Aku menutup kepalaku dengan tudung jaket yang kupakai. Ya...para polisi sudah datang. Meskipun yang datang adalah polisi yang masih hijau, aku tetap tidak boleh lengah. Sejauh apapun aku membenci mereka, menjauhi adalah kewajiban.
"Korban adalah Furimuta Vivy, berumur dua puluh empat tahun, seorang pekerja magang. Jadi, kalian adalah saksinya?" tanya seorang polisi kepada kedua wanita tersebut dan tangan yang sibuk mencatat. Goresan tinta hitam pekatnya memenuhi catatannya dan membuatku menjadi tidak suka. Ingat, ini suatu kesalahan besar jika kalian membiarkanku melihat sebuah halaman yang terlalu penuh karena aku akan bersiap meledakkan rasa perfeksionis ini. Hei! Semua orang akan dibuat pusing ketika membaca catatannya. Baiklah, kembali ke topik karena hal ini sama sekali tidak penting.
"Ya dan kami juga dilarang bergerak selangkahpun oleh kedua anak ini" ujar salah seorang sambil menunjuk kami yang sedang memeriksa TKP ( Tempat Kejadian Perkara ) dengan santainya dan membuat Sara segera menarik kerah belakang jaketku untuk mundur dari titik awal. Gadis di sebelahku ini hanya menyengir, menunjukkan tanda peace dengan membentuk angka dua melalui jemari lentiknya.
Kami pun bergidik karena telah ketahuan oleh para polisi tersebut, sehingga hanya bisa memasang wajah tak berdosa layaknya anak polos yang ketahuan melakukan kesalahan besar. Huft, padahal tinggal sedikit lagi kami bisa memecahkannya. Dasar polisi mengesalkan! Tinggal menunggu kesaksian mereka, maka semua ini akan menjadi jelas--sejelas kerlip bintang di langit malam. Salah satu dari mereka datang dan aku tahu pasti apa yang akan mereka lakukan pada kami.
"Maaf, tapi ini bukan wilayah untuk bermain detektif - detektifan," seru salah seorang petugas sambil menarik baju Sara yang sedang memasang wajah innocent favoritnya, terutama dengan wajah super imutnya itu.
Kebetulan sekali, akhirnya aku berhasil mengidentifikasi potongan tali yang misterius itu. Segera saja, aku mengamatinya lebih dekat.
"Hei! Jangan asal menyentuh..." ucapannya terhenti karena tindakanku yang terlihat aneh.
"Bukankah ini terlalu cepat untuk menyimpulkan sebuah kecelakaan? Lihat potongan tali ini! Terlihat bahwa masih terdapat simpul kecil di tali yang menggantung," tuturku dengan cermat sambil menyerahkan potongan tali dengan sapu tangan kepada polisi.
"Ditambah lagi, seharusnya tidak hanya tali ini yang akan putus, kan? Tanya saja ke pemilik kafe. Kurasa semua lampu di sini berusia sama. Namun, kenapa lampu lainnya masih terlihat kuat-kuat saja?" bantahku kembali sambil menyerahkan potongan tali tersebut.
Alhasil, pemilik kafe pun ditanyai dan hasilnya persis seperti dugaanku. Baiklah, kurasa ini akan ke tahap selanjutnya. Interogasi.
"Baiklah, bawa kedua wanita ini untuk ditanyai!" perintah inspektur mereka, lalu menyerahkan bukti tersebut ke petugas forensik.
Dan tetap saja aku tidak boleh ikut mereka dalam menginterogasi saksi. Ya, setengah terpaksa, akhirnya aku menyadap mereka dengan menempelkan penyadap kecil berbentuk kacing di salah satu kemeja mereka. Kalau itu sih, mudah-mudah saja melakukannya.
"Yosh! Tinggal sedikit lagi" ujarku dengan penuh semangat ketika berhasil menyadap percakapan mereka melewati earphone.
