Keputusanku sudah bulat. Aku akan melarikan diri dari rumah ini secepatnya. Agar aku bisa meraih dunia luar dengan tanganku sendiri. Agar tidak ada lagi bayangan yang menutupiku.
Tempatku hidup selanjutnya? Tak usah khawatir. Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan ini dari jauh hari. Di kota sebelah yang terletak seratus lima puluh kilometer dari sini. Ibu telah memberikan rumah kepadaku dengan atas namaku sendiri. Ya, tentu saja tanpa sepengetahuan ayah. Dia bilang, aset - aset yang diberikannya kepadaku menandakan bahwa harta tersebut tak ingin tersentuh tangan polisi. Di dekat rumah tersebut, ada kenalan ibu yang akan dengan senang hati merawat gadis kecil berumur tujuh tahun ini. Menurut prediksiku, setelah kematian ibu, organisasi mungkin tidak akan bergerak selama satu periode ke depan. Sampai keadaan di polisi mulai melemah dan mengendorkan pengawasannya kepada organisasi.
Oke. Rencana kedua. Aku segera merapikan semua bajuku dan memasukkannya ke dalam koper biru cerah yang kumiliki. Hanya hal - hal kecil yang diperlukan, seperti pisau kecil dan cutter. Dan mungkin beberapa makanan ringan selama perjalanan nanti karena aku memberanikan diriku untuk menaiki kendaraan umum dengan menyamar sebagai anak remaja berumur tiga belas tahun. Tubuh dan otakku sepadan dengan anak berumur tiga belas tahun.
"Alluschia, apakah kau yakin tidak akan keluar dari kamarmu? Mungkin ayahmu akan meminta maaf kepadamu," tegur Nyonya Sharon sambil mengetuk pintu, mengejutkan diriku yang sedang membereskan koperku.
"Hal itu tidak akan terjadi. Selain itu, maaf ya Nyonya, aku sedang belajar sendirian. Apakah kau lupa ini adalah jam homeschooling-ku?" balasku mengusir dirinya kembali.
Aku merasa sedikit bersalah kepada Nyonya Sharon. Namun, tetap saja, aku tidak akan mengucapkan kata perpisahan kepada siapapun. Baiklah, setelah nyonya tua nan cerewet itu pergi, aku segera menelepon seseorang dari ponselku.
"Halo? Dengan Ashley Fresch di sini, dengan siapa di sana?" sapa seorang wanita muda dengan lembut.
"Nyonya Karenina Anderson?" panggilku sedikit misterius di depan telepon.
"Aku bisa melacak nomormu, siapa dirimu, dan aku bahkan bisa mengancammu kapanpun" balasnya dingin. Argh, dia terlalu serius menanggapi seseorang yang memanggilnya dengan nama aslinya.
"Tante Nina! Ada apaan sih. Kok masa gak tau suara anak sahabatmu ini, sih?! Ketakutan ya? Ah baiklah, aku ingin langsung ke inti pembicaraan."
Tidak ada jawaban. Hanya tangisan kecil di ujung sana. Aku tahu, dia pasti menangisi ibuku. Tapi, apa gunanya? Ibu tidak akan pernah kembali.
"Turut berbelasungkawa, Cia" Suara lirih itu kembali kudengar. Orang yang pertama kali mengucapkan belasungkawanya padaku.
"Dengarkan aku, Tante. Aku ingin menetap di rumah Ibu mulai hari ini. Jemput aku di Stasiun Severich sore ini, kira-kira jam lima sore. Jangan telat. Aku tak punya waktu banyak. Jadi..."
"Apakah ini adalah keputusan terbaikmu? Jangan buat keputusan permanen dalam perasaan yang bersifat temporer" saran Tante Nina yang berusaha menahan kesedihannya, kini suara tangisan tidak terdengar lagi.
"Aku yakin, dan tekadku sudah bulat. Selain itu, aku tak ingin menyusuri organisasi itu sendirian. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Apakah kau gila?! Menyusuri organisasi sama saja dengan menjemput malaikat maut! Hiduplah dalam kedamaian! Ikuti kata - kata ibumu!" Sudah kuduga, wanita ini pasti tidak menyetujui hal gila ini.
