BYUUR!!! Seember air dingin menyiram diriku yang sedang tidur di atas kasur. Gemericik air membuat mataku mengerjap-ngerjap, menyadari kalau sesuatu yang menakutkan akan terjadi sebentar lagi. Sementara barang-barang di sekitarku basah kuyup akibat hujan-tak-diundang ini, aku sibuk menyumpah serapah pagi ini. What the hell, kenapa harus sekarang, sih?
"Kau akan bangun jam berapa hah, Nona Aluschia?!" bentak seorang wanita yang mulai menua dan suara yang bahkan bisa membuat gendang telingaku pecah. Ah maaf, aku terlalu berlebihan. Namun, aku memang benci suara yang dia keluarkan setiap pagi. Terlalu bersemangat, maksudku.
"Berisik...sudah kubilang aku akan bangun jam setengah delapan," bantahku sambil menutup wajah dengan bantal dan berusaha memejamkan mata kembali.
"Dan sekarang sudah jam delapan kurang, asal kau tahu saja," ucap Tante Nina dengan ringan seraya menarik ember-embernya kembali dengan santai.
"What the hell!" gerutuku sambil melempar bantalku ke sisi lain kamar, membiarkan selimut yang kugunakan terhempas begitu saja--akibat aku bangkit secara tiba-tiba. Rambutku masih semrawut dan mataku yang dipenuhi kantung mata akibat begadang semalam.
Aku segera beranjak dan membersihkan diriku, merapikan semua penampilanku yang kacau balau. Lalu, tanpa basa-basi, aku mencomot roti selai kacang di atas meja. Oh my god, gerbang akan ditutup tiga puluh menit lagi! Aku segera membuka pintu rumah dan mengucapkan salam. Seragamku yang masih keluar-keluaran, sepatuku yang tidak terikat dengan baik, serta almamater yang kukancing seadanya tetap tidak kupedulikan. Asalkan selamat saja, ini mah.
"Sampai jumpa, Nyonya Ashley!!!" Aku melambaikan tangan dan berlalu pergi, dilanjutkan dengan berlari secepat mungkin agar bisa mengejar gerbang sekolah sialan itu.
Delapan tahun telah berlalu dan kini aku sudah berumur lima belas tahun. Diriku kini adalah seorang Amelia Fresch, putri angkat keluarga Fresch. Sejak telepon terakhir delapan tahun yang lalu, aku sama sekali belum pernah menghubungi lagi pria tersebut. Yah, kurasa itu adalah hal yang sia-sia. Okay, kembali pada cerita dimana aku kini adalah seorang remaja kelas tiga SMP di Severich JHS.
"Oh tidak... lima menit lagi," gerutuku sambil memandangi arloji yang melingkar manis di tanganku dengan langkah yang terus berusaha bergerak secepat yang aku bisa--dengan tenaga sehabis bangun tidur ini.
Jarum jam hanya perlu bergeser sedikit lagi untuk menyentuh angka delapan. Aku sudah sampai di depan gerbang, tepat semenit sebelum gerbang ditutup. Yah, tepatnya gerbang sedang ditutup. Baiklah, aku mengangkat rokku dan bersiap melewati pagar yang akan ditutup. Satu...aku mengambil ancang-ancang. Dua...aku mulai bersiap, dan tiga!
Aku melompati pagar yang berukuran satu meter ini. Banyak murid yang melihat ke arahku. Antara pandangan keheranan ataupun terkagum-kagum. Ah, masa bodo. Asalkan tidak menambah daftar panjang riwayat ketelatan seorang Amelia Fresch. Catat ini baik-baik, satu meter adalah salah satu hasil dari lompat selendang terbaik yang pernah kucapai.
"Bertindak nekat, Amelia?" tegur seorang wanita tua dengan bau mint yang menyelimutinya. Ah, aku benci guru ini, terlebih aromanya. Akupun hanya bisa berbalik menghadap tubuhnya dengan senyuman 'manis' sekaligus mengesalkan yang kulemparkan padanya.
"Namun, yang penting, saya tidak telat masuk ke sekolah dan saya boleh pergi ke kelas, kan, Bu?" balasku dengan santai dan langsung melengos pergi.
Kurasa wanita tua itu sudah lelah mengejar murid yang suka telat ini. Baiklah, dia adalah guru bimbingan konseling. Entah kenapa, banyak sekali murid yang mendatanginya dan curhat. Dan entah kenapa juga, wejangan yang diberikan dirinya ampuh semua. Pantas saja, masa pensiunnya diperpanjang hingga tahun ini. Nasib, nasib. Untung saja sudah tua, kalau masih muda... habis sudah tenagaku dikurasnya.
Ruang biologi I. Aku memasuki ruang kelas tersebut dan sempurna! Belum ada satupun guru yang memasuki kelas ini. Tasku segera kutaruh di sebelah Sara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya setiap pagi. Mengemut lolipop kesukaannya, yang selalu ia simpan stok lollipop tersebut di dalam kantung terdalam tasnya. Ah, ada-ada saja.
"Kata ibu. kau belum bangun dan pukul berapa kau bangun?" tanyanya sambil mengemut lolipop strawberry.
"Setengah delapan. Tiga puluh menit berlari dari rumah ke sini menghabiskan tenagaku," ujarku sambil meminum seteguk air dari botol mineral Sara, yang langsung kuteguk habis semuanya.
