Yang pertama datang adalah bau.
Saka belum membuka mata, belum tahu di mana ia berada, belum yakin apakah ia masih punya tubuh. Tapi ada bau yang masuk ke hidungnya, dan bau itu adalah bau yang tidak pernah ia hirup seumur hidupnya: basah, gelap, manis sedikit, seperti sesuatu yang sedang hidup dan sesuatu yang sedang membusuk pada saat yang sama.
Ia membuka mata.
Di atasnya ada warna biru.
Bukan merah. Bukan cokelat. Biru, luas, dengan gumpalan-gumpalan putih yang bergerak pelan dari kiri ke kanan, dan di sela-selanya ada cahaya yang begitu bersih sampai matanya perih.
Saka terbatuk. Lalu terbatuk lagi. Lalu ia memiringkan tubuhnya dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke rumput.
Rumput.
Telapak tangannya menekan sesuatu yang lembut, dingin, dan bergerak sedikit ketika angin lewat. Saka mengangkat tangannya dan menatapnya. Helai-helai tipis berwarna hijau, ribuan jumlahnya, tumbuh dari tanah begitu saja, tidak dijaga siapa-siapa, tidak dipagari, tidak dijual.
Kepalanya berdenyut hebat. Napasnya terasa aneh. Terlalu penuh. Setiap kali ia menarik napas, dadanya terisi lebih cepat dari yang ia biasa, sampai ia merasa mabuk.
Terlalu banyak oksigen, pikirnya, dan pikiran itu sendiri terasa lucu sampai ia hampir tertawa.
Saka bangkit dengan susah payah. Ia berdiri di tengah sebuah taman. Ada bangku besi bercat hijau. Ada jalan setapak dari paving. Ada anak kecil berlari di kejauhan, dikejar ibunya. Ada seorang lelaki tua duduk sambil membaca koran, dengan sepasang burung merpati mematuk-matuk di dekat kakinya.
Dan ada pohon.
Bukan satu. Bukan dua. Puluhan.
Saka berjalan tertatih ke pohon terdekat. Batangnya lebih besar dari pelukannya. Kulitnya kasar, retak-retak, basah di beberapa bagian karena hujan semalam. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di sana, lalu dahinya, lalu ia berdiri seperti itu untuk waktu yang cukup lama sampai seorang ibu yang lewat menuntun anaknya menjauh sedikit.
Tiga puluh hari, kata arloji di tangan kirinya. Angka-angka itu sudah mulai bergerak turun.
***
Kotak baja itu tergeletak lima meter di sebelah selatan, setengah tertutup semak, persis seperti yang Profesor Ed katakan.
Saka menyeretnya ke balik rimbunan di sudut taman, menutupinya dengan ranting dan daun kering, lalu menandai tempatnya dengan cara menghitung: tujuh langkah dari bangku besi ketiga, dua langkah ke kanan.
Ketika ia berdiri dan membalikkan badan, langit di atas kota sudah berubah menjadi jingga dan ungu, dan Saka berhenti bergerak selama hampir satu menit penuh hanya untuk menatapnya.
Di sinilah, di taman itu, di senja hari yang sama, seorang lelaki jangkung menjinjing tas laptop berjalan sambil melamun, dan sebuah tangan merenggut tas itu dari genggamannya.
“Hey, jambret!!! Tolong!!! Jambret!!!”
Saka bahkan tidak sempat berpikir. Kakinya bergerak sendiri, terjulur, dan si pencuri jatuh menabrak paving dengan bunyi yang menyakitkan.
Sisanya berjalan cepat: warga berdatangan, tas kembali ke pemiliknya, si pencuri digiring pergi. Dan lelaki jangkung itu, dengan napas terengah dan mata yang nyaris hilang ketika ia tersenyum, menawarinya semangkuk bakso sebagai ucapan terima kasih.
Malam itu Saka minum air dari keran, menangis di dalam toilet berpintu biru, berdiri di tengah hujan, dan tidur di atas kasur lipat di lantai sebuah kamar indekos milik orang yang baru dikenalnya delapan jam.
Ia tidak menyangka bahwa hari pertamanya di masa lalu akan dihabiskan dengan cara sesederhana itu.
***
Algi berangkat kerja pukul delapan pagi, meninggalkan kunci cadangan, sepiring nasi goreng, dan pesan yang ditulis di kertas bekas struk: JANGAN MINUM AIR KERAN LAGI. ADA GALON.
Saka menghabiskan hari kedua dengan berjalan kaki.
Ia berjalan sampai kakinya sakit. Ia berdiri lama sekali di depan sebuah keran umum di masjid, memandangi orang berwudu, memandangi air yang mengalir ke saluran pembuangan dan tidak ada satu pun yang menganggap itu peristiwa penting. Ia berdiri di jembatan kecil dan memandangi sungai yang airnya keruh kecokelatan, dan orang-orang yang lewat mengeluh bahwa sungai itu kotor, dan Saka ingin sekali berteriak kepada mereka bahwa di tempat asalnya sungai itu berwarna hitam kemerahan dan membunuh siapa saja yang meminumnya.
