~Sara's POV~
Aku terdesak. Kuakui, tenaganya cukup kuat. Baiklah, tidak ada pilihan selain menghabisinya. Jika tidak, nyawakulah yang akan melayang. Dimana kau, Cia? Kenapa kau belum kembali juga? Aku pun memejamkan mataku. Sebuah silet kukeluarkan dari kantung bajuku. Hitungan mundur segera kulakukan sebelum menikamnya.
Zzrrrt....
Sebuah setruman mendarat di leher Neran. Aku membuka mataku dan melihat seorang wanita berdiri tepat di belakang pria itu. Ibu!
"Hei, aku tidak membiarkan anakku melakukan hal tersebut," ujarnya dengan hangat seraya menaruh senjata itu ke dalam kantungnya.
Ibu melirik ke segala arah, berusaha mencari sesuatu. Ah, mencari anak angkatnya mungkin?
"Tadi kami bertemu adik tirinya Cia. Jadi, sekarang Cia sedang menghabiskan pembunuh berantai yang mengincar adiknya itu," jelasku sambil mengibaskan kotoran di celana panjangku.
"Kita harus mencarinya sekarang, polisi sudah bergerak di hutan ini" seru ibu yang terus mencari Cia dalam pandangannya.
"Baiklah, ayo bergerak kembali" Aku segera bangkit, membersihkan diriku kembali.
~Cia's POV~
Aku memanjati pohon paling besar yang terletak agak jauh dari tebing. Begitu juga dengan anak itu, mengikuti dengan tangan dan kakinya yang susah payah menempel di batang.
"Siapa namamu?" tanya anak kecil tersebut secara tiba-tiba.
Tunggu. Jika aku mengatakan Amelia, maka dia akan memberitahu ayahnya. Lagipula, anak ini sudah mendengar 'Alluschia'. Mungkin, sebaiknya aku mengatakan diriku yang asli saja.
"Alluschia, nama keluargaku tidak usah disebutkan. Jika kau mengatakan namaku ini kepada ayahmu, mungkin dia langsung mengenaliku," jelasku sambil mendengus kesal karena mengingatkanku akan keluarga busuk itu kembali.
"Selain itu, apakah kau sudah mengetahui nama temanku? Namanya Thalia, Athalia Sara," lanjutku dengan berbohong agar dia tidak mengenali kami sebagai Amel dan Sara.
Dia hanya ber-ooh dan sepertinya 'pria itu' tidak menjelaskan mengenai keluarganya sebelum dia bertemu Arry atau siapalah nama wanita yang telah menjadi istri keduanya.
"Nama ibumu Arry, kan? Seperti apa orangnya? Jujur saja, aku ini bukan orang jahat yang bermaksud buruk kepada keluargamu. Tapi, aku hanya ingin..." ucapanku terputus karena menyadari bila aku terlewat dari jalur pembicaraan, yang mungkin jika dibiarkan akan melenceng ke arah keluarga lama. Yang mungkin, bisa membuatku harus melihat memori itu.
Dia terdiam sebentar, berpikir harus menceritakan seperti apa. Mungkin, dia berpikir akan menceritakan semuanya? Kuharap sih, begitu.
"Namaku Miru Alaska. Tak ada alasan khusus kenapa aku diberi nama seperti anak perempuan. Ibuku adalah seseorang yang cukup cantik, cerdas, baik, dan selalu mengutamakan kesopanan. Sedikit perfeksionis, memang. Tapi, aku dan ayah menyukainya," tuturnya dengan tersenyum, seolah-olah membanggakan ibunya.
Dua kata terakhir membuatku ingin muntah. Sepertinya, dia gampang sekali menemukan wanita pengganti ibuku? Menyebalkan sekali mendengarnya. Dasar pria ambisius.
"Aku adalah anak seorang polisi juga, asal kau tahu saja. Bagaimana dengan Nyonya Sharon?" Aku rindu sekali dengan wanita tua nan cerewet itu. Apa mungkin dia sudah tidak bekerja lagi, ya? Kuharap, aku dapat mendengar kabar dari seorang wanita yang begitu setia merawatku, yang juga senantiasa membelaku. Itu benar, kan? Aku tidak bersalah, tapi pria itu seakan menumpahkan kekesalannya padaku delapan tahun yang lalu.
Angin bertiup, menggugurkan dedaunan dari pohon lebat yang sedang kududuki. Satu-dua daun terjatuh ke atas rambutku, sedangkan yang lainnya berhamburan ke bawah tanah. Berserakan. Seperti memori menyakitkan itu, yang kini berserakan di bawah jurang ingatanku. Suhu malam ini terasa seperti menusukku, membuatku berharap agar hipotermia tidak menyerangku di momen seperti ini.
"Meskipun sudah sangat tua, dia tetap bekerja untuk kami. Kata ayah, tidak ada pembantu lain yang cocok dengannya. Jadi, bisa kutahu kenapa kau bisa sedekat ini dengan keluargaku?" balasnya dengan tatapan sedikit tajam, seperti mengincarku. Aku sudah biasa dengan tatapan ini. Apa mungkin dia mempunyai jiwa seorang penyelidik seperti ayahnya?
"Bagaimana, ya? Sebaiknya kau tanyakan pada ayahmu sendiri mengenai seseorang bernama Alluschia. Dia mengenalku, kok" balasku yang tak ingin menjelaskan dengan panjang soal identitasku agar aku bisa cepat-cepat melupakannya kembali.
"Oh, ya. Mungkin ini hari terakhirku di sini. Kami akan berencana pindah dari sini tak lama lagi," tambahnya. Kini, wajahnya mulai sedikit murung, menyiratkan kesedihan.
Deg. Pria itu berusaha mengubur kenangan yang telah kubuat selama tujuh tahun? Apa yang ada dalam pikirannya, sih?!
"Jangan pernah pindah dari sana! Apakah dia gila?!" tolakku yang spontan dengan sangat keras. Seolah aku ini adalah seorang demonstran dengan slogan-slogan menyeramkan yang siap kupasang kapan dan dimana saja. Apa itu terlalu berlebihan? Kurasa itu pantas untuk orang seperti pria itu.
"Apa hakmu untuk melarangku?" bantah Miru penuh selidik dan sedikit tajam. Dia mengeraskan suaranya, seolah tak ingin urusan pribadinya dicampuri.
"Aku mempunyai hak atas apa yang dimiliki oleh kalian! Dan jangan bertanya apa yang kumaksudkan! Tanya saja pada ayahmu yang tak tahu diri itu! Aku akan menulis surat untuknya di sini, dan langsung serahkan pada ayahmu. Jangan lewat perantara" bantahku dengan volume tak kalah keras serta memberikan pesan agar menyampaikan surat dariku secepat mungkin.
Aku terburu-buru mengeluarkan secarik kertas dari kantung celanaku. Sudah terkena tanah, memang. Peduli batu dengan siapa yang akan membacanya. Aku pun mulai menuliskan perasaanku mengenai rumah itu.
Kurasa, ini kontak pertama kita setelah delapan tahun. Hal yang ingin kusampaikan adalah JANGAN PERNAH MENCOBA PERGI SELANGKAHPUN DARI RUMAH ITU. Aku memang tetap tak akan sudi untuk kembali ke rumah, dan menjalani aktifitasku seperti biasanya. Mencoba mengubur ibu lebih dalam? Coba saja. Tapi akulah yang akan memberhentikanmu. Selain itu, jangan pernah mencari seorang Aluschia. Karena, mustahil Aluschia akan kembali. Kini, aku adalah diri yang baru dan merasa sudah berada di kehidupan yang kuinginkan. Menurutku, jalan yang kutempuh sekarang sudah benar dan aku sendirilah yang akan mengungkapkan orang-orang di balik layar pembunuhan ibu. Aku benci kalian, para polisi yang gagal. Sekian, sampaikan salamku pada Nyonya Sharon. Bilang kalau aku merindukannya.
Sepucuk surat sudah kulipat dengan sarung tangan. Tentu saja, agar sidik jariku tidak diketahui. Lalu, menyerahkannya pada anak itu. Kurasa, ini hal yang tepat untuk sebuah peringatan, bukan?
"Bilang saja dari Cia," amanahku bersamaan dengan kertas yang sudah berada di genggamannya.
"Jangan dibaca, apalagi menunjukkannya pada orang lain," tambahku semakin judes kepada anak yang bernama Miru tersebut.
"Bolehkah kau menjelaskan sesuatu padaku? Kenapa kau sangat melindungiku? Apakah kita mempunyai hubungan?"
Belum sempat aku ingin menjawab, seorang anak perempuan berdiri di bawah pohon bersama dengan wanita yang berdiri di belakangnya. Tante Nina. Mereka menemukanku! Syukurlah, aku akan segera keluar dari lingkaran masa lalu yang cukup menyedihkan.
"Kita harus pulang, Cia. Aku sudah tahu semuanya dari Sara. Polisi sudah mulai bergerak," ajak Tante Nina dengan tangan yang terulur hendak membantuku.
Aku segera turun dari pohon, kemudian membantu Miru untuk turun. Terlihat jelas bahwa Tante Nina kini berusaha menyembunyikan wajahnya. Hal yang serupa juga kuharapkan. Kami tidak ingin keluarga baru kami diketahui polisi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," cegat Miru sambil menarik tanganku agar kami tak berpisah secepat itu.
"Siapa diriku? Mungkin seperti…kakak perempuanmu?" balasku dengan sedikit tertawa kecil, seperti menganggap hal ini adalah candaan, bukan sebuah realitas.
Miru sedikit terkejut mendengarnya, kemudian tenang kembali. Hening kemudian mengisi langkah kaki kami hingga akhirnya kami sampai di wilayah yang terdapat banyak jejak kaki. Rupanya para polisi sudah melewati wilayah ini.
"Kita berpisah di sini, ya? Kalau bisa, rahasiakan nama kami dari polisi lain. Demi keamanan bersama," ucapku sambil memberikan jari kelingkingku.
"Aku janji, kok" janjinya sambil membalas kelingkingku, mengaitkannya satu sama lain. Membentuk janji.
Aku melambaikan tangan dan segera menaiki sedan hitam pucat yang sudah terparkir mulus. Pandangan kembali kuberikan pada anak kecil itu, lalu tersenyum padanya seraya melambaikan tangan. Tak lama kemudian, mobil sedan kami melaju dengan sangat kencang, membelah pegunungan ini.
~Miru's POV~
Aku menggosokkan kakiku ke batu sambil menunggu seseorang menghampiriku. Tidak sampai lima menit, akhirnya ayah datang. Benar kata gadis itu, para polisi itu tak jauh dari sini.
"Miru!!!" panggil ayah dengan sedikit haru dan langsung berhambur memelukku.
Aku membalas pelukannya. Setelah melewati masa-masa yang menegangkan, aku seperti belum pernah bertemu ayah sangat lama. Seperti rindu yang terpendam bertahun-tahun lamanya.
"Aku mencemaskanmu, Nak. Untunglah, ada orang yang berhasil membekuk dua orang pembunuh itu," tutur ayah dengan sangat hangat, tangannya melingkari bahuku serta dirinya tak henti menciumi diriku.
Aku teringat dengan ucapan gadis itu. Segera saja, aku menarik lengan baju ayah. Demi pembicaraan penting ini tak terulur, aku harus segera pulang ke rumah dan menepati janjiku dengannya.
"Aku ingin bicara berdua dengan Ayah sebentar saja," ujarku dengan serius dan kembali menatap surat dalam genggamanku.
Ayah akhirnya meminta izin agar pulang terlebih dahulu dengan alasan aku masih trauma karena bertemu pembunuh tersebut. Ayah memang paling ahli dalam membuat alasan.
Huah...Akhirnya, aku sampai di rumah. Ingin rasanya segera menghempaskan diriku ke kasur jika aku tak ingat kebaikan gadis itu. Ayah menarikku ke ruang keluarga dan menghempaskan dirinya ke sofa.
"Jadi, kau ingin bicara apa, Miru? Sepertinya kau sangat serius," ujar ayah sambil menyalakan televisi, tanpa ada keseriusan sama sekali. Sementara aku mulai tegang karena ingin menceritakan hal tentang gadis itu.
"Orang yang membekuk kedua pembunuh tersebut dan menolongku sudah pergi, jadi dia memberikan surat untuk ayah. Tapi, aku sangat penasaran dengan dirinya," jelasku sambil mengambil sepucuk surat dari saku celanaku, lalu menyerahkannya pada ayah. Sepertinya, siletku masih dibawa oleh gadis itu. Tak apalah, masih banyak silet di rumah ini.
"Jadi, kau ingin ayah mencarikan orang itu?" lanjut ayah sambil mengambil surat tersebut, tanpa membacanya langsung. Dia masih saja dalam keadaan santainya.
"Tidak. Dia bilang tanyakan saja dirinya kepadamu, Ayah. Dia bilang, dirinya seperti kakak perempuanku. Kalau tidak salah, namanya adalah Alluschia. Aneh sekali, padahal aku belum pernah mendengar dirinya sama sekali," lanjutku yang sangat penasaran atas dirinya.
Nama tersebut membuat ayah menjatuhkan remote dan membuat Nyonya Sharon yang mendengarnya tergopoh-gopoh menghampiriku. Sedahsyat inikah pengaruh gadis itu? Hingga para penghuni rumah menghampiriku?
"Kau bilang tadi namanya Aluschia? Ren...jangan-jangan," ujar Nyonya Sharon menanyakan kembali hal tersebut kepada diriku.
"Ya, sahabatnya juga memanggil dirinya dengan 'Cia'. Ada apa memang?" paparku kembali dengan penuh rasa bingung.
Aku melihat ayah kembali. Terkejut. Belum pernah ayah seperti ini. Setelah membaca surat darinya hingga habis, air mata ayah seketika tumpah. Ayah menangis, terisak hingga Nyonya Sharon harus menghapuskan air matanya dan menenangkannya.
"Nyonya Sharon, batalkan perjanjian dengan pemilik rumah yang akan kita tempati. Kita tidak akan pindah dari sini. Cia akan marah besar jika kita pindah dan oh ya, dia bilang dia merindukanmu," ucap ayah sambil berlalu pergi, seolah tak ingin memperlihatkan ekspresinya yang sangat kelam tersebut.
"Dia hanya merindukanmu, tidak denganku," tambah ayah sedikit bergumam, dengan suara tak terdengar, yang jelas membuatnya semakin terisak.
Terlihat jelas, ayah menyembunyikan ekspresinya. Namun, dia tidak kembali ke ruang kerjanya seperti biasa, namun ke sebuah ruang yang jarang sekali ditempati dan bahkan ayah sering melarangku ke sana. Sebuah kamar anak perempuan.
"Miru, kembalilah ke kamarmu," perintah Nyonya Sharon dengan lembut seraya mengusap kepalaku.
Aku lebih memilih untuk menurutinya karena tak ingin menimbulkan masalah pada malam hari. Huft, malam ini lebih panjang dari biasanya. Kuharap hari esok akan tiba secepatnya.