Aku hampir saja memuntahkan semua isi perutku setelah turun dari mobil. Tante Nina benar-benar GILA. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan 170 km/jam! Untungnya, daerah ini adalah pegunungan. Jadi, jarang sekali polisi yang bertugas di sini. Jika tidak, maka habislah kami karena pelanggaran jalan seperti ini.
"Oke anak-anak, segera berpencar! Aku akan segera mengejar kalian!" perintah Tante Nina sambil menepuk tangannya dengan semangat yang sudah meluap-luap, meskipun aku masih berusaha berdiri tegak setelah berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Aku segera menguncir rambutku dan melompati semak-semak belukar. Kurasa, ini adalah latihan free run. Memanjati sebuah pohon dalam hitungan detik adalah hal yang lumrah bagi kami. Toh, itu adalah hal yang dasar untuk menjadi sesuatu yang kuinginkan.
"One, two. three, go!!!" Wanita itu lekas memberikan aba-aba agar kami segera pergi, melompati semua semak belukar, yang tak lain dan tak bukan adalah rintangan bagi kami.
Latihan seperti ini sering dilakukan oleh Tante Nina di akhir pekan dan tentu saja, tempat akan dipilih sesuai dengan tema latihan. Seperti sekarang, topografi Hutan Yoru yang cukup terjal dengan semak belukarnya adalah pilihan tepat untuk berlatih free running.
Hap! Aku meloncati bebatuan di sekitar sungai dengan lincah. Seluruh sarafku pun ikut merasakan angin semilir yang berhembus di sekitar rambutku. Hawa yang begitu sejuk membuat suasana semakin nyaman, seolah tak pernah sesuatu terjadi di hutan ini. Bukankah delapan tahun sudah berlalu dengan cepat? Tak ada gunanya lagi mengingat serpihan luka dari tempat ini.
"Kau tahu kondisi geografis hutan ini, kan?" tanya Sara sambil mendaki tebing setinggi delapan meter yang berada di sebelahku. Tangannya berpaku pada batuan yang cukup besar dengan kepala yang mendongak ke arahku.
"Mulai sedikit lupa, sih. Awas, disana batuannya tajam!" Aku memberi peringatan agar tidak terkena tajamnya batuan gunung.
Hutan Yoru terletak di pinggir kota Yoru. Diselimuti kabut dan hanya sedikit sinar matahari yang masuk. Tempat bersembunyi yang sangat pantas untuk seorang pembunuh, bukan? Terletak di antara pegunungan, penuh dengan pepohonan yang lebat, dan tak sedikit pengunjung yang tersesat di sini. Tak ayal, hutan ini termasuk salah satu dari hutan angker di negara ini.
Aku bergelayut di antara ranting-ranting pohon, mempersiapkan ayunan setelahnya. Begitu juga dengan Sara. Namun, tiba-tiba aku menginjak sebuah batuan yang penuh dengan coretan. Ah, aku baru ingat apa yang kutulis di sini. Goresan tangan anak kecil yang sangat khas, namun masih bisa dibaca.
"Dimulai dari daerah di luar batu ini, tidak akan ada sinyal yang bisa didapat," ucapku memeringatkan Sara agar tidak terlalu jauh seraya membacakan goresan tulisan yang kuukir di atas batu ini.
"Ayolah, semakin jauh semakin bagus, bukan?" tantang Sara sambil melambaikan tangannya, tidak menghiraukan ucapan yang baru saja kuhimbau.
"Kita tidak membawa gun, asal kau tahu saja!" dengusku untuk memperingatkan kembali agar tidak terjerat masalah yang besar di sini.
"Tapi, kau membawa stun gun bukan? Ayolah, apa yang kau takutkan, Cia? Dimana dirimu yang sebenarnya?" Sara semakin menantangku. Dia tahu pasti kalau menantangku sedikit saja dapat menimbulkan akibat fatal bagi kami. Ya... itu sih karena aku terlalu sering melanggar batas.
"Tante Nina sudah memperingatkan kita bahwa pembunuh berantai sedang bersembunyi di sini," tambahku untuk menolak melanggar batas yang sudah kubuat sendiri. Ibu bahkan sudah melarangnya delapan tahun yang lalu. Angin bersemilir dengan lembut, membuatku merasakan sentuhan halus dari sesuatu yang tak dapat dilihat itu.
