"Menghilanglah seperti asap. Tak meninggalkan jejak sedikitpun, tak secercah darah pun. Hilanglah dari dunia ini dan kedamaian akan terus berlangsung. Malaikat maut sepertimu tidak punya hak untuk terus hidup. Kasus ini adalah misi terakhirmu yang akan berakhir dengan kegagalan"
Wanita itu terus terdiam. Tak sepatah kata pun dia keluarkan. Bukan karena dia takut, tetapi ia mengerti bahwa masa lalunya penuh dengan dosa dan waktu untuk menebusnya adalah sekarang.
DOORRR!!!
Sebuah peluru melesat menuju dahi wanita itu. Kabut mulai menyelimuti langit malam di Kota Yoru. Meskipun eksistensi dirinya akan hilang sebentar lagi, namun dia akan berhasil mencapai impian terbesarnya, yaitu meninggal di tangan orang yang dicintainya. Tubuhnya seketika jatuh tersungkur, kepalanya menghantam lantai gudang yang kotor. Di hadapannya, pria yang ia cintai masih menggenggam revolver kesayangannya.
Sementara itu, gadis kecil yang terus bersembunyi sambil menutup mulutnya tidak bisa membendung air mata. Suatu hal tragis terjadi tepat di depan mata kepalanya sendiri. Melihat malaikatnya meninggalkan dirinya selama-lamanya. Wanita itu tersenyum hangat dan mulutnya berusaha mengucapkan sesuatu di detik-detik terakhir.
"Aku mencintaimu" Dua kata terakhir yang diucapkannya kepada anak perempuannya sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari dunia ini.
Dengan kemampuan menyelinap yang kumiliki, aku melompati kardus - kardus bekas yang tersusun rapi di gudang reyot tersebut. Setelan jas hujan yang berlumuran darah masih kukenakan dan dengan beraninya, aku menghampiri salah satu petugas kepolisian yang sedang berjaga.
"Siapa namamu gadis kecil? Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya salah satu petugas sambil membungkukkan badan, menyamakan tinggi tubuh kami.
"Thalia. Thalia Sheren. Umurku masih tujuh tahun dan aku tersesat di sini sejak sore tadi karena terlalu malam mencari bunga di hutan dekat sini," balasku beralasan dengan mimik ketakutan, padahal aku hanya bersandiwara. Tangisan kehilangan berusaha kutahan mati-matian, meskipun emosi ini sudah meluap-luap sedari tadi
Untunglah di sini gelap sekali, jangankan melihat bercak darah, melihat wajahku saja mungkin samar-samar.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sekarang. Katakan saja alamatmu, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Daerah ini berbahaya!" ujar petugas yang bernama Akima tersebut, setidaknya itu nama yang tertera di baju kerjanya.
Aku hanya mengangguk kecil. Sekali lagi, aku menengok ke belakang dan meratapi gudang tersebut. Untuk yang terakhir kalinya. Tubuh ibu mungkin sudah mereka angkut secara tak layak dan mungkin juga, aku tidak akan bisa melihat jasadnya lagi. Aku akan benar-benar kesepian lagi.
"Ada apa, Nak? Sebaiknya jangan lihat gudang tersebut, Nak. Daerah tersebut rawan kejahatan," komentar petugas tersebut seraya menunjuk tempat kematian ibu tanpa rasa berdosa.
Aku hanya mengangguk kecil seakan setuju dengan pendapatnya. Perlahan - lahan, kabut tipis mulai menyelimuti kota Yoru. Awan abu - abu berarak dari arah timur. Sepertinya, langit akan menangis bersamaku.
"Naiklah, Nak" seru petugas tersebut sambil membukakan pintu sedannya, mempersilahkanku untuk meloncat masuk ke dalamnya.
Aku menaiki mobil sedan tersebut tanpa ragu - ragu. Setelah itu, kami memulai perjalanan, dimana kami harus melewati hutan untuk sampai di sebuah pemukiman. Pemukiman terdekat dari Hutan Yoru. Kulihat jalanan bebatuan dan semak-semak pohon sudah mulai berganti dengan tanah basah milik pemukiman warga. Atap-atap rumah pun mulai terlihat.
“Rumahku di sana! Rumah dengan atap putih pucat,” ujarku seraya menunjuk rumah kecil di ujung jalan.
Perjalanan terhenti di depan sebuah rumah tersebut--yang bahkan tidak kuketahui siapa penghuninya. Aku membiarkan petugas itu untuk berjalan di depanku dan membukakan pintu pagar rumah tersebut. Ya. tentu saja aku sedang berbohong. Rumahku kan, bukan di sini. Dasar polisi bodoh.
Aku segera mengambil langkah untuk kabur. Satu... dua... tiga... .
"Katakan salam pada keluargamu, Nak" ucap petugas tersebut dengan gembira seraya membalikkan badan. Tanpa tahu, bahwa tamu yang menumpang mobilnya telah mengambil langkah seribu.
Hening. Tidak ada jawaban. Itu karena aku sudah berlari tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Aku terus berlari tanpa menatap ke arah belakang yang hanya berupa kabut. Berharap agar aku sampai di rumah tepat waktu. Berharap bahwa tidak ada seorangpun yang tahu aku akan menangis, maupun menjerit keras sepuasku di kamar nanti.
Langkahku terhenti di depan sebuah rumah besar dan megah di tengah hutan. Setelah berlari sejauh satu kilometer, akhirnya aku sampai di rumah. Dengan cekatan, aku mengambil kartu sebagai kunci rumahku. Tentu saja, ini adalah salah satu dari bagian keamanan yang ibu berikan untuk melindungiku. Tergesa-gesa aku melepas sepatuku, berpakaian layaknya anak yang baru saja bermain di hutan.