Meskipun sedikit tidak sopan, aku segera memutus percakapan dan terdiam. Aku benar - benar kagum atas apa yang telah dilakukan ibu. Dia benar - benar misterius di luar, tetapi bagaikan malaikat di dalam. Kurasa, orang seperti dia hanya satu di dunia ini.
Aku segera menyusun rencana untuk melarikan dari penjara tak berbesi ini. Namun, hal itu membuatku melihat kalendar. Sekarang, tanggal 18 Maret 2027. Pada jam lima sore nanti, waktu kelahiranku akan tiba. Ya, hari ini adalah ulang tahunku. Kurasa, tak akan ada yang mengingatnya setelah pertengkaran tadi. Bahkan, ayah belum mengucapkan selamat atau apapun hari ini.
Aku mengingat kembali bagaimana ulang tahunku yang keenam dirayakan. Ada sebuah kue dan tepat enam lilin yang melingkari kue cokelat kesukaanku. Semuanya masih berjalan amat indah.
"Happy birthday, Honey. You are my best. Memberikanku kebahagiaan selama hidupku," Kalimat - kalimat yang begitu berarti dari ibuku. Selanjutnya, ayah menggendongku ke udara sambil berkata,
"Aku mencintaimu, Nak! Semoga kau makin dewasa, oh! Kau semakin tinggi sepertinya. Ah, kau lucu seperti ibumu, ya. Aku mencintai kalian," ujarnya sambil memeluk kami berdua. Aku masih bisa tertawa riang saat itu.
Tapi itu hanyalah kenangan.
Aku merasakan bagaimana satu tahun berlalu dengan sangat cepat dan bagaimana aku merasakan kasih sayang itu juga berlalu. Semua kebahagiaan itu terenggut seketika selama setahun terakhir. Ibu kini sudah tidak berada di sisiku, namun aku berdoa agar dia kini di sisi-Nya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku segera mengikatkan jaketku dan high heels milik ibuku di atas koper. Setelah memastikan situasi di halaman rumah aman, aku segera menurunkan koperku dari atas dengan seprai yang kuuntai kebawah. Setelah itu, kutarik kembali untaian beberapa seprai yang kuikat dan menyembunyikannya di dalam lemari. Lalu, dengan tenangnya, aku keluar dari kamar.
"Maafkanlah ayahmu, ah kau akan bermain lagi ya di hutan?" tanya Nyonya Sharon ketika melihat gaya berpakaianku seperti biasanya.
"Rumah pohon adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri, Nyonya Sharon. Jangan merindukanku," balasku dengan sedikit tawa kecil.
"Ya ampun, mana mungkin. Aku akan menjemputmu dan membangunkanmu ketika hari mulai sore. Jangan main jauh-jauh ya!" pesannya sambil mengacak - acak rambutku.
Aku tidak bercanda, Nyonya. Jangan merindukanku. Mungkin kita akan bertemu kembali setelah dewasa nanti, entah dengan cara apa. Biarlah Tuhan yang menentukannya. Aku harap, kita tidak bertemu lagi dimana aku berada di sisi yang berlawanan denganmu.
Dengan tenang, Nyonya Sharon menutup pintu dengan senyuman, lalu kembali ke dalam rumah. Aku melangkahkan kakiku dengan hati -hati, lalu segera menggapai koperku. Rencana sukses! Aku dengan sigap menyelinap di antara pohon dan segera keluar dari hutan belantara ini. Aku memberhentikan taksi yang melintasi hutan ini.
"Kau ingin kemana, Nona?" tanya supir taksi tersebut tanpa curiga.
"Stasiun Yoru. Bisakah kita kesana sedikit lebih cepat? Aku akan ketinggalan kereta jika kita tidak sampai sebelum jam tiga sore
"Hutan Yoru adalah tempat terpencil dan jauh dari tengah kota. Tempat ini jarang dikunjungi karena kurangnya daya tarik khusus. Hal tersebut juga menjadi alasan mengapa rumah besar milik kami belum diketahui orang lain.
"Sehabis piknik, Nona?" tanya supir taksi itu berbasa-basi.
