Saka pulang ketika langit merah baru saja mulai menyala.
Ia membuka pintu dengan seragam yang sama seperti kemarin, dengan bau ruang isolasi yang masih menempel di rambutnya. Ibunya sudah berdiri di ruang tamu, dan begitu melihat putranya, perempuan itu langsung menghambur.
“Kau dari mana semalaman?! Ayahmu mencarimu sampai ke rumah Alinea!”
“Bu.”
“Kau tahu berapa banyak yang mati di jalanan tiap malam? Kau tahu kami—”
“Bu.” Saka meraih tangan ibunya, dan sesuatu di suaranya membuat perempuan itu berhenti bicara. “Akasa meninggal tadi subuh.”
Tangan yang tadi mencengkeram lengannya melemas.
Ayahnya keluar dari kamar, wajahnya lelah, dan berdiri di ambang pintu tanpa berkata apa-apa.
Saka berjalan ke kamarnya. Dibukanya laci meja belajar. Diambilnya amplop putih itu, amplop yang ujungnya masih terekat rapi, yang selama tiga hari terakhir terasa seperti bara di dalam laci.
Ia kembali ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja.
“Ini dari Kak Sekala,” katanya. “Dia menitipkannya padaku. Katanya, berikan ini kalau tidak ada kabar darinya selama tiga hari.”
Ibunya menatap amplop itu seolah benda itu bisa menggigit.
“Sudah berapa hari?” tanya sang ayah.
“Tiga hari. Ini hari keempat.”
Sang ayah duduk. Tangannya bergetar ketika merobek ujung amplop. Ia membaca sebentar, lalu menyerahkannya kepada istrinya, karena huruf-huruf itu mulai kabur di matanya.
Ibu Saka membacanya dengan suara keras. Perlahan. Terputus-putus.
Ayah, Ibu, Saka.
Maaf. Aku tahu kalian akan marah, dan kalian berhak marah. Aku pergi bukan karena tidak mendengarkan kalian. Aku pergi justru karena aku mendengarkan.
Ada yang tidak pernah kuceritakan. Tiga rekanku di Palembang ikut program uji coba sebuah perusahaan, karena bayarannya cukup untuk membayar tagihan oksigen setahun. Mereka menelan sebutir pil yang katanya menghilangkan haus. Sejak dua bulan lalu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kuhubungi, dan tidak ada satu pun keluarganya yang tahu di mana mereka.
Aku sudah memeriksa pil itu. Di dalamnya ada jamur yang tumbuh pada mayat. Aku tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak. Yang aku tahu, pil itu sekarang dibagikan gratis di daerah yang orang-orangnya tidak akan sanggup membayar tagihan bulan depan. Aku tidak percaya itu kebetulan.
Karena itu aku harus pergi. Bukan hanya untuk mencuri cara menetralisir air, seperti yang selama ini kubilang. Aku harus sampai ke tempat yang punya catatan tentang jamur itu, karena di negeri kita tidak ada satu pun laboratorium yang mau membukanya untukku.
Ibu, Ayah. Berjanjilah satu hal kepadaku. Apa pun yang terjadi, seberapa pun keadaan menghimpit, jangan pernah ada satu orang pun di rumah ini yang menelan pil itu. Lebih baik kita kehausan. Kehausan masih bisa diobati.
Kalau aku tidak kembali, temui Profesor Ed. Katakan kepadanya bahwa aku sudah menyerahkan sampelnya kepada Darius, dan bahwa dia benar tentang tanah. Dia akan mengerti.
Saka, kau pasti sedang menyalahkan dirimu sendiri sekarang. Berhenti. Kau melakukan persis apa yang kuminta, dan kau melakukannya dengan baik. Jaga ayah dan ibu. Jangan terlalu banyak berpikir, kata temanmu itu benar.
Aku akan pulang. Aku selalu pulang.
Sekala.
Suara ibunya berhenti di nama itu.
Ruangan itu sunyi sekali. Di luar, terdengar suara skydrive bus melintas, lalu suara anjing, lalu tidak ada apa-apa lagi.
Ayah Saka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan tidak bersuara sama sekali, dan justru itulah yang membuat Saka ingin lari keluar rumah.
Ibunya tidak menangis.
Perempuan itu melipat surat tersebut dengan sangat rapi, mengembalikannya ke dalam amplop, lalu berdiri.
“Ibu masak dulu,” katanya.
“Bu—”
“Kalian belum makan dari kemarin.”
Dan ia berjalan ke dapur dengan langkah yang terlalu tenang, terlalu lurus, terlalu terkendali untuk seorang ibu yang baru saja mendengar surat semacam itu.
