Rumah bercat kusam di ujung gang itu tidak muat menampung siapa pun. Tapi memang tidak banyak yang datang.
Saka berdiri di halaman bersama Senandika, mengenakan seragam yang belum sempat diganti. Di dalam, jenazah ayah Alinea sudah dibaringkan dan ditutup kain. Beberapa tetangga duduk di lantai, membaca doa dengan suara pelan. Di sudut ruangan, gitar murah itu masih tergantung di tempatnya, sedikit miring, berdebu.
Alinea duduk paling dekat dengan jenazah. Punggungnya tegak. Wajahnya kering. Ia menyambut setiap orang yang datang, mengucapkan terima kasih, bahkan sempat menawari minum, sesuatu yang membuat dada Saka terasa diremas.
“Dia belum menangis sejak tadi pagi,” bisik Senandika.
“Aku tahu.”
Pemakaman dilakukan sebelum matahari terlalu tinggi. Lahan pemakaman sudah lama menjadi barang langka; sebagian besar orang di kota ini dikremasi karena jauh lebih murah. Ayah Alinea beruntung, kalau kata itu masih pantas dipakai, karena masih ada satu petak sisa milik keluarga yang belum terpakai.
Saka ikut mengangkat. Beban di bahunya ringan, dan justru itu yang membuatnya ingin menangis. Sudah berapa lama lelaki itu tidak makan cukup? Sudah berapa banyak jatah airnya yang diam-diam ia pindahkan ke gelas anaknya?
Setelah tanah ditutup dan orang-orang mulai pergi, Alinea masih berdiri di sana. Saka berdiri di sebelahnya, tidak mengatakan apa pun, karena ia tidak tahu kalimat mana yang tidak akan terdengar bodoh.
“Semalam dia melepas face-shield-nya,” kata Alinea tiba-tiba. Suaranya rata. “Dia bilang, dia ingin mendengar suaraku tanpa ada mesin yang menerjemahkan wajahku. Aku bilang, ‘Ayah, nanti Ayah tidak tahu aku sedang apa.’ Dia bilang, ‘Ayah tahu. Kau sedang berpura-pura kuat, seperti biasa.’”
Bahu gadis itu mulai berguncang.
“Aku benci itu, Saka. Aku benci kalau ada yang tahu.”
Kemudian pertahanannya runtuh, dan Saka menangkap tubuh itu sebelum jatuh ke tanah. Alinea menangis di sana, di depan gundukan tanah yang masih basah, dengan cara yang tidak pernah Saka dengar dari siapa pun sebelumnya.
“Sekarang aku tidak punya siapa-siapa,” ucapnya, berulang-ulang. “Sekarang aku tidak punya siapa-siapa.”
“Kau punya kami,” kata Saka akhirnya. “Aku, Senandika, dan Akasa. Kami masih ada.”
Ia mengucapkan nama Akasa, dan seketika menyesalinya. Karena bahkan ketika mengucapkannya, ia sendiri tidak yakin apakah kalimat itu masih benar.
***
Saka tiba di rumah menjelang sore. Rumahnya sepi. Ayahnya belum pulang dari kantor, ibunya entah di mana.
Ia melempar tas ke lantai dan langsung menuju meja belajar. Ponselnya masih tergeletak di sana, kabel pengisi daya masih menancap, layarnya menyala begitu ia menyentuhnya.
1 Pesan Masuk.
Jantung Saka berdegup keras. Dibukanya pesan itu dengan tangan yang tiba-tiba menjadi dingin.
Pesan itu dikirim tadi malam, pukul 23.47.
Saka, dengarkan baik-baik. Kapalnya bukan ke Amerika. Zade membawa kami ke arah lain. Aku tidak bisa lama. Jangan katakan apa pun pada ayah dan ibu dulu. Kalau besok pagi aku tidak mengirim kabar lagi, berikan surat itu. Dan satu hal, Saka, ini penting: pil itu bukan buatan perusahaan sebelah untuk dijual. Mereka tidak sedang berdagang. Mereka sedang
Kalimatnya berhenti di sana.
Saka membaca ulang. Sekali. Dua kali. Lima kali. Ia menggulir layar ke bawah, berharap ada lanjutan yang belum termuat, ada satu baris lagi yang tersembunyi. Tidak ada. Pesan itu memang putus di tengah.
Ditekannya nomor kakaknya. Nada sambung tidak pernah muncul. Sebagai gantinya, sebuah suara perempuan yang tenang dan sopan memberitahunya bahwa nomor yang ia tuju tidak aktif.
Ia mencoba lagi. Sepuluh kali. Dua puluh kali. Suara perempuan itu mengulang kalimat yang sama dengan nada yang sama, seperti mesin yang tidak pernah lelah menyampaikan kabar buruk.
