Suasana seketika menjadi hening setelah aku mengucapkan kata-kata tersebut. Seakan waktu telah berhenti dan semua pandangan menuju kepadaku. Dan inilah waktuku untuk menjadi center.
"Aku hanya ingin bilang kalau dia mungkin menyembunyikan sesuatu di dalam ikat pinggangnya. Ah, ya? Dimana sapu tanganmu? Kurasa, seseorang yang akan membersihkan toilet seharusnya membawa sapu tangan. Ada banyak hal yang harus kau bersihkan, bukan? Um, apa mungkin kau tidak datang untuk membersihkan toilet?" Aku semakin menyudutkan sang pelayan wanita tersebut, menatapnya dengan langsung mendongakkan kepala ke depannya. Sorot mataku kini menajam serta sebuah demon smile yang cukup untuk wajahnya bercucuran keringat.
Wajahnya semakin pucat. Giginya mulai menggertak dan terlihat jelas keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Tangannya mengepal, seperti berusaha menahan diri dari amarah yang mungkin sudah ingin meluap. Tapi, peduli batu. Toh, hal itu menandakan dirinya mulai merasa disudutkan.
"Nona, sudah kubilang, ini adalah kecelakaan," bantah polisi yang bersikukuh terhadap pendapatnya tanpa melepaskan tatapan tidak suka terhap ke-soktahu-an diriku. Aku hanya balas menatapnya sebal.
"Kak Lucid, apakah Kakak tidak curiga terhadap korban yang berdiam diri di kamar mandi sangat lama?" tanyaku dengan tangan yang terlipat di pinggang, sedikit angkuh memang. Dahi Kak Lucid berlipat, menandakan dia sedang berpikir keras untuk mengingat semua hal yang dia ketahui. Tak beberapa lama, kerutannya mulai mengendur seolah ingin berbicara.
"Awalnya begitu. Tetapi, setelah mendengar suara seseorang sedang menyiram di kamar mandi, aku menjadi yakin kembali kalau dia masih baik-baik saja di sana. Tak lama kemudian, lampu pun jatuh dan aku mendengar teriakan sang pelayan," jelasnya dengan tenang, tanpa ragu sedikitpun. Yah...meskipun dari nada suaranya yang bergetar, dia terdengar seperti merinding.
"Bukannya seseorang yang sadar dapat menghindari lampu tersebut? Kenapa kau bisa mengetahui kalau ada seseorang yang terluka? Bukannya aneh jika sang korban tidak berteriak?" selidikku semakin dalam. Dan hei, kalian harus tau bahwa muka sang pelayan semakin pucat. Keringat dingin? Tentu saja cucurannya semakin deras. Atmosfer ruangan ini memanas dan lambat laun para polisi mulai memudarkan tatapan mengesalkannya.
Aku terdiam sebentar, menunggu dua petugas polisi yang kupinta datang. Tentu saja aku berbohong, aku bilang itu merupakan pesan dari Sang Inspektur. Tidak ada hal yang jujur dalam kejahatan, bukan? Lagipula, kebohongan ini juga untuk kebaikan korban.
"Inspektur! Aku menemukan sapu tangan dengan kloform di dalamnya!" seru petugas polisi itu dengan semangatnya, mengingat aku pernah berkata padanya bahwa kasus ini akan terselesaikan jika benda itu ditemukan.
"Sejak kapan..." Inspektur itu hanya terbingung, melihat bawahannya sudah membawa barang yang bahkan tidak pernah diperintahkannya.
"Di dalam toilet juga terdapat potongan kertas dengan selotip. Mungkin ini adalah skenariomu," lanjutku dengan berdeham sebentar, lalu melanjutkan posisi cool. Oh my god, Ibu, kau harus melihat Alluschia-mu yang sangat keren!
"Sesuai dengan perkiraanmu, korban pasti akan datang ke kamar mandi untuk membersihkan riasannya dan buang air kecil. Ia pasti juga melihat toilet yang lain ditempeli dengan kertas bertuliskan 'toilet rusak'. Sebelum korban masuk ke dalam bilik, kau terlebih dahulu membekapnya, namun korban yang memberontak berhasil mencakar tanganmu," ungkapku dengan santai. Para polisi hanya tercengang, diam, dan bahkan ada yang tidak ingin mendengarkanku. Tanganku kembali kumasukkan ke dalam kantung dan mulai melangkahkan kaki menuju tengah ruangan.
