“Berikan itu pada Ibu.”
Perempuan itu mengulurkan tangan. Suaranya tenang, terlalu tenang, dan justru karena itulah Saka menarik tangannya menjauh dan menggenggam botol kecil tersebut lebih erat.
“Ini apa, Bu?”
“Saka, berikan.”
“INI APA?!”
Teriakan itu membangunkan ayahnya di ruang tamu. Koran yang menutupi dadanya jatuh ke lantai. Lelaki itu masuk ke dapur, melihat botol di tangan putranya, melihat kertas yang tergeletak di antara tumpahan gula, dan bahunya seketika merosot seperti orang yang sudah lama menunggu saat ini tiba dan tetap saja tidak siap.
“Kau sudah tahu, Yah?” tanya Saka.
Ayahnya tidak menjawab.
“Ayah sudah tahu?”
“Dua minggu,” jawab lelaki itu akhirnya. “Ayah tahu dua minggu yang lalu.”
Kaki Saka terasa tidak lagi menempel di lantai. Ia menoleh kepada ibunya, kepada perempuan yang kemarin sore masih menyodorkan puding cokelat kepadanya sambil tersenyum.
“Sudah berapa lama Ibu meminumnya?”
Ibunya duduk di kursi dapur. Perlahan. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan, seperti orang yang sudah menyerah pada sesuatu yang lama ia lawan sendirian.
“Sembilan belas hari.”
Saka menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Malam setelah wali kota mengumumkan tagihan itu,” kata ibunya, “ada meja yang dipasang di pinggir alun-alun. Mereka mencari sukarelawan. Bayarannya dua belas juta sebulan, dibayar di muka. Cukup untuk tagihan oksigen Ibu dan ayahmu, cukup untuk sekolahmu, dan yang paling penting, cukup supaya kakakmu tidak perlu pergi ke Amerika.”
Saka teringat sesuatu. Sebuah malam. Sebuah kalimat yang tidak pernah ia dengar sampai selesai karena ia keburu tertidur di sofa.
Aku punya ide yang lebih bagus soal Saka. Aku tidak mungkin membiarkan Sekala pergi ke Amerika. Kupikir, ada baiknya kalau….
“Jadi itu maksud Ibu waktu itu,” bisik Saka. “Ide yang lebih bagus.”
Ibunya mengangguk.
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
“Karena kalau Ibu bilang, kakakmu akan melarang, ayahmu akan melarang, dan kau akan berhenti sekolah bulan depan.” Perempuan itu mengangkat wajahnya. Matanya kering. Mata seseorang yang sudah menghabiskan seluruh air matanya di tempat yang tidak dilihat siapa pun. “Kau tahu berapa jatah air Ibu tiap hari, Saka?”
Saka menggeleng.
“Sejak sembilan belas hari lalu, nol. Ibu tidak butuh. Ibu tidak pernah haus lagi.” Ia tersenyum, dan senyum itu adalah hal paling mengerikan yang Saka lihat sepanjang minggu ini. “Jatah Ibu masuk ke sandi milikmu. Kau tidak pernah memeriksa kenapa angka di dispenser tidak pernah berkurang secepat dulu, kan?”
Saka merosot ke lantai dapur.
Lima puluh mililiter. Angka yang selalu muncul tiap kali ia menekan sandinya. Angka yang selama ini ia kira memang haknya.
“Ibu tahu apa isi pil itu?” tanyanya, nyaris tidak terdengar.
“Tidak. Dan Ibu tidak mau tahu.”
“Isinya jamur yang tumbuh pada mayat.”
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah perempuan itu berubah.
***
Darius tidak mengomel. Ia bahkan tidak menyapa. Begitu Saka datang ke rumah sakit dengan menggandeng ibunya pada pukul sembilan pagi, dokter itu langsung menunjuk kursi, mengambil darah, dan membawanya sendiri ke lantai bawah.
Mereka menunggu selama satu jam empat puluh menit.
Ketika Darius kembali, ia tidak duduk. Ia berdiri di depan mereka, dan Saka sudah belajar membaca wajah orang dewasa dengan cukup baik akhir-akhir ini.
“Ada,” kata Darius. “Filamennya ada.”
Ayah Saka menutup matanya.
“Tapi masih sedikit, dan masih di darah. Belum naik.” Darius menoleh kepada ibu Saka. “Ibu masih merasa lapar?”
“Masih.”
“Masih bisa membedakan rasa asin dan manis?”
“Masih.”
“Ibu pernah merasa ingin menggigit sesuatu? Apa pun. Kayu, kain, tangan sendiri.”
Perempuan itu terdiam terlalu lama sebelum menjawab, “Belum.”
Darius menuliskan sesuatu. “Berhenti minum mulai hari ini. Jangan sisakan satu butir pun di rumah. Rasa hausnya akan kembali, dan akan jauh lebih buruk daripada yang pernah Ibu rasakan seumur hidup, karena tubuh Ibu sudah lupa caranya menyimpan air. Itu bagian yang harus Ibu lewati.”