Kreek... . Pintu rumahku pun terbuka secara otomatis. Tepat. Nyonya Sharon pasti sudah tertidur lelap. Jas hujan yang sedikit berlumuran darah sudah kubuang ke tebing yang lumayan jauh dari rumah. Dengan hati - hati, aku berjalan menuju kamarku.
"Mau kemana, Nona Alluschia?" tanya seseorang di samping tangga. Tangannya terlipat dan aku tahu dia berusaha menasihatiku lagi dengan cara yang lebih terlihat seperti mengamuk.
"Ah... aku bermain dengan temanku di hutan, tidak sadar bahwa hari sudah gelap karena kami tertidur di rumah pohon. Lagipula, kenapa tidak ada yang membangunkanku, sih?! Ibu biasanya datang dan meneriakiku. Kok sekarang dia belum juga datang, ya? Kemana saja sih, dia selama ini? Meninggalkan anaknya sendirian di rumah besar ini dengan nyonya tua cerewet. Ayah juga, dinas luarnya lama sekali. Baguslah, ia tidak akan menamparku jika tidak di rumah, bukan?" gerutuku bersandiwara, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
Nyonya Sharon hanya terdiam ketika anak tujuh tahun itu berceloteh mengenai ibunya. Dari reaksinya, mungkin dia sudah diberitahu mengenai apa yang akan terjadi dengan malaikatku itu. Perihal ayahnya, sejumput rasa bersalah kembali hinggap di relung terdalam hatinya.
"Ya sudah. Mandi sana, nanti kamu kedinginan. Sehabis itu langsung tidur," balasnya yang tak terlalu banyak kata seperti biasanya. Wajahnya menjadi datar dan matanya yang sembab menjadi perhatianku.
"Tumben, singkat amat nih, Nyonya Sharon. Jangan lupa bacakan dongeng, ya. Mungkin ibu belum pulang malam ini," tambahku bersandiwara seraya menaiki satu per satu anak tangga.
Aku melepas bajuku dan menyalakan keran air dengan kuat. Dengan ini, kesedihan mendalam dari hatiku tidak ada yang akan mendengarnya. Kehilangan yang harus kurasakan di usia semuda ini. Kedewasaan yang harus kubangun sejak umur yang masih belia.
"Ibu..." lirihku pelan sambil duduk tertunduk di samping bak mandi. Tak dapat menggenggam apapun lagi dan derasnya aliran air dengan segera menutupi seluruh isak tangis.
"Kenapa? Ibu tidak harus menebus dosa seperti itu, Bu! Aku menerima ibu apa adanya. Aku tak ingin hidup di atas nyawa orang lain, Bu" ujarku lirih, dengan air mata yang mengalir deras. Kepalaku hanya tertunduk, ribuan kenangan yang kumiliki membayangiku kembali. Aku merindukannya.
Setelah selesai mandi, aku segera mengusap air mataku, memulai sandiwara kembali, dan segera memasuki kamar. Alih - alih ingin segera tidur dan lari dari kenyataan, aku malah menemukan secarik kertas di bawah bantal. Segera saja, aku menarik kertas tersebut dan membacanya terburu-buru.
Untuk Aluschia Alaska,
Ibu tidak ingin kau menyalahkan dirimu atas kematian ibu. Kurasa, setelah membeberkan fakta pada anak perempuanku yang baru berusia tujuh tahun, perasaanku sedikit tenang. Aku tak ingin kau hidup dalam bayangan ayahmu. Jika ayahmu marah padamu, bersabarlah, dia memang sedikit temperamental. Rasanya, secarik surat ini tidak mampu menuliskan perasaanku yang ingin terus bersamamu, menjagamu hingga tumbuh dewasa, agar kelak kau tidak seperti ibumu yang telah jatuh dalam jurang yang sangat dalam.
Singkat saja, ibumu yang payah ini hanya ingin menyampaikan beberapa kalimat untukmu. "Jangan lampaui batas dan penghalang dirimu. Jadilah dirimu yang sebenarnya, jangan mencoba - coba berjalan menuju kegelapan". Aku akui, kalau kau lebih hebat dari diriku yang merupakan buronan internasional ini. Cerdas, licik, dan bisa memanfaatkan situasi sempit kapanpun dan dimanapun adalah kelebihanmu. Aku tahu, kau bukanlah anak biasa. Jangan pernah salurkan bakat tersebut ke jalan yang salah. Aku mencintaimu.
NB: Jangan tidur malam - malam, jika sakit nanti siapa yang akan menjagamu lagi?. Jangan bermain kemalaman. Pulanglah sebelum hutan menjadi sepi.
Lots of love, your mother
Rumina Alaska.
Sebelum membacanya, aku sudah bisa merasakan kasih sayang yang mengalir dari ibuku. Kini, entah kenapa, aku merasa lebih lega dari sebelumnya. Rasanya, ibu tidak benar - benar seperti meninggal. Dia seperti berada di sampingku dan memelukku hangat. Lalu berkata, "Ini akan berjalan baik - baik saja".
Yah, itu hanya angan - angan belaka. Nah, di mana seseorang yang melesatkan peluru itu? Ayah? Aku tak akan sudi memanggilnya kembali seperti itu. Kurasa, dia mungkin berpesta dengan temannya atas kematian istri rahasianya tersebut. Ibu, kenapa kau tidak bisa memelukku saat aku menangis lagi? batinku seraya mendekap bantal erat-erat. Tanpa sadar, air mataku kembali berlinang sepanjang malam ini.