Aku mengambil nafas, memberhentikan ucapan, dan memerhatikan sekitarku. Setelah itu, aku berjalan menuju sang pelaku. Secepat kilat, aku menarik ikat pinggang tersebut. Dia bahkan tidak menyadari gerakanku. Benar-benar kilat layaknya sesuatu tak terlihat.
Klontang!!!
Sesuai dengan dugaanku. Silet kecil pun terjatuh dari ikat pinggang tersebut. Dirinya seketika tak berkutik. Semuanya tercengang dan kini aku harus melanjutkan analisisku. Gayaku pun kubuat semakin keren, ditambah dengan barang bukti yang berserakan di sekitarku.
"Di lukamu seharusnya juga ada serpihan kuku korban. Korban yang telah pingsan kau dudukkan di bilik toilet tersebut. Selanjutnya, kau hanya perlu naik ke atas karena kau berusaha menyayat lampu dengan cepat, kakimu terkena batas antara bilik sehingga memar. Sepuluh menit adalah waktu yang cukup untukmu, bukan? Lalu..." Tanpa henti, seorang Amelia mengatakan analisisnya tanpa keraguan sedikitpun. Ya benar, aku bukan jenis orang yang tidak tega untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit karena aku sudah lama merasakan pahitnya kebenaran sejak aku kecil dahulu.
"Cukup! Ya, aku pelakunya. Akulah yang membunuhnya karena dia telah merebut segala sesuatu dariku!" Dia berteriak sambil menutup telinganya seolah tidak ingin mendengar apapun lagi. Matanya membelalak, seolah tak percaya karena kejahatannya dengan mudah terbongkar.
"Dia merebut semuanya. Pekerjaanku, kukira aku tidak diterima di salah satu perusahaan besar karena kemampuanku yang kurang. Tapi, dialah yang mendatangi dan menghasut para penilai agar tak memberikanku pekerjaan. Semua temanku menjauh karena dirinya. Bahkan tunangan yang hampir menikah denganku bahkan membatalkan pernikahannya dan bahkan mendekati wanita tersebut. Lalu...hingga aku tak bisa merasakan setetes darahku lagi, dia merebut semuanya!!!" tuturnya sambil menjatuhkan diri dan para polisi segera menangkapnya. Tanpa ba-bi-bu, tangannya diborgol oleh petugas di dekatnya. Dirinya dipaksa berdiri, meskipun air matanya masih belum berhenti mengaliri wajahnya yang pucat. Tangannya tidak berkutik karena lebih memilih memasrahkan dirinya kepada polisi.
Tangisan penyesalan terdengar memecah keheningan. Seorang wanita yang tertunduk dan mengakui kejahatan yang dilakukannya. Setelah itu, kabar baik terdengar bahwa korban telah selesai operasi. Rumah sakit menelepon ke kafe dan mengatakan semuanya telah menjadi baik-baik saja. Orang-orang yang sebelumnya ditahan di dalam pun sudah boleh meninggalkan tempat ini.
Seseorang yang telah merebut semuanya darimu memang tidak pantas untuk hidup. Kata-kata itu seketika terngiang-ngiang dalam benakku.
Kurasa, tindakan wanita itu hampir benar untuk membalas dendam. Tapi, setidaknya jangan menghilangkan eksistensi seseorang, bukan? Tidak ada kaitannya jika harus menghilangkan nyawa seseorang karena luka di dalam hati akan terus berbekas meskipun kamu sudah melenyapkan orang yang mengukir luka tersebut. Revenge is still revenge. Eksistensi tidak bisa dikembalikan lagi ke alam dunia. Kau adalah manusia, bukan kodratmu jika harus membunuh sesamamu dengan keji.
"Ayo, pergi" ujar para polisi tersebut, mendorong tubuh pelayan itu untuk terus bergerak meskipun kakinya tertatih-tatih akibat memar yang masih membekas. Air matanya tidak sempat dia seka, membuat riasan wajahnya semakin berantakan
Aku mengaktifkan ponselku. Begitu aktif, sebuah panggilan tertera di layar. Aku segera membalasnya. Siapa lagi jika bukan dari Tante Nina? Ya ampun.