"Yap! Teman-temanku meninggalkanku dengan sengaja di tengah hutan. Kurang ajar! Kurasa, aku akan membuat perhitungan kepada mereka ketika sampai di kotaku, Kota Severich" balasku bersandiwara kembali. Supir taksi itu hanya cekikikan kecil. Aku melihat pemandangan Kota Yoru untuk terakhir kalinya. Sebuah kota berkabut dengan penghuni tersedikit di negara ini.
Ongkos taksinya bukan main - main. Berharga dua ratus mian! Tidak apa, tabunganku lebih dari cukup untuk semua perjalanan ini.
"Hati - hati di jalan, Nona! Jangan lupa berkunjung ke kota kami lagi!" ujar supir taksi itu dengan penuh senyum.
Aku hanya tersenyum kembali, lalu segera menukarkan tiket kereta online-ku dengan yang asli di salah satu counter.
"Kereta bertujuan Kota Severich akan berangkat sepuluh menit kembali"
Seperti seseorang yang dikejar - kejar hantu, aku berlari terbirit - b***t menuju kereta tua tersebut dan menukarkan karcisku ke salah satu petugas. High heels ini jelas menyulitkanku untuk berlari.
"Silahkan duduk di bangku sebelah sana, Nona."
Yap! Timing yang bagus! Tepat di sebelah kursiku adalah sekelompok polisi yang sehabis bertugas. Tanpa segan, aku pun segera menyapanya.
"Permisi..." ujar dengan sedikit malu - malu dan wajah disertai rasa hormat.
Para polisi itu mempersilahkanku duduk di sebelah mereka. Perjalanan dua jam ini sepertinya akan penuh dengan emosi kembali. Melihat seragam polisi itu membuatku mengingat sosok yang membunuh ibuku.
"Siapa namamu, Nona?" sapa salah satu petugas polisi berbasa-basi.
"Amelia Fresch. Tiga belas tahun, sehabis liburan di Yoru, dan berencana akan pulang sore ini ke Severich" jawabku lengkap dan nama itu seketika terlintas di kepalaku. Omong-omong, Fresch adalah nama keluarga Tante Nina sekarang.
Para polisi itu hanya mangut-mangut. Aku berpura-pura tidur agar perhatianku teralihkan. Tentu saja berpura-pura agar aku dapat menguping pembicaraan mereka yang mungkin sebagian besar mengenai ibuku.
"Kau dengar mengenai Ren Alaska? Kudengar dia akan dipromosikan ke dua jabatan diatasnya. Mengagumkan memang, mengingat dia berhasil memimpin ekspedisi menghabiskan wanita lima ratus topeng tersebut," Salah satu polisi membuka topik yang sangat ingin kudengarkan.
Wanita lima ratus topeng, sebuah julukan untuk seorang Rumina Alaska. Yang tak lain dan tak bukan adalah ibuku. Aku hanya terdiam membisu di sini. Menghabiskan dua jamku di kereta bersama polisi - polisi sialan tersebut merupakan hal termenyebalkan.
Aku menginjakkan kakiku di sebuah kota ramai dan sesak. Ya, sebuah kota yang bertolak belakang dengan kota di sebelahnya. Jam pun sudah menunjukkan pukul lima. Sepertinya, Tante Nina sudah menungguku. Tiba - tiba, ada seseorang yang memelukku dari belakang. Tepat. Wanita itu sudah berdiri di belakangku dengan sebuah pelukan yang diberikan.
"Oh my dear Cia, senang bertemu denganmu! Aku merindukanmu!" seru wanita muda itu sambil mencium pipiku tanpa henti. Ah, aku rindu ibuku. Wangi bedak yang khas darinya menyeruak dan memenuhi indra penciumanku.
"Bukannya itu sedikit berlebihan, Ibu?" ucap seorang anak seumuranku di belakangnya.
Aku mengenalnya. Dia adalah Sara Fresch. Seorang yang lumayan berbakat, menurutku. Dia adalah anak perempuan pertama dari Tante Nina. Kini, pandanganku beralih pada isi ponselku. Terdapat tiga belas panggilan tak terjawab! Ah, hari sudah mulai sore ya? Nyonya Sharon mungkin sedang panik mencariku.
"Ucapkan perpisahan pada keluarga lamamu, honey Cia" saran Tante Nina sambil melepaskan pelukannya. Aku mengangguk ringan.
