Pintu belakang rumah Profesor Ed berderit ketika dibuka, dan bau di dalamnya adalah bau debu yang sudah lama tidak diganggu.
“Tutup pintunya. Kunci dari dalam.”
Saka menurut.
Ruangan itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ternyata Profesor Ed sudah lama membongkar dua kamar dan menyatukannya menjadi satu, dan seluruh dindingnya dilapisi lembaran logam yang dibaut kasar. Kabel-kabel setebal lengan menjalar di lantai, menuju satu titik di tengah ruangan.
Di titik itu berdiri sesuatu setinggi dua setengah meter, tertutup terpal abu-abu.
“Bantu aku,” kata Profesor Ed.
Mereka menarik terpal itu bersama-sama.
Yang muncul di baliknya bukan mesin yang mengilap seperti di film-film lawas yang pernah Saka tonton bersama Akasa. Benda itu justru terlihat tua dan tambal sulam: sebuah rangka baja berbentuk silinder, dengan pintu setebal pintu brankas, dilingkari puluhan gulungan tembaga yang sebagian sudah menghitam. Di sisinya ada panel dengan tombol-tombol besar dan sebuah layar kecil berwarna kuning kehijauan.
“Namanya Proyek Sauh,” kata Profesor Ed. “Dibiayai negara selama sembilan tahun, lalu dihentikan tiga puluh satu tahun lalu karena dianggap tidak ada gunanya. Aku ilmuwan terakhir yang ditugaskan di sana. Ketika proyeknya ditutup, mereka menyuruhku membuang isinya. Aku membuangnya ke sini.”
Saka mendekat, mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali.
“Prof, katakan apa ini. Katakan dengan kalimat yang jelas.”
“Ini pintu.” Profesor Ed menepuk rangka baja itu pelan. “Dia bisa memindahkan sesuatu yang hidup ke titik yang sama di bumi ini, tapi enam puluh tahun ke belakang. Tidak lebih, tidak kurang. Angka itu bukan pilihan, itu batas alat ini.”
Saka menahan napas.
“Enam puluh tahun,” ulangnya. “Berarti…”
“Tahun 2023.” Profesor Ed mengangguk. “Dan titiknya adalah tempat kita berdiri sekarang. Tanah ini, enam puluh tahun lalu, adalah sebuah taman kota. Ada pohon di sana. Ada bangku. Ada orang berpacaran sambil makan bakso.”
“Kenapa Profesor tidak pernah memakainya?”
“Karena aku sudah memakainya, tiga kali, untuk mengirim benda mati. Sebuah kunci. Sebuah batu. Sebuah kotak baja kosong.” Profesor Ed membuka laci di bawah panel dan mengeluarkan sesuatu. “Yang ketiga itu kukirim dua puluh dua tahun lalu. Kotak itu kembali tepat tiga puluh hari kemudian, dan di dalamnya ada segenggam tanah.”
Ia menyerahkan sebuah tabung kaca kecil kepada Saka. Di dalamnya, ada tanah berwarna cokelat gelap, remah, dan Saka bisa melihat serpihan daun kering yang sudah hancur di dalamnya.
“Tanah ini masih hidup ketika sampai kemari,” kata Profesor Ed. “Dua ribu tiga ratus jenis makhluk di dalam segenggam ini. Aku merawatnya selama dua puluh dua tahun dan aku gagal. Tanpa hutan di atasnya, tanah tetap mati juga pada akhirnya. Yang tersisa sekarang tinggal debu.”
Ia mengambil kembali tabung itu dan menaruhnya di meja dengan sangat hati-hati.
“Tapi saat itu aku belum tahu untuk apa tanah itu dibutuhkan. Aku hanya seorang tua yang rindu pada dunia yang sudah tidak ada. Baru minggu ini, ketika Darius menaruh cawan itu di bawah mikroskopku, aku mengerti kenapa aku menghabiskan seumur hidupku membangun benda ini.”
***
Mereka duduk berhadapan di lantai, di antara kabel-kabel, seperti dua orang yang sedang membicarakan harga beras.
“Ini syaratnya,” kata Profesor Ed. “Dengarkan sampai habis, jangan memotong.”
Saka mengangguk.
“Satu. Yang bisa dikirim hanya satu orang, satu kali. Gulungan di dinding itu butuh tiga puluh tahun untuk mengisi ulang muatannya. Kalau kita pakai malam ini, orang berikutnya baru bisa memakainya pada tahun 2113. Tidak ada percobaan kedua. Tidak ada kesempatan memperbaiki kesalahan.”
“Dua. Kau tidak bisa membawa apa-apa dari sini kecuali yang menempel di tubuhmu. Tidak ada senjata, tidak ada uang, tidak ada surat keterangan. Di sana kau bukan siapa-siapa. Kau tidak punya nama di daftar mana pun, tidak punya keluarga, tidak punya rumah. Kau hanya akan punya dua hal: kotak baja yang kukirim bersamamu, dan ini.”
Ia melepas sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di lantai di antara mereka. Sebuah arloji hitam, sederhana, dengan tali karet yang sudah usang.
“Ini sauhnya. Selama benda ini melingkar di tanganmu, kau masih terikat pada tahun 2083. Tiga puluh hari setelah kau sampai, tepat pada detik yang sama, benda ini akan menarikmu pulang bersama apa pun yang ada dalam radius dua meter darimu.”
“Kalau aku melepasnya?”
