Enam hari ternyata bisa terasa sangat pendek.
Hari pertama dan kedua habis untuk belajar. Profesor Ed menempelkan gambar-gambar tua di dinding ruang belakang: potongan melintang tanah hutan, lapisan daun busuk di permukaan, akar, jamur yang baik, jamur yang buruk. Saka menghafal semuanya sampai ia bisa menyebutkan urutan lapisan itu dengan mata tertutup.
“Kalau kau menggali dan baunya seperti hujan, kau benar,” kata Profesor Ed. “Kalau baunya seperti tidak ada apa-apa, kau salah tempat.”
Hari ketiga dipakai untuk kotak baja itu. Ukurannya sebesar tas sekolah, dengan dua puluh empat sekat di dalamnya, empat tabung untuk air, dan segel karet yang harus ditekan sampai berbunyi klik.
“Kotak ini akan tiba lima meter dari titik pendaratanmu,” kata Profesor Ed. “Sembunyikan segera. Jangan biarkan siapa pun melihatnya. Benda itu tidak akan ada di dunia mereka sampai delapan belas tahun lagi, dan orang zaman itu suka sekali memotret barang aneh.”
Hari keempat dipakai untuk hal-hal kecil yang justru paling merepotkan: bagaimana cara menyeberang jalan di kota yang kendaraannya berjalan di tanah, bagaimana cara memakai uang kertas, apa itu ojek, kenapa orang di zaman itu selalu memegang benda persegi bercahaya, dan kenapa mereka tidak boleh dianggap sedang berdoa.
Hari kelima, Saka pulang dan memberitahu ayah dan ibunya.
***
“Tidak.”
Itu kata pertama, kedua, dan ketiga dari ibunya.
“Bu—”
“Tidak.” Perempuan itu berdiri di dapur, memegangi tepi meja dengan kedua tangan sampai buku jarinya memutih. “Ibu sudah kehilangan satu. Ibu tidak akan menandatangani kehilangan yang kedua dengan tangan Ibu sendiri.”
“Ini bukan seperti Kak Sekala. Ini bukan menyusup ke negara orang.”
“Ini lebih gila!” Ibunya membentak, dan itu pertama kalinya sepanjang tahun ini. “Kakakmu setidaknya naik pesawat! Kau mau masuk ke dalam kaleng besi di rumah orang tua yang bahkan lampu terasnya saja mati!”
“Satu banding empat, Bu. Aku sudah tanya.”
“Kau pikir angka itu menghiburku?!”
“Aku tidak sedang menghibur Ibu.” Saka menahan suaranya agar tetap tenang. “Aku sedang jujur. Kak Sekala tidak pernah jujur soal risikonya, dan lihat apa yang terjadi. Aku tidak mau begitu. Jadi aku bilang apa adanya: tiga dari empat aku sampai. Satu dari empat aku tidak.”
Ibunya berbalik, memunggunginya.
“Bu, tolong lihat aku.”
“Tidak.”
“Bu.”
Perempuan itu tidak berbalik. Maka Saka berjalan memutar dan berdiri di depannya.
“Sembilan belas hari Ibu memindahkan jatah air Ibu ke sandiku tanpa bilang apa-apa,” katanya. “Ibu menandatangani kertas itu supaya aku bisa terus sekolah. Ibu menelan sesuatu yang tidak Ibu tahu isinya supaya Kak Sekala tidak perlu pergi. Sekarang Ibu marah karena aku ingin melakukan hal yang persis sama?”
Ibunya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Aku belajar itu dari Ibu,” kata Saka. “Semua orang di rumah ini belajar itu dari Ibu.”
Perempuan itu akhirnya menoleh, dan wajahnya sudah basah seluruhnya.
Ayahnya, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tanpa berkata apa-apa, akhirnya bersuara.
“Berapa lama kau pergi?”
“Tiga puluh hari, Yah. Persis. Tidak lebih.”
“Dan kau akan kembali ke malam yang sama?”
“Tiga puluh hari sesudah malam itu. Waktunya berjalan sama di kedua sisi.”
Ayahnya mengangguk pelan, beberapa kali, seperti sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya.
“Kalau begitu Ibu masih punya sekitar tiga puluh hari sisa waktu setelah kau pulang,” katanya. “Kalau perhitungan dokter itu benar.”
“Ya.”
“Itu pas sekali.”
“Aku tahu, Yah.”
“Terlalu pas.” Lelaki itu tersenyum getir. “Ayah tidak suka hal-hal yang terlalu pas. Tapi Ayah juga tidak punya rencana lain.”
Ia berjalan mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu putranya, dan menekan sedikit, seperti sedang memastikan bahwa anak itu memang masih ada di sana.
“Pergilah,” katanya. “Dan pulang.”
***
Alinea dan Senandika menunggu di depan sekolah pada hari keenam.
