Malam yang penuh kesedihan telah berlalu. Sang mentari mulai beranjak dari ufuk timur, menyinari para penduduk bumi. Meskipun langit sudah tidak kelabu, diriku masih menyimpannya. Kelabu berupa kesedihan dan kesepian mendalam sejak malam kemarin. Malam yang mengutuk setiap tidurku, berjanji akan mendatangiku kala bunga tidur sedang tak indahnya.
"Cia…Apakah kau sudah bangun? Segera turun dan makanlah sarapanmu. Aku sudah buatkan omelette kesukaanmu," seru Nyonya Sharon sambil mengetuk pintu kamarku, berseru lembut seakan membujukku untuk berdamai dengan semua ini.
Dengan malas, aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamar. Aku berjinjit, berusaha melihat lantai bawah melewati jeruji besi yang menghalangi jarak pandangku. Tampak di sana, seorang pria sudah mengisi kekosongan ruang makan. Seolah tidak terjadi sama sekali, dia menikmati makanan itu seorang diri.
"Pagi," sapaku singkat tanpa melihat ke ayah sama sekali--mengingat semua kenangan buruk tentang dirinya akan kembali saat wajahnya terlihat.
Pria itu hanya melihatku dan segera membaca korannya kembali. Jemarinya dengan mulus menekuk lembaran-lembaran koran tersebut. Sepertinya, berita mengenai ibu sudah sampai ke telinga para wartawan itu dan keberhasilan ayah menegakkan keamanan di kota ini, ah tidak di negara ini.
Tidak. Jelas sekali ini adalah kegagalan karena dia tidak bisa melindungi istrinya dari kejaran organisasi rahasia tempat ibu bekerja dahulu. Di mataku, dia tak ada bedanya dengan pembunuh lain. Apa aku terlalu kejam? Toh, dia yang tidak tahu akan kebenaran sebenarnya pasti sedang berbangga diri akan keberhasilannya ini.
"Pagi ini ada berita hangat apa? Oh ya, kenapa Ayah pulangnya lama sekali? Lagipula, di mana Ibu? Masa’ suaminya tidak tahu menahu mengenai istrinya, sih," sindirku bersandiwara sambil menyiapkan sendok di atas meja.
"Alluschia! Jangan pernah membahas ibumu lagi. Dia bukanlah orang yang baik - baik. Dan yang jelas, kini dia bukan keluarga kita lagi! Oh ya, apakah kau ingin pergi ke rumah Nyonya Sharon nanti malam? Aku mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan malam ini, tanpa gangguan sedikitpun!" bentak pria itu sambil melipat koran dan menurunkan kacamatanya, melihat diriku yang baru saja mengungkit-ungkit wanita itu. Malaikatku.
"Kalau Ibu bukanlah orang baik - baik, kenapa Ibu dengan setia bersamamu dan selalu menjagaku di setiap situasi? Dia lebih sering bersamaku dibandingkan dengan dirimu. Apakah kalian akan bercerai? Sadarlah, Ayah! Yang membuatmu sukses adalah dirinya yang selalu membantumu di belakang layar. Meski aku tahu, ini bukanlah hal yang pantas dikatakan oleh anak berumur tujuh tahun sepertiku" bantahku dengan tenang sambil menyuapkan potongan omelette ke dalam mulutku, menampikkan semua hal akan keburukan ibu.
Tak kusangka. Ayah beranjak dari kursinya dan menghampiriku. Koran serta kacamatanya seketika terjatuh dari atas meja. Suara kaca mata yang jatuh seakan memperiuh suasana panas sarapan hari ini. Dia marah besar. Tangannya melayang menuju pipiku dan... PLAAK!!!.
Nyonya Sharon tampak terkejut melihat tindakan ayah dan seketika dia menghentikan aktivitas yang sedang dilakukannya. Dia tergopoh-gopoh menghampiri kami, tak percaya dengan apa yang terjadi. Meskipun ini telah terulang beberapa kali. Pipiku memerah karena tamparan pria itu. Bukannya menangis, amarahku semakin menjadi-jadi.
"Apakah kau pantas menyebut dirimu sebagai ayah?"
Kalimat terakhir yang kuucapkan sebelum akhirnya aku pergi ke kamarku untuk meredakan amarah yang sudah tepat pada puncaknya. Aku menghentakkan kaki dengan keras saat menaiki tangga, meskipun kurasa dia tidak peduli dengan apa yang kurasakan selama ini. Sekeras apapun hentakan kakiku, sebebal itulah hatinya. Aku memang tidak tahu apa yang di dalam hatinya, namun aku tahu apa yang tercermin di luar. Sebuah kepribadian yang temperamental.
Aku mengunci pintu kamarku, memutar kenop untuk memastikan tak seorang pun yang mengetahui kelamnya hatiku sebenarnya. Sejujurnya, sejak tadi malam aku sudah berhasil memasang penyadap di bawah meja makan. Jadi, aku bisa mendengarkan pembicaraan ayah dan Nyonya Sharon dari sini. Untuk mengetahui apa yang dibicarakan di belakangku.
"Kurasa kau sudah keterlaluan, Ren. Dia adalah anak perempuanmu. Umurnya masih tujuh tahun dan bukankah dia satu-satunya keluarga yang masih kau miliki?" Nyonya Sharon terdengar membelaku. Itu sia-sia, Nyonya, batinku dalam hati.
"Kau tidak tahu apa-apa, Nyonya Sharon! Kau hanyalah pengasuhku sejak aku kecil. Mulutnya benar-benar seperti ibunya" bantah ayah dengan nada kasar, berkilah akan fakta bahwa diriku yang masih membutuhkan bimbingan orang tua.
