Akhir pekan memang sangat membosankan. Hampir tidak ada pekerjaan sama sekali. Yah, hanya satu pekerjaan sih. Apalagi jika bukan menjadi pelayan salah satu cafe terkenal di Severich? Dengan kemeja putih berbalut apron cokelat, aku bermondar-mandir menuliskan pesanan para pelanggan.
"Jadi, arabian coffee dua dan american satu, ya? Akan segera disiapkan," balasku dengan setengah malas dan pulpen hitam yang kuketukkan berkali-kali agar tinta yang keluar dapat terlihat nyata. Dengan gontai, aku merobek kertas tersebut dan menempelkannya di dinding yang penuh dengan pesanan. Selanjutnya, biarkan barista yang mengambilnya.
Inilah pekerjaanku di akhir pekan. Bekerja sebagai pelayan di kedai kopi yang lumayan terkenal di tengah kota. Seburuk - buruknya diriku, aku masih mengetahui mengenai balas budi. Jadi, tidak banyak merepotkan Tante Nina mengenai finansial. Yah..menjadi waliku saja sudah cukup sulit, jadi jangan sampai masalah uang pun harus diributkan setelah masalah attitude-ku. Yah...meskipun aku tahu Tante Nina bukanlah orang yang suka meributkan uang.
"Pengunjung hari ini ramai, ya? Kurasa karena sekarang adalah golden week, bukan?" komentar Mischa sambil membawa nampan yang berisikan enam gelas kopi, tapi dengan wajah yang masih bisa tersenyum. Benar-benar gadis periang. Berbeda denganku yang masih memasang wajah masam sambil mengetuk-ketukkan pulpen yang tintanya hampir habis itu.
"Yah...selain itu, katanya ada banyak kasus yang terjadi akhir - akhir ini di Severich, bukan?" tambahku sambil menegakkan topi yang kupakai, menyambung percakapan dengan Mischa yang bahkan masih terlihat riang meskipun direpotkan dengan setumpuk pesanan kopi ataupun omelette.
Jika dihitung dari bulan ini, sudah enam kasus yang terjadi di kota ini. Severich semakin liar saja. Polisi di sini memang sudah berupaya sebesar mungkin, tapi aku tetap tidak suka dengan mereka yang sempat meremehkanku.
Semakin siang, semakin banyak pengunjung yang mendatangi kedai ini. Padahal, harga kopi di sini cukup mahal. Entah apa yang dipikirkan para warga Severich untuk menghabiskan isi dompet mereka. Mischa juga semakin repot, bahkan harus berlari kecil mengantarkan nampan cokelat yang bisa diisi delapan cangkir kopi. Sedangkan aku? Masih saja menghampiri satu meja ke meja lain, menuliskan pesanan.
"Kau, Nona Amelia?" sapa seseorang sambil menatapku sekali lagi. Maniknya menatap lurus wajahku yang masih masam dan aku tentu saja mengenali pria paruh baya di depanku.
Lagi-lagi polisi. Seorang pria dengan jas hitam, rambut klimis, dan sepatu pantopel hitam legam. Inspektur kemarin, kalau tidak salah namanya Sir Ferid. Dia kemari bersama teman-temannya, yang membuat diriku semakin masam saja melihatnya. Segerombolan polisi itu memesan berbagai jenis kopi. Sepertinya, mereka berniat memborong kopi-kopi di kedai ini. Ah sudahlah.
"Ini kopinya, terima kasih telah memesan," ucapku seraya menyuguhkan selusin kopi di atas meja dengan kuping yang terpasang tentunya. Mungkin ada informasi yang bisa didapat?
"Kalau tidak salah, Alaska akan turun tangan dalam kasus ini, bukan? Dia berjanji akan tiba sekarang, kenapa dia tidak datang juga?" seru atasan Sir Ferid melihat arloji yang melingkar di atasnya.
"Organisasi itu..." ucapannya terhenti ketika melihat diriku yang masih menyuguhkan kopi.
Gawat darurat. Pria itu akan datang. Aku harus pergi dari sini. Secepatnya! Aku segera melepaskan celemekku serta topi hitam ini begitu sampai di ruang ganti pekerja. Dengan terburu-buru, aku pun menghampiri bosku.
"Aku ingin izin sekarang, ada urusan penting," seruku sambil mengambil tas ransel.
"Tidak bisa, terlalu banyak pelanggan sekarang. Tundalah sekitar lima belas menit lagi," cegat atasanku sambil menarik tanganku.
"Tapi urusan ini..." Aku seketika tercekat ketika melihat pria itu sudah berada di depan kedai dan duduk di antara para polisi.
Aku buru-buru menundukkan kepalaku, berpura-pura tidak melihat ke arah pria itu. Kenapa kau bersembunyi, Cia? Dia adalah orang yang turut andil dalam merawatmu. Aku membencinya. Dan kini, setelah mengetahui dia telah menikah lagi, membuat amarah semakin memuncak. Bahkan, kemarin aku sempat membanting-banting tasku karena kesal mendengar berita baru darinya.
Dan kini dia berada di sini. Dengan wajah sumringah, tanpa beban sama sekali. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya.
"Amel!!! Bisa kau layani polisi di sana? Kami semua sibuk sekali!" panggil Mischa dengan sedikit kesal.
"Aku akan pu..." ucapanku terputus begitu melihat seseorang di belakangku seolah ingin berkata 'aku akan memecatmu besok'.
Apakah kiamat sudah dekat? Ini lebih parah dari yang kukira.
Dengan sedikit canggung, aku berdiri menuju seseorang yang terakhir kali kulihat delapan tahun yang lalu. Tak ada yang berubah, hanya saja dia semakin tua. Bahkan uban pun sudah mulai tumbuh di antara rambutnya.
