“Dek, tunggu di kursi sebelah sana dulu, ya. Nanti dipanggil.”
Saka menurut. Ia duduk di deretan kursi besi yang dingin, menghadap ke lorong, dengan tas sekolah yang bahkan belum sempat ia tinggalkan di rumah. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Beberapa kali ia melirik jam dinding di atas meja resepsionis, dan tiap kali ia melirik, jarumnya seolah bergerak lebih lambat dari sebelumnya.
Yang datang menjemputnya bukan Dokter Darius, melainkan seorang perawat laki-laki bertubuh besar dengan masker yang menutupi separuh wajahnya.
“Saka, ya?”
“Iya.”
“Ikut saya.”
Mereka tidak naik ke lantai atas, tempat ruangan Darius berada. Perawat itu justru membawanya ke ujung lorong, melewati pintu bertuliskan KHUSUS PETUGAS, lalu menuruni tangga.
Semakin ke bawah, udaranya semakin dingin dan semakin bau. Bukan bau obat. Bau yang lain, yang tidak bisa Saka namai, semacam campuran antara tanah basah dan sesuatu yang manis dan salah.
Di dasar tangga, lorongnya sudah tidak seperti rumah sakit lagi. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran plastik bening yang digantung dari langit-langit. Ada dua orang berjaga di ujung sana, mengenakan pakaian pelindung lengkap, dan satu troli berisi kantong-kantong jenazah yang sudah terisi.
Saka berhenti melangkah.
“Kenapa aku dibawa ke sini?”
“Karena kau memaksa bertemu Dokter Darius,” jawab sebuah suara dari balik plastik. “Dan Dokter Darius sudah tiga hari tidak keluar dari sini.”
Plastik itu tersibak. Darius muncul, tanpa jas putih, mengenakan pakaian pelindung yang sudah lusuh, dengan lingkaran hitam di bawah kedua matanya dan bekas karet masker yang membekas dalam di pipinya.
“Pulanglah, Saka.”
“Tidak.”
“Ini bukan tempat untuk anak sekolah.”
“Kau berjanji akan menjelaskan.” Suara Saka bergetar, tapi ia tidak mundur. “Kau bilang, ‘Akan kujelaskan setelah kutangani ini.’ Aku menunggu tiga hari. Kakakku hilang. Profesor Ed hilang. Ayah temanku baru saja kukubur pagi tadi. Jadi jelaskan sekarang, Dok. Sekarang.”
Darius menatapnya lama. Lelaki itu kemudian menghela napas, mengambil satu set pakaian pelindung dari rak, dan melemparkannya ke arah Saka.
“Pakai. Jangan sentuh apa pun. Jangan buka masker walau kau merasa sesak.”
***
Ruangan di ujung lorong itu dulunya adalah gudang. Sekarang di dalamnya berjejer empat belas ranjang, dan setiap ranjang punya penghuni.
Semuanya diikat.
Sebagian besar diam, dengan mata terbuka dan menatap langit-langit. Dua di antaranya terus menggeliat, menarik-narik tali di pergelangan tangan sampai kulitnya lecet. Satu orang di sudut sana tertawa. Bukan tertawa yang lucu. Tertawa yang datar, panjang, dan tidak berhenti.
Di dinding sebelah kiri, sebuah papan tulis putih dipenuhi tulisan spidol yang rapat. Empat belas baris. Setiap baris berisi nama, umur, alamat, dan tanggal.
Saka membaca alamat-alamat itu, dan lambungnya terasa turun.
Gang Kemuning. Gang Kemuning. Blok C ujung. Gang Kemuning. Tepi Citarum. Gang Kemuning.
Semuanya dari daerah yang sama. Semuanya dari sisi utara kubah, dari rumah-rumah yang berdiri paling dekat dengan sungai yang menghitam, dari lingkungan yang sama dengan rumah bercat merah itu.
“Empat belas,” kata Darius. “Enam hari lalu masih dua.”
Saka merasa lututnya lemas. “Mereka semua… keracunan air?”
“Bukan.” Darius berdiri di sampingnya, memandangi ruangan itu seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk terkejut. “Mereka semua minum pil.”
Saka menoleh cepat.
“Pil yang menghilangkan haus. Ya, benda itu memang bekerja. Selama tiga sampai empat hari, orang yang meminumnya benar-benar tidak merasa haus. Bahkan luka mereka menutup lebih cepat. Bahkan orang yang sekarat bisa berdiri dan menyambut temannya di depan pintu sambil tersenyum lebar.” Darius menoleh, dan tatapannya membuat Saka ingin memalingkan wajah. “Kau sudah melihat sendiri.”
Napas Saka tertahan di kerongkongan.