"Dia merindukan ibunya, kurasa. Sejak kemarin, dia selalu menanyakan ibunya. Kau pasti pernah merasakan kehilangan seorang ibu saat ibumu meninggal ketika kau berumur lima belas tahun, bukan? Dan kini umurnya masih tujuh tahun. Tidakkah kau mengerti?" Sekali lagi, ada pembelaan untukku.
"DIAMLAH! DIA HANYA TIDAK TAHU SIAPA IBUNYA SEBENARNYA!!!" bentak pria itu begitu keras sehingga aku melepas earphone-ku, tak dapat menahan nyaringnya suara yang bisa saja memecahkan gendang telingaku.
"Baiklah. Teman-temanmu akan membahas mengenai kasus malam ini, ya? Kalau begitu, akan kubawa Aluschia ke rumahku," ujar Nyonya Sharon untuk mengalihkan perdebatan, tak ingin amarah anak asuhnya semakin meninggi.
"Iya. Bisa gawat kalau ada yang tahu aku telah menikahi pembunuh buronan internasional seperti dia. Apalagi melihat anakku, aku mungkin bisa dicurigai" paparnya ringan, seolah tak merasa bersalah bila anak semata wayangnya ini mendengarkan kata-kata pedih itu.
Aku buru - buru melepaskan earphone-ku agar tidak mendengar kelanjutan kata - kata yang begitu menyakitkan, yang membuat kebencian padanya semakin dalam. Kau tahu rasanya tidak diakui? Dengan fakta bahwa orang yang tidak mengakuimu pernah menjadi orang yang paling memanjakanmu. Anak kecil di mana pun pasti tak tahan dengan semua sifat orang dewasa yang membingungkan.
Pagi ini adalah pagi yang terkutuk. Kerinduan kepada ibuku semakin memuncak, membuatku menangis tersedu-sedu sendirian di kamar ini. Membasahi kasurku serta bajuku, layaknya seorang anak yang belum dapat mengendalikan emosi. Aku merasa kesepian, bahkan tidak ada yang bisa mendengar tangisanku sekarang. Hanya desiran angin yang menerbangkan dedaunan kering--yang dapat menemaniku hingga ke tetes terakhir.
"Aluschia, ayahmu hanyalah tidak bisa menahan amarahnya. Kau tahu sendiri kalau dia orang yang bertemperamental buruk," ujar Nyonya Sharon dari depan pintu kamarku, berusaha membujukku untuk segera membuka diri kembali.
"Tinggalkan aku sendiri," balasku singkat dengan lirih dan berusaha menahan air mata yang menanak sungai.
Tidak ada suara lagi di depan, hanya suara dari kaki yang melangkah pergi dari depan kamar. Nyonya Sharon pasti mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Mataku melirik sekeliling kamar, tetapi tetap saja pandanganku kosong. Tidak ada yang perlu ditatap lagi, anggap saja kemarin adalah mimpi buruk. Sebentar lagi kau juga akan terbangun dari tidur panjang ini. Dan tatapanku berakhir pada tumpukan boneka yang posisinya sudah berubah dari sebelumnya.
Entah kenapa, aku berusaha mencari-cari sesuatu di setiap sudut kamarku. Tanganku gatal untuk menemukan sesuatu yang bahkan belum pernah kulihat, dengan secercah harapan bahwa setidaknya ada sedikit peninggalan ibu. Hingga aku sampai di tumpukan boneka di pojok kamar yang posisinya sudah berubah total. Terdapat sebuah boneka kangguru dengan kantung di depannya. Kantungnya sedikit tidak rapi. Ada sesuatu di dalamnya. Aku menggerogoh kantung tersebut dan menemukan sebuah benda kecil terselip di sana.
"Memory card?" Aku terkejut karena aku tak pernah menyimpan benda sepenting itu di dalam kantung boneka. Apa ini milik ibu?
Tanpa babibu, aku segera menyambungkannya dengan laptopku. Tentu saja, setelah memastikan bahwa tidak ada yang sedang menyadapku. Terdapat ratusan file di dalamnya! Jelas ini milik ibu. Dari nama folder yang kulihat, jelas ini rahasia organisasi tersebut dari A-Z. Tak terlewat sedikitpun. Ibu benar - benar hebat! Seperti agen saja. Dan yang jelas, memory card ini tidak akan kuberikan pada pria itu. Menyerahkan benda penting ini sama saja dengan menjelaskan bahwa aku berada di tempat kejadian tadi malam. Menjelaskan bahwa aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kekejamannya pada ibu.
Aku merenungkan segala sesuatu yang terdapat di memory card tersebut. Kini, aku terkagum - kagum dengan pekerjaan misterius seperti itu. Berjalan di antara kabut, menyelinap secara misterius, muncul ke publik, lalu tiba - tiba menghilang seperti asap. Tak berbekas. Namun, menghilang dengan membawa setumpuk rahasia yang bisa saja mengancam eksistensi sesuatu.
Aku ingin menjadi seperti ibu.
Kalimat yang terkutuk, memang. Tapi hal ini tidak akan bisa terwujudkan jika aku terus bersembunyi di balik bayang - bayang ayah. Sejujurnya, aku tidak tahan jika harus menghabiskan sisa hidupku seperti buronan yang terus bersembunyi. Hal ini akan terjadi karena pria itu tidak akan pernah mengakui kalau aku adalah anak kandungnya sejak dia berhasil membunuh istrinya sendiri. Apa mungkin aku harus melarikan diri, ya?