Saka mengedarkan pandangannya, ketika dirinya baru saja melintasi pintu masuk. Beberapa orang berpakaian seragam putih khas perawat berlalu lalang di depannya. Pun fokusnya tertuju pada seorang perempuan yang baru saja selesai berbicara melalui panggilan telepon, perempuan itu duduk di balik meja bertuliskan “Resepsionis”.
“Permisi.” Ucap Saka.
Pun perempuan itu menoleh, menyambutnya dengan senyuman ramah lagi hangat.
“Ya, ada yang bisa dibantu, Dek?” tanyanya.
“Saya mau bertanya, ruangan Dokter Darius di sebelah mana, ya?”
“Dokter Darius? Mohon tunggu sebentar, ya, Dek.” Kata perempuan itu lagi. Alih-alih memberi arahan menuju ruangan Dokter Darius yang menjadi tujuan bagi Saka, ia malah kembali meraih gagang telepon dan menekan digit angka yang tertera di sana.
Sa
Saka menunggu. Ia berdiri saja di depan meja itu, sambil membetulkan letak tali ransel yang sedari tadi menekan bahunya. Dari balik meja, perempuan itu berbicara dengan suara yang sengaja direndahkan, terlalu pelan untuk didengar, namun cukup jelas untuk dilihat. Sebab sesekali matanya melirik ke arah Saka, lalu buru-buru kembali menunduk begitu Saka balas menatapnya.
Panggilan itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya dibutuhkan untuk sekadar menanyakan letak sebuah ruangan.
“Dek,” kata perempuan itu akhirnya, dengan gagang telepon masih menempel di bahunya. “Namanya siapa?”
“Saka.”
“Saka saja?”
“Saka. Adiknya Sekala.”
Perempuan itu terdiam sepersekian detik. Senyumnya masih ada di tempatnya, tapi sekarang senyum itu tidak lagi sampai ke matanya.
“Ada perlu apa dengan Dokter Darius?”
“Aku mau menanyakan sesuatu tentang temanku. Akasa. Dia pernah dirawat di sini.”
“Kau keluarganya?”
“Bukan. Aku sahabatnya.”
“Sahabat bukan keluarga, Dek.”
“Aku tahu.” Saka menahan diri agar suaranya tidak meninggi. “Tapi keluarganya tidak ada yang bisa datang. Dan aku juga mau bertanya soal pil.”
Kata terakhir itu keluar begitu saja, tanpa sempat ia timbang. Dan Saka langsung menyesalinya, sebab ia melihat sendiri bagaimana bahu perempuan itu menegang, dan bagaimana jari telunjuknya berhenti tepat di atas tombol telepon.
“Pil apa?”
“Tidak,” balas Saka cepat. “Bukan apa-apa.”
Perempuan itu memandangnya beberapa saat, lalu berkata ke arah gagang telepon, “Iya, Pak. Betul. Anak laki-laki. Seragam sekolah.” Kemudian ia menutup panggilan itu, tapi tidak meletakkan gagangnya kembali. Ia menahannya, seperti orang yang belum yakin apakah masih akan membutuhkannya sebentar lagi.
Saka mengedarkan pandangannya lagi, kali ini ke seluruh ruang tunggu.
Rumah sakit itu penuh. Bukan penuh seperti biasanya, melainkan penuh seperti pasar. Kursi-kursi besi di sepanjang dinding sudah tidak muat, sehingga orang-orang duduk di lantai, bersandar ke tembok, sebagian tidur dengan mulut terbuka di balik pelindung mukanya. Ada suara batuk dari empat, lima, entah berapa arah sekaligus, saling bersahutan seperti sesuatu yang sudah disepakati. Di dinding seberang, sebuah layar menampilkan nomor antrean yang angkanya tidak berubah sejak Saka masuk tadi.
Dan ada yang lain lagi, yang baru Saka sadari setelah beberapa saat.
Lorong di sisi kanan ruang tunggu itu ditutup. Bukan dengan pintu, melainkan dengan lembaran plastik bening yang digantung dari langit-langit sampai ke lantai, ditahan lakban abu-abu di kedua sisinya. Dua orang berdiri di depannya, mengenakan pakaian pelindung yang menutupi seluruh tubuh, jenis yang biasanya hanya Saka lihat di berita.
Saka baru saja hendak bertanya tentang lorong itu ketika terdengar bunyi benda logam jatuh dari arah sana.
Semua kepala menoleh serentak.
Bunyi kedua datang lebih cepat. Kali ini bukan logam, melainkan sesuatu yang lebih basah dan lebih berat, disusul teriakan seorang perempuan yang langsung terpotong di tengah.
Lembaran plastik itu tersibak.
Yang keluar dari sana adalah seorang lelaki. Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian pasien berwarna hijau pudar yang sudah robek di bagian bahu. Pergelangan tangan kanannya masih terikat tali pengaman, dan tali itu menyeret sesuatu di belakangnya: sebuah pagar ranjang yang sudah lepas dari tempatnya, ikut terseret di lantai dengan bunyi yang membuat gigi ngilu.