Berbeda denganku yang merasa berdebar - debar-tak-jelas ini, dia tampak terlihat tenang bahkan tak tertarik. Ya, dia, Sara Fresch.
"Mendapat bukti baru?" tanyaku sedikit penasaran ketika melihatnya memegang sesuatu.
"Hanya sebuah potongan kertas dan selotip," balasnya ringan dengan tatapan tidak peduli.
Aku kembali memerhatikan bukti baru tersebut. Ada apa sih, di pikiran para polisi tersebut? Mereka bahkan melewati barang bukti seperti ini. Apa bagi mereka ini tidaklah penting? Sedikit lagi, misteri ini akan terpecahkan. Tinggal mendengarkan kesaksian mereka, maka semua kepingan ini akan menyatu dengan sempurna.
"Kau sepertinya tertarik dengan misteri, kan? Kukira kau tidak akan tertarik dengan mainan anak kecil seperti ini. Pelakunya seperti anak kecil," komentar Sara yang tampaknya dapat menebak isi pikiranku.
"Entahlah, aku hanya merasakan ini seperti bermain puzzle. Semakin mendalami suatu kasus, semakin membuatku ingin mengungkapkannya" jawabku dengan polos beserta pikiran yang berusaha menyatukan semua kepingan puzzle misteri ini.
"Kau merasa begitu? Kurasa pepatah itu benar. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya" komentarnya kembali, sambil memutar-mutar selotip tanpa rasa bersalah.
"Apakah ibuku dulu juga seperti ini?" gumamku tak terlalu jelas, tapi masih dapat terdengar di telinga Sara.
"Bukan ibumu. Ayahmu, kau tahu dia orang seperti apa kan? Ambisius dalam suatu kasus," balasnya dengan santai lalu membalikkan badannya.
Aku hanya terdiam dan jujur saja, aku membenci hal ini. Memuakkan sekali kalau aku harus menurunkan sifat seperti itu. Lagipula, bagaimana nasib pria itu sekarang? Apa dia sudah jatuh ke jurang yang sangat dalam?
Sepertinya, interogasi sudah dimulai. Aku memasang kupingku dan mendengarkannya rapat-rapat.
"Namaku Miare Arata. Aku seorang pelayan di sini. Aku menemukannya ketika aku sedang membersihkan kamar mandi. Seperti yang kalian tahu, aku tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya. Aku hanya membersihkan lantai dan tiba-tiba terdengar suara kepala yang terbentur di pintu serta lampu yang tiba-tiba putus. Hingga kami membuka paksa pintu tersebut dan menemukannya dalam kondisi seperti itu" jelasnya dengan pembawaan tenang, tanpa merasa risih sedikitpun.
"Jadi, kau berada di sana sebelum korban datang hingga terluka?"
"Ya" jawabnya singkat dan lagi-lagi, tidak ada keraguan yang terdengar. Tapi, hei! Bukankah bila dirinya semakin tenang, maka akan semakin mencurigakan? Sebaiknya kusarankan kepada kalian yang membaca ini agar tidak terlalu santai dengan orang yang sangat tenang. Ini hanya saran saja, sih.
Serentetan percakapan terdengar dari alat penyadap. Namun terdengar jelas, bahwa suaranya terdengar sedikit bergetar di akhir. Tapi, kita tidak bisa menyimpulkan hanya dengan fisik, kan?
Butuh waktu tiga puluh menit untuk menginterogasi sang pelayan kafe tersebut. Waktu yang cukup singkat untuk sebuah keterangan yang jelas.
"Namaku Kazawa Lucid. Sahabat karib Vivy. Tetapi tak kusangka...hiks..." isak tangis terdengar dari ujung sana, menyiratkan kehilangan dan kesedihan yang tercampur rata dalam emosi wanita yang sedang memberikan kesaksian itu.