"Tante Ashley? Ada kasus di sini. Tenang, ini tidak terkait dengan konseling sekolah. Sampai jumpa"
Anak tidak sopan. Memang, itulah julukan yang diberikan kepadaku oleh orang-orang di dekatku. Entahlah, aku juga bingung kenapa aku bisa senakal ini? Apa karena tidak ada yang membimbingku? Namun, selama ini ada Tante Nina di sisiku. Menurutku, aku tidak musti memperlakukan seseorang yang harus menjagaku ataupun mengkhawatirkanku karena aku bisa melindungi diri sendiri.
Kembali ke cerita, kini hari sudah mulai malam. Pelaku tersebut ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Di dalam kafe pun hanya tersisa beberapa polisi, ditambah banyaknya pengunjung yang sudah pulang. Sirine mobil polisi memecah kesunyian malam di Severich, menambah daftar panjang kriminalitas yang sudah terjadi di sini. Severich, sebuah kota ramai yang terkenal akan kriminalitasnya, sebuah kota yang dicintai banyak orang, serta sebuah kota yang tepat untuk dijadikan persembunyian.
"Aaah... ini membuatku tidak makan siang," protesku sambil melirik makan siang yang tentunya sudah dingin. Membuat lidahku tidak berselera, namun perutku terus melonglong, meminta untuk diisi.
"Siapa nama kalian?" tanya inspektur polisi yang tiba- iba sudah berada di depan meja makan kami. Mengganggu pemandangan saja.
Mengganggu saja. Apa dia tak lihat aku sedang berusaha menikmati makanan? Ah, hiraukan saja. Peduli sekali dengan inspektur polisi. Sara yang sudah tahu kelakuanku, langsung bertindak. Dengan posisi anggun, dia mulai berbicara dengan mereka.
"Ah, maaf. Nama saya Sarah Fresch dan dia adalah Amelia Fresch. Dia adalah saudara angkat saya. Maafkan dia karena kurasa dia tidak ingin makan siangnya diganggu lagi," jelas Sara sambil menunduk sopan, menunjukkan wajah manis yang sangat dibuat-buat. Matanya yang menyiratkan ketidaksukaan hanya bisa ditutupi dengan pandangan menunduk yang menunjukkan sopan santun--suatu kata yang tidak pernah ada di kamusnya.
"Pelayan? Bisa ambilkan makanan lagi? Cukup nasi goreng saja empat porsi. Kami akan bersama di sini terlebih dahulu." seru sang Inspektur sambil melambaikan tangan, memberikan tanda pada pelayan berkemeja putih di depan kasir.
Mendengar hal tersebut, tentu saja aku segera menghentikan makan malamku dan menatapnya balik dengan tidak percaya. Suatu raut wajah berbinar tergambar jelas di wajahku serta dentingan sendok yang kugunakan sudah terhenti.
"Aku ingin berterimakasih atas analisis kalian di kasus ini dan sebagai gantinya, kami akan mentraktir kalian. Kalian belum makan siang, kan?" ucapnya sambil menarik kursi di depan kami dan duduk di depan kami persis. Kelopak mataku menutup, berusaha menyembunyikan suatu ketidaksukaan.
Menyebalkan. Aku harus duduk bersama para polisi, yang untungnya belum ada yang tahu kalau di depannya adalah anak buronan internasional. Kalau tahu, akan ada banyak urusan yang harus kuterima. Ayolah, siapa sih, yang tidak kenal dengan Rumina Velline? Hei, para polisi ataupun biro keamanan nasional pasti mengetahuinya dari berkas-berkas kejahatan yang bertumpuk.
"Siapa orang tua kandungmu, Nona Amelia? Maaf jika menyinggungmu" tanya seorang polisi yang menembak tepat di permasalahan hidupku secara tiba-tiba. Kenapa dia menanyakan privasi, sih? Jelas-jelas, ibu kandungku sudah kalian tembak mati delapan tahun yang lalu.
Aku hanya terdiam. Tanpa mengacuhkan pikiranku yang sudah lelah, aku berusaha bersandiwara bila aku adalah anak dengan kisah hidup menyedihkan dimana belum pernah melihat wajah orang tua dan hanya mengetahui dari sebuah foto. Baiklah, akan kuusahakan berakting persis seperti narasi yang berputar di kepalaku. Itu mudah, mengingat aku mewarisi bakat menyamar dari ibu.
"Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mereka dinyatakan sebagai korban hilang," balasku singkat dengan mimik sedih tak jelas, tapi yang jelas, hatiku ingin tertawa terbahak-bahak. Derai tawa harus kutahan, mengingat aku bisa saja tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis sambil berguling-guling.
