Bel istirahat berdering. Saka teringat tentang kabar dari Sekala yang belum juga diterimanya. Seharusnya sekarang ini dia sudah di Amerika, mengingat isi pesan sebelumnya yang mengatakan kalau malam tadi ia akan tiba di sana. Namun, sekarang saja hari sudah hampir siang. Buru-buru Sekala merogoh sakunya. Saku celana, saku seragam. Bahkan ia juga mengacak-acak isi ranselnya. Namun pada kenyataannya apa yang ia cari tidak ada di sana. Ponselnya. Ia lupa membawa ponselnya. Saka menepuk keningnya sendiri. Benar juga, ia baru ingat kalau ponselnya semalam sedang diisi daya, dan karena pagi tadi dirinya kesiangan, jadilah ponsel itu terlupakan dan pasti sekarang masih tergeletak di meja belajar.
Pun selama sisa jam pelajaran. Pikiran Saka sudah tidak duduk, bahkan mungkin memang selama ini t
tidak pernah benar-benar duduk di bangkunya. Tubuhnya memang di sana, tegak menghadap papan, tetapi kepalanya sudah lebih dulu pulang, berdiri di depan meja belajar, menatap layar ponsel yang entah menyimpan kabar apa.
“Saka.”
Bocah itu tersentak. Pak Rahman sudah berdiri di ujung deretan bangku, menepuk-nepukkan spidol ke telapak tangannya sendiri.
“Sejak tadi kau menatap jendela. Apa di luar sana ada yang lebih pintar dariku?”
Beberapa temannya tertawa kecil. Saka menunduk. “Maaf, Pak.”
“Kalau kepalamu memang sedang tidak di sini, tidak apa-apa. Tapi jangan bohongi dirimu sendiri dengan pura-pura mencatat.” Guru itu berbalik, kembali menulis di papan. “Semua orang di ruangan ini sedang menunggu sesuatu. Kau tidak istimewa.”
Kalimat terakhir itu anehnya terasa lebih menenangkan daripada seluruh nasihat yang pernah Saka dengar minggu ini.
Ia mencoba menulis. Tiga baris, lalu berhenti. Matanya lagi-lagi jatuh ke bangku kosong dua deret di sebelah kanan. Bangku Akasa. Sudah lebih dari sepekan bangku itu kosong, dan tidak ada satu pun guru yang menyebut namanya ketika mengabsen. Seolah nama itu sudah dicoret dari daftar tanpa pernah ada yang memberi tahu alasannya.
Dari bangku belakang, Senandika mencolek punggungnya dengan ujung pena.
“Kau lihat Alinea hari ini?” bisik gadis itu.
Saka menggeleng pelan, tanpa menoleh.
“Dia tidak masuk. Tidak izin juga.”
“Mungkin sakit.”
“Alinea tidak pernah tidak izin,” balas Senandika. “Dia bahkan pernah menitip surat izin lewat tukang air.”
Saka tidak sempat menjawab, sebab Pak Rahman sudah berdehem keras dari depan kelas. Tetapi kalimat itu tertinggal, mengendap, menambah satu lagi beban di kepala yang sudah terlalu penuh.
Bel pulang berbunyi pukul dua lewat sepuluh. Saka menjadi orang pertama yang berdiri. Ranselnya bahkan belum terkait sempurna di kedua bahunya ketika kakinya sudah membawanya keluar kelas, menuruni tangga dua anak sekaligus, menembus koridor yang penuh oleh tubuh-tubuh berseragam. Ia hanya memikirkan satu hal. Pulang. Meja belajar. Ponsel.
Ia hampir sampai di gerbang ketika sebuah tangan menarik tali ranselnya dari belakang, cukup keras hingga langkahnya tertahan.
“Saka! Berhenti!”
Senandika. Napas gadis itu tersengal, wajahnya pucat di balik pelindung mukanya.
“Ada apa? Aku buru-buru—”
“Alinea menelepon ke ruang tata usaha barusan.” Senandika menelan ludah. “Ayahnya jatuh. Tadi pagi, waktu mengantre air.”
Segala hal yang sejak tadi memenuhi kepala Saka tiba-tiba menyingkir, memberi tempat pada satu kalimat itu saja.
“Sekarang di mana?”
“Di rumah. Mereka tidak membawanya ke rumah sakit.”
“Kenapa tidak?”
Senandika hanya memandangnya. Dan Saka mengerti. Pertanyaan itu memang tidak pernah butuh jawaban di kota ini. Semua orang tahu berapa harga satu malam di ranjang rumah sakit, dan semua orang juga tahu berapa isi kaleng biskuit tempat keluarga Alinea menyimpan uang.
Mereka berlari.
Gang itu sempit, diapit tembok-tembok yang catnya sudah lama menyerah pada debu. Pintu rumah Alinea terbuka sedikit, menahan angin yang panas. Dari dalam terdengar bunyi mendesis kecil dan teratur, seperti napas yang dipinjamkan.
Ayah Alinea terbaring di kasur tipis yang digelar di ruang depan. Wajahnya kurus, kulitnya keabuan, dan di mulutnya terpasang face-shield tua yang selang-selangnya sudah dililit lakban di tiga tempat. Di sisi kasur, tabung oksigen berdiri miring, dengan jarum ukur yang jarumnya sudah menempel di garis merah.