"Aku ke kamar mandi tujuh menit setelah Vivy. Saat aku di kamar mandi, kurasa dia masih berada di kamar mandi hingga lampu tersebut jatuh," tuturnya dengan sedikit tersendat karena sesekali dia harus membuang lendir di hidungnya. Oh ya ampun, menjijikkan sekali.
"Kami yang khawatir dengan keadaannya, langsung mendobrak pintu kamar mandi. Ternyata..." lanjutnya dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi, membuat penjelasan itu terputus.
Suara mulai terdengar tidak begitu jelas. Ada yang masih kuherankan, jika lampu jatuh kenapa dia bisa tidak menghindar?
"Hei... benda yang biasa dibawa dan tidak menimbulkan kecurigaan itu seperti apa?" tanyaku sambil memutar otakku.
"Um..."
Mata kami secara bersamaan tertuju pada benda yang kami gunakan untuk menyentuh barang bukti dan juga barang yang biasa dibawa kemanapun tanpa kecurigaan. Hal ini pun harus digabungkan dengan fakta bila salah satu tersangka adalah pegawai kebersihan. Barang apa? Kain pel? Jelas tidak mungkin. Tunggu, jangan-jangan…
"Sapu tangan!" ucap kami berdua serentak dengan kekompakan yang jelas membuat seluruh pasang menatap kami.
Keping selanjutnya sudah dapat kususun. Baiklah, permasalahan berikutnya. Sapu tangan dapat dibawa semua orang dan ditinggalkan dimana saja, kan?. Belum ada seorangpun yang tereliminasi dari daftar tersangka sejauh ini.
"Bersabarlah, mungkin kita bisa mengetahui hal selanjutnya dari keadaan fisik mereka semua," ujar Sara sambil melirik jamnya.
"Sudah jam lima. Tante Nina pasti mengkhawatirkan kita," ucapku sambil melirik ponselku dan ternyata benar. Lima belas panggilan tak terjawab dan semuanya berasal dari wanita tua itu.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya mereka keluar juga. Dari wajah mereka, sepertinya tidak ada kemajuan.
Aku langsung berhambur menuju polisi dan menabrakkan diriku di petugas polisi yang kupasangi penyadap. Jemariku dengan cepat bertingkah, mengambil kancing kecil--berupa penyadap--yang terjatuh dari kemejanya.
"Kuambil kembali," gumamku sambil meremas - remas alat penyadap tersebut. Nah, tinggal satu tersangka yang kucurigai.
Tepat pada momentumnya. Kedua wanita itu berjalan beriringan dengan raut wajah yang mencemaskan keadaannya masing-masing. Mereka tak terlihat begitu baik.
"Jam berapa sekarang?" tanya orang yang bernama Lucid tersebut.
Sang wanita pelayan hendak menggulung lengan kemejanya, namun tiba -tiba dia mengurungkan niatnya dengan melihat jam di ponselnya. Kedua mataku jelas terpancing dengan gerak-geriknya, membuat senyum kecil tersungging manis. Dengan tenang, aku pun menghampirinya, lalu menggulung lengan sang pelayan dengan cekatan. Rasa penasaranku memuncak kali ini.
"Kenapa tangan kakak terluka?" tanyaku dengan pura - pura penasaran.
Otomatis, perkataanku membuat perhatian para polisi teralih ke kami. Dia tampak bingung untuk menjawabnya, kemudian senyum kecil pun ia lemparkan demi menutup sepasang manik mata yang melotot.
"Oh, ini. Tangan tak sengaja terkena pisau dapur" balasnya setenang mungkin.
"Um...biar kusarankan agar tidak memakai ikat pinggang terlalu kencang, nanti pinggangnya sakit," saranku sedikit misterius.
"Kakinya memar tuh, jangan lupa diobatin ya" tambahku lagi dengan lebih misterius dari sebelumnya.
Tentu saja, terdapat makna tersirat di balik semua kata tersebut. Nah, segera ungkapkan isi pikiranmu, Cia! Mari kita pecahkan kasus ini dengan senyum terbaikmu.