Rencana itu nyaris tidak sempat terjadi.
Pukul tujuh pagi keesokan harinya, ponsel Saka berdering. Nomornya tidak dikenal, tapi suaranya dikenal.
“Saka? Ini Niar.” Suara perempuan itu bergetar. “Ada yang datang ke rumahku semalam. Dia bilang dia teman Sekala. Dia bilang dia punya sesuatu, tapi dia tidak mau menyerahkannya kepadaku. Dia bilang dia hanya mau menyerahkannya kepada adiknya.”
“Siapa?”
“Dia tidak mau menyebut namanya. Dia cuma bilang… kau akan mengenalinya dari matanya.”
Saka menutup telepon dan langsung berlari keluar rumah.
***
Kedai kecil di pinggir kota itu tidak berubah. Lampunya masih jingga dan remang, kursinya masih sedikit, dan pelayan tua yang sering tersenyum itu masih berdiri di balik meja, mengelap gelas yang tidak akan dipakai siapa-siapa.
Di sudut paling gelap, di kursi yang biasa ditempati Sekala, duduk seorang lelaki bertubuh tidak terlalu tinggi.
Saka berhenti di ambang pintu. Darius berdiri selangkah di belakangnya.
“Kau datang juga,” kata Zade.
Wajahnya rusak. Kulitnya kelabu, matanya cekung, dan di tepi bola matanya, di bagian yang seharusnya putih bersih, sudah ada semacam kabut tipis yang menyebar keluar.
“Di mana kakakku?”
Zade tidak menjawab. Ia menendang kursi di seberangnya sebagai isyarat agar Saka duduk.
“Aku bertanya baik-baik.” Saka tidak bergerak. “Di mana kakakku?”
“Duduk, Nak. Aku tidak punya banyak tenaga untuk mendongak.”
Saka duduk. Darius tetap berdiri, dengan tangan di dalam saku, menggenggam sesuatu yang tidak Saka lihat.
“Aku pengumpul,” kata Zade. “Itu pekerjaanku. Perusahaan membayarku untuk mencari orang. Bukan sembarang orang. Muda, sehat, berpendidikan, punya latar belakang riset. Mereka tidak mau pemabuk dari pinggir jalan. Mereka mau otak yang bagus dan tubuh yang bersih.”
Dada Saka mulai naik turun.
“Kakakmu itu bahan yang sangat mahal. Peneliti. Umur dua puluh delapan. Tidak pernah minum air kotor seumur hidupnya.” Zade tertawa pendek dan tawa itu berubah jadi batuk. “Aku dibayar delapan ratus juta untuk tiga orang. Dia, Dylan, dan Alden.”
Saka bangkit begitu cepat sampai kursinya terjungkal. Darius menangkap lengannya sebelum tangan bocah itu sampai ke kerah baju Zade.
“Kau menjual kakakku,” kata Saka. Air matanya keluar tanpa izin. “Kau menjualnya seperti barang.”
“Ya.”
“Pesawat itu ke Kanada. Dia mengirimiku pesan dari sana!”
“Pesawat itu memang ke Kanada. Semuanya asli, semuanya sesuai janji, sampai bagian kapalnya.” Zade menyeka mulutnya dengan punggung tangan. “Kapal itu tidak pernah menuju Amerika. Kapal itu berhenti di tengah laut, dan yang naik ke atas bukan penyelundup, tapi orang-orang berseragam putih.”
“Dia masih hidup?”
Untuk pertama kalinya, Zade tidak menjawab dengan segera.
“Tidak,” katanya. “Kakakmu melawan. Dua orang penjaga masuk rumah sakit karena dia. Mereka tidak suka bahan yang melawan.”
Saka duduk kembali karena kakinya tidak sanggup lagi menahan tubuhnya. Ia menunduk, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang bersuara di kedai itu selain suara pelayan tua yang mengelap gelas.
“Kenapa kau menemuiku?” tanya Saka akhirnya.
Zade mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari dalam jaketnya, lalu mendorongnya ke tengah meja.
“Karena dia menang.”
Saka membuka kain itu. Di dalamnya ada sebuah ponsel dengan layar retak, dan sebutir cip data sebesar kuku kelingking.
“Malam sebelum kapal itu berhenti, dia menepuk bahuku di geladak. Dia bilang terima kasih. Aku pikir dia bodoh.” Zade menatap ponsel itu. “Dua minggu kemudian aku menemukan benda-benda ini di dalam lapisan jaketku. Dia menjahitkannya ke sana, di depan hidungku, sambil bilang terima kasih.”
Darius mengambil cip itu dan menggenggamnya erat.
“Kenapa tidak kau buang?” tanya Saka.
“Aku mencoba.” Zade mengangkat wajahnya, dan kabut di matanya terlihat lebih tebal daripada sepuluh menit yang lalu. “Aku mencoba empat kali.”