Saka tidak menceritakan semuanya. Ia hanya bilang bahwa Profesor Ed mengirimnya ke suatu tempat yang jauh untuk mengambil sesuatu yang bisa menyembuhkan orang-orang di ruang bawah rumah sakit, bahwa ia akan pergi tiga puluh hari, dan bahwa ia tidak boleh menjelaskan lebih dari itu.
“Kau bohong,” kata Senandika.
“Aku tidak bohong. Aku hanya tidak menceritakan semuanya.”
“Sama saja.”
“Tidak sama.” Saka tersenyum kecil. “Kalau aku bohong, aku akan bilang aku tidak akan ke mana-mana.”
Senandika mendengus, lalu memeluknya sekali, kasar, seperti anak laki-laki yang tidak tahu cara memeluk. “Kalau kau mati, aku tidak akan datang ke pemakamanmu. Aku benci pemakaman.”
“Aku tahu.”
Alinea tidak berkata apa-apa sejak tadi. Gadis itu berdiri sedikit menjauh, memandangi tembok sekolah yang penuh coretan, sampai akhirnya ia melangkah maju.
“Di tempat yang akan kau datangi itu,” katanya. “Ada pohon?”
Saka mengangguk.
“Banyak?”
“Kata Profesor Ed, dulu ada pohon di setiap sudut jalan.”
Alinea menarik napas panjang, dan matanya mulai berkaca-kaca, dan ia buru-buru menyeka matanya dengan punggung tangan sebelum air matanya sempat jatuh.
“Ayahku tidak pernah melihat pohon,” katanya. “Sejak kecil dia sudah tidak bisa melihat apa-apa. Tapi dia selalu bilang, dulu neneknya pernah menaruh daun di telapak tangannya. Dia bilang rasanya dingin dan ada garis-garis halusnya.”
Ia menoleh kepada Saka.
“Bawakan aku satu daun. Satu saja. Tidak usah yang bagus.”
“Aku janji.”
***
Malam keenam, pukul sebelas kurang seperempat.
Ruang belakang rumah Profesor Ed penuh sesak. Ada Darius yang datang langsung dari rumah sakit dengan pakaian kerjanya. Ada Niar, yang bersikeras ikut. Ada ayah dan ibu Saka. Dan ada Saka sendiri, berdiri di depan pintu silinder baja yang sudah terbuka, mengenakan kemeja maroon dan celana jeans hitam, pakaian paling biasa yang bisa Profesor Ed temukan dari lemari lamanya.
“Kenapa harus pakaian ini?” tanya Saka tadi sore.
“Karena pakaian ini tidak menarik perhatian di tahun mana pun,” jawab Profesor Ed.
Sekarang lelaki tua itu memasangkan arloji hitam ke pergelangan tangan kiri Saka, lalu menekan sesuatu di sisinya sampai berbunyi klik.
“Mulai menghitung ketika kau sampai. Jangan dilepas walau kau mandi, walau kau tidur, walau kau berkelahi. Mengerti?”
“Mengerti.”
“Kotaknya akan tiba lima meter di sebelah selatanmu. Sembunyikan dulu, ambil belakangan.”
“Mengerti.”
“Dan Saka.” Profesor Ed menggenggam kedua bahunya. “Kalau di sana kau melihat sesuatu yang membuatmu ingin tinggal, dan kau pasti akan melihatnya, ingat empat belas ranjang itu.”
Saka mengangguk.
Ibunya maju terakhir. Perempuan itu tidak mengucapkan satu kata pun. Ia hanya merapikan kerah kemeja putranya, dua kali, tiga kali, seperti yang selalu ia lakukan tiap pagi ketika Saka masih memakai seragam biru putih. Lalu ia memasukkan sesuatu ke dalam saku celana Saka.
Kotak kecil pemutar musik itu. Dengan headphone-nya, tergulung rapi.
“Ini dari kakakmu,” katanya. “Bawa. Supaya kau ingat jalan pulang.”
Saka masuk ke dalam silinder itu.
Pintu setebal pintu brankas ditutup dari luar. Suaranya berat dan final. Di dalam, gelap, dan hanya ada satu lampu kecil berwarna kuning di atas kepalanya.
Dengung dari gulungan tembaga di dinding mulai naik. Mula-mula rendah, seperti napas mesin besar yang bangun dari tidur panjangnya. Lalu tinggi. Lalu tinggi sekali, sampai Saka harus menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Ia memejamkan mata.
Ia memikirkan sungai yang jernih. Ia memikirkan langit yang penuh bintang. Ia memikirkan pohon di setiap sudut jalan, dan hujan yang jatuh gratis kepada siapa saja, dan seorang anak laki-laki bermata putih yang pernah memintanya berjanji.
Kemudian lampu kuning di atas kepalanya padam.