Anak itu tidak bergerak.
Kulitnya pucat kelabu, dengan urat-urat halus berwarna gelap yang merambat naik dari leher ke rahang, seperti akar yang mencari jalan. Kedua matanya terbuka, memutih seluruhnya, menatap langit-langit tanpa berkedip. Di sudut bibirnya ada bekas darah yang sudah mengering dan tidak sempat dibersihkan siapa pun.
“Berapa lama lagi?” tanya Saka. Suaranya nyaris tidak keluar.
“Beberapa jam,” jawab Darius dari belakang. “Mungkin sampai subuh.”
“Apa dia sadar?”
“Kadang.” Profesor Ed yang menjawab. “Jamurnya tidak bekerja terus-menerus. Ada jeda. Di jeda itu, inangnya kembali. Utuh, kadang-kadang. Tapi jedanya makin pendek tiap kali.”
Saka menempelkan telapak tangannya di kaca.
“Aku mau masuk.”
“Tidak boleh.”
“Aku mau masuk, Dok.”
“Saka—”
“Dia sahabatku!” Saka berbalik, dan untuk pertama kalinya suaranya pecah menjadi teriakan. “Kalian menaruhnya sendirian di ruangan kosong, diikat, tanpa siapa-siapa! Kalau nanti dia bangun, siapa yang akan dia lihat? Langit-langit? Aku mau masuk!”
Ruangan itu senyap. Darius menunduk, memijat pangkal hidungnya, lalu berbicara pada perawat di belakangnya tanpa mengangkat kepala.
“Siapkan pelindung lapis dua. Ikat tangan tambahan di ranjang. Kau berdiri di batas garis kuning, Saka. Selangkah pun tidak lebih dekat. Kalau kau melanggar, aku seret kau keluar sendiri.”
***
Ruangan itu dingin dan berbau logam.
Saka berdiri di belakang garis kuning yang dicat kasar di lantai, sekitar dua langkah dari sisi ranjang. Ia berdiri di sana lama sekali, tanpa tahu harus berkata apa kepada seseorang yang matanya seputih itu.
“Akasa,” panggilnya akhirnya. “Ini aku.”
Tidak ada jawaban.
“Kau ingat serial yang kita tonton? Yang dari negeri ginseng itu? Aku belum menontonnya sampai selesai. Sungguh. Aku menunggu kau bangun.” Saka menelan ludah. “Aku sudah bilang, aku tidak mau menontonnya sendirian.”
Masih tidak ada jawaban.
“Alinea kehilangan ayahnya pagi tadi. Dia menangis, Akasa. Dia yang selalu bilang tidak butuh dikasihani, dia menangis di depan kuburan sampai tidak bisa berdiri. Aku tidak tahu harus bilang apa. Kau yang biasanya tahu harus bilang apa.” Air matanya mulai jatuh, menempel di bagian dalam pelindung wajahnya. “Kak Sekala juga hilang. Nomornya tidak aktif. Semuanya pergi, Akasa. Kenapa semuanya pergi?”
Terdengar bunyi. Pelan sekali. Seperti orang menarik napas dengan susah payah.
Kepala di atas bantal itu bergerak. Sedikit. Lalu mata yang memutih itu berkedip satu kali, dan warna cokelat gelap perlahan kembali dari balik kabut putihnya.
“…Dasar cengeng.”
Saka nyaris terjatuh ke lantai.
“Akasa!”
“Jangan berteriak.” Suara itu serak dan lambat, seolah tiap kata harus digali dulu sebelum bisa diucapkan. “Kepalaku… penuh.”
“Aku panggil dokter—”
“Jangan.” Jemari Akasa bergerak lemah di dalam ikatan. “Sebentar saja. Jangan panggil siapa-siapa dulu.”
Saka berhenti, dan hanya berdiri di sana, menangis tanpa suara.
“Kau sudah tahu, ya?” tanya Akasa.
“Tahu apa?”
“Soal pil itu.”
Saka mengangguk pelan.
Akasa menutup matanya sebentar. “Aku yang minta, Saka. Bukan ibuku. Waktu itu ibu pulang dari warung, dia bilang ada obat gratis untuk orang sakit. Dia bilang mungkin bisa membantu. Dia menaruhnya di meja dan menangis semalaman karena dia tahu tidak ada uang untuk membeli yang lain.” Napasnya tersendat. “Aku yang mengambilnya waktu dia tidur. Aku yang menelannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku lelah melihat ibuku menjual barang-barangnya untuk membeli air yang bahkan tidak layak diminum.” Akasa membuka matanya, menatap langit-langit. “Karena aku ingin, satu hari saja, bangun dan berdiri dan menyambut sahabatku di depan pintu tanpa harus dipapah. Dan hari itu benar-benar terjadi, Saka. Kau ingat? Aku berdiri di depan pintu, dan kau bengong seperti orang bodoh.”
Saka tertawa di sela isaknya. “Kau kelihatan sehat sekali.”