Terkadang, aku merasa terlalu banyak sandiwara di hidupku. Namun, apa boleh buat, sandiwara adalah hal terpenting dalam kasus seperti hidupku ini. Asalkan jangan lupa wajah asli saja. Dunia ini sudah dipenuhi hipokritas, penuh dengan kemunafikan.
Sara menyenggol lenganku, membuyarkan lamunanku. Lagi - lagi, dia tampak dapat membaca isi pikiranku. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, tapi aku yakin dia sedang tertawa dalam hati ketika melihat wajah aktingku yang sangat kelam (Walaupun sebenarnya lebih ke suram, seolah tidak mempunyai masa depan).
"Tapi kalian hebat sekali. Maafkan kami karena sempat meragukan kalian," ujarnya kembali sambil meneguk segelas limun di depannya sambil menatap kami ramah.
"Tak apa. Kami sudah biasa diperlakukan seperti itu," jawabku singkat sambil menyuapkan sesendok nasi, membuatku mulutku semakin penuh saat berbicara.
"Kau mengingatkan kami kepada seorang komisaris polisi sekarang. Cerdas, bijaksana, namun terkadang dia sedikit ambisius, sih" tambahnya kembali sambil menatap wajahku kembali. Kini dia menaruh gelas limunnya seraya menatap misterius manik biru yang kumiliki. Dia tampak cermat mengamati setiap lengkungan mataku, iris mataku, hingga rupa wajahku.
"Oh ya, siapa?" tanya Sara yang tentunya beprura-pura penasaran. Padahal, dia sudah tau siapa yang dimaksudkannya!
Aku menyeruput tehku dengan santai. Chamomile memang teh terenak sedunia. Ah.. surganya.... Hingga surga kecil itu harus terhenti seketika.
"Ren Alaska," ucap inspektur itu dengan singkat, tapi jelas membuat perubahan besar dalam suasana 'surga' yang sedang kurasakan.
Mendengar namanya membuatku langsung tersedak dan kenikmatan dunia ini langsung berakhir begitu saja. Sara menepuk-nepuk pundakku. Para pelayan membawakanku segelas air putih di atas nampan cokelatnya. Tanpa basa-basi, aku langsung menghabiskan segelas air putih tersebut dalam satu tegukan seolah masih tidak percaya karena disamakan dengan pria itu.
Dua kata yang memuakkan.
"Ah, maafkan diriku. Lanjutkan saja," tuturku sambil mengelap mulutku, berusaha bersikap seanggun mungkin.
Aku membersihkan mulutku dari tumpahan teh yang baru saja kusemburkan akibat dua kata yang membuatku mengingat masa lalu yang sudah kukubur dalam itu. Tanpa mempedulikan manusia di depanku, aku melanjutkan suapan berikutnya dari nasi goreng hangat.
"Oh, pria hebat itu, ya! Dia telah menikah, bukan? Kalau tidak salah...setelah setahun dia menyelesaikan penjahat itu dan kalau tidak salah lagi, dia menikah dengan Arry Tumika, bukan?" lanjut seorang polisi di sebelahnya dengan bersemangat, seperti menceritakan pujaannya saja.
Kini aku hampir saja memecahkan cangkir teh. Bisik-bisik memuja pria itu seketika memenuhi kafe kecil ini, seolah menghimpit dadaku.
Sara langsung mengantisipasi kecelakaan selanjutnya dengan menaruh tangannya di perutku. Wajahnya sedikit khawatir. Namun, tak lama kemudian, akhirnya aku dapat mengendalikan diriku. Berusaha setenang mungkin, meskipun suasana hati yang mendadak kacau akibat berita super hebat itu.
"Oh...benarkah? Wanita yang menikahinya pastilah seseorang yang berintelektual," komentarku sambil menyeruput teh dengan anggun, meskipun hatiku rasanya sudah seperti dihujam ribuan pedang.
"Ya, mereka adalah keluarga yang sangat serasi."
Dasar! Pria macam apa yang menikah kembali setelah membunuh istrinya sendiri? Tak sudi lagi aku memanggilnya ayah seumur hidup. Malam ini adalah malam yang panjang, bukan? Dan aku bersumpah. Alaska, aku tidak akan kembali padamu atas semua luka yang telah kau sayat.