“Kau akan hidup sampai tua di tahun 2023, dan kau akan mati di sana sekitar tahun 2090, sebagai kakek berusia delapan puluh lima yang tidak pernah bisa menjelaskan kepada siapa pun dari mana asalnya.” Profesor Ed menatapnya. “Dan ibumu akan mati dua bulan setelah malam ini.”
Saka menelan ludah.
“Tiga. Ini yang paling penting, dan ini yang paling sering disalahpahami orang.” Profesor Ed mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kau tidak boleh mencoba mengubah apa pun di sana.”
“Kenapa? Kalau aku bisa memperingatkan mereka—”
“Memperingatkan siapa? Dengan apa?” Suara Profesor Ed meninggi untuk pertama kalinya. “Seorang anak delapan belas tahun tanpa identitas, berteriak di jalan bahwa dunia akan mati enam puluh tahun lagi. Menurutmu apa yang akan terjadi? Mereka akan menepuk kepalamu, memberimu makan, lalu memasukkanmu ke rumah sakit jiwa. Dan setiap menit yang kau habiskan untuk meyakinkan orang yang tidak akan pernah percaya adalah menit yang tidak kau habiskan untuk mengumpulkan apa yang ibumu butuhkan.”
Saka membuang muka.
“Masa lalu tidak bisa dibantah, Saka. Kita sudah kalah enam puluh tahun yang lalu, dan tidak ada satu pun kalimat yang bisa membatalkan kekalahan itu.” Profesor Ed melunak. “Tapi barang bisa dipindahkan. Kau tidak pergi ke sana untuk berdebat. Kau pergi ke sana untuk mengambil.”
“Mengambil apa saja?”
Lelaki tua itu menarik selembar kertas dari sakunya, sudah lecek, dengan tulisan tangan yang rapat.
“Empat hal. Yang pertama dan yang paling penting: tanah hutan. Bukan tanah kebun, bukan tanah taman kota yang dipupuk. Tanah dari hutan yang tidak pernah dijamah, di bawah lapisan daun busuk, kedalaman lima sampai lima belas sentimeter. Sebanyak yang muat di kotak itu.”
“Yang kedua?”
“Benih. Sebanyak-banyaknya, sebanyak jenis yang bisa kau temukan. Pohon, rumput, sayur, apa saja. Kering, jangan basah.”
“Ketiga?”
“Air dari mata air yang mengalir, bukan air dalam botol pabrik. Isi keempat tabung yang kusiapkan sampai penuh.”
“Keempat?”
Profesor Ed melipat kertasnya kembali.
“Lihat semuanya,” katanya. “Lihat hujan. Lihat sungai yang jernih. Lihat langit malam yang penuh. Cium bau tanah sehabis hujan. Ingat semuanya sedetail yang kau bisa.”
“Untuk apa? Itu tidak menyembuhkan siapa-siapa.”
“Karena kalau kita berhasil, Saka, akan ada seribu malam ketika orang-orang di kota ini bertanya untuk apa mereka bersusah payah menanam sesuatu yang baru akan jadi pohon setelah mereka mati.” Profesor Ed tersenyum. “Dan pada malam-malam itu, harus ada satu orang di kota ini yang pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan bisa bilang: aku sudah pernah ke sana, dan itu pantas diperjuangkan.”
***
“Berapa kemungkinan aku tidak sampai?”
Profesor Ed diam cukup lama.
“Aku tidak pernah mengirim manusia,” katanya jujur. “Batu dan kunci itu sampai dengan utuh. Kotak baja itu sampai dengan utuh. Tapi batu tidak punya jantung, dan kunci tidak punya otak. Perkiraanku, satu banding empat kau tidak akan sampai.”
“Satu banding empat,” ulang Saka pelan.
“Kalau kau bilang tidak, aku akan menutupnya lagi dengan terpal itu, dan kita tidak akan pernah membicarakannya lagi. Kau tetap bisa menemani ibumu selama dua bulan yang tersisa, dan itu bukan pilihan yang memalukan. Itu pilihan yang wajar. Itu pilihan yang akan diambil hampir semua orang.”
Saka bangkit. Ia berjalan mendekati silinder baja itu, meletakkan telapak tangannya di permukaannya yang dingin.
Kemudian ia memikirkan empat belas ranjang di ruang bawah tanah. Ia memikirkan mata Akasa yang memutih, dan janji yang ia ucapkan di balik garis kuning. Ia memikirkan angka lima puluh mililiter di layar dispenser yang ternyata bukan miliknya. Ia memikirkan suara kakaknya yang berkata jangan menolak.
“Kapan aku bisa berangkat?”
Profesor Ed memejamkan mata sejenak, seperti orang yang baru saja meletakkan beban yang sudah terlalu lama ia gendong.
“Enam hari lagi,” katanya. “Malam ketika reaktor kubah menjalani perawatan bulanan. Hanya pada malam itu aku bisa mencuri daya sebanyak yang kubutuhkan tanpa memadamkan seluruh kota.”
“Baiklah.”
“Saka.” Profesor Ed memanggilnya sebelum bocah itu sampai ke pintu. “Ada satu hal lagi tentang semua ini. Sesuatu yang belum kuceritakan kepada siapa pun, termasuk kakakmu.”
“Apa?”
Lelaki tua itu menggeleng pelan, dan untuk sesaat matanya terlihat seperti mata seorang anak kecil.
“Nanti,” katanya. “Kalau kau pulang. Aku sudah menunggu sangat lama untuk bisa menceritakannya, jadi aku bisa menunggu tiga puluh hari lagi.”