Aeryn memandangi pria berjubah hitam itu dengan tatapan tajam. Angin malam berhembus kuat, seakan ikut mengguncang pertahanan terakhir di dalam hatinya.
“Apa maksudmu… waktu hampir habis?” tanyanya, suaranya gemetar namun tegas.
Pria itu mendekat, langkahnya nyaris tak bersuara di atas batu beku balkon menara. “Kau pikir kau hanya pewaris dari Kerajaan Es? Tidak, Aeryn. Darah lain mengalir dalam tubuhmu. Darah dari garis keturunan yang tak disebutkan dalam kitab sejarah... karena mereka ingin menghapusnya.”
Aeryn menegang. “Siapa yang mereka hapus?”
“Kaum malam. Pewaris kegelapan. Pengendali bayangan. Pemilik sihir yang bahkan salju pun tak bisa membekukan.” Dia berhenti di hadapan Aeryn, lalu mengulurkan sesuatu dari balik jubah—sepotong kristal hitam kecil, yang tampak berdenyut, hidup. “Ini... milikmu.”
Saat jari Aeryn menyentuh permukaan kristal itu, denyutannya menyatu dengan nadi Aeryn. Dunia di sekitarnya mendadak membeku, lalu meledak dalam kilasan kenangan—wajah ibunya yang samar, darah, cahaya merah, dan api hitam yang menelan seluruh medan perang.
Tubuhnya goyah. Ia jatuh berlutut, napasnya tercekat.
“Kenangan itu disegel oleh istana ini,” lanjut si pria. “Tapi darah tidak bisa dibohongi. Kau adalah anak dari dua dunia: Cahaya dan Bayangan. Dan kini, keduanya mulai menuntut takhta yang kau duduki.”
Aeryn menatapnya dengan pandangan terpaku. “Siapa kau sebenarnya?”
Pria itu menundukkan wajahnya, memperlihatkan bekas luka di mata kirinya. “Namaku Kaelen. Aku pernah menjadi penjaga ibumu. Dan sekarang, tugasku adalah membawamu pada takdir yang ditolak oleh kerajaan ini.”
---
Keesokan paginya, istana gempar.
Aeryn menghilang.
Lorian mendapati kamar Aeryn kosong. Jendela terbuka, salju menumpuk di lantai, dan hanya ada satu tanda yang tertinggal: sepotong kain jubah hitam… serta simbol kuno yang diukir di dinding—lambang bulan yang dililit akar gelap.
“Tidak,” desis Lorian, menggenggam lambang itu. “Mereka menemukannya lebih dulu…”
---
Sementara itu, jauh di luar tembok kerajaan, Aeryn menunggangi seekor kuda berambut perak, menembus hutan belantara yang tertutup kabut es. Di belakangnya, Kaelen mengikuti dalam diam.
Aeryn memikirkan semua yang baru saja ia pelajari. Dunia yang ia kenal mulai hancur. Kebenaran tentang dirinya, tentang sihir yang tak bisa ia kendalikan, kini menjadi beban sekaligus kunci.
“Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semua ini,” gumamnya.
Kaelen menyahut, “Takdir tak menunggu kesiapan. Ia hanya menunggu siapa yang cukup kuat untuk menerimanya.”
Dan di kejauhan, gunung-gunung gelap berdiri seperti penjaga rahasia purba. Di sanalah tempatnya—The Hollow of Shadows, perbatasan dunia gelap yang dilupakan, tempat asal ibunya, dan tempat asal sihir yang tumbuh dalam dirinya.
Aeryn tahu, tidak akan ada jalan kembali.
Aeryn menarik napas dalam, dadanya sesak oleh jutaan pertanyaan. Salju menyelimuti bahunya, tapi rasa dingin di luar tak sebanding dengan kekacauan yang menggerogoti pikirannya.
"Aku harus tahu semuanya," katanya akhirnya. "Tentang ibuku. Tentang darah ini. Tentang siapa aku sebenarnya."
Kaelen menatapnya dengan mata yang menyimpan ratusan tahun rahasia. “Kerajaan ini dibangun di atas kebohongan, Aeryn. Mereka menulis ulang sejarah, menghapus kebenaran tentang para penguasa sihir kegelapan yang dahulu pernah menyelamatkan dunia… tapi juga menghancurkannya.”
Aeryn menelan ludah. “Ibuku… berasal dari sana?”
“Bukan hanya berasal dari sana,” Kaelen menjawab. “Dia pewaris terakhir dari garis keturunan Sang Ratu Malam. Kau adalah darah campuran pertama dalam sejarah: Cahaya dan Kegelapan. Dan kau… adalah kunci keseimbangan.”
Suara gemuruh petir tiba-tiba mengguncang langit yang biasanya tenang. Langit utara berubah menjadi kelabu pekat. Awan bergulung, dan dari dalamnya, sebuah retakan cahaya ungu muncul—seperti mata dunia yang mengintip ke bumi.
Aeryn terpaku. “Apa itu?”
Kaelen memandang ke langit dengan wajah tegang. “Mereka tahu kau telah tersadar. Para Penjaga Cahaya... sedang bergerak. Dan mereka tidak akan membiarkanmu memilih sisi kegelapan.”
---
Di tempat lain, di dalam ruang dewan istana kerajaan salju, para penasihat berdiri mengelilingi peta kuno yang kini tampak bergetar. Tinta sihir di atasnya mulai membentuk simbol baru—lambang bulan terbalik dan akar hitam yang merambat.
Salah satu penasihat, Elder Vyran, menoleh pada Lorian.
“Jika dia benar-benar darah campuran, maka ramalan itu—”
“—akan menjadi nyata,” potong Lorian cepat. “Dan dunia ini akan terbagi.”
“Tidak,” bisik Elder Vyran. “Dunia ini... akan runtuh.”
---
Aeryn kini berdiri di tebing tinggi, memandangi lembah di bawahnya. Angin kencang mencambuk rambutnya, dan di depan sana—tertutup kabut gelap dan pohon-pohon mati—terletak The Hollow of Shadows.
Ia menatap tangannya yang mulai menghitam di bagian urat, seperti sihir kegelapan dalam dirinya mulai bangkit. Tapi anehnya, ia tidak merasa takut. Ia merasa… utuh.
“Kalau ini takdirku,” katanya lirih, “aku akan menghadapinya. Dengan atau tanpa kerajaan itu.”
Kaelen tersenyum samar. “Maka kau telah mengambil langkah pertama… sebagai ratu dari dua dunia.”