"Bagaimana dengan Bu Lambert? Apa dia tidak mengejarmu lagi?" tanya Sara yang sedikit terkejut melihatku datang tepat waktu dengan keringat yang sudah menyelimuti seluruh badan. Harum? Jangan tanyakan hal itu. Parfum yang kupakai pasti sudah luntur baunya sejak aku berlari ditambah dengan melompati pagar sekolah.
"Ooh...guru konseling itu? Dia mungkin sedang lelah, jadi tidak berniat mengejarku seperti biasanya," jawabku seadanya sambil membuka buku biologi yang akan kami bahas nantinya dengan malas.
Tak lama setelah kami mengobrol, guru biologi kami pun datang. Seperti biasanya dengan baju yang sangat stylish. Rok pendek, stocking hitam, dan baju mengajar seperti biasa. Entah apa yang dipikirkan guru ini, tapi jelas sekali bahwa rok pendek dilarang di sekolah ini. Ada-ada saja guru zaman sekarang, huft.
"Buka halaman..."
Pelajaran-pelajaran yang membosankan akhirnya kulewati. Jam menunjukkan pukul dua siang dan yang jelas, perutku sudah meminta untuk diisi. Seperti biasanya, aku dan Sara tidak akan langsung pergi ke rumah. Jadi, kami akan ke kafe dulu. Sebuah kafe sederhana, namun gaya vintage-nya dapat membuatku betah untuk berlama-lama di sana.
"Ibu bilang kalau sementara ini organisasi hanya bergerak secara pasif. Lagipula, kenapa kau tidak hidup dengan damai saja sih?" jelas Sara sambil menunggu pesanannya datang seraya menonton televisi yang tergantung tepat di seberang tempat duduk kami.
"Perjuangan ibuku tidak akan terbuang secara sia-sia. Nah, kurasa perampokan bank kemarin juga ulah mereka, kan?" seruku sambil menunjuk televisi yang menayangkan berita tentang perampokan, membahas betapa mengerikannya Severich akhir-akhir ini.
"Sepertinya. Setelah meninggalnya ibumu, menurut ibuku, mereka tidak mempunyai dana yang memadai. Pembunuh bayaran yang mereka kerjakan tidak terlalu sering mendapat job," tambah Sara yang juga tengah melihat reka kejadian perampokan bank yang menghebohkan kota kemarin.
Aku hanya mengangguk - angguk, lalu menyeruput teh yang sudah kupesan. Gagang teh berwarna putih pucat itu mengait erat dengan telunjukku, disertai chamomile yang sudah menelusuri setiap sudut kerongkonganku yang minta dilumasi. Namun, tiba-tiba...
"KYAAA!!!" jerit dua orang wanita dari arah kamar mandi perempuan, memecah keheningan kafe yang selama ini kami rasakan.
Sontak, hal tersebut mengundang perhatian semua pengunjung kafe, termasuk kami. Banyak orang yang berlari menuju kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, apakah ada sesuatu yang menakutkan di sana? Baik pelayan, pengunjung, semuanya berdesakan, berebutan untuk melihat hal yang meributkan seisi kafe. Tak perlu waktu lama untuk menyaksikan apa yang telah terjadi. Semua pandang mata dibuat terpengarah olehnya.
Dan kami menemukan sesuatu yang menarik.
Kami semua terkejut. Seorang wanita muda cantik terluka di bagian kepalanya dan kini dirinya hanya tergeletak tak berdaya. Napasnya pun tak beraturan, bahkan hampir hilang. Di ujung jarinya terdapat bekas usapan lipstick. Dan dengan pecahan bohlam lampu yang berhambur kemana - mana, disertai sebuah lampu tua yang putus dan menimpa korban yang sedang berada di bilik tersebut, membuat kepalanya terhantam seketika.
"Apa dia sudah meninggal?" ucap salah satu pengunjung yang tak berani mendekati korban sambil berbisik dan pastinya, aura ketakutan sedang menghampiri semua pengunjung.
Tanpa basa-basi, aku menghampiri wanita yang telah tergeletak tak berdaya tersebut. Aku memeriksa nadinya. Masih ada harapan, batinku dalam hati. Keadaannya memang sekarat, tapi aku yakin, beberapa jam lagi dia bisa memberikan kesaksian. Aku harus segera bertindak.
"Panggil 911 dan polisi. Dia masih hidup dan jelas ini bukanlah kecelakaan," seruku dengan tangan yang masih menggenggam urat tangan wanita itu.
"Dan kalian berdua! Jangan bergerak selangkahpun dari sana! Kalian adalah tersangka dan salah satu dari kalian kemungkinan pelakunya" tambah Sara menunjuk dua orang perempuan yang berdiri dengan kaku di pojok kamar mandi.
Aku memakai sapu tanganku untuk memegang barang - barang di sana. Jelas sekali bila di sana, potongan tali yang terputus mempunyai bekas yang aneh. Aku kembali melihat lampu - lampu yang bergelantungan di atas setiap bilik kamar mandi. Bohlam - bohlam di setiap lampu diselimuti oleh tudung kayu, yang kurasa cukup untuk membuat kepala seseorang terluka parah. Secara kasat mata, memang lampu tersebut sudah tua. Namun, talinya kurasa cukup kuat dan tidak mudah terputus. Jadi, bisa disimpulkan bahwa ini terdengar mustahil untuk sebuah kecelakaan.
Satu hal dapat kutarik. Ini adalah percobaan pembunuhan.
Kasus pertama. Sebuah percobaan pembunuhan terjadi di Kafe Lúveit pada pukul jam tiga kurang lima belas. Korban adalah seorang wanita muda yang berumur sekitar dua puluhan dikarenakan tertimpa tudung lampu dari kayu.