ini."
Sebuah suara muncul dari belakangnya, tenang namun tegas. "Jika kau percaya pada itu, maka bersiaplah. Karena mulai malam ini, semuanya akan berubah."
Aeryn menoleh, dan untuk pertama kalinya, melihat seorang pria berjubah hitam berdiri di balik bayangan. Wajahnya asing, tapi matanya… memiliki warna yang sama dengan matanya sendiri.
"Siapa kau?" tanya Aeryn, siaga.
"Aku adalah bagian dari kebenaran yang telah mereka sembunyikan darimu," katanya sambil berjalan perlahan. "Dan waktumu hampir habis."