Motor bebek itu berbunyi seperti mesin jahit yang sedang marah, tapi ia sampai juga di utara.
Saka duduk di boncengan dengan dua karung kosong terlipat di pangkuannya, dan sepanjang jalan ia tidak berhenti menoleh ke kiri dan ke kanan. Sawah. Kebun. Rumah-rumah dengan halaman berisi tanaman dalam pot. Pedagang yang menjual jagung bakar di pinggir jalan. Semakin ke utara, udara semakin dingin, dan Saka menarik napas dalam-dalam sampai Algi menegurnya karena ia menghirup asap knalpot.
Kemudian jalanan berbelok, dan dinding hijau itu muncul di kiri kanan mereka.
“Turun sini,” kata Algi.
Saka turun. Ia berdiri di tepi jalan, memandangi hutan pinus yang menjulang, dan tidak bergerak.
“Ka?”
Saka tidak menjawab.
“Woi. Saka.”
Anak itu berjalan masuk, meninggalkan motor, meninggalkan karung, meninggalkan Algi yang memanggil-manggil dari belakang. Ia berjalan sampai suara kendaraan hilang dan yang tersisa hanya suara angin di pucuk pohon, suara serangga, dan bunyi kakinya sendiri menginjak lapisan daun kering yang tebalnya sampai mata kaki.
Ia jatuh berlutut di sana.
Ketika Algi menyusul, ia menemukan Saka menangis di atas tanah, dengan kedua tangan mencengkeram daun-daun busuk dan menekannya ke wajahnya sendiri.
Algi tidak bertanya apa-apa. Lelaki itu hanya duduk di atas akar pohon terdekat, menyalakan rokoknya, lalu memadamkannya lagi karena merasa itu tidak pantas.
“Ini,” kata Saka akhirnya, dengan suara serak. “Ini baunya. Ini yang dia bilang. Kalau baunya seperti hujan, kau benar.”
“Siapa yang bilang?”
“Orang tua yang sangat keras kepala.”
Mereka menggali sampai sore.
Saka bekerja seperti orang kesetanan. Ia menyingkirkan lapisan daun di permukaan, lalu mengambil tanah di kedalaman satu jengkal, memasukkannya ke dalam sekat-sekat kotak baja dengan sarung tangan yang dibawakan Profesor Ed, menekan segelnya sampai berbunyi klik, lalu berpindah lima belas langkah dan mengulang semuanya dari awal.
“Kenapa harus pindah-pindah?” tanya Algi.
“Karena isi satu genggam tanah di sini tidak sama dengan isi satu genggam tanah di sana,” jawab Saka, mengulang pelajaran yang dihafalnya. “Kalau aku mengambil dari satu titik saja, aku mungkin melewatkan satu makhluk yang justru paling kubutuhkan.”
Algi memandangi punggung anak muda itu, memandangi kotak baja dengan sekat-sekat rapi yang jelas bukan buatan toko mana pun, dan untuk kesekian kalinya dalam seminggu terakhir, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres yang tidak berani ia tanyakan.
***
Hari-hari berikutnya berjalan cepat sekali.
Mereka pergi ke pasar dan Saka memungut benih dari sisa-sisa buah yang dibuang pedagang. Mereka mendatangi kios pertanian, dan pemilik kios itu menatap heran ketika Saka bertanya apakah ia boleh mengambil satu genggam kecil dari setiap jenis benih yang dijual, dan Algi terpaksa menombok uangnya sendiri.
Mereka masuk ke kebun seorang kakek di daerah Cikole yang bersedia memberi benih cabai, tomat, dan labu dengan syarat mereka mendengarkan ceritanya selama satu jam penuh. Saka mendengarkan sampai habis, bahkan bertanya-tanya, sampai kakek itu memberi mereka dua kali lipat dari yang dijanjikan.
Mereka mendaki ke sebuah mata air kecil di lereng, dan Saka mengisi keempat tabungnya di sana, sambil bertanya berkali-kali kepada Algi apakah benar air ini keluar dari tanah dengan sendirinya, tanpa mesin, tanpa pompa, tanpa ada yang membayar.
“Ya memang begitu,” kata Algi. “Namanya juga mata air.”
“Setiap hari?”
“Setiap hari.”
“Selamanya?”
Algi membuka mulut untuk menjawab ya, lalu berhenti. Ia teringat berita yang ia baca minggu lalu tentang sumur-sumur warga di pesisir yang mulai asin.
“Ya… mestinya begitu, sih,” katanya akhirnya, dan suaranya sendiri terdengar tidak yakin di telinganya.
Di perjalanan pulang dari Cikole, Algi berhenti di pinggir jalan dan membeli dua buah mangga dari pedagang yang menggelar dagangannya di atas terpal.
“Kau sudah pernah makan mangga?”
“Aku tahu bentuknya. Dari gambar.”