“Berapa lama waktu kami?” tanya ayah Saka.
“Pada orang yang tubuhnya sudah rusak, seperti Akasa, jamur itu naik dalam dua sampai tiga hari.” Darius menatap catatannya, bukan menatap mereka. “Pada orang dewasa yang sehat, dari yang kami amati, dua bulan. Paling lama tiga.”
Ruangan itu senyap.
“Dan tidak ada obatnya,” kata ayah Saka. Bukan bertanya.
“Semua antijamur yang kami punya membunuh inangnya lebih dulu.” Darius meletakkan pena. “Maaf.”
***
Profesor Ed menunggu di ruangan kecil di ujung lorong, di depan mikroskopnya, seperti tiga hari terakhir.
“Prof,” kata Saka. “Yang Profesor bilang semalam. Soal tanah.”
Lelaki tua itu berputar di kursinya.
“Duduklah.”
“Aku tidak mau duduk. Aku mau Profesor mengulanginya. Di depan ayah dan ibuku.”
Profesor Ed menatap kedua orang tua Saka yang berdiri kaku di ambang pintu. Kemudian ia mengangguk pelan.
“Necrofungus psilocybelis bukan makhluk yang kuat,” katanya. “Di alam yang sehat, dia makhluk kecil yang menumpang pada bangkai tikus dan selesai di situ. Dia tidak pernah bisa menguasai apa pun, karena satu sendok tanah hutan berisi ribuan jenis makhluk lain yang menahannya. Ada bakteri yang memakan filamennya. Ada jamur lain yang bersaing merebut ruangnya. Ada sesuatu di dalam tanah yang hidup, yang membuat jamur ini tetap kecil dan tahu diri.”
“Jadi kalau kita punya tanah itu,” kata ayah Saka, “istri saya bisa sembuh?”
“Kalau kita punya tanah itu, bukan hanya istri Anda.” Profesor Ed melepas kacamatanya. “Empat belas orang di ruangan sebelah. Dan berapa ribu lagi yang sudah menelan pil itu di seluruh kota, yang belum tahu, yang masih merasa hebat karena mereka tidak haus lagi.”
“Lalu kenapa tidak kita cari sekarang juga?” Suara ayah Saka meninggi. “Saya akan pergi. Ke mana pun. Ke luar kubah sekalipun.”
“Anda akan mati sembilan menit setelah melewati pintu kubah, dan Anda akan mati sia-sia.” Profesor Ed berkata itu tanpa kasar, hanya lelah. “Tanah di luar sana sudah steril. Kami sudah mengambil sampel dari empat puluh tiga titik dalam sebelas tahun terakhir. Tidak ada satu pun yang hidup. Hutan terakhir di pulau ini habis terbakar delapan belas tahun sebelum anak Anda lahir.”
Ibu Saka bersandar ke kusen pintu.
“Jadi kita menunggu saja,” katanya.
“Tidak.”
Profesor Ed bangkit. Ia berjalan mendekat, dan berhenti tepat di depan Saka. Lelaki tua itu memandangi wajah bocah itu lama sekali, dari dahi sampai dagu, seperti orang yang sedang mencocokkan sesuatu di dalam ingatannya dan menemukan bahwa semuanya cocok.
“Saka,” katanya. “Kau ingat pertanyaan yang selalu kuulang-ulang sejak kau masih memakai seragam biru putih?”
“Apa jadinya kalau semua itu bisa dicegah.”
“Ya.” Profesor Ed tersenyum tipis. “Aku tidak pernah benar-benar bicara soal mencegah, Nak. Mencegah itu mustahil. Yang sudah terjadi tidak bisa dibantah oleh siapa pun.”
“Lalu Profesor bicara soal apa?”
“Soal mengambil.” Lelaki tua itu memakai kembali kacamatanya. “Masa lalu tidak bisa diubah. Tapi barang bisa dipindahkan. Aku pernah mengatakan itu kepadamu, dan waktu itu kau bilang kau tidak mengerti.”
Saka merasa tengkuknya dingin.
“Suara mesin di belakang rumah Profesor,” katanya. “Yang Profesor bilang pendingin.”
“Aku berbohong.”
“Terpal abu-abu itu.”
“Besok malam,” kata Profesor Ed. “Datanglah ke rumahku besok malam, pukul sebelas, lewat pintu belakang, sendirian. Aku akan membuka terpal itu, dan setelah kau melihat apa yang ada di baliknya, kau boleh memilih. Kalau kau bilang tidak, aku tidak akan pernah menyinggungnya lagi seumur hidupku.”
“Kalau aku bilang ya?”
Profesor Ed tidak menjawab. Ia hanya kembali ke kursinya, membungkuk ke mikroskopnya, dan berkata satu kalimat lagi tanpa menoleh.
“Kalau kau bilang ya, Saka, maka kau harus siap pergi jauh sekali. Dan aku bukan sedang bicara soal jarak.”