Saka menjatuhkan tubuhnya ke lantai, bersandar pada kaki meja belajar. Napasnya pendek-pendek.
Besok pagi. Kakaknya menulis besok pagi. Dan besok pagi itu sudah lewat sejak sepuluh jam yang lalu.
Ia bangkit untuk mengambil air, karena kerongkongannya terasa seperti kertas.
Dispenser di sudut ruang makan berbunyi pelan ketika ia menekan sandinya.
Saka Amalta: 50 ml.
Saka menatap angka itu.
Kemarin lima puluh. Kemarin lusa lima puluh. Minggu lalu, ketika ia mengambil sepuluh mililiter untuk membasuh mulutnya sehabis muntah karena panas, angka itu berkurang menjadi empat puluh, lalu keesokan paginya kembali penuh lagi di angka lima puluh.
Selalu lima puluh. Tidak pernah berkurang, tidak pernah kurang, seolah ada sungai kecil yang tidak pernah ia ketahui letaknya, yang terus mengisi bagiannya diam-diam tiap malam.
Ia terlalu lelah untuk memikirkannya sekarang. Diambilnya lima mililiter, ditenggaknya, dan angka di layar berubah menjadi 45.
Ia melirik laci meja. Di dalam sana, amplop putih itu masih tersimpan rapi, ujungnya masih terekat, persis seperti saat diserahkan di depan kedai.
Tangan Saka bergerak ke gagang laci, lalu berhenti.
Tidak. Belum.
Kalau ia membuka laci itu sekarang, kalau ia menyerahkan surat itu malam ini, artinya ia sudah memutuskan sesuatu tentang kakaknya. Sesuatu yang belum siap ia putuskan.
***
Ia keluar rumah tanpa mengganti seragam.
Kakinya membawanya ke satu-satunya tempat yang selalu menjadi tujuannya ketika kepalanya terlalu berisik. Rumah yang berantakan, halaman yang tidak pernah disapu, kursi kayu dan meja bundar di depannya.
“Prof!” Saka mengetuk. “Profesor Ed!”
Tidak ada jawaban.
“Prof! Ini aku, Saka!”
Ia mengetuk lebih keras, lalu menggeser sedikit ke jendela, mengintip lewat celah gorden. Ruang tamu itu gelap. Cangkir teh masih tertinggal di atas meja, isinya sudah menyusut dan mengering di dasarnya. Koran di sebelahnya adalah koran tiga hari yang lalu.
“Cari Profesor?” Seorang perempuan tua dari rumah sebelah melongok. “Sudah tiga hari tidak pulang, Nak. Biasanya juga begitu kalau sedang ada urusan negara. Tapi kali ini agak lama.”
“Ibu tahu ke mana?”
“Mana Ibu tahu. Tapi dua malam lalu ada kendaraan datang, dua orang, pakai seragam. Bukan polisi. Seragamnya lain.” Perempuan itu menutup jendelanya. “Sudah, jangan ke sana lagi. Zaman begini, rumah kosong itu bahaya.”
Saka berdiri di depan pintu itu untuk waktu yang lama.
Kakaknya hilang. Profesor Ed hilang. Ayah Alinea baru saja dikubur. Akasa dibawa dengan tangan dan kaki terikat, dengan mulut penuh darah dan mata yang memutih. Dan seluruh kota ini terus berjalan seperti biasa, seolah tidak ada satu pun dari itu yang layak dihentikan sebentar saja untuk ditanyakan kenapa.
Kemudian Saka teringat sesuatu.
Aku tidak bisa jelaskan sekarang. Akan kujelaskan setelah kutangani ini. Oke?
Satu orang. Masih ada satu orang yang berjanji akan menjelaskan.
Saka berlari. Ia berlari sampai ke halte, dan ketika skydrive bus datang, ia naik tanpa memeriksa nomor rutenya, hanya memastikan satu hal kepada sopir: bahwa kendaraan ini melewati rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, ia tidak duduk. Ia berdiri di dekat pintu, memegangi tiang besi, menatap jalanan yang bergerak di bawah sana. Di trotoar, dua orang sedang berebut sesuatu. Di trotoar lain, seseorang tergeletak dan tidak ada yang berhenti.
Skydrive bus itu akhirnya melambat.
Bangunan besar berwarna putih kusam muncul di sebelah kanan, dengan huruf-huruf yang sebagian sudah tanggal di bagian depannya. Saka turun bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti, lalu memacu kakinya menyeberangi halaman parkir yang panas, menuju pintu masuk yang terbuka dan menutup secara otomatis.