Algi terdiam sebentar, lalu mengupas satu dengan pisau lipat di kunci motornya dan menyodorkannya.
Saka menggigit.
Ia berhenti mengunyah di tengah jalan. Matanya membelalak, lalu menyipit, lalu ia menunduk, dan bahunya mulai berguncang lagi seperti malam pertama itu.
“Ya ampun, jangan menangis lagi,” kata Algi. “Ini cuma mangga. Lima belas ribu tiga.”
“Manisnya…” Saka menyeka mulutnya dengan punggung tangan. “Manisnya tidak seperti gula.”
“Ya memang tidak.”
“Di tempatku semua rasa manis datang dari satu pabrik. Semua manis dengan cara yang persis sama.” Ia menatap potongan buah di tangannya. “Ini manisnya punya bentuk. Ada ujungnya. Ada sisinya.”
Algi tidak menjawab. Lelaki itu memandangi jalanan, lalu memandangi mangga di tangannya sendiri, dan untuk sisa perjalanan pulang ia tidak menghabiskannya.
Malamnya, Saka mencatat semuanya di buku tulis bekas milik Edu: nama tempat, tanggal, kedalaman, cuaca. Tulisannya rapi dan kecil-kecil, karena kertas di zamannya adalah barang yang tidak boleh disia-siakan.
Edu selalu ada di dekatnya sejak minggu kedua.
Anak itu ikut ke pasar. Anak itu ikut memilah benih dan mengeringkannya di atas nampan. Anak itu bertanya seratus pertanyaan sehari, dan Saka menjawab sekitar tiga puluh di antaranya, dan tujuh puluh sisanya ia jawab dengan diam.
“Abang tidak punya KTP,” kata Edu suatu sore, sambil membolak-balik benih di nampan.
“Tidak.”
“Tidak punya HP.”
“Tidak.”
“Tidak punya baju selain yang itu.”
“Bang Algi meminjamiku dua.”
“Terus itu kotak abang bahannya apa? Aku pernah pegang. Dingin terus, padahal seharian di panas.” Edu tidak mengangkat wajahnya dari nampan. “Aku sudah coba cari di internet. Tidak ada yang mirip.”
Saka berhenti bergerak.
“Kau membukanya?”
“Tidak. Terkunci.” Edu akhirnya menoleh. “Bang. Aku ini anak kecil, tapi aku tidak bodoh.”
***
Hari kedua puluh enam, hujan turun sepanjang sore.
Saka duduk di teras dengan kedua kaki terjulur ke halaman, membiarkan air membasahi ujung celananya, memandangi tetesan yang jatuh dari ujung atap dalam barisan yang tidak pernah putus.
Di sebelahnya, kotak baja itu sudah hampir penuh. Dua puluh tiga sekat berisi tanah dari sembilan titik berbeda, benih dari empat puluh satu jenis tumbuhan, empat tabung air dari tiga mata air. Satu sekat masih kosong, sengaja disisakan.
Arloji di tangan kirinya menunjukkan angka yang tidak bisa ia bantah.
3 hari. 6 jam. 12 menit.
Edu keluar membawa dua gelas teh, memberikan satu kepada Saka, lalu duduk di sebelahnya tanpa diminta.
“Bang,” katanya. “Aku boleh tanya satu hal? Yang serius.”
“Boleh.”
“Kalau abang tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi masih lama, misalnya masih puluhan tahun lagi.” Edu memutar-mutar gelasnya. “Menurut abang orang-orang akan percaya tidak?”
Saka menatap hujan.
“Tidak,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena orang tidak takut pada hal yang belum bisa mereka lihat. Dan karena kalau mereka percaya, mereka harus berhenti melakukan banyak hal yang mereka sukai hari ini.” Saka menyesap tehnya. “Lebih gampang bilang bahwa yang memperingatkan itu berlebihan.”
Edu diam lama sekali.
“Berarti percuma, dong?”
“Bukan percuma.” Saka menoleh kepada anak itu. “Cuma lambat. Kadang satu orang percaya. Satu orang itu bekerja seumur hidupnya. Dan enam puluh tahun kemudian, ada orang lain yang selamat karena kerjanya, tanpa pernah tahu namanya siapa.”
Hujan menderas.
“Enam puluh tahun,” ulang Edu pelan. “Kenapa abang selalu bilang enam puluh?”
Saka tidak menjawab. Ia hanya meletakkan gelasnya, mengulurkan tangan ke luar teras, dan menadah air hujan di telapak tangannya sampai penuh, lalu meminumnya.
Edu memperhatikannya, dan di dalam kepala anak empat belas tahun itu, sebuah pertanyaan yang sejak minggu lalu berputar-putar akhirnya berhenti di satu jawaban yang mustahil.
“Abang,” katanya, dan suaranya bergetar sedikit. “Abang datang dari kapan?”