Ia kembali ke taman siang harinya, mengambil sekop kecil dari kotak, dan menggali di bawah pohon.
Tanahnya cokelat. Gembur. Ada cacing di dalamnya. Saka nyaris berteriak melihat makhluk itu bergerak di telapak tangannya.
Namun ia menciumnya, seperti yang diajarkan Profesor Ed, dan ia mengerutkan kening.
Tanah ini berbau tanah. Tapi tidak berbau hujan.
Ini tanah taman kota. Tanah yang disiram, dipupuk, dibersihkan dari daun-daun busuk setiap pagi oleh petugas kebersihan supaya rapi. Yang Profesor Ed butuhkan bukan ini.
Saka menutup lubangnya kembali, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ia merasakan sesuatu yang mirip panik.
Dua puluh delapan hari lagi. Dan ia tidak punya uang, tidak punya kendaraan, tidak tahu jalan, dan tidak bisa membaca satu pun nama tempat di kota yang seluruh petanya sudah berubah di zamannya.
***
“Hutan?” Algi mengangkat alis sambil menyeruput kopi sachet. “Ngapain kau cari hutan?”
Malam itu mereka duduk di teras indekos, di kursi plastik, dengan lampu kuning di atas kepala dan bunyi jangkrik di kejauhan.
“Aku perlu tanahnya,” kata Saka. “Bukan tanah kebun. Tanah hutan yang tidak pernah dibersihkan. Dan aku juga perlu benih. Banyak. Sebanyak-banyaknya, sebanyak jenisnya.”
Algi memicingkan mata. “Kau… peneliti?”
Saka diam sebentar.
“Aku mengumpulkan sampel,” katanya akhirnya. “Untuk seseorang yang sedang berusaha menyembuhkan orang sakit di tempat asalku. Itu bagian yang benar. Bagian lainnya tidak akan kau percaya, dan aku tidak akan memaksamu percaya.”
Algi menatapnya lama. Kemudian ia menghela napas dan menggaruk tengkuknya.
“Kau tahu, aku ini orang yang gampang curiga,” katanya. “Tapi orang yang menangis karena air keran itu biasanya bukan penipu. Penipu tidak repot-repot menangis di tempat yang tidak ada penontonnya.”
Saka tersenyum tipis.
“Sabtu aku libur,” lanjut Algi. “Aku punya motor. Kita bisa ke utara, ke arah Lembang. Di sana masih ada hutan pinus, ada Tahura juga. Bawa karung, ya. Tapi jangan berlebihan, nanti kita ditangkap petugas karena dikira mencuri tanah negara.”
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu.” Algi menunjuk dengan cangkirnya. “Kau harus bayar bensin.”
“Aku tidak punya uang.”
“Ya sudah, kau bayar dengan cuci piring.”
***
Anak itu muncul dari balik pintu, seperti muncul dari balik dinding, tanpa suara sama sekali.
Umurnya mungkin empat belas. Kurus, memakai kaus oblong kebesaran, dengan obeng terselip di saku celana pendeknya dan sebuah radio tua yang sudah terbuka casing-nya di tangan.
“Bang Algi, solder abang mana?”
“Ya ampun, Edu, ketuk dulu kek.” Algi mendecak. “Di laci meja. Jangan diambil dulu, itu masih panas.”
Anak itu tidak beranjak. Ia justru menatap Saka, lekat, dari ujung rambut sampai ujung sepatu, dengan cara menatap yang tidak sopan tapi juga tidak jahat. Cara menatap anak yang otaknya bekerja terlalu cepat untuk sopan santun.
“Ini siapa?” tanyanya.
“Temanku. Namanya Saka, dia tinggal sini sebulan.”
“Kenapa dia lihat lampu terus?”
Algi menoleh, dan baru sadar bahwa sejak tadi Saka memang memandangi lampu neon di teras.
“Lampunya kenapa, Ka?” tanya Algi.
“Tidak apa-apa,” kata Saka pelan. “Di tempatku lampu jalan banyak yang mati dan tidak diganti.”
Anak yang bernama Edu itu memiringkan kepalanya.
“Tempat abang di mana?”
“Jauh.”
“Jauhnya berapa kilometer?”
“Bukan kilometer.”
“Lah, jauh kok bukan kilometer.” Edu mengerutkan hidungnya. “Kalau bukan kilometer, jauhnya pakai apa?”
Saka menatap anak itu, dan entah kenapa, dadanya terasa hangat dan sedih pada saat bersamaan.
“Tahun,” katanya.
Algi tertawa dan menyuruh Edu masuk mengambil solder. Anak itu berbalik dan pergi, tapi sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Saka.
Dan ia tidak tertawa sama sekali.