Lelaki itu berhenti di tengah ruangan. Kepalanya bergerak-gerak, patah-patah, seperti orang yang sedang mencari sumber suara yang hanya ia sendiri yang dengar. Dan ketika kepalanya berputar ke arah Saka, Saka melihat wajahnya.
Kulit di sekitar mulutnya sudah bukan kulit lagi. Ada sesuatu yang tumbuh di sana, kelabu kebiruan, halus seperti beludru, merambat naik sampai ke bawah kedua matanya. Matanya sendiri terbuka terlalu lebar, tanpa kedip sama sekali.
Saka pernah melihat warna itu. Sekali. Di sudut bibir Akasa, di kamar rawat lantai dua, dan waktu itu Saka meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lihat hanyalah bayangan lampu.
“Pak! Berhenti di situ!”
Seorang petugas keamanan mendekat dari sisi kiri, dengan kedua tangan terangkat, berbicara dengan nada yang dipaksakan tenang. Lelaki itu tidak menoleh. Ia hanya menarik napas, satu tarikan panjang yang bunyinya terdengar sampai ke ujung ruangan, lalu melompat.
Bukan berlari. Melompat.
Petugas itu terjungkal ke belakang, dan sisanya terjadi terlalu cepat untuk diikuti mata. Kursi-kursi besi terdorong dan berdentang. Orang-orang berteriak, berdiri serentak, saling mendorong ke arah pintu keluar. Seorang ibu menarik anaknya sampai anak itu terjatuh dan diseret sejenak di lantai. Gelas-gelas air jatuh, isinya tumpah, dan bahkan dalam kekacauan seperti itu Saka masih sempat melihat dua orang berjongkok untuk menyelamatkan tumpahan itu dengan telapak tangan mereka.
Saka sendiri tidak bergerak. Kakinya tidak mau menerima satu pun perintah yang dikirim kepalanya.
Tangan seseorang menariknya dari belakang, keras, sampai punggungnya membentur sisi meja resepsionis.
“Menunduk!” perempuan itu berteriak tepat di telinganya. “Jangan lihat!”
Tapi Saka melihat.
Ia melihat lelaki itu menunduk di atas tubuh petugas keamanan, dan ia melihat bahwa yang dilakukannya bukanlah memukul. Ia melihat empat orang berpakaian pelindung datang dari lorong dengan membawa tongkat panjang, dan ia melihat percikan biru kecil di ujung tongkat itu setiap kali menyentuh punggung lelaki tersebut. Lelaki itu mengejang, tetapi tidak berhenti. Baru pada sentuhan yang kelima tubuhnya melemas, dan bahkan setelah itu jari-jarinya masih bergerak, mencakar-cakar lantai dengan pola yang sama, berulang-ulang.
Kemudian ruangan itu menjadi hening.
Bukan hening yang lega. Hening yang salah. Orang-orang berdiri di dekat pintu, tidak ada yang keluar, tidak ada yang kembali duduk. Petugas berpakaian pelindung membentangkan lembaran plastik baru di sekeliling tempat kejadian, cepat dan rapi, seperti orang yang sudah melakukannya lebih dari sekali dalam sepekan terakhir.
Dari pengeras suara di langit-langit, terdengar suara perempuan yang tenang dan sopan.
“Perhatian. Kode kuning di area lobi telah ditangani. Mohon pengunjung kembali ke tempat masing-masing. Perhatian. Kode kuning di area lobi telah ditangani.”
Dan yang paling membuat perut Saka terasa dingin bukanlah lelaki itu, bukan pula darah yang sedang ditutup dengan serbuk putih di lantai. Melainkan bagaimana orang-orang itu, satu per satu, benar-benar kembali ke tempat masing-masing. Duduk lagi. Bersandar lagi. Menatap layar nomor antrean lagi. Seorang bapak tua di dekat pilar bahkan melanjutkan mengunyah rotinya, tanpa sedikit pun mengubah kecepatan rahangnya.
Seolah ini bukan yang pertama. Seolah besok pun akan ada lagi.
“Yang ketiga minggu ini,” gumam seorang perempuan paruh baya yang duduk paling dekat dengan meja resepsionis, entah kepada siapa. Di pangkuannya ada seorang anak kecil yang sudah tertidur sejak tadi dan tidak terbangun sedikit pun oleh semua keributan itu.
“Yang ketiga?” Saka menoleh kepadanya.
Perempuan itu mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai yang sedang dibersihkan.
“Senin kemarin di ruang tunggu obat. Rabu di lantai dua.” Ia membetulkan selimut anaknya. “Kalau kau punya urusan di sini, Nak, selesaikan cepat-cepat, lalu pulang. Jangan menunggu sampai malam. Yang begitu itu selalu mulai kalau lampunya sudah dikurangi.”
Saka ingin bertanya lebih banyak, tetapi perempuan itu sudah memalingkan wajah, dan cara ia memalingkannya sudah cukup menjadi jawaban bahwa percakapan tadi tidak akan dilanjutkan.
Saka masih bersandar di sisi meja ketika perempuan resepsionis itu bangkit, merapikan rambutnya, dan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Napasnya belum teratur, tetapi senyum itu sudah ia pasang lagi di wajahnya, sama ramahnya seperti tadi.