“Aku merasa sehat sekali.” Suara Akasa melembut. “Itu hari terbaik dalam hidupku. Dan aku sudah tahu harganya waktu itu.”
“Kau tahu?”
“Aku menonton dua orang tetanggaku yang minum lebih dulu. Aku tahu persis apa yang akan terjadi.” Akasa memejamkan mata. “Jadi jangan salahkan ibuku. Jangan pernah. Berjanjilah.”
“Aku berjanji.”
Hening cukup lama. Di luar kaca, Darius mengetuk pelan, memberi isyarat waktu. Saka pura-pura tidak melihat.
“Aku menemukan tulisanmu,” kata Saka. “Yang di bawah bantal.”
“Ah.” Akasa mendesah. “Itu memalukan.”
“Tidak.” Saka menarik napas, lalu mulai. “Kepada maut, kapan kau akan mengambil nyawaku? Sedang matahari saja sudah bosan melihatku. Pun air sudah mencercaku.”
Akasa terdiam mendengarnya.
“Kepada maut, tolong katakan kepadaku, tentang suara yang kudengar setiap harinya. Apakah nyanyian? Atau tangisan? Jangan katakan kalau aku tuli.”
“Berhenti,” bisik Akasa. Tapi Saka tidak berhenti.
“Dan, sungguh bosan aku duduk bertopang dagu. Hilang sudah harapanku, untuk satu. Satu saja aku ingin mengalahkan batu. Menahan siksa, di sini.”
Air mata mengalir dari sudut mata anak yang terbaring itu, jatuh ke bantal.
“Selama ini aku pikir kau baik-baik saja,” kata Saka. “Selama ini aku hanya membawa masalahku, dan kau selalu menampungnya, dan aku tidak pernah sekali pun bertanya bagaimana kabarmu. Maafkan aku. Maafkan aku, Akasa.”
“Bodoh.” Akasa tersenyum, dan senyum itu masih senyum yang sama, senyum anak yang bisa menemukan cahaya bahkan di tengah kegelapan. “Menampungmu itu satu-satunya hal yang membuatku merasa berguna.”
Ia menoleh, dengan susah payah, sampai matanya bertemu mata Saka.
“Saka, dengar. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi.”
“Jangan bicara begitu.”
“Diam dan dengarkan.” Suaranya menguat sedikit, untuk terakhir kalinya. “Kalau suatu hari nanti kau punya kesempatan. Kesempatan apa pun, sekecil apa pun, untuk mengubah satu hal saja di dunia yang busuk ini. Jangan kau pakai untukku. Aku sudah tidak ada di sana.”
“Akasa—”
“Pakai untuk yang masih bisa minum. Yang masih bisa bernapas. Yang belum menelan apa pun.” Napasnya mulai memburu. “Dan jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kau botak.”
Saka menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Aku janji,” katanya. “Aku janji, Akasa.”
Anak itu tersenyum sekali lagi.
Lalu tubuhnya menegang. Punggungnya melengkung ke atas, tali di pergelangan tangannya menegang berderit, dan dari kerongkongannya keluar suara yang bukan lagi suara manusia. Warna cokelat di matanya tenggelam kembali ke dalam putih.
Tangan-tangan menarik Saka dari belakang. Ia berteriak, meronta, memanggil nama sahabatnya berkali-kali, sampai pintu tertutup dan yang tersisa hanyalah kaca dan suara di baliknya.
Akasa berhenti bernapas empat puluh menit sebelum subuh.
***
Saka duduk di lantai lorong, bersandar ke dinding, dengan pelindung wajah yang sudah dilepas dan tergeletak di sebelahnya.
Profesor Ed duduk di sampingnya. Perlahan, karena lututnya sudah tidak sebaik dulu.
“Prof,” kata Saka, tanpa mengangkat kepala. “Apa benar tidak ada obatnya?”
Lelaki tua itu tidak menjawab selama beberapa saat.
“Ada,” katanya akhirnya.
Kepala Saka terangkat.
“Jamur seperti itu tidak pernah bisa menguasai dunia, Saka. Di alam yang sehat, dia selalu kalah. Karena di tanah hutan yang hidup ada ribuan makhluk lain yang memakannya, menahannya, membuatnya tetap kecil dan tidak berbahaya.” Profesor Ed menatap lorong kosong di depan mereka. “Musuh alaminya bukan obat buatan manusia. Musuh alaminya adalah tanah.”
“Kalau begitu kita ambil tanah hutan!”
“Dari mana?” Profesor Ed menoleh, dan matanya basah. “Hutan terakhir di pulau ini terbakar habis delapan belas tahun sebelum kau lahir, Nak. Tanah di luar kubah sudah steril. Tidak ada yang hidup di sana. Tidak ada satu pun.”
Saka menatapnya, dan di dalam dadanya sesuatu yang tadinya menyala perlahan padam.
“Jadi obatnya ada,” bisiknya. “Tapi tempatnya sudah tidak ada.”
“Tempatnya masih ada.” Profesor Ed bangkit, menepuk debu di celananya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Saka berdiri. “Yang tidak ada hanya waktunya.”