Sara hanya tertegun sebentar. Senyuman liciknya mulai mengembang. Oh my god, dia akan melakukan kebiasaan jeleknya yang sangat aku tidak suka.Dan seperti biasanya juga, kebiasannya pun tidak bisa kutolak. Gadis berambut blonde itu bukan tipe penurut, sama sepertiku. Pada prinsipnya, mengapa tidak untuk melanggar suatu hal jika mungkin ada akhir yang baik nantinya?
"Hayolah! Bukannya kamu keturunan dari seseorang yang lebih dari pembunuh berantai? Payah!" ejeknya sambil menjulurkan lidahnya dan mendahului diriku, sesuai kebiasaan jeleknya saat mengolok-olokku.
Seperti anak kecil memang. Tetapi, itu adalah hal yang pantas untuk menantangku. Seolah tidak ingin diejek, aku malah melompati batu besar tersebut dan mengejarnya. Tuh kan, aku memang tidak bisa menolaknya.
"Berusaha meremehkanku, ya?!" seruku sambil melompati batuan dengan riang. Baiklah, tidak apa melanggar batas untuk sekali ini.
Aku mengenali wilayah ini. Delapan tahun yang lalu, aku berlari menuju rumah melewati jalan ini. Sepi, bahkan pengunjung hutan dilarang masuk ke wilayah ini. Restricted Area. Sebuah daerah terlarang yang bahkan tidak boleh disentuh oleh orang awam. Tapi, hei, kami bukanlah orang awam!
Hari semakin gelap. Setelah memastikan bahwa Tante Nina tidak sedang berada di belakang kami, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Toh, tidak ada yang menangkap kami di sini. Tanah di sini cukup basah, menandakan hujan kecil baru saja terjadi di tempat ini. Bebatuan terkadang menghiasi permukaan tanah, membuat kau harus berhati-hati agar tidak tersandung.
"Jangan sembarangan menyentuh dedaunan di sini. Banyak yang beracun," Peringatan kembali kuberikan pada anak perempuan blonde tersebut.
"Sebegitu berbahayakah hutan ini? Pantas saja kalian tinggal di sini," sindir Sara melirikku kembali dengan sedikit mengejek.
"Ya...Ibu sering mengambil dedaunan dan akar-akar dari tumbuhan di sini untuk menjadi racun, dahulunya," jelasku tanpa meliriknya sama sekali.
Kalau tidak salah, rumah pohon--tempat bermainku dahulu--tidak jauh dari sini. Apakah kalian masih ingat dengan rumah pohon yang menjadi alasan pelarianku? Ada banyak kisah yang berada di dalamnya karena bangunan kecil itu telah menjadi tempat favoritku untuk bermain. Kita akan membahasnya nanti.
"Hei, bagi airmu sedikit, dong" pinta Sara tiba-tiba dengan tatapan merengek, yang jujur saja sangat kubenci. Tangannya memohon dan tatapannya yang memelas, ditambah dengan mata yang pura-pura berair membuatku semakin muak.
"Bukannya sudah kubilang agar tidak menghabiskan tenaga terlalu banyak? Di sini jarang ada mata air. Kalau ingin minum air, kita harus berjalan sekitar delapan ratus meter lagi. Terdapat kolam air bersih di sana dan jarang sekali orang pergi ke sana," saranku tanpa mengeluarkan setetes airpun dan malah menyembunyikan botol minum yang terikat rapi di pinggangku. Tatapanku tak acuh dan sebaliknya, aku malah lanjut berjalan.
"Hah??? Yang benar saja. Aku ingin minummu sekarang, Cia. Plis," pintanya dengan memelas. Jujur saja, aku bahkan tidak ingin mengasihani wajahnya yang menjijikkan. Baiklah, itu adalah anggapan yang buruk kepada sahabatmu sendiri.
"Sedikit saja," Akhirnya, aku memberikan botol minumku kepadanya dengan sedikit terpaksa. Menyusahkan saja!
Tangannya segera menangkapnya dan membuka tutup botol tersebut dengan kasar. Tanpa basa-basi, dia meneguk air yang berada di botolku dengan rakusnya. Baru saja Sara meneguk minumku, aku segera menariknya kembali agar tidak habis.
"Uhuk..uhuk! Inikah perbuatanmu kepada sahabatmu sendiri?" Sara yang tersedak menatapku tajam. Peduli batu dengan tatapannya. Yang penting, minumku tidak habis.