"Mau pesan apa?" tanyaku sedikit sinis kepada 'pria itu'.
"Oh...arabian coffee-nya satu dan omelette rice satu juga," balasnya sambil menatapku dalam. Oh my god.
"Hanya ini? Akan segera disiapkan," balasku dengan sedikit cuek, seolah tidak terjadi apa-apa
"Kulihat kafe ini ramai. Tidak usah berburu - buru untuk kami," ujarnya dengan ramah dan sedikit tertawa kecil.
Memuakkan. Jika ada kantung muntah di sini, aku ingin sekali muntah sekarang. Aku segera berbalik pergi dan lekas menyiapkan sejumlah pesanan yang diminta 'pria itu'.
-Ren's POV-
Aku menatap gadis pelayan itu kembali. Mirip sekali dengan wanita itu, tapi kurasa ini hanya perasaanku saja. Melihat wajah gadis itu seperti membangkitkan masa lalu yang menyedihkan. Wanita yang sangat kucintai hingga aku dengan teganya menepis kepercayaan yang diberikannya padaku dan melubangi pelipisnya.
"Kau lihat gadis itu? Dia cerdas. Pada kasus percobaan pembunuhan lima hari yang lalu, dia mengungkapan semua trik yang dilakukan si pelaku. Namanya Amelia Fresch. Kalau kuperhatikan, matanya mirip sekali denganmu, Ren" tutur Inspektur Ferid.
"Benarkah?"
Mataku kembali mengawasinya. Tinggi, cantik, dan sepertinya dia sangat sinis kepadaku. Seperti... menjaga jarak.
-Amelia's POV-
Sepasang mata sepertinya sedang mengawasiku. Ah, jangan bilang 'pria itu' sedang mengawasiku. Setenang mungkin, aku menyuguhkan kopi dan sepiring omelette.
"Apakah kita pernah bertemu, Nona?" tanyanya yang membuat nafasku seperti tertahan.
Cia, tenanglah. Kendalikan dirimu. Belum tentu ia mengenali anaknya yang telah tumbuh remaja.
"Mungkin ini hanya perasaan anda saja. Banyak orang yang mengatakan hal seperti itu padaku. Saya permisi dulu," balasku dengan sopan.
Aku berbalik pergi dan segera mengambil ranselku, kemudian segera memakai topi dan tudung jaketku. Dengan langkah seribu, aku harus pergi meninggalkan neraka kecil ini.
"Aku pulang dulu, Manager" seruku sambil menundukkan kepala dan keluar dari kedai.
Baru saja melangkahkan kaki keluar dari kedai, seorang anak perempuan menyapaku dengan ramah.
"Cia!!!" panggilnya dengan keras, santainya dan tentunya seolah tidak berdosa. Aku buru-buru mendekap mulutnya. Apa dia cari mati, ya?
"Ada apa, sih? Jangan paranoid gitu dong," serunya sedikit kesal.
"Dia ada di sini, Sara. 'Pria itu di sini'," gumamku berbisik di telinganya. Dia tampak sedikit terkejut, lalu menghela napas dan menarik tanganku.
"Baiklah, segera pergi dari sini. Kita akan ke tempat latihan," ajaknya sambil menyuruhku masuk ke dalam mobil sedan hitam pucat. Mobil Tante Nina.
"Kukira kau akan keluar jam empatan," ucapnya sambil menancap gas.
"Ren Alaska berkunjung ke kota ini. Orang yang telah menikah lagi itu datang," dengusku sambil memainkan ponselku dan memutar lagu.
"Maafkan aku jika menyinggungmu. Bukannya aku tidak ingin merawatmu, tidak bisakah kau menerima ibu barumu?" seru Tante Nina tiba-tiba, di luar perkiraan.
Aku tertegun sebentar. Jika aku kini tidak menganggap dirinya sebagai ayah, kenapa aku harus marah karena dirinya menikah lagi?
"Dimana kita akan berlatih, Tan?" tanyaku sambil memutar lagu keras-keras.
"Hutan Yoru" jawabnya singkat dengan nada sedikit menyinggung.
"Tidak bisakah segala sesuatu di hari ini tidak berhubungan dengan delapan tahun yang lalu?" geramku yang sedikit kesal.
Aku menjentikkan jariku, mencoba untuk mengingat sesuatu yang para polisi tadi bicarakan.
"Organisasi mulai bergerak, ya? Para polisi kembali memperketat pengawasan kepada mereka," tambahku sambil mengamati langit dari jendela.
"Iya, aku baru saja ingin mengatakannya. Ayahmu kembali turun tangan, ya? Perampokan bank adalah prolog dari masalah-masalah yang akan mereka lakukan. Dan target selanjutnya adalah..." ucap Tante Nina terpotong karena Sarah menyelaknya.
"Hutan Yoru," lanjut Sara bertopang dagu dan melirikku. Nyonya Sharon bisa terancam!
Ya dan sepertinya latihan bela diri hari ini mungkin akan sedikit menyenangkan dalam lingkungan berkabut seperti itu. Hutan Yoru adalah satu dari sekian tempat yang bahkan bisa kulalui dengan mata tertutup.
"Berhati-hatilah. Banyak kabar yang beredar bahwa pelaku pembunuh berantai sedang bersembunyi di sana," pesan Tante Nina sambil menancap gasnya kembali demi mempercepat perjalanan.
"Dan mungkin kau bisa bertemu ibu tirimu," goda Tante Nina melirikku dengan senyum misterius.
Aku mendengus kembali. Sebisa mungkin, aku akan menghindari kejadian tersebut. Hidup normal memang membosankan, ya.