Pelayan tua itu datang tanpa diminta, meletakkan tiga cangkir teh di atas meja, dan tersenyum kepada mereka bertiga seperti biasanya, seolah tidak ada yang aneh dengan tiga orang yang duduk di kedai kosong pada pukul delapan pagi.
Zade menatap cangkirnya, tapi tidak menyentuhnya.
“Kau sudah minum berapa butir?” tanya Darius, akhirnya bersuara untuk pertama kalinya.
“Sebelas.”
Darius menutup matanya.
“Mereka memberi kami jatah,” kata Zade. “Bukan sebagai bayaran. Sebagai bonus. Supaya kami tidak perlu membawa air waktu bekerja, katanya, supaya kami bisa bergerak lebih cepat dan lebih jauh.” Ia tersenyum, dan gusinya berdarah. “Sekarang aku mengerti. Pengumpul juga bahan. Cuma dipanen belakangan.”
***
Mereka memutar rekaman itu di ruangan Darius, dengan pintu terkunci.
Suaranya pecah dan berisik, direkam dengan tergesa, di tempat yang bergema.
Ini Sekala. Aku tidak tahu siapa yang akan mendengar ini. Semoga adikku.
Aku ada di sebuah fasilitas. Aku tidak tahu di mana, tidak ada jendela. Kami dua puluh sembilan orang di lantai ini. Dua di antaranya rekanku dari Palembang. Mereka masih hidup, tapi mereka tidak mengenaliku lagi.
Aku sudah melihat catatan mereka. Ini bukan obat yang gagal. Ini memang dirancang begini. Mereka menyebutnya pengurangan beban. Kota-kota tidak sanggup lagi memberi makan dan memberi udara kepada semua orang, jadi mereka memilih siapa yang berhenti bernapas, dan mereka memilihnya dengan cara yang membuat orang berterima kasih lebih dulu.
Di catatan itu ada satu baris yang membuatku ingin tertawa dan ingin muntah bersamaan. Di kolom penawar, mereka menulis: mikrobiota tanah hutan tropis sebelum tahun 2040. Status: tidak tersedia. Mereka tahu obatnya, dan mereka tahu obatnya sudah punah, dan justru karena itulah mereka memakai jamur ini.
Ayah, Ibu. Maafkan aku. Aku tidak akan pulang.
Niar, kau benar. Kau selalu benar dan aku selalu keras kepala. Jangan tunggu aku. Jangan berhenti hidup demi orang yang sudah tidak ada.
Saka. Dengarkan baik-baik, ini yang paling penting.
Temui Profesor Ed. Aku tahu apa yang dia simpan di belakang rumahnya, dia pernah menunjukkannya kepadaku dua tahun lalu, dan waktu itu aku menertawakannya. Aku bilang dia orang tua yang membuang uang negara untuk mainan. Aku minta maaf, Prof, kalau kau mendengar ini.
Saka, kalau dia menawarkan sesuatu yang terdengar mustahil kepadamu, jangan menolak. Jangan seperti kakakmu yang memilih menyeberang lautan padahal pintunya ada di kota sendiri.
Kau selalu bertanya kapan kau bisa membuat orang di sekitarmu merasa beruntung. Aku sudah beruntung sejak kau lahir. Sekarang giliranmu membuat orang lain merasa begitu.
Aku sayang kalian semua. Sudah, jangan diputar berulang-ulang. Kerjakan saja.
Rekaman itu berakhir dengan suara pintu logam dibuka, lalu berhenti.
Tidak ada yang bicara. Darius menunduk dan menekan matanya dengan ibu jari dan telunjuk. Saka duduk diam, memandangi ponsel retak di atas meja, dan di dalam dadanya ada sesuatu yang aneh: bukan hancur, tapi mengeras.
“Dok,” katanya. “Zade masih di kedai itu.”
“Biarkan dia mati di sana.”
“Bawa dia.”
Darius mengangkat kepalanya, tidak percaya. “Kau serius?”
“Ikat dia, taruh di ruangan bawah, catat perkembangannya, pakai dia untuk mempelajari jamur itu selama dia masih ada.” Saka berdiri. “Bukan karena aku memaafkannya. Aku tidak. Tapi kalau kita mulai memilih siapa yang boleh ditolong dan siapa yang tidak, maka kita jadi persis seperti mereka.”
Darius menatapnya lama sekali.
“Kakakmu akan berkata persis seperti itu,” katanya.
“Aku tahu.” Saka meraih jaketnya. “Karena itu aku mengatakannya.”
Di luar jendela, langit merah mulai menua. Sebentar lagi pukul sebelas malam, dan ada sebuah terpal abu-abu yang sudah tiga puluh tahun menunggu untuk dibuka.