"Ayo jalan ke arah timur, di sana kau akan menemukan air yang lebih banyak," panduku tanpa menoleh ke belakang sama sekali agar tidak melihat wajah mengesalkannya. Dengan wajah cemberut Sarah, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Kami terus berjalan hingga hari menjadi gelap. Benar-benar gelap. Yang menjadi cahaya satu-satunya adalah rembulan yang tertutup awan nan jauh di atas langit sana. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyalakan senter masing-masing. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sebuah kolam dengan bunga krisan putih di pinggirannya. Bunga kesukaan ibu.
Sepi. Hampir tidak ada orang sama sekali. Hampir. Anehnya, kami melihat siluet seseorang sedang berdiri di dekat kami. Mungkinkah? Bayangan itu tidak terlalu jelas, sehingga aku tidak bisa memastikan siapa dia ataupun umurnya.
Siaga satu. Mungkin saja, dia adalah pembunuh berantai itu yang dapat menyerang kami dalam sekejap. Tanganku berusaha meraih stun gun, sedangkan Sara yang siaga dengan kuda-kudanya.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga"
Sekejap, kami segera berbalik dan menyerang orang di belakang kami. Namun, langkah tersebut harus dihentikan karena bukanlah orang yang dewasa di belakang kami, melainkan seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur enam tahun. Mata safirnya seketika mengingatkanku akan seseorang. Mata safirnya sangatlah mencolok dan sangat mirip... mirip denganku.
"Kakak juga tersesat di sini, ya? Kurasa aku tidak bisa pulang ke rumah," tutur anak laki-laki berkaus biru tersebut dengan sedikit malu-malu. Wajahnya terlihat polos, namun aku tidak bisa memastikan kalau dia benar-benar aman. Kami harus tetap siaga.
"Tidak...kami sedang mengambil air di sini," balas Sara dengan sedikit merinding. Kurasa, dia mulai berpikir tidak realistis. She isn't a ghost, Sara. Ayolah, itu hanyalah mitos kalau hutan ini berhantu. Hantu sebenarnya di hutan ini hanyalah penjahat-penjahat sialan yang menyebarkan rumor itu.
Aku memegang tangan anak kecil tersebut. Suhu tubuhnya normal. Setelah itu, aku menyentuh lehernya dan menatapnya. Tidak ada perubahan tekanan darah sama sekali. Mungkin dia tidak sedang berbohong. Baiklah, itu salah satu cara bagiku untuk mengecek apakah seseorang itu sedang berbohong atau tidak. Ya meskipun kurasa ini tidak berpengaruh pada seorang profesional. Sepertiku misalnya?
"Rumahmu di mana?" tanyaku sambil menatap dirinya dari ujung kepala hingga ujung kuku kaki. Aku juga menatapnya aneh karena jarang sekali ada manusia yang menyentuh restricted area.
"Di dekat sini," balasnya singkat dengan menunduk, lalu menggosokkan kedua sepatunya ke salah satu batuan. Mata safirnya menatap lurus batu tersebut, enggan menatap kami yang dianggap asing.
Dia menggosokkan sepatunya ke batuan lagi, menghilangkan tanah yang mengotori alas kakinya tersebut. Kepalanya terus menunduk, masih malu untuk mendongak ke arah kami. Rambut cokelat pendeknya bertiup, membuat semua bagian wajahnya terlihat jelas. Dia sedikit tampan dan apa aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat?
"Hei, dia berada di dunia yang sama dengan kita, kan?" bisik Sara dengan bulu kuduk yang mulai berdiri. Lagi-lagi, dia tidak berpikir realistis.
Aku memutar otakku sebentar. Dia bilang apa? Rumahnya di dekat sini? Satu-satunya rumah yang berada di sini adalah...
"Apa ayahmu seorang polisi? Apakah nama ibumu Arry Tumika?" tanyaku tiba-tiba secara bertubi-tubi, memastikan segala hal yang tidak kuinginkan. Oh, baru saja aku meluapkan amarah karena pria itu menikah lagi dan sekarang aku harus melihat hasil pernikahan mereka di depan mataku? Kenapa hidup ini begitu melankolis?