***
Niar datang menjelang siang.
Perempuan itu duduk di ruang tamu dengan mata sembap, memeluk tas kecilnya, dan setiap kali ada yang berusaha menghiburnya ia hanya mengangguk tanpa mendengar.
“Dia mengirimiku pesan juga malam itu,” katanya. “Isinya cuma dua kata.”
“Apa?” tanya Saka.
“Maafkan aku.”
Niar menunduk. “Aku tidak sempat membalas. Aku sedang tidur.”
Saka tidak tahu harus berkata apa. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: ia duduk di sebelah perempuan itu, dan diam bersamanya.
***
Sebelum matahari terlalu miring, Saka pergi ke ujung kubah.
Rumah bercat merah itu pintunya terbuka lebar, tapi tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Ibu Akasa ada di kamar anaknya, duduk di lantai di samping ranjang yang seprainya sudah dilepas dan dilipat rapi, memandangi ember kosong di sudut ruangan yang tidak juga ia buang.
“Tante.”
Perempuan itu menoleh, dan wajahnya langsung runtuh.
“Nak Saka…”
Saka duduk di lantai, di sebelahnya, dan meletakkan diska lepas hitam itu di atas ranjang.
“Ini punya saya. Isinya film-film yang biasa kami tonton berdua. Saya tinggal saja di sini.”
“Untuk apa? Anak saya sudah tidak—”
“Untuk Tante,” kata Saka. “Kalau nanti malam terlalu sepi.”
Perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Saya yang membawa pil itu ke rumah ini,” isaknya. “Saya yang meletakkannya di meja. Kalau saya tidak—”
“Dia yang mengambilnya, Tante. Waktu Tante tidur.” Saka menahan suaranya agar tetap tenang, karena kalau ia menangis sekarang, ia tidak akan bisa menyelesaikan kalimatnya. “Dia bilang sendiri kepada saya. Dia menyuruh saya berjanji untuk tidak pernah menyalahkan Tante. Saya sudah berjanji.”
“Tapi saya ibunya.”
“Iya. Dan dia tahu itu.” Saka menoleh kepadanya. “Dia bilang, dia lelah melihat ibunya menjual barang-barang untuk membeli air yang bahkan tidak layak diminum. Itu kalimat terakhirnya tentang Tante. Bukan tentang pil, bukan tentang meja. Tentang itu.”
Perempuan itu menangis lama sekali, dan Saka duduk di sana sampai selesai, karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan, dan karena ia mulai belajar bahwa duduk sampai selesai itu bukan hal yang kecil.
***
Rumah Saka sudah sepi ketika ia kembali. Ayahnya tidur di kursi ruang tamu, kelelahan, dengan koran yang tidak jadi ia baca menutupi dadanya. Saka berjalan pelan ke dapur untuk mengambil gelas.
Dapur kosong. Ibunya sedang di kamar mandi; suara air terdengar samar dari balik pintu.
Saka membuka lemari atas untuk mengambil gelas, dan tangannya menyenggol kaleng tempat ibunya menyimpan gula sintetis. Kaleng itu jatuh, tutupnya terlepas, isinya berhamburan ke lantai.
Saka mengumpat pelan, lalu berjongkok untuk membereskannya.
Dan di tengah tumpahan butiran putih itu, ada sesuatu yang lain.
Sebuah botol plastik kecil, bening, tanpa label.
Saka mengambilnya. Menggoyangkannya. Di dalamnya ada empat butir kapsul bening, dan di dalam tiap kapsul ada sesuatu berwarna putih kekuningan, ramping seperti batang kecil.
Tangannya mulai gemetar.
Di bawah botol itu, terlipat dua, ada selembar kertas. Saka membukanya.
VETRA BIOTEK — PROGRAM UJI COBA SUKARELAWAN TAHAP DUA
Nama peserta: Evi Amalta
Kompensasi: Rp12.000.000,- per bulan, dibayarkan di muka.
Kewajiban peserta: konsumsi rutin, pelaporan mingguan, kerahasiaan penuh.
Di bagian bawah, ada tanda tangan yang Saka kenali sejak ia belajar menulis.
Suara air di kamar mandi berhenti.
Pintu terbuka.
“Saka? Kenapa kau di lantai—”
Ibunya berhenti bicara.
Saka mengangkat kepalanya perlahan, dengan botol kecil itu di dalam genggamannya.
“Bu,” katanya, dan suaranya nyaris tidak keluar sama sekali. “Ini apa?”