Di dalam mobil Tante Nina, mereka bersikap sunyi, seolah sepi tidak ada suara. Tentu saja, ini karena aku akan menelepon pria itu.
"Kau pergi ke mana, Cia?" ujar Ayah di ujung sana, suaranya terdengar sangat tegas.
"31 Januari 2016, seorang wanita bernama Rumina Veline menikah dengan seorang polisi bernama Ren Alaska. Mereka melangsungkan pernikahan dengan bahagia" ucapku secara tiba - tiba. Entah apa yang terbesit di pikiranku kini.
"18 Maret 2020, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik, mereka memberinya nama Alluschia Alaska," lanjutku sambil menahan kesedihan ketika mengingat masa lalu yang cukup bahagia. Aku menyeka air mata yang sebentar lagi akan menetes.
"Kini kau ingin berdebat denganku lagi, ya? Mengenai ibumu tak bermanusiawi itu?! Cepat pulang dan jangan menjadi anak yang merepotkan!" geram ayah yang seperti memukul meja kerjanya.
"17 Maret 2027, tepat sehari sebelum ulang tahun anaknya, Ren Alaska menembak mati istrinya sendiri di gudang tengah hutan Yoru. Terlebih, tepat di depan mata anak perempuannya yang datang karena berusaha mencegah ibunya, datang untuk membujuk ibunya pulang," tuturku yang mulai mengeluarkan tangisan. Aku sudah berada di puncak pembicaraan.
"Alluschia, jangan-jangan kau..." Ayah tiba-tiba tersentak mengetahui keadaanku kemarin malam.
"Kau tahu? Ibu berusaha menutup masa lalunya yang kelam dan menggapai dunia putih bersama Ren Alaska, yang tak lain adalah target pembunuhannya dahulu. Namun, dia sadar, hari semakin hari berlalu. Dia tahu bila dia berasal dari dunia gelap dan kotor,"
"Keberadaan Ibu pun akhirnya diketahui setelah bersembunyi sepuluh tahun lamanya. Organisasi berusaha membungkam Ibu yang mengetahui rahasia organisasi seluruhnya. Oleh karena itu, mereka membuat perjanjian"
"Di misi itu, Rumina harus meninggal di tangan polisi, seolah - olah organisasi mulai menyerah. Dengan itu, Alluschia, Ren, dan para polisi lain tidak akan meninggal dalam gudang yang berisikan amunisi." Aku mengakhiri semua penjelasan sambil berusaha tegar dan menahan kembali luapan tangisan.
"Apa yang kau katakan, Cia? Ini Cia, kan? Apa maksudmu dia berusaha..." ucapannya terputus ketika mendengar aku akan melanjutkan percakapan. Aku mengambil napas dan bersiap untuk memberitahukan rencanaku.
"Aku tahu, kau akan dinaikkan pangkat karena berhasil menghabisi wanita lima ratus topeng. Apakah ini tujuanmu ketika mengetahui identitas ibu? Ambisius. Jika saja kau percaya pada kata-kata Ibu... hiks...hiks..." ucapanku terputus karena tidak sanggup menahan air mata yang terus mengalir.
"Cia...mustahil..." Terdengar di ujung sana seseorang sedang terjatuh beserta ponselnya dan menangis keras. Sudah terlambat, tidak ada gunanya untuk menangis lagi. Ibu sudah tidak ada.
"Aku ingin melihat bakatku dengan mata kepalaku sendiri. Melihat dunia luar tanpa mengikuti bayanganmu yang terus menyembunyikanku,"
"Cia!!! Jangan pergi! Jangan tinggalkan ayah sendiri!!!" cegah ayah yang sudah terlambat karena aku sudah sejauh ini.
"Menganggap ibuku bukanlah keluarga sama saja dengan berkata seperti itu padaku. Tidak ada waktu untuk berbalik. Kini, Alluschia Alaska tidak akan ada lagi. Lupakan saja kalau kami pernah ada. Selamat tinggal,"
Selamat tinggal. Sekarang aku bukanlah Alluschia Alaska lagi. Menjadi orang lain adalah pilihan terbaik untuk orang sepertiku, bukan?