Wajahnya menjadi pucat ketika aku menanyai hal tersebut. Baiklah, jawaban pun dapat disimpulkan. Dia adalah anak kedua dari 'pria itu'. Ya, walaupun secara teknis aku tidak mengakui dirinya sebagai ayahku lagi. Wajar saja jika aku menganggap kalau aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat karena kemiripannya dengan pria itu. Oh bodohnya, sekarang aku mulai menjadi pikun dengan melupakan wajah pria itu. Dia mundur beberapa langkah dan secara tiba-tiba mengeluarkan silet dari kantung celananya.
"Kalian siapa?! Mengetahui hal tersebut sejauh itu? Apa kalian ingin memata-matai keluarga kami?" serunya sambil mengarahkan siletnya menuju kami. Anak yang cukup pintar, sama seperti ayahnya. Namun, aku tidak cukup bodoh dalam masalah berbohong.
Sara akhirnya bisa memahami situasi. Kemudian, dia hanya menatapku seolah berkata, 'aku tidak akan ikut campur'. Huft, aku harus mengatasinya sendiri. Mungkin Sara bermaksud untuk tidak mencampuri urusan privasi dengan tujuan latihan yang sebenarnya. Aku mengambil percakapan kembali serta memajukan diriku beberapa langkah lebih dekat dengan anak kecil itu.
"Wow...jangan seperti itu anak kecil. Kami bukan orang jahat. Lagipula, bukannya kamu akan kalah jika melawan kami? Kamu tidak akan bisa meminta bantuan. Aku tahu dimana rumahmu dan bisa..." ucapanku terputus ketika Sara menarik pundakku dan menatap tajam. Mulutnya mendekat ke telingaku, seperti ingin membisikkan sesuatu.
"Apa kau gila, Alluschia? Silahkan saja jika ingin bernostalgia. Tapi, antarkan sahabatmu ini ke luar hutan, baru kita akan mengantarnya ke rumah putih nan megah itu, okay? Ambilkan aku minum, kau janji akan melakukannya," ujarnya sedikit kesal ketika aku hampir memutuskan sesuatu tanpa persetujuannya.
DIALAH YANG GILA. Menyebutkan nama asliku di depannya, tanpa volume yang dikecilkan. Dia tidak berbisik sama sekali, hanya meneriakkan ungkapannya dengan volume cukup besar. Baiklah, untuk kali ini aku akan menuruti permintaan nona pengeras suara itu.
Aku dan Sara segera mengambil air yang cukup dari kolam ini. Kolam yang ibuku buat saat ia akan menikah dengan 'pria itu'. Selain itu, Nyonya Sharon sepertinya selalu membersihkan kolam ini sekali seminggu. Jadi, bisa dipastikan kalau kolam ini tidak beracun. Kami membiarkan air kolam mengalir memasuki kedua botol kami, lalu jika sudah dirasa cukup penuh, kami menarik ke atas botol-botol kami kembali.
"Sepertinya, kau berhati-hati sekali dengan kami? Tenanglah. Sudah kubilang, aku bukanlah orang jahat. Trust me," ujarku sambil memberikannya air dari kolam tersebut, disertai tatapan datar yang belum bisa kulepas dari wajahku. Atau biasa kusebut dengan poker face?
"Minumlah. Kau pasti haus setelah mengitari hutan tak berujung ini, bukan?" tawarku sambil menyodorkan sebotol air dari kolam tersebut dengan uluran tangan yang semakin dekat dengannya.
"Terserah kau meminumnya atau tidak. Yang penting, aku sudah memberikanmu minuman agar kau tidak mati kehausan di sini," tambahku dengan cuek tanpa melihat anak kecil itu sama sekali lagi, menyerah untuk membantu anak kecil sombong itu.
Krssk....Krsk.....
Suara semak belukar dari ujung sana terdengar sangat berisik. Aku melihat Sara sudah memasang posisi 'darurat'. Oh tidak, ada orang lain juga di sini. Jangan-jangan, yang dikhawatirkan ada di sini. Aku segera beranjak, ikut memasang kuda-kuda.
"Alaska, segera pergi dari sini" seruku sambil menarik tangan anak kecil tersebut.
Dia tampak terkejut ketika aku memanggil namanya. Tapi, kami lebih terkejut atas kehadiran seseorang yang tak diundang. Pembunuh berantai itu ada di sini dan bersiap untuk menjadikan kami korban selanjutnya.