“Akasa…”
“Kakakmu membawakan satu butir kepadaku. Aku membelahnya. Di dalamnya ada jamur berfilamen, namanya necrofungus psilocybelis. Jamur itu tumbuh pada mayat, Saka. Dia hidup dari jaringan yang mati.” Darius bicara pelan, tapi tidak satu kata pun luput. “Begitu masuk ke tubuh, dia langsung mencari jaringan yang paling rusak. Dia memperbaikinya. Dia menahan rasa haus, karena dia menahan air di dalam sel. Selama beberapa hari, dia betul-betul menyelamatkan inangnya.”
“Lalu kenapa mereka jadi begitu?”
“Karena jamur tidak menyelamatkan siapa pun. Jamur hanya sedang menyiapkan tempat tinggal.” Darius menunjuk ke arah salah satu ranjang dengan dagunya. “Setelah tubuh cukup pulih, filamennya naik ke saraf. Ke otak. Inangnya berubah agresif, ingin menggigit, dan setiap gigitan menyebarkan sporanya ke orang berikutnya. Setelah itu, inangnya mati. Dan di atas tubuh yang mati itu, jamurnya berbuah.”
Ruangan itu terasa berputar. Saka meraih tepi meja untuk menahan tubuhnya.
“Siapa yang membuatnya?”
“Kami belum tahu pasti. Yang kami tahu, pil itu dibagikan gratis. Seratus butir pertama selalu gratis.” Darius menatapnya. “Dan tahukah kau, di mana pembagian gratisnya paling banyak?”
Saka menggeleng, meski di dalam hatinya ia sudah tahu jawabannya.
“Ujung kubah. Daerah paling miskin, paling dekat sungai, paling banyak orang yang tidak akan sanggup membayar tagihan oksigen bulan depan.” Darius mengembuskan napas panjang. “Mereka tidak sedang berjualan obat, Saka. Mereka sedang memilih siapa yang akan jadi ladang.”
***
Saka tidak sanggup berdiri lama-lama. Ia duduk di kursi plastik di sudut ruangan, menunduk, kedua tangannya menutupi wajah lewat pelindung yang menghalangi.
“Kenapa tidak diumumkan?” tanyanya, akhirnya. “Kenapa tidak ada berita? Kenapa orang-orang di luar sana masih membelinya?”
“Kami sudah melaporkannya. Dua kali.” Darius tersenyum, senyum yang paling pahit yang pernah Saka lihat di wajah orang dewasa. “Laporan pertama hilang. Laporan kedua dijawab dengan surat pemberitahuan bahwa rumah sakit ini akan diaudit bulan depan.”
“Jadi tidak ada yang bisa dilakukan?”
“Ada satu orang yang sedang mencoba.”
Darius berdiri, lalu berjalan menuju pintu di sisi lain ruangan. Pintu itu tidak berlabel apa pun.
“Kau bertanya di mana Profesor Ed, bukan?”
Saka mengangkat kepalanya.
“Tiga malam lalu ada dua orang datang ke rumahnya. Bukan polisi, bukan petugas kota. Untung dia sedang tidak di rumah. Sejak itu dia tidak pulang.” Darius membuka pintu itu. “Dia di sini. Sudah tiga hari tidak tidur lebih dari dua jam sehari.”
Ruangan di baliknya kecil, penuh peralatan yang tidak Saka kenali, dengan meja panjang berisi cawan-cawan kaca. Dan di sana, membungkuk di depan mikroskop, dengan blazer lusuh yang sama, duduk seorang lelaki tua berambut putih setengah botak.
“Prof!”
Profesor Ed menoleh. Kacamatanya melorot ke ujung hidung. Ia tidak terlihat terkejut sedikit pun melihat Saka berdiri di sana, seolah kehadiran bocah itu memang sudah ia perhitungkan sejak awal.
“Kau lama sekali,” katanya.
Saka melangkah maju. “Profesor tahu aku akan datang?”
“Aku tahu kau akan bertanya. Kau selalu bertanya.” Profesor Ed melepas kacamatanya, mengusap matanya yang lelah, lalu memasangnya kembali. “Duduklah. Ada yang harus kau lihat sebelum kau memutuskan apa pun.”
“Melihat apa lagi, Prof? Aku sudah melihat empat belas orang diikat di ranjang.”
Profesor Ed bangkit. Ia berjalan mendekat, dan ketika ia meletakkan tangannya di bahu Saka, tangan itu terasa ringan sekali, seperti tangan yang sudah kehabisan hampir semua tenaganya.
“Bukan mereka,” katanya lirih. “Yang satu ini lain. Yang satu ini sedang menunggumu sejak tadi pagi.”
Ia menuntun Saka ke dinding seberang, ke sebuah jendela kaca kecil yang menghadap ke ruangan terpisah.
Di balik kaca itu, di atas satu-satunya ranjang, terbaring seorang anak lelaki dengan tangan dan kaki terikat.
Saka mengenali sepatu yang tergeletak di bawah ranjang itu sebelum ia mengenali wajahnya.
“Akasa…”