"Namamu bukanlah permasalahan sekarang, segera pergi dari sini! Run away!" perintahku sambil menarik tangan anak laki-laki tersebut seraya membawanya pergi menjauh dari pria psikopat menjijikkan itu. Penampilannya sangat berantakan, ditambahkan dengan tubuh tegap serta senyum menjijikkan yang melingkari wajahnya.
Tiba-tiba saja, Sara berhenti dan memanjangkan tangannya untuk memberhentikan kami. Lalu, dia memberikan tanda untuk diam. Matanya memejam dan dia terlihat sedang menghela napas. Berusaha memastikan sesuatu dengan instingnya. Sesuatu pasti terjadi.
"Tidak hanya seorang pembunuh di sini. Mungkin ada temannya yang ikut membantunya untuk bersembunyi di sini," ucap Sara secara tiba-tiba yang dilanjutkan dengan mengendurkan pertahanan--yang tiba-tiba dia berikan tadi.
Sara adalah anak dengan firasat yang sangat kuat. Seringkali ucapannya terbukti. Namun, itu hanya firasat, lho. Firasatnya sangat berguna untuk menjadi penentu dalam rencana utama maupun cadangan. Benar-benar rekan yang berguna.
"Apa saja yang kau bawa selain silet?" tanyaku pada anak tersebut dengan terus menggenggam tangannya agar tidak tertinggal jauh dari kami yang terlatih.
Dia hanya menggeleng pelan. Haah...sedikit sekali alat yang dapat digunakan untuk melawan. Matanya terus menunduk, membuatku semakin benci jika mata safirnya terlihat. Fakta yang paling kubenci adalah wajahnya yang begitu mirip dengan orang yang turut andil dalam membuatku lahir ke dunia, merasakan semua penderitaan serta kesedihan yang bahkan sangat ingin kucoret dari daftar peristiwa di hidupku.
Sementara itu, pembunuh itu semakin dekat dengan kami. Kami harus bergerak secepat mungkin dari sini atau anak kecil ini harus menjadi mayat. Kami bisa kabur seorang diri untuk menghindari pembunuh menengah seperti dia. Namun, bagaimana dirinya? Aku tidak ingin berurusan dengan pria itu.
"Naik ke atas pohon segera! Kau, Alaska, naik ke punggungku jika tidak ingin ayahmu sendirilah yang akan mengidentifikasi mayatmu!"Aku sedikit mengancamnya agar dia mengikuti kami dengan menyebut pria itu. Dia hanya mengangguk pelan, menurut dengan yang kuperintahkan.
Mau tak mau, akhirnya anak itu pun ikut memanjat pohon besar di sebelah kami. Tidak sampai satu menit, kami sudah berada di atas pohon. Aku meraih tangannya, berusaha menarik dirinya agar lebih cepat tiba di atas pohon.
"Rumah pohon. Di belakang kita," ucap anak tersebut menunjuk rumah kecil di belakang kami dengan napas terengah-engah seolah tidak terbiasa dengan memanjat sesuatu yang cukup tinggi.
Aku membuka pintu rumah tersebut. Terkunci! Oh s**t. Siapa yang menggemboknya?! Beraninya menggembok peninggalan berhargaku! Jemariku berusaha mengutak-atik gembok itu, namun tetap saja nihil. Sementara itu, pria menjijikkan itu sudah berada beberapa meter di dekat kami.
"Dimana kalian, sayang-sayangku?" ujarnya dengan nada menjijikkan. Benar-benar psikopat.
Kami mengawasi gerak-geriknya dengan tenang. Ah, maksudku hanya diriku dan Sara. Anak lelaki tersebut terlihat jelas sangat ketakutan hingga kakinya menginjak sesuatu di pohon. Oh tidak! Bebatuan kecil pun mulai berjatuhan dari pohon kami. Matanya terbelalak dan mulutnya berusaha membisikkan kata 'maaf' untuk tindakan bodohnya secara berkali-kali.
"Sama bodohnya seperti ayahnya," caciku dengan sangat kesal. Baiklah, kau menemukan kami, psikopat. Rencana sudah berputar di kepalaku, hanya menunggu waktu untuk dijalankan.
"Kemarikan siletmu, Alaska" ujarku sambil meminta pisau kecil tersebut agar berada di tanganku segera. Mataku menyorotnya tajam, membuat siapapun yang melihatnya ketakutan.
Dengan takut-takut, dia memberikan silet tersebut. Dengan begini, setidaknya aku sudah mempunyai dua silet, yang satunya sudah kubawa dari awal. Kondisi pun bisa menjadi lebih aman sekarang.
"Sara, rencana A," ancangku sambil mengikatkan tali sepatu dengan kencang karena genderang perang telah kutabuh.
"Dia membawa katana. Cia, ambil pedang jepangnya itu selagi dia lengah dan aku ingin meminta satu buah siletmu," ujarnya tanpa melepaskan pandangan dari pembunuh tersebut. Tanganku segera memberikan sebuah silet milikku dan dia segera menyimpannya rapi dalam kantung.
"Pancing dia agar perhatiannya teralih dariku. Aku juga membawa stun gun. Nah, permasalahannya siapa yang akan menjadi umpannya?" lanjutku disusul dengan kedua tatapan menuju anak kecil tersebut. Dirinya yang menyadari akan menjadi umpan, menggelengkan kepala pelan dan menolak keras. Ya, mana ada orang yang ingin menaruh nyawanya di ujung tanduk?
"Tenang saja. Kau hanya cukup berlari dari sini dan menatapnya tajam. Kami juga akan menjamin dirimu tidak menjadi mayat, kok," jamin Sara dengan tatapan memohon seperti biasanya. Ah, dia memang tidak bisa jahat kepada anak kecil.
"Tapi..."
"Kau ingin selamat, bukan? Menjadi umpan atau kaulah yang akan mati di sini karena kami dapat kabur dengan mudah," ancamku dengan tatapan yang melebihi dari seorang psikopat. Yah, tiada ampun jika kau menolak permintaanku.
Dia bergidik ngeri melihat dirinya diancam seperti itu. Tatapannya mulai mengendur dan akhirnya menghela nafas pelan. Wajahnya terlihat pasrah dengan keputusan yang kuberikan padanya. Tapi, hei, ini bukanlah vonis mati.
"Baiklah, cukup melompat dan berlari, kan?" Dia menyerah dan memutuskan untuk mengikuti semua perintah kami. Mata safirnya menajam dan dia mulai mengencangkan ikatan tali sepatu ketsnya.
Dengan perlahan, dia menuruni pohon ini. Berdiri di depan pohon dan menatap tajam pembunuh tersebut. Kemudian, ia mulai berlari ke arah jam tiga dengam cepat. Lumayan juga, ujarku dalam hati.
"Neran! Cari dua anak lainnya! Akan kuurusi yang satu ini!" perintah pria kurus tersebut meminta bantuan temannya. Suara kerasnya bahkan membuat para gagak terbang meninggalkan sarangnya.
Oh my god. Dia benar-benar membawa teman. Alaska dalam bahaya kali ini.
"Jika kau mengkhawatirkan kondisi adik tirimu, aku saja yang akan mengurusi teman yang satu ini. Kau susul dia," saran Sara dengan ancang-ancang akan lompat dari pohon. Wajahnya penuh dengan kesiapan, seolah dia rela bertarung untuk hal yang kukhawatirkan.
Aku hanya mengangguk pelan. Orang bernama Neran itu telah datang dan berita baik, tangannya tak menggenggam senjata api. Neran hanya datang dengan tangan kosong, namun tubuhnya cukup kekar. Baiklah, sepertinya mereka tak bisa diremehkan.
"Turunlah terlebih dahulu, Cia" perintah Sara, tatapannya sangat dalam seolah mencari titik lemah dari orang yang baru saja terpanggil tersebut.
Hap! Aku mendarat mulus di permukaan tanah. Neran memelototiku, lalu dengan santainya dia meremehkanku. Mungkin, dia berpikir bila aku adalah wisatawan yang tersesat sehingga mudah untuknya membunuhku kapan saja.
"Oh, hanya seorang gadis cantik. Kemarilah, aku tidak akan menya..." Buk! Sebuah pukulan keras mendarat di perut Neran, yang membuatnya memuntahkan darah dan jatuh tersungkur ke tanah.
Tanpa menoleh ke belakang kembali, aku segera berlari ke arah jam tiga, menyusul Alaska yang mungkin sedang berada dalam bahaya sekarang. Peluh mulai bercucuran, namun kuhiraukan saja. Jika pria itu mengetahui keadaan anaknya, maka aku juga bisa terseret ke dalam kasus merumitkan.
"Hei! Kau akan kema..." Pria bernama Neran itu sontak melihatku, kemudian hendak mengejarku. Sara pun segera bertindak. Perempuan itu segera melompat dari atas pohon, lalu menginjakkan tanah dengan keras. Sorot matanya samgat tajam dan rambut blonde-nya terlihat mencolok di antara lingkungan yang gelap.
"Lawanmu adalah aku, Neran" tantang Sara dengan tatapan mematikan, seolah bisa membunuhnya kapan saja.
Neran hanya meringis, kemudian bangkit dari kesakitannya. Seolah sudah sembuh, dia membalas tatapan Sara yang tajam. Dia hanya terkekeh, tidak percaya atas tantangan yang diberikan gadis remaja di depannya. Tapi, percayalah kalau Sara adalah gadis yang istimewa sama sepertiku.
"Kuterima gadis kecil," balasnya santai, tanpa tahu kalau pertarungan dengan Sara adalah salah satu dari hal yang harus kau hindari.
Kembali ke diriku. Benar saja, nyawa Alaska kini dalam bahaya. Tanpa basa-basi, orang yang ingin mengikat leher anak laki-laki tersebut, segera kusayat di bagian punggungnya tanpa ampun. Kakiku melompat ke depannya, menyempatkan tanganku untuk melayang dan memberikan setidaknya satu sayatan di punggungnya.
"Jangan berbuat bodoh pada dia!" ancamku disusul dengan percikan darah dari punggungnya. Darahnya mengotori wajahku, membuat warna merah ikut menghiasi pipiku.
Anak itu menarik nafas lega, raut wajahnya tampak seperti lolos dari malaikat maut. Aku memasang kuda-kuda untuk bertarung dan menatap tajam sekitar demi memastikan kalau semua hal sudah terkendali.
"Sepertinya kalian bukan anak biasa dan harus kuhabisi dengan serius," ucapnya dengan penuh kemarahan. Tangannya pun tanpa segan mengeluarkan katana dari punggungnya.
Suhu meningkat. Intensitas kepanikan seseorang sepertinya sedang bergejolak. Kulihat Alaska sudah mulai tenang, sehingga bisa dipastikan bila pembunuh tersebut sedang panik. Bukankah sudah kubilang untuk tidak meremehkan kami?
"Alaska, tetap berada di dekatku. Tapi, jagalah jarak dari kami karena kau bisa terkena imbasnya," bisikku sambil mengeluarkan silet sebagai satu-satunya senjata berharga di sini.
Dia menuruti apa yang kukatakan. Dengan patuh, tubuhnya segera mundur beberapa langkah, lalu bersembunyi di salah satu pohon. Ia hanya boleh mengamati semual hal mengerikan yang akan terjadi nanti. Itu perintahku dan tak bisa dibantah.
"Kiaaaa!!!" teriak pembunuh tersebut yang mencoba menyerangku dengan katana secara bertubi-tubi. Di mataku, semua hal itu terlihat kekanak-kanakkan.
Aku lekas menghindarinya, membuatku selalu menjauh dari titik awal. Bila ingatanku belum pudar, maka akan ada jurang yang cukup terjal di sekitar tempat ini. Rencananya pun terbaca. Ia jelas ingin menjatuhkan kami ke dalam jurang! Dia tahu kami tersesat dan menyimpulkan bila tak ada yang mengetahui restricted area. Kau salah besar. Hutan ini adalah wilayahku.
"Hahaha...teruslah kau seperti itu, Nona! Cepat temuilah ajalmu!" seru psikopat tersebut tanpa berhenti menyerangku. Alaska yang hanya mengikuti kami dengan berlari, tak bisa membantu banyak. Ia hanya bersembunyi apik di belakang pohon.
Hanya membutuhkan beberapa langkah untukku tiba di tempat maut yang telah memakan banyak korban jiwa. Jurang. Aku mengamati titik jurang yang sangat fatal, memperkirakan timing yang tepat untuk menjadi titik balik dari penyerangan yang diberikan psikopat itu.
"Menangislah!!!" Dia mengarahkan katana ke leherku. Langkah mundur tak bisa kuambil, bisa-bisa aku terjatuh ke dalam jurang yang tertutupi semak-semak.
Dengan tenang dan secepat mungkin, aku mengarahkan tendangan kaki ke perutnya, membuatnya mulai mundur dan mengendorkan pertahanannya. Segera saja, aku menangkis tangannya. Pegangannya yang lemah membuat katana tersebut terlempar ke udara dan dengan keahlian melompati pagar setiap pagi, aku melompat seakan ingin terbang. Alaska hanya tertegun melihatku.
"Kudapatkan senjatamu," seruku tanpa ekspresi sama sekali seolah terbiasa dengan kemenangan telak.
"Kau...kenapa kau tahu mengenai restricted area?" Pembunuh yang tak bersenjata itu terkejut seolah mundur beberapa langkah untuk menyusun pertahanan.
Kini, akulah yang mengarahkan katana tersebut ke lehernya dengan tenang dan tak berekspresi. Aku memasang poker face yang sangat kusukai. Tersenyum tipis, namun menimbulkan lesung pipit yang terlihat jelas di setiap sudut.
"Ini adalah tempatku bermain dahulu. Menyerahlah atau nyawamu akan melayang di sini," ancamku dengan sengit.
Secepat kilat, sesuai dengan kemampuan pembunuhnya, dia berusaha menyerangku. Namun, tentu saja aku dapat membaca gerakan seorang pembunuh. Bagaimana bisa kau melakukannya pada seseorang yang mewarisi darah seorang pembunuh terbaik?
"Mustahil...siapa kau?" tanyanya dengan tatapan tak berdaya.
"Pembunuh sepertimu bukanlah tandinganku," Kini, aku meremehkan dirinya dan segera menyetrumkan dirinya dengan stun gun-ku. Setrumannya segera membuat dirinya terjatuh dan tertidur pulas. Masalah selesai.
"Ayo kita pergi, Alaska. Jika suatu hari nanti kau akan menceritakan kejadian ini pada keluargamu, silahkan saja. Katakan pada mereka untuk melihat kenyataan.”
Malam ini sangat panjang. Aku terlalu lelah untuk kembali. Apa aku akan bermalam di sini, ya? Setidaknya aku bisa tenang kembali karena dapat menyelesaikan pembunuh berantai tersebut. Aku harap, Sara sama sepertiku sekarang. Desahan napasku terdengar jelas, menandakan diriku yang sangat kelelahan. Aku hanya bisa berharap jika sesuatu buruk tidak menimpaku karena terlalu lama dalam hutan yang bersuhu di bawah rata-rata.