Alinea duduk bersimpuh di sampingnya. Ia tidak menangis. Ia hanya membetulkan letak selang setiap kali bergeser, lalu mengelap dahi ayahnya dengan kain yang dibasahi seadanya.
“Kalian datang,” katanya, dan bahkan sempat tersenyum.
Saka tidak tahu harus berkata apa. Ia berlutut di ujung kasur.
“Berapa sisa tabungnya?” tanya Senandika pelan.
“Empat jam. Mungkin tiga.” Alinea mengucapkannya seperti orang menyebutkan sisa beras di karung.
“Aku bisa pinjam uang. Ayahku—”
“Sudah kucoba semua, Nandi.” Suaranya masih rata. “Yang menjual isi ulang di ujung jalan sudah tutup sejak kemarin. Yang di pasar minta tiga kali lipat, dan tetap tidak ada barangnya. Ini bukan soal uang lagi.”
Lelaki di kasur itu menggerakkan tangannya, lemah, dan menepuk lengan anaknya dua kali.
“Gitar,” katanya, suaranya tersaring mesin, serak dan jauh.
Alinea menoleh ke dinding. Gitar murah itu tergantung di sana, seperti yang selalu Saka lihat sejak dulu, dengan senar yang tinggal lima dan badan yang penuh goresan.
“Ayah tidak akan kuat memegangnya.”
“Bukan Ayah,” balas lelaki itu. “Kau.”
Maka Alinea berdiri, menurunkan gitar itu, dan duduk kembali. Jemarinya berhenti sebentar di atas senar, seolah lupa cara memulai. Lalu ia memetik. Nadanya sumbang di dua tempat, tetapi tak ada seorang pun di ruangan itu yang peduli.
Saka mengenali lagu itu. Ia pernah mendengarnya berkali-kali dari balik tembok, di sore-sore ketika ia lewat dan Ayah Alinea sedang duduk di ambang pintu.
“Judulnya apa, Pak?” tanya Saka, entah kenapa.
Lelaki itu terkekeh, dan kekehnya berubah menjadi batuk yang panjang.
“Belum ada,” jawabnya setelah reda. “Bapak menulisnya waktu Alinea lahir. Bapak pikir, nanti saja judulnya, kalau ceritanya sudah selesai.” Ia menarik napas yang dipinjamkan mesin itu. “Ternyata sampai sekarang belum selesai.”
Sore berpindah menjadi malam tanpa ada yang menyadarinya. Tetangga datang bergantian, membawa air setengah gelas, membawa doa, membawa diam. Senandika mengirim pesan ke rumahnya sendiri. Saka tidak mengirim apa pun, sebab ponselnya masih tergeletak di meja belajar, di rumah, di sisi kota yang lain. Sekali dua kali ia sempat berpikir untuk pulang sebentar, memeriksanya, lalu kembali lagi. Sekali dua kali pula ia mengurungkannya. Ada Sekala di ujung sana yang mungkin sedang mengabari, dan ada Alinea di depannya yang sudah pasti sedang kehilangan. Saka memilih yang bisa ia sentuh.
Sekitar pukul sepuluh, Alinea meminta Saka menggantikannya sebentar memegang kain itu. Gadis itu keluar, dan lama sekali tidak kembali. Ketika Saka menyusul, ia menemukannya berdiri di ujung gang, menghadap tembok, dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku sedang menghitung,” jawab Alinea tanpa berbalik. “Berapa hari lagi sampai jatah air bulan depan keluar. Berapa yang harus kubayar untuk pemakaman. Siapa yang harus kuhubungi besok pagi.” Ia menarik napas. “Kalau aku berhenti menghitung, aku akan mulai memikirkan yang lain. Dan aku belum boleh memikirkan yang lain.”
Saka mengangguk, meski gadis itu tidak melihatnya. Ia berdiri di sana, menemani, sampai Alinea sendiri yang memutuskan untuk masuk.
Menjelang tengah malam, lelaki itu memanggil anaknya dengan suara yang nyaris habis, lalu memandang ke arah Saka dan Senandika.
“Boleh Bapak minta waktu?”
Mereka berdua keluar tanpa bertanya. Di gang, udara terasa dingin untuk pertama kalinya sepanjang hari. Saka bersandar ke tembok, menengadah, mencari sesuatu di langit yang merah dan tidak menemukan apa-apa. Dari dalam terdengar suara pelan, dua suara, saling bersahutan, terlalu jauh untuk dimengerti.
Lalu terdengar bunyi lain. Bunyi karet yang dilepas, dan desis mesin yang tiba-tiba kehilangan tujuan.
Senandika menutup mulutnya.
Mereka baru masuk kembali ketika Alinea memanggil. Gadis itu masih duduk di tempatnya semula, punggungnya tegak, wajahnya kering, dan tangannya masih memegang kain yang sudah tidak ada gunanya lagi.
“Sudah,” katanya. Hanya itu.
Saka tidak pulang malam itu. Ia duduk di lantai sampai langit di ujung gang berubah dari merah tua menjadi merah muda, masih dengan seragam yang sama, masih dengan ponsel yang tertinggal di meja belajar, dan masih tanpa